'nBASIS

Home » ARTIKEL » BERTEMU GURUKU

BERTEMU GURUKU

AKSES

  • 550,950 KALI

ARSIP


12096602_10205028265848292_6040555357730150240_n
|Ya Allah, maafkan hamba-Mu tak pernah berbakti kepada guruku ini dan guru-guruku yang lain, di bangku sekolalah/madrasah pertama, kedua, ketiga dan seterusnya|

Saya menerima sms pagi Sabtu, bunyinya demikian:
 
“Ass w w. On oppung Abd Manaf Panggabean. Kapan oppung bisa mengganggu utk nelepon. Wassalam w w”
 
Bagian ini perlu saya terjemahkan “On oppung Abd Manaf Panggabean” (Pengirim sms ini adalah kakek Abd Manaf Panggabean). Memang, di luar kelas beliau adalah Ompung (kakek) saya dirunut dari leluhur nenek dari pihak ayah. Sedangkan dirunut dari isteri beliau, Tiomsir Boru Gultom, beliau adalah Lae saya.
 
Saya terharu dan meneteskan air mata. Tak kuat untuk segera melakukan balasan sms, dan memang akhirnya saya pastikan tak akan saya balas dengan sms. Saya mengumpulkan kekuatan untuk melakukan pembicaraan langsung lewat telefon.
 
Ini pembicaraan kami lewat telefon:
 
  • Saya: Assalamu ‘alaykum;
  • Jawaban: Wa’alaykum salam;
  • Saya: Saya Shohibul Anshor Siregar. Ingin bicara dengan ompung;
  • Jawaban: Oh, hamu do i ito. Neon do Laemuna (Oh, adinda rupanya, beliau ada di samping saya);
 
Yang menerima adalah isteri beliau. Lalu saya tanyakan di mana berada sekarang, apakah di kampung halaman (Peanornor)? Setelah saya tahu beliau ada di Medan, lalu saya minta tolong di-sms-kan alamat biar saya segera datang. Setelah saya tiba di tempat beliau, inilah pembicaraan kami:
 
  • Saya menanyakan kesehatan guru saya ini. Saya mendapat cerita tentang keadaan up and down kesehatan beliau. Banyak kekurangan sekarang. Tubuhnya terkadang lemah. Pendengaran sudah mulai melemah, tetapi ketika berbicara tidak menunjukkan kelainan sebagaimana lazimnya suara keras dari seseorang yang mengalami gangguan pendengaran. Volume suara beliau tetap seperti saat mengajar dahulu.
  • Saya tanyakan alasan saya bersedih membaca sms itu, karena seolah saya tidak memiliki waktu lagi untuk masa lalu saya dan untuk tokoh yang sangat berjasa membentuk kepribadian saya. Sambil memohon maaf, saya menjelaskan interpretasi saya bahwa saya seperti dihukum dengan cap manusia yang sangat sombong dengan bunyi sms itu.
  • Dijelaskan oleh beliau bahwa seseorang muridnya yang lain sudah ditelefon dua hari sebelumnya. Tetapi dijawab belum memiliki waktu karena sangat sibuk.
  • Dijelaskan juga oleh beliau bahwa nomor hp saya tidak ada pada guru saya ini, karena itu beliau telah berjalan dari rumah tempatnya menginap ke saudaranya yang juga tinggal di Medan. Setelah mendapat nomor itulah beliau mengirim sms kepada saya.
  • Sama sekali saya tidak memarahamu, tegas beliau dengan bahasa yang amat perlahan dan mengarahkan pandangan ke bawah. Saya hanya berusaha menyesuaikan dengan standar kehidupan kalian orang kota yang saya dapatkan dari pemahaman atas pengalaman berhubungan dengan rekan sekelasmu yang saya hubungi sebelumnya, tambahnya.
  • Apakah kau tidak sibuk hari ini?, tanya beliau sangat serius dengan pandangan menyelidik tepat ke wajah saya. Saya tak kuasa menentang sorot matanya, bukan karena takut; melainkan takzim yang tidak saya buat-buat.
  • Saya menjawab beliau: “Ompung, sekiranya detik ini saya dipanggil oleh Allah dan berakhir di depan Ompung, apakah saya bisa mengatakan tak memiliki waktu?” Sekarang, jika ompung sudah merasa tepat mengemukakan maksud memanggil saya, saya sudah siap mendengarkan, pinta saya dengan sangat perlahan.

Beliau pun menuturkan satu masalah, yakni pemahaman beliau tentang qurban, sejarahnya dan implikasinya dalam kehidupan. Tetapi beliau mengoreksi ucapan saya terlebih dahulu secara halus. Tidak boleh berlebihan. Saya tahu kau tulus berkata seperti itu, tetapi saya kira kau telah khilaf memilih kata-kata. Tidak boleh membiarkan unsur syirik sedikit pun dalam kehidupan kita, jelas beliau. Saya tertunduk diam dan merasa diri mengerdil seperti zarrah saja dinasehati oleh guru saya ini karena mengatakan “Ompung, sekiranya detik ini saya dipanggil oleh Allah dan berakhir di depan Ompung, apakah saya bisa mengatakan tak memiliki waktu?”.

Terus terang, saya tidaklah memiliki perkembangan pemahaman tentang masalah ini setelah beliau ajarkan sekitar tahun 1973 di kelas. Saya sudah banyak membaca setelah itu dan juga banyak menulis dengan menggunakan berbagai perspektif yang saya kuasai seuai disiplin ilmu saya. Dasar pemahaman saya ialah apa yang beliau tuntunkan pada masa saya muda, ketika beliau asuh di kelas.

Beliau tiba pada sebuah terminasi setelah menyadari banyaknya telefon yang masuk ke hp saya. Lalu beliau pun berkata “terimakasih sudah datang. Saya gembira bertemu denganmu. Jika keadaan sudah tidak memungkinkan, pergilah memenuhi tugas-tugasmu yang lain, yang tentu sudah menunggu”.

  • Hormatku kepadamu, guruku. Sehat selalu dan Allah membalas kebaikanmu, jasa besarmu, ketawaddhu’anmu dan kehalusan perasaanmu. Nuraniku memiliki pengembangan potensi nalar dengan contoh-contoh ketauladanan yang telah kau berikan pada masa mudaku. Allah memberkatimu, guruku.
  • Ya Allah, maafkan hamba-Mu tak pernah berbakti kepada guruku ini dan guru-guruku yang lain, di bangku sekolah/madrasah pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.
 
Catatan:
 
  • Lihatlah rambut beliau masih hitam. Beliau menjelaskan dengan kelakar, ini dicet oleh Allah dari dalam.
  • Mata kanan beliau bermasalah. Otot kantung mata kerap tertarik ke atas hingga bulu mata dari kelopak bawah mengganggu biji mata, dan itu menimbulkan rasa sakit. Kata dokter, ini harus dioperasi.
  • Untuk sementara, kata beliau, cara inilah ditempuh dulu, diberi pengaman agar tak selalu tertarik ke atas.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: