'nBASIS

Home » ARTIKEL » MAAFKAN JOKOWI

MAAFKAN JOKOWI

AKSES

  • 535,235 KALI

ARSIP


| Jadi itu pidato resmi Presiden Jokowi? Tidak ada penjelasan tentang api dari mana dan mengapa tak henti-henti melalap lahan-lahan itu? Mau berapa lama lagi ini berlangsung menurut Presiden? Presiden terkesan hanya faham simptom (gejala) dan tak sedikit pun menyinggung akar masalah. Hentikan api itu. Hentikan. Jika api tak dihentikan, berapa ribu ton obat-obatan dan masker tiada berguna sebelum rakyat secara fisik mampu beradaptasi menjadi penghuni sebuah negara dengan polutan terparah di dunia akibat asap dari kebakaran hutan yang menjadi misteri yang dibiarkan. Anda faham maksud saya? |

Jika seseorang bertanya kepadamu, “Mengapa bencana kabut asap ini tak ditetapkan saja menjadi bencana nasional sesegera mungkin”, kira-kira apa jawabmu Saudara, tanya  Gellok kepada Sordak. Orang yang ditanya menjawab:  Pertama, presiden kita sudah pergi ke lokasi kebakaran lahan dan hutan yang menjadi penyebab bencana asap itu. Jadi, beliau sudah tahu keadaannya. Beliau didampingi oleh kekuatan Negara, eh maksud saya,  para pembijaksana nasional dan para ahli.

Terlalu curigalah Anda kepada Presiden Jokowi, menganggapnya tak peduli derita rakyatnya yang terpaksa menghirup  udara buruk itu. Jangan dikira Presiden kita dan segenap menteri dan para ahli di sekitar kekuasaan itu tak pandai menghitung kerugian ekonomi dan kerugian sosial serta kerugian-kerugian lainnya sehingga menilai mereka telah membiarkan penderitaan besar bagi rakyatnya sendiri.

Kedua, konon saya dengar-dengar khabarnya LSM yang selama ini bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan pun sudah memuji pemerintah dalam tindakannya menanggulangi masalah kebakaran dan asap itu. Menko Puan Maharani pun dikhabarkan sudah mengirimkan 33,8 ton obat, masker dan lain-lain untuk korban, didistribusi di daerah bencana. Presiden pun sudah menginstruksikan kementerian dan lembaga terkait untuk segera melaksanakan proses evakuasi terhadap para korban bencana asap di sejumlah daerah karena kondisinya saat ini sangat tidak sehat. Ia menyebutkan, di Pulau Sumatera masih  ada 826 titik api,  di Sumatera Selatan sendiri 703 titik api, di Kalimantan 974 titik api, dan lain-lain. Sudah disiapkan 6 kapal TNI untuk evakuasi korban bencana kabut asap itu. Apalagi kurangnya? Apakah Anda mengharapkan Presiden Jokowi membuktikan keprihatinannya dengan menangis setiap hari? Realistislah, kawan.

Distrust. Tetapi Gellok merasa wajib bertanya karena heran: “Jadi, itukah alasan mengapa begitu ringannya Presiden berangkat untuk kunjungan menemui Obama di Amerika yang menurut ingatan saya tercatat beberapa kali pernah mereschedule kunjungannya ke Indonesia karena merasa ada masalah genting dalam negerinya yang tidak boleh ditinggal? Presiden kita menganggap keadaan buruk yang mengancam keselamatan rakyat di sejumlah pulau-pulau besar di luar pulau Jawa itu tak genting?”

Nah, Anda buruk sangka lagi, jelas Sordak. Dengarkan alasan berikutnya. Ketiga,    Sabtu (24/10) malam hingga Kamis (29/10) mendatang betul beliau berkunjung ke Amerika dengan agenda utama bertemu para petinggi perusahaan teknologi informasi di Silicon Valley untuk bertukar pikiran dan belajar mengenai pembinaan startup dan e-commerce. Itu sangat penting, bukan? Kau ingat kunjungan perdana ke luar negeri Presiden Jokowi itu ke China? Dalam sebuah pertemuan di sana, beliau berbicara dalam bahasa Inggeris yang sangat fasih untuk mengundang para pengusaha besar agar berduyun-duyun datang berinvestasi ke Indonesia khususnya untuk membangun infrastruktur, dan Indonesia sangat menantikannya?

Keempat,  sebelum berangkat, presiden pun sudah menunjuk Menko Polhukam untuk menjadi pelaksana koordinasi penanganan kebakaran hutan itu. Ingat, Presiden Jokowi pun sudah berbicara tegas, dengan mengatakan “Stop izin baru lahan gambut. Izin lama yang belum dibuka tidak boleh dibuka”. Kurang apa lagi?

Sudahlah, saya yakin Anda masih memiliki paparan argumen kelima, keenam, ketujuh dan seterusnya. Saya tidak butuh itu, dan faktanya tak dapat membuat saya percaya dan makin mengerti lebih baik kondisi Negara kita. Saya tidak mau sinis kepada siapa pun, dan semua itu tak mereduksi penderitaan puluhan juta rakyat dengan potensi kerugian yang sangat besar sekali, termasuk bagi kehidupan makhluk hidup lainnya karena dampak ekologis, dampak kerugian ekonomis dan dampak Sosial.

Saya menilai hal ini lebih pada soal nilai. Ya, krisis nilai. Seolah tiada yang dapat bertindak benar di negara ini berdasarkan pemahamannya atas akibat-akibat perubahan besar dalam kondisi biologi fisik dan kimia pada unsur-unsur lingkungan yang terjadi karena kebakaran yang sangat tak diketahui apa, dimana dan siapa penyebabnya ini. Saya tidak ahli, tetapi api yang membakar terus-menerus ini akan dengan sendirinya merubah kualitas tanah secara degradatif,  juga udara (gas dan partikel), air,  habitat (flora dan fauna). Dengan tak henti-hentinya kebakaran dan pengasapan ini (maafkan saya menggunakan istilah ini, pinta Gellok), perubahan sumberdaya dan fungsi lingkungan karena perubahan kondisi biofisik dan kimia pastilah mengakibatkan terjadinya penurunan produktivitas lahan, fungsi hidrologis yang tak terperikan, dan Anda dengan ringannya bersuka-cita memaparkan argumen-argumen yang bagi telinga saya terdengar hanyalah sebatas apologi hampa.

Saya ingin Anda menghitung cermat, berapa kerugian ekonomi dan korban manusia dari bencana ini. Belum lagi Anda mestinya harus menghitung secara politik trust kepada pemerintah pasti akan merosot sangat tajam karena tak faham mengapa bencana ini tak dapat dihentikan dan apa maksudnya semua ini? Sekali lagi, seberapa besar korban manusia dari bencana ini, tolonglah hitung secara cermat.

Wah-wah, saya tak menyangka begitu buruk pandangan Anda terhadap pemerintahan kita, jawab Sordak. Lihat ini, saya mengutip pidato pengantar Presiden Jokowi pada rapat pengendalian bencana kabut asap, di kantor Presiden, Jakarta, 23 Oktober 2015 yang lalu.

“Kondisi ini sangat berdampak dan  sudah masuk dalam kategori yang sangat tidak sehat. Tetapi sebelum masuk ke sini saya ingin menginformasikan terlebih dahulu beberapa hal. Nantinya dalam jangka pendek, jangka menengah maupu  jangka panjang apa yang akan kita lakukan.

Yang pertama One map policy itu harus berjalan. Di Kemenko Perekonomian dan mungkin Bappenas harus jalan. Kemudian yang kedua, untuk yang di gambut, untuk lahan gambut, ini saya perlu sampaikan kepada Menteri LH,  tidak ada izin baru, gambut. Kemudian segera lakukan restorasi gambut. Kemudian yang ketiga, review izin lama. Sudah harus keras kita. Yang belum dibuka tidak boleh dibuka. Ini penting yang jadi catatan.

Dan kembali lagi ke masalah yang kita hadapi sekarang. Pertama, saya kira kemarin kita  sudah dirapatkan di kemenko mengenai proses evakuasi, saya kira proses itu segera di laksanakan. Dan saya teruskan untuk penanganan yang fokus untuk nahan api dan dampak asap ini dilakukan secara masif, semua kementerian agar konsentrasi dan  masuk ke lapangan, terutama untuk yang berkaitan dengan anak dan bayi.

Saya kira juga tidak perlu sampai di evakuasi ke luar kota karena bisa saja evakuasi ini disiapkan di kota itu. Mungkin bisa saja di kantor bupati atau  di kantor yang lainnya yang dipakai khusus untuk bayi dan anak, dan diberi apa itu, penutup eeee…..AC-nya ada apa ini, apa untuk mencegah asap masuk. Saya kira sudah ada semuanya. Saya kira untuk pembersih udara. Itu  juga kalau dievakuasi ke luar kota akan lebih  menyulitkan.

Kemudian yang berkaitan dengan kesehatan saya kira agar Bu Menteri ini bisa dimobilisasi dari swasta, dari BUMN, saya kira sudah harus mulai terlaksana. Baik untuk yang berkaitan dengan ISPA,  kesehatan-kesehatan yang lainnya, dampak dari asap ini.

Kemudian di bidang pendidikan, Saya juga minta menteri untuk turun langsung, karena yang dibawah ini banyak anak-anak yang resah  mempersiapkan menuju UN seperti apa. Kemudian persiapan untuk tes-tes akhir tahun ini juga seperti apa. Harus betul-betul disiapkan jalan keluarnya. Sekolah juga tahu, murid juga tahu, sehingga mereka juga tenang dalam mempersiapkan kegiatan belajar dan  mengajar. Penting sekali, meskipun  saya tahu step-stepnya sudah disiapkan tapi perlu diturunkan ke bawah, sehingga mereka semua tahu apa yang akan kita lakukan.

Terakhir saya tekankan kebakaran hutan masalah kita bersama. Saya mendukung  semua gerakan inisitaf yang dilakukan oleh masyarakat dalam pemadaman api maupun mengatasi dampak asap ini, dan saya harapkan kita semua bisa menggerakkan, mengerahkan semua kekuatan untuk  mengatasi semua masalah ini dan membantu korban-korban yang ada, baik TNI, baik Polri dan Kementerian”.

Nah, Anda sudah mendengarkan. Kurang apa lagi? Apa Presiden Jokowi Anda rasa masih belum memiliki rasa tanggap? Apakah pandangannya terhadap masalah ini sangat dangkal menurut Anda? Saya rasa Anda berlebihan menilai Presiden Jokowi secara negatif begitu. Jangan begitulah. Kita harus jujur dan harus mengakui kejituan upaya-upaya yang dilakukan secara sungguh-sungguh oleh pemerintah.

Lagu Asap. Gellok setengah berteriak menahan emosi, dan berkata lebih perlahan. “Jadi itu pidato resmi Presiden Jokowi? Tidak ada penjelasan tentang api dari mana dan mengapa tak henti-henti melalap lahan-lahan itu? Mau berapa lama lagi ini berlangsung menurut Presiden? Presiden terkesan hanya faham simptom (gejala) dan tak sedikit pun menyinggung akar masalah. Hentikan api itu. Hentikan. Jika api tak dihentikan, berapa ribu ton obat-obatan dan masker tiada berguna sebelum rakyat secara fisik mampu beradaptasi menjadi penghuni sebuah negara dengan polutan terparah di dunia akibat asap dari kebakaran hutan yang menjadi misteri yang dibiarkan. Anda faham maksud saya?”

Sordak terdiam dengan sergahan itu. Terdiam. Gellok pun seperti gerakan refleks meraih gitar yang tergantung di dinding kamar. Ia memetik perlahan dimulai dari kunci C. Ia mulai berdendang. Kedengarannya seperti merepet, seakan menyanyikan sebuah lagu balada atau bahkan country. Gellok mulai berdendang diiringi rhytim yang menyerancang dari senar gitar yang dimainkan oleh petikan kelima jari kananya. Ini lagunya:

“Maafkan, maafkan Jokowi. Maafkan, maafkan Jokowi.  Beliau sudah datang. Bacalah koran. Lihatlah tv. Beliau sudah melihat langsung kebakaran itu. Beliau pun sudah memberi instruksi. Tetapi asap tak juga pergi. Maafkan, maafkan Jokowi.

Asap makin tebal. Asap membandel. Asap di Indonesia memang lain. Berbeda dengan asap  di mana pun di dunia ini. Maafkan, maafkan Jokowi.

Asap di Indonesia, muncul dari api yang tidak diketahui asalnya. Api itu sangat misterius. Muncul dari bawah tanah, hingga tak seorang pun melihatnya. Maafkan, maafkan Jokowi.

Api itu muncul dari akar-akar pohon. Disulut oleh ikan. Dislut oleh ular, dan bahkan disulut oleh tungir, hingga tak seorang pun dapat dipersalahkan. Tungir dapat bersaksi bahwa api itu muncul begitu saja dari sungai. Tungir pun dapat bersaksi bahwa api itu muncul dari parit, dan menebar asap tebal kemana-mana. Maka jangan salahkan presiden kita.  Maafkan, maafkan Jokowi. Maafkan, maafkan Jokowi. Maafkan, maafkan Jokowi”.

Gellok berjanji di depan Sordak akan menyempurnakan lagu itu, merekamnya dan mengunggah di youtube.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh harian Waspada, Medan, Senin, 26 Oktober 2015, hlmn B&

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: