'nBASIS

Home » ARTIKEL » MISKIN

MISKIN

AKSES

  • 568,980 KALI

ARSIP


negara
Konsep “kemiskinan struktural” sudah dicetuskan oleh Kongres HIPIIS (Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial) sejak beberapa dasawarsa lalu seiring pembangunan berorientasi pertumbuhan (growth) yang gagal melaksanakan janji pemerataan (distribusi).

Tetapi konsep ini dianggap angin lalu saja. Lagi pula apa kewibawaan ahli ilmu sosial dis sebuah negara? Kurang lebih mereka berposisi seperti ulama, yang terkadang hanya diperlukan untuk melegitimasi kekuasaan belaka.

Belum lama ini sebuah media menyoroti maraknya para pengemis dan gelandangan di kota Medan. Mereka merambah kemana-mana. Siang maupun malam (macam nama rumah makan yang sangat terkenal dengan menu hidangan maknyus yang di Sipirok itu ya).

Saya tidak setuju pandangan mereka yang mengikuti arus besar kesalahan filosofis yang bersumber pada gagasan kapitalisasi dan pengabadian kekuasaan secara dominatif. Begini pandangan saya:

Agaknya hal yang tak pernah dipikirkan secara serius oleh kesombongan elit kota dan penguasa adalah bahwa kemiskinan itu tidak turun dari langit. Ia reproduksi sosial.

Lazimnya kebengisan pemerintah dan orang kaya akan menganggap orang miskin ini sebagai noktah yang wajib dipupus. mereka tak pernah tahu caranya, karena filosofi dan jalan hidup mereka telah menjadi faktor utama penyebab kemiskinan itu.

Sayangnya, para tokoh keagamaan kita pun lebih kerap membahas kultur miskin ketimbang aspek struktural sehingga pikiran keadilan yang absen membuat si miskin sajalah yang tetap tertuduh. Padahal berserakan ayat dan hadits yang merekonstruksi pengelolaan negara (struktural) dan kekuasaan, termasuk kewajiban imperatif zakat sebagai simbol struktur yang wajib dibereskan.

Miskin itu adalah sesuatu. Terserah Anda setuju atau menolak, oleh persepektif pandangan tertentu, ia (miskin itu) memiliki sejumlah fungsi. Ini sudah diterangkan dalam banyak literatur, di antaranya:

(-) Untuk menjadi mekanisme khusus dalam menyediakan tenaga kerja yang siap untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor, tak terhormat, berat, berbahaya, namun dibayar murah. Bandingkanlah setiap pembakaran hutan, yang masuk penjara itu orang-orang miskin yang hidupnya “senin kemis”. Inilah jenis kejahatan “white collar crime” yang mengorbankan orang kecil dengan tema urusan yang lazimnya diheboh-hebohkan untuk pemberantasan “blue collar crime” Belasan tahun berulang, si miskin menjadi tersangka terus-menerus.

(-) Untuk memperpanjang nilai-guna barang atau jasa. Baju bekas yang tak layak pakai dapat dijual (diinfakkan) kepada orang miskin. Monza adalah pasar yang berkembang khusus untuk transaksi komoditi barang bekas (kebanyakannya) bermerk yang di negara maju sudah dianggap sampah. Mereka tentulah bersyukur ada negara miskin Indonesia sebagai “pemakan” sampah mereka. Kalau tidak, limbah itu akan diapakan? Mereka efisien, sangat berterimakasih kepada orang-orang miskin yang berebut daki mereka sehingga mereka lebih nyaman hidup.

(-) Untuk mensubsidi berbagai kegiatan ekonomi yang menguntungkan orang-orang kaya. Pegawai-pegawai kecil, karena dibayar murah, mengurangi biaya produksi dan akibatnya melipatgandakan keuntungan. Petani tidak boleh menaikkan harga beras mereka untuk mensubsidi orang-orang kota. Mekanisme ini tidak begitu rumit untuk difahami, bahkan dalam APBD dan APBN pun secara politik kerap dialokasikan budget untuk dikorupsi dengan alasan “jatah orang miskin”. (Karena itu berilah legitimasi untuk pasangan yang paling kecil peluang korupsionalnya di antara pasangan tersedia);

(-) Untuk menyediakan lapangan kerja yang unik dan berpangsa pasar besar. Bukankah karena adanya orang miskin, lahirlah pekerjaan tukang kredit, aktivis-aktivis LSM (lokal, nasional dan internasional) yang menyalurkan dana dari badan-badan internasional, dan yang pasti berbagai kegiatan yang dikelola oleh departemen sosial. Belakangan dana-dana seperti itu tak terbatas di Kementerian Sosial saja. Pada dasarnya, politik pencitraan orang-orang yang terorbit belakangan (saya tak usah sebut siapa-siapa mereka dan apa saja kejahatan mereka terhadap orang miskin), adalah mekanisme politik yang menjadikan orang miskin menjadi korban dan korban dan korban. Tentu sangat penting untuk dipikirkan, tidakkah komoditas yang paling laku dijual oleh Negara Dunia Ketiga di pasar internasional sama sekali tidak ada selain kemiskinan?

(-) Untuk memperteguh status sosial orang kaya. Jika semua menjadi orang yang memiliki harta yang relatif sama, derajat orang kaya akan turun, karena eksistensi mereka tidak ada sama sekali. Semua sama dan semua punya uang, dan kepemilikan itu tak membuat hak-hak istimewa bersombong ria. Dalam alam demokrasi juga orang miskin inilah yang memperkokoh berulang-ulang legitimasi orang-orang jahat yang memiliki uang atau kekuasaan mengendalikan peredaran uang. Mereka bayar para pemilih itu hingga menerima statusnya menjadi jappurut untuk menukar hak-hak politiknya dengan jumlah kecil rupiah ditambah gabus. Gabus sudah menjadi komoditi politik nasional yang tak terobati, you like it or not.

(-) Untuk menciptakan sasaran yang bermanfaat untuk jadi tumbal pembangunan. Anda pastilah tahu maksudnya kan?

(-) Juga sangat diperlukan oleh model kesalehan orang-orang kaya tertentu. Ia naik pangkat satu ketika, dalam alam politik sekarang sukarlah tidak dengan sogok, maka ia pun melakukan syukuran. Ia pun merasa sangat berkeptningan menudang orang miskin. Ia pun butuh do’a orang miskin ini dan para anak yatim. Karena miskin dan yatim, orang-orang dhuafa itu tentu tak memiliki pilihan kecuali memperturutkan saja. Tetapi, gerakan seperti ini adalah mekanisme reproduksi nilai kemiskinan yang nyata. Orang yang sejak kecil (yatim) sudah lazim dibawa ke sana dan kemari (tak ubahnya komoditi) untuk menghadiri syukuran orang-orang kaya sambil meminta do’a, akan mengalami masalah ketergantungan. Secara psikologis orang ini akan merasa sangat tepat menjadi “tangan di bawah”. Terpatri sikap itu, kawan.

Saya selalu menyimak iklan tv dengan model menteri Anies Baswedan. Katanya, bangsa yang besar (kuat) bukan karena mereka miliki kekayaan sumberdaya alam, tetapi karena mereka cerdas.
.
Ia, menteri Anies Baswedan, sebetunya sedang mencaci-maki pemerintahan tempatnya bertengger yang tahunya cuma memperbanyak jumlah orang miskin dengan membagi sumberdaya alam Indonesia untuk dikuasai negara pemodal. Jokowi bilang “We are waiting for your investation”. Utang-utang yang melonjak itu membuktikan ucapan menteri Anies Baswedan.

Sayangnya media sering tidak menyadari bahwa dirinya hanyalah alat bantu kejahatan penguasa, meneruskan obsesi gilanya yang tak berkeadilan dan dengan penuh kebengisan.

Anda percaya jumlah orang miskin yang selalu dengan rajin dilaporkan oleh lembaga-lembaga resmi? Anda orang miskin atau bukan? Jika Anda orang miskin, saya akan bantu mengajukan permohonan mendapatkan tiga kartu sakti sekaligus. Presiden kita bisa datang blusuan sambil membagi-bagi buku tulis, beras dan sebagainya untuk memperkokoh asumsi bahwa filosofi kebudayaan politik kita sengaja memang mengabadikan kemiskinan itu untuk kekuasaan para elit. Kejam memang. Jahat memang. Keji memang.

Shohibul Anshor Siregar

Keterangan foto: memperingati 17 Agustus 2015 disebuah pemukiman kumuh. Halam saja mereka tak punya. Maka, para petugas upacara ada di seberang, dan peserta lainnya ada di seberang lain. Sungai ini bernama Sungai Deli, sudah mengalir dari dulu seakan mengikuti keabadian kemiskinan. foto: Dhabit Barkah Siregar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: