'nBASIS

Home » ARTIKEL » ANGKATAN 66

ANGKATAN 66

AKSES

  • 550,948 KALI

ARSIP


Angkatan 66 dulu mengusung tritura (tiga tuntutan rakyat), yakni Bubarkan PKI, Retol Kabinet Dwikora dan Turunkan harga/perbaiki ekonomi. Jika dibandingkan dengan saat sekarang, substansi tuntutan itu malah sedang kritis-kritisnya. Karena itu dengan jujur harus diakui bahwa kini sangat terasa degradasi kepekaan dan kejuangan ketika respon Angkatan 66 boleh dikatakan sangat sepi terhadap perkembangan yang terjadi


Akhir bulan ini, di Medan, salah satu organisasi yang menghimpun para mantan demonstran tahun 1966 di Sumatera Utara akan melaksanakan sebuah musyawarah. Organisasi itu, Dewan Pengurus Angkatan 66 Sumatera Utara, selama ini dipimpin oleh H.Marzuki, S.Sos., M.Si. Selain agenda pemilihan pengurus (2015-2020), seyogyanya musyawarah itu akan membicarakan hal-hal penting tentang dirinya dan lingkungan sosial, politik dan kulturalnya. Tulisan ini bermaksud mengulas serba sedikit tentang hal itu, dan refleksi kebelakang tentang semangat juang yang perlu diwarisi, dengan harapan orang sekarang tak hanya berfikir tentang rutinitas berorganisasi belaka dan menjalankannya sambil lalu saja.

Agenda. Ada beberapa hal serius yang seyogyanya akan menjadi agenda mendesak Dewan Pengurus Angkatan 66 Sumatera Utara saat ini. Di antaranya konsolidasi ideologi, pengembangan model organisasi, penyikapan atas permasalahan kenegaraan dan kebangsaan kontemporer, dan penyikapan atas masalah-masalah lokal (Sumatera Utara). Pertama, konsolidasi ideologi. Generasi demonstran tahun 1966 yang secara langsung ikut dalam gerakan penumpasan PKI pada tahun 1960-an sudah tinggal sedikit jumlahnya. Untuk tingkat lokal Sumatera Utara, sebutlah Prof.Dr.Usman Pelly, MA, HM Soetardjo, Prof Dr Djanius Djamin,SH, Dr Dharma Indra Siregar, Ucok Mayestik, Amran YS, Amir Siahaan, Nico P Hoya, Dr Chairuman Harahap, SH., MH, H.Marzuki,S.Sos.,M.Si, Syarif Koto, Asfar Gafar Malayu, Abu Sofyan dan lain-lain.

Generasi lebih muda dari mereka pun malah sudah banyak yang meninggal. Akhirnya nanti organisasi ini akan mengikuti jejak Angkatan 45 yang tak seorang pun tersisa pelaku sejarah di antara pengurusnya. Itu soal alamiyah belaka. Usia yang tak terlawan dan takdir yang sudah bersifat pinasti. Bagi organisasi Angkatan 45 dan 66, kiranya sangat perlu ditegaskan, tidak ada urgensi sama sekali meneruskan pengabadian organisasi tanpa konsolidasi ideologi. Organisasi-organisasi itu memiliki visi dan misi kejuangan yang dianggap sangat perlu dilestarikan. Hanya itulah urgensi yang ada. Tidak ada kepentingan pragmatis sama sekali, misalnya penggantangan kekuasaan atau klaim penguasaan ekonomi. Lalu bagaimana gagasan ideal-koreksional yang dimiliki bisa diteruskan? Itulah pentingnya konsolidasi ideologis yang tujuannya untuk mewariskan cita-cita kejuangan kepada generasi lebih muda.

Sekitar 15 tahun lalu komposisi yang dibangun dalam organisasi Dewan Pengurus Angkatan 66 Sumatera Utara ialah kira-kira 75 % generasi pelaku sejarah dan 25 % generasi penerus. Ini potret pada masa kepengurusan yang dipimpin Dr H.Zakaria Siregar, SP.AK yang kemudian diwariskan kepada Ir.H.Syahrum Razali, MS. Kemudian bergeser menjadi 65:35. Sekarang rumus itu tentulah harus terbalik, mungkin 25-35 % dari generasi pelaku belum tentu bisa terpenuhi. Lalu ditambah dengan 65 % generasi penerus. Dengan fakta itulah diperlukan sekali konsolidasi ideologis karena para pewaris belum tentu faham benar mengapa Angkatan 66 itu hadir menjadi keniscayaan pada zamannya. Bagaimana mereka mengerti dan memahami serta menerima serta memperjuangkan kepentingan-kepentingan gugatan besar yang pernah lahir dalam sejarah kemunculan Angkatan 66. Itu esensinya.

Kedua, pengembangan model organisasi. Organisasi ini tidak perlu kaya struktur, karena sebetulnya tak diharapkan organisasi ini mengambil porsi-porsi yang mengandalkan tenaga, melainkan pikiran. Kepekaan dalam menghadapi perubahan sangat diperlukan. Angkatan 66 mestinya terus teguh dalam pendirian, tegar dalam mengemukakan pendapat dan risih terhadap ketidak-adilan yang bersumber dari mana pun (struktur maupun kultur). Ia harus merasa berkewajiban memerangi itu. Lalu bagaimanakah organisasi yang pas untuk angkatan 66 saat ini? Tentulah mesti ramping struktur, tetapi kaya agenda dan produk pemikiran. Dewan Pengurus Angkatan 66 hanyalah satu di antara organisasi-organisasi Angkatan 66 yang eksis di Sumatera Utara. Di antara sesamanya harus pula dijalin komunikasi dan kerjasama lebih intensif melebihi pola-pola yang dilakukan selama ini.

Ketiga, penyikapan atas permasalahan kenegaraan dan kebangsaan. Angkatan 66 dulu mengusung tritura (tiga tuntutan rakyat), yakni Bubarkan PKI, Retol Kabinet Dwikora dan Turunkan harga/perbaiki ekonomi. Jika dibandingkan dengan saat sekarang, substansi tuntutan itu malah sedang kritis-kritisnya. Karena itu dengan jujur harus diakui bahwa kini sangat terasa degradasi kepekaan dan kejuangan ketika respon Angkatan 66 boleh dikatakan sangat sepi terhadap perkembangan yang terjadi.  Keempat, penyikapan atas masalah-masalah lokal seperti status dan keterancaman Gedung Nasional yang mestinya dijadikan cagar budaya yang sangat baik untuk pewarisan nilai-nilai kebangsaan dan kejuangan. Gedung Nasional itu bukan benda biasa sebagaimana para pedagang melihatnya tak lebih dari komoditi berhubung nilai jual objek pajak (NJOP) tanahnya tentu menggiurkan. Gedung Nasional adalah gedung republik pertama di Medan, dan menurut ketentuan UU wajib dilestarikan. Lalu, Angkatan 66 seyogyanya merasa wajib menginterupsi siapa saja yang ingin menukar warisan sejarah yang sangat berharga itu dengan recehan. Gedung Nasional dibangun dengan keswadayaan untuk mengakomodasi kepentingan pergerakan rakyat diprakarsai oleh Gubsu pertama SM Amin Nasution.

Masalah-masalah khusus lainnya seperti tanah milik Angkatan 66 di sekitar Saentis (Deliserdang) yang semasa pemerintahan Gubernur Rizal Nurdin telah disepakati untuk dijadikan sebagai perumahan angkatan 66 dan peruntukan fasilitas umum lainnya adalah salah satu agenda lokal yang menjadi pembicaraan penting bagi Dewan Pengurus Angkatan 66 Sumatera Utara. Tetapi setelah meninggalnya beberapa tokoh senior seperti Dr H Zakaria Siregar,Sp.AK dan M Saad Gurning, telah terjadi penyelewengan-penyelewengan terhadap aset itu. Diperlukan sikap tegas dan rencana yang jelas, di antaranya menghentikan klaim pihak-pihak tertentu yang selama ini bercokol di sana atas nama apa pun, baik klaim premansme maupun klaim palsu kelembagaan Angkatan 66.

Kegenerasian, Peran dan Misi. HB Jassin dalam buku “Angkatan 66 Prosa dan Puisi (1968)”, Satyagraha Hoerip dalam artikelnya dalam majalah Horison yang berjudul “Angkatan 66 dalam Kesusasteraan Kita (1966)”, dan Aoh K Hadimadja dalam artikel berjudul “Daerah dan Angkatan 66” dalam majalah Horizon-1967 memberi pengertian yang jelas terhadap Angkatan 66. Artikel Racmat Djoko Pradopo berjudul “Penggolongan Angkatan dan angkatan 66 dalam Sastra” yang dimuat dalam majalah Horison Juni 1967 juga bercerita hal yang tidak jauh berbeda. Pada sebuah sumber (sastralife.wordpress.com) disebut bahwa HB Jassin memaksudkan bahwa Angkatan 66 itu adalah suatu generasi yang tatkala proklamasi kemerdekaan (1945) kira-kira berumur enam tahun dan baru masuk SD/SR. Jadi tahu 1966 baru sekitar 20-an tahun. Mereka itu telah giat menulis dalam majalah-majalah sastra dan kebudayaan sekitar tahun 1955-an seperti Kisah, Siasat , Mimbar Indonesia, Budaya, Crita, Sastra, Konfrontasi, Basis, Prosa dan sebagainya.

Sedangkan Satyagraha Hoerip memilih julukan Angkatan Manifes (Horison Desember 1966), sebab memang mereka yang sebagian besar tergabung atau bahkan terang-terangan mendukung adanya Manifes Kebudayaan pada tahun 1964, yang kemudian dilarang oleh Presiden Soekarno pada tahun berikutnya. Dengan kriteria itu Ajip Rosidi, Rendra, Taufiq Ismail, Hartojo Andangjaya, Mansur Samin, Goenawan Muhammad, Djamil Suhirman, Bur Rasuanto, Bokor Hutasuhut, Bastari Asnin dan lain-lain termasuk dalam Angkatan 66. Identitasnya ada pada karakter penentangan dengan satu kesadaran untuk mengoreksi kebobrokan yang mereka saksikan pada zamannya.

Ajip Rosidi didalam kertas kerjanya pada Simposium Sastra Pekan Kesenian Mahasiswa Kedua Jakata tahun 1960, malah menggunakan istilah “Angkatan Terbaru” untuk menyebut mereka yang muncul pada saat dunia sastra Indonesia digamangi oleh kemuraman karena adanya krisis, kelesuan dan impase (kebuntuan). Mereka merupakan hasil pengajaran yang tumbuh dalam pengaruh kesusasteraan Indonesia. Mereka telah memberikan nilai baru terhadap ilham dan tempat berpijak serta berakar secara kultural. Singkatnya, dalam karya-karya mereka para sasterawan ini ada karakter menunjukkan penentangan terhadap tirani dengan segala akibatnya seperti penyalah-gunaan kekuasaan, korupsi, merajalelalnya komunisme, jauhnya jarak antara perbuatan dan perkataan, disingkirkannya Pancasila dan demokrasi. Kesadaran ini tentu tidak hanya terjadi pada tahun 1966, tetapi sudah ada sejak masa lebih awal.

Sebagaimana realitas politik yang muncul, Angkatan 66 tak hanya memiliki jelmaan kesadaran melalu kekuatan kesusasteraan yang khas perlawanan. Ada dimensi lain yang demikian penting seperti politik. Oleh karena itu kita tak akan hanya mengenal nama seperti  Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Muhammad BalfasMotinggo Boesje, Bokor HutasuhutSapardi Djoko Damono, Danarto, Nh. Dini, Wisran Hadi, Taufiq Ismail, Julius Usman, Kuntowijoyo, Leon Agusta, Toha Mochtar, Goenawan Mohamad, Nasjah Djamin, A.A. Navis, Arifin C. Noer, Ramadhan K.H, SN Ratmana, Iwan Simatupang, Piek Ardijanto Soeprijadi, Djamil Suherman, Titis Basino, Umar KayamPutu Wijaya dan lain-lain yang memiliki karya-karya koreksional pada zamannya, baik sebagai sasterawan maupun sebagai jurnalis. Tetapi nama-nama lain yang tak bekerja dalam dunia sastera dan jurnalistik seperti Rahman Tolleng, Cosmas Batubara, Abdul Gafur, Fahmi Idris, Nugroho Notosusanto, Akbar Tanjung, Soe Hok Gie, Arief Budiman, Sofjan Wanandi dan lain-lain adalah generasi yang sama.

Penutup. Tidak ada orang yang bisa melawan usia. Orang-orang suci pun meninggal sesuai taqdirnya. Karena itu regenerasi dan prosesnya yang sempurna harus menjadi pemikiran bagi setiap generasi. Agama malah mengancam lebih tegas “was-waslah kamu jika akan meninggalkan generasi yang lemah”.

Di lain-lain tempat di luar Sumatera Utara organisasi yang menghimpun para mantan demonstran tahun 1966 memiliki variasi model dan aktivitas. Tetapi pada umumnya sama-sama terlihat mementingkan penyeimbangan dan bahkan koreksi atas fakta-fakta kekuasaan dan politik yang menyimpang, termasuk kesenjangan ekonomi dan ketidak-adilan yang menjauhi kemurnian penerapan Pancasila.

Karena kekuatan mantan demonstran tahun 1966 itu ada pada ide, maka kesepuhannya mestilah muncul sebagai core peran di tengah masyarakat. Teguh berpendirian, tegar mengemukakan pendapat dan bertindak untuk kemaslahatan bangsa dan Negara, mestinya menjadi pergelutan serius bagi organisasi ini.

 
Shohibul Anshor Siregar
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA, Medan, 8 Oktober 2015, hlm B 6.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: