'nBASIS

Home » ARTIKEL » T.A.LATHIEF ROUSYDIY: CATATAN SEORANG MURID

T.A.LATHIEF ROUSYDIY: CATATAN SEORANG MURID

AKSES

  • 550,950 KALI

ARSIP


Scan0002

Oleh Shohibul Anshor Siregar

(Dosen FISIP UMSU. Koordinator Bidang Hikmah & Kebijakan Publik, Litbang, dan Pemberdayaan Masyarakat PWM Sumatera Utara)

SUATU pagi saya telah berdiri di depan kelas mahasiswa semester pertama FISIP UMSU. Sebelum memulai perkuliahan, saya minta peserta kelas mengisi daftar hadir. Saya sengaja mempercepat perkuliahan karena ingin menggunakan kesempatan pada bagian akhir untuk berkenalan dengan semua peserta kelas. Satu persatu saya panggil berdasarkan daftar yang sudah ditandatangani oleh seluruh peserta yang hadir. Saya minta mereka menyebut sekolah asal mereka dan jika perantau, di mana mereka tinggal di kota Medan; pandaikah mereka memasak; berapa anggaran untuk membeli pulsa dalam sebulan; punyakah mereka laptop, dan sebagainya.

Seorang di antara mahasiswa ini bernama Ahmad Zaini Rousydiy. Saya tertegun sebentar memperhatikan cara penulisan penggal ketiga namanya, “Rousydiy”. Saya minta ia berdiri. Lalu saya tanya, “kamu anak siapa? Anak Lutfikah, anak Fauziahkah? Atau anak siapa? Kakekmu, T.A.Lathief Rousydiy, adalah tokoh besar. Rektor kedua Universitas kita ini”.

Banyak orang bernama Rusdi, Rusydi, Rusydiy, Rusydy, tetapi tidak menuliskannya “Rousydiy”. Itu yang pertama membuat saya yakin bahwa di kelas ini ada titisan darah T.A.Lathief Rousydiy di kelas saya. Setelah saya lihat perawakannya, saya tahu ia lebih pendek dan masih kalah besar dari kakeknya T.A.Lathief Rousydiy. Wajahnya pun bukan wajah guru saya T.A. Lathief Rousydiy. Dia juga tidak seagresif kakeknya.

Saya nyatakan kepada Ahmad Zaini Rousydiy betapa senangnya saya berkesempatan untuk menjadi guru bagi cucu dari guru saya. Sambil minta maaf kepada peserta kelas lainnya saya nyatakan, bahwa saya memiliki hubungan khusus dengan Ahmad Zaini Rosydiy karena kekeknya T.A.Lathief Rousydiy adalah guru saya, rektor kedua kita dan ulama besar kita. Seorang pejuang yang dalam penilaian saya sudah berusaha memberi jawaban-jawaban cerdas atas masalah-masalah pada zamannya.

Ahmad Zaini Rousydiy sudah menamatkan kuliahnya di UMSU. Saya tidak tahu apakah ia mengikuti saran saya untuk meneruskan S2. Jika mungkin jangan bekerja dulu sebelum menamatkan S3. Saya berharap ia mengikuti saran saya.

Di kelas. T.A.Lathief Rousydiy selalu mengawali perkuliahan dengan pidato iftitah dalam bahasa Arab yang selain berisi tasyahud dan salawat, juga berisi penegasan-penegasan tentang ketajdidan yang untuk kami para mahasiswa beliau masa itu kerap disebut “iftitah Lathief Rousydiy”. Banyak yang menghafal pidato iftitah itu dan memperagakannya saat berpidato dalam acara-acara kemahasiswaan atau ketika melakukan tabligh di desa-desa terutama saat ramadhan. Lazimnya usai pidato, teman itu akan dipuji “wah sudah mirip pak T.A.Lathief Rousydiy. Hanya suara sengaunya saja yang belum pas”, dan tentulah itu akan sangat sulit ditiru oleh siapa pun.

Mata kuliah beliau di kelas saya adalah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Dengan bahan yang sudah dipersiapkan,  dan dengan terlebih dahulu mereview serba sedikit bahasan perkuliahan pekan sebelumnya, biasanya beliau akan berbicara terus dengan speed yang makin lama makin menemukan standarnya sendiri. Tetapi tidak dengan nada suara yang naik turun.

Beliau selalu tepat waktu. Melirik arloji dengan menaikkan sedikit lengan baju safari berlengan panjang untuk melirik jam tangan, beliau akan mempersilakan satu dua pertanyaan dari peserta kuliah. Tetapi saya ingat jarang orang di kelas saya yang mau bertanya.

“Bagaimana kita mendefinisikan Islam, ustaz”. Itu pertanyaan saya suatu kali. Itu saya ingat pada perkuliahan perdana. Beliau menjawab dengan mengutip sebuah nash. Karena diucapkan sambil memberikan terjemahan pada bagian-bagian tertentu dan tafsir yang dituliskan secara pointer di papan tulis, saya tak begitu pasti, tetapi saya merasa ada kesamaan dengan hadits berikut (tetapi belum tentu ini):

حَدَّثَنِي أَبُو خَيْثَمَةَ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ كَهْمَسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ ح و حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ وَهَذَا حَدِيثُهُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا كَهْمَسٌ عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ قَالَ كَانَ أَوَّلَ مَنْ قَالَ فِي الْقَدَرِ بِالْبَصْرَةِ مَعْبَدٌ الْجُهَنِيُّ فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَحُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيُّ حَاجَّيْنِ أَوْ مُعْتَمِرَيْنِ فَقُلْنَا لَوْ لَقِينَا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلْنَاهُ عَمَّا يَقُولُ هَؤُلَاءِ فِي الْقَدَرِ فَوُفِّقَ لَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ دَاخِلًا الْمَسْجِدَ فَاكْتَنَفْتُهُ أَنَا وَصَاحِبِي أَحَدُنَا عَنْ يَمِينِهِ وَالْآخَرُ عَنْ شِمَالِهِ فَظَنَنْتُ أَنَّ صَاحِبِي سَيَكِلُ الْكَلَامَ إِلَيَّ فَقُلْتُ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ قَدْ ظَهَرَ قِبَلَنَا نَاسٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَتَقَفَّرُونَ الْعِلْمَ وَذَكَرَ مِنْ شَأْنِهِمْ وَأَنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنْ لَا قَدَرَ وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ قَالَ فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِثُمَّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ

Dalam menyampaikan pembahasan beliau selalu memegang teguh sistematika yang memudahkan pemahaman. Beliau tidak tersesat dalam uraian-uraian detilnya. Maksud saya begini. Misalkan beliau menjelaskan rukun iman. Akan beliau mulai dengan menyebut rukun yang enam. Lalu dibreakdown satu demi satu.

Iman Kepada Allah misalnya, bisa beliau mulai dengan pengertian tawhid, sifat-sifat Allah. Bisa berlanjut ke pembahasan detil tentang bagaimana tuhan dikenali pada agama-agama lain sebagai perbandingan. Lalu menukik kepada kisah para nabi mencari Tuhan sebagaimana dikisahkan tentang Ibrahim. Beliau juga bisa menegaskan ketidak-mungkinan orang-orang atheis menyangkal eksistensi Tuhan, kecuali sekadar mengingkarinya saja. Sedetil apa pun beliau berbicara tentang ini, takarannya seolah sudah dibuat untuk kembali ke pokok bahasan pada waktu yang tetpat. Penjelasan beliau akan sangat sarat dengan nash-nash yang qath’i.

Bagaimana beliau soal ujian? Saya tak pernah menerima soal selain bentuk essay. Bagaimana soal nilai? Saya sepakat dengan seorang mahasiswa beliau di IAIN, Syaiful Sayman Rangkuty, beliau ini tidak pernah menyulitkan mahasiswa. Saya curiga bahwa pendirian beliau adalah bagaimana mengajarkan secara lebih baik dan efektif materi perkuliahan ketimbang berusaha menguji sungguh-sungguh kemampuan mahasiswa yang sudah diajar. Saya merasakan bahwa beliau sangat mengenali mahasiswa yang beliau ajar lebih pada kemampuannya menyerap pelajaran, bukan pada nama mereka satu persatu.

Guru Besar. Dalam salah satu fase perkembangan UMSU di bawah kepemimian Dr H Dalmy Iskadar, semakin dirasakan kebutuhan pengembangan fisik, akademik dan kemahasiswaan. Dalam penuturan almarhm Mohd Natsir Isfa, dengan modal keberanian dan tak kenal lelah, dengan Bismillah Dr H Dalmy Iskandar memulai pekerjaan berat, walau dihadapkan dengan berbagai keterbatasan. Kemampuan Dr.H.Dalmy Iskandar untuk melakukan pendekatan kepada pemerintah maupun pengusaha patut mendapat acungan jempol. Beberapa Menteri yang mempunyai kedekatan seperti Drs.Cosmas Batubara, Ir.Akbar Tanjung, Prof.DR.B.J.Habibie, Harmoko, Panglima TNI Feisal Tandjung, dan lain-lain diundang untuk menyampaikan Ceramah Umum di Kampus UMSU. Puncaknya adalah keberhasilannya menggandang Pengusaha Nasional H.Probosutedjo yang tidak lain juga adalah adik Presiden Soeharto, sekaligus memposisikannya sebagai Ketua Dewan Kurator UMSU. Sebagai Ketua Dewan Kurator, H.Probosutedjo tidak ragu memberikan sebahagian kekayaannya untuk membangun Kampus I UMSU.

Masih menurut alm Mohd Natsir Isfa, bagi Dalmy Iskandar ada prinsip yang melekat pada dirinya yakni semua hambatan bisa diterobos, termasuk keberaniannya mengukuhkan gelar Professor kepada Dr.Suhardiman SE meski terjadi pro kontra dalam proses pengukuhan guru besar tersebut. Setelah titik terang soal rencana usulan pengukuhan guru besar untuk Dr.H.Suhardiman, SE, kemudian Dr H Dalmy Iskandar memiliki ide lain dan segera memerintahkan kepada beberapa staf untuk menyusun data dan berkas-berkas pendukung yang diperlukan untuk mengajukan dua nama  lagi untuk bidang yang berbeda, yakni T.A.Lathief Rousydiy dan HM Joesoef So’uyb, meskipun hal ini akhirnya tidak terlaksana. “Kalian kajilah, kalian konsultasikan ke Kopertis, ke Kopertais, ke Dikti Depdikbud, dan Diktilitbang PP Muhammadiyah, apakah kita akan mengukuhkan gelar Doktor Honoris Causa atau gelar Guru besar. Pak T.A. Lathief Rousydiy itu guru besar dalam bidang da’wah menurut saya, dan HM Joesoef So’uyb guru besar bidang Ilmu Filsafat. Bantu saya untuk segera menyelesaikan ini agar sekaligus dengan pengukuhan pak Suhardiman”, perintah Dr.H.Dalmy Iskandar.

Kecelakaan di depan Kampus. T.A. Lathief Rousydiy lazimnya dating ke kampus dengan sepeda motor dengan knalpot ganda. Saya lupa nama atau merk kenderaan beliau itu. Pada suatu sore ketika hendak memasuki kampus di Jalan Gedung Arca Medan, tiba-tiba T.A.Lathief Rouysdiy terjatuh. Ada kenderaan lain yang membentur entah dari arah yang sama atau berlawanan. Beberapa mahasiswa bergerak cepat, di antaranya Iwan Gayo yang langsung menuntun sepeda motor T.A.Lathief Rousydiy ke parkiran.

T.A.Lathief Rousydiy memanggil orang yang membenturnya, seorang yang ternyata adalah mahasiswa di kampus yang berseberangan dengan UMSU. “Sini, nak. Ayo ke kantor saya. Saya rektor di sini”. Mahasiswa itu menurut. Iwan Gayo berbisik, “yah, orang tua ini sudah ditabrak kok bisa tidak marah dan tak ada sedikit pun tanda cemas di wajahnya. Luar biasa. Jiwa besar beliau ini”.

Beberapa saat mahasiswa itu berbicara dengan T.A.Lathief Rousydiy di kantor beliau. Setelah keluar dia mengaku dinasehati, tidak dimarahi.

Pemain Badminton. Saya ingat ada penjadwalan berolahraga badminton beberapa pimpinan UMSU dan pimpinan Muhammadiyah Wilayah Sumatera Utara dengan memanfaatkan halaman dalam kampus. Saya melihat permainan yang menarik. Dua pemain yang saya lihat berimbang ialah HM Nuh Harahap dan T.A.Lathief Rousydiy. Sambil mengayun racket, biasanya T.A.Lathief Rousydiy tidak pernah berhenti berbicara. Beliau bisa menyebut nama-nama pemain terkenal dunia untuk mengidentifikasi  kesamaan smash. Tentu semua itu guyon yang dibalas lawan dengan guyon segar pula.

Siapa yang membawa shuttle cock? Biasanya sudah ada pengaturan bergilir.

Alm Ali Mukmin Siahaan selalu berdecak menyaksikan permainan itu. “Bagaimana itu pak Lathief bisa selincah itu di lapangan, padahal badannya begitu besar? Saya rasa waktu muda beliau ini petinju juga, atau paling tidak tak pernah takut berkelahi dengan siapa pun lawan tangguh.”

Saya Murid T.A.Lathief Rousydiy. Dalam sebuah kunjungan Ketua PP Muhammadiyah Ar Fachruddin ke Medan, terjadi perubahan rencana route perjalanan pulang beliau dari Medan-Jakarta-Jogja menjadi Medan-Palembang-Jakarta-Jogja. Saya bersama alm Mohd Natsir meminta perubahan itu di kantor maskapai penerbangan. Tetapi rencana itu tidak diperkenankan dengan alas an yang kurang jelas. Suara saya menjadi sedikit meninggi dengan mengatakan “Andakah orang dengan jabatan tertinggi di kantor ini?”. Petugas itu menjawab “tidak ada hubungannya dengan atasa saya. Beliau pasti mengatakan hal yang sama”.

Tetapi atasannya mendengar pertengkaran itu dan lalu mendekat. “Bisa saya bantu?”, tanyanya perlahan. Sejak tadi saya dengar disebut-sebut nama pak AR Fachruddin. Apakah yang kalian maksud itu Ketua PP Muhammadiyah? Saya murid pak T.A.Lathief Rousydiy. Saya akan berbuat yang terbaik untuk para pemimpin umat yang saleh itu”.

Urusan selesai bahkan tanpa tambahan biaya (saya yakin diam-diam mereka sendiri yang sengaja menanggung tambahan biaya itu). Setelah itu saya tanya, “bagaimana bapak ini menjadi murid T.A.Lathief Rousydiy?” Sambil berurair air mata ia mengemukakan: “Saya tinggal di Jalan Denai. Tetapi setiap sholat Ied saya akan ke Jalan Sutomo, atau dimana pak T.A.Lathief Rousydiy menjadi Imam dan Khatib”.

Saya balik betanya, “apakah hanya itu alas an bagi bapak untuk mengklaim murid T.A.Lathief Rousydiy?” Ia menjawab datar “saya kira tak aka nada yang meminta sertifikat sebagai murid pak T.A.Lathief Rousydiy saat saya sungguh-sungguh merasakan bahwa saya muridnya”.

Biografi. Saya belum membaca buku biografi yang dibahas pagi ini. Tetapi saya ingin mengingatkan bahwa salah seorang dari aktivis muda Muhammadiyah pernah menulis tentang beliau, saya lupa apakah Rahmah Amini yang menulis tentang T.A.Lathief Rousydiy atau Muslim Simbolon. Dalam keraguan yang sama saya menyebut kedua aktivis muda Muhammadiyah itu sebagai orang yang sudah menulis tentang ND Pane atau HM Bustami Ibrahim.

Untuk masa-masa kepemimpinan beliau pada Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara tentulah H.Ibrahim Sakty Batubara seyogyanya akan menjadi salah seorang narasumber yang tepat untuk penulisan biografi beliau, karena pada saat itu H Ibrahim Sakty Batubara adalah Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

 

 

Catatan: naskah ini saya tulis sesaat setelah tiba di rumah tanggal 13 Oktober 2015 malam dan menemukan sebuah undangan peluncuran buku biografi T.A.Lathief Rousydiy terletak di atas meja di rumah saya. Peluncuran buku itu akan dilaksanakan di Kampus UMSU, 17 Oktober 2015. Saya menulis catatan ini lebih untuk diri saya pribadi, sebagai satu cara untuk mengenang dan berterimakasih kepada seorang guru yang memiliki integritas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: