'nBASIS

Home » ARTIKEL » BAHASA INGGERIS PAK JOKOWI

BAHASA INGGERIS PAK JOKOWI

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


JOKOWI|Sebuah institusi bernama Brookings mengagendakan perbincangan dengan Presiden Jokowi. Kita akan lihat betapa lugunya Presiden kita Jokowi. Ada tayangan file di youtube yang membantu kita untuk menelaah|

Ketika kunjungan perdana ke luar negeri, Presiden Jokowi berbicara pada sebuah forum yang sangat penting dengan menggunakan bahasa Inggeris. Cukup marak pemberitaan media mainstream di tanah air tentang posisi beliau yang menjadi pusat perhatian para pemimpin dunia waktu itu. Tetapi cerita tak berkembang menelisik perubahan arah politik luar negeri Indonesia. Padahal begitu kontras tanda-tanda kebermazhaban ke Cina, khususnya dalam tingkah pembangunan yang diawali.

Satu hal menarik, media tak melewatkan sorotan tentang kemampuan beliau berbahasa Inggeris. Tak sepi yang memuji kefasihan menjelaskan hal-ihwal yang  beliau anggap penting untuk menggambarkan kondisi objektif Indonesia yang baru saja memandati beliau sebagai pemimpin tertinggi. Itu dilakukan untuk maksud memancing minat berbagai pihak (khususnya Multi National Corporations) menanamkan investasi di Indonesia. “We are waiting for you in Indonesia. We are waiting for your investation”. Itulah kata-kata kunci dari paparan beliau dengan menggunakan slide.

Kendati demikian, tak sepi juga yang menilai beliau sungguh kurang lancar dan dianggap sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia saja jika dengan kadar kemampuan berbahasa Inggeris seperti itu. Gunakan saja penerjemah, dan itu sangat lazim di dunia internasional tanpa ada yang merasa malu apalagi loosing face. Sebab, yang penting adalah komunikasi efektif, bukan yang lain.

Bagaimana jika yang terjadi dalam interaksi berbahasa Inggeris itu justru mis-understanding? Meski beliau mengatur cara dan performance yang dianggap terbaik dari yang dapat dilakukan dan dengan senyam-senyum yang dibalas tingkah sama oleh mitra dialog, tetapi tak satu pun yang tiba pada pemahaman maksud dari apa yang dipercakapkan? Itu tragis sekali tentu saja.

Soal pro dan kontra penilaian atas banyak hal tentang Presiden Jokowi, sejak awal memang sudah terjadi dan tampaknya tak akan pernah menemui akhir sampai kapan pun. Pro dan kontra penilain ini memang sebuah pertanda penting untuk sebuah era politik yang memberikan status kemaharajaan public opinion sebagai dasar terpenting politik dan pemerintahan.

Jadi, Anda sebaiknya tidak usah ikut terjebak ke dalam salah satu kubu pro atau kontra. Dipastikan tidak ada manfaatnya. Jika ingin tahu beliau lancar atau tidak berbahasa Inggeris, sebaiknya jangan ikut pendapat berdasarkan pro dan kontra itu. Periksa saja ungkapan demi ungkapan beliau melalui rekaman yang disediakan oleh youtube di jaringan internet.

Pecakapan dengan Obama. Sebelum kunjungan ke Amerika dan yang dalam kesempatan kunjungan itu dibawa berjalan-jalan keliling istana, Presiden Jokowi sudah pernah bertemu dengan Presiden Obama yang diatur sambil santap malam. Obama, sebagai tuan rumah pertemuan, memulai pembicaraan dengan menggunakan bahasa Inggeris. Ada penerjemah yang duduk di belakang Presiden Obama. Presiden Jokowi berbahasa Indonesia saat dipersilakan, dan seperti Presiden Obama ia dibantu seorang penerjemah.

Di antara ucapan Presiden Jokowi ialah rasa terimakasihnya atas kehadiran utusan khusus Presiden Obama saat dilantik menjadi Presiden RI. Obama bisa berbahasa Indonesia sedikit-sedikit, dan ia memang pernah tinggal di daerah Menteng, Jakarta Pusat, Indonesia. Ibunya sendiri pernah kawin dengan seorang Indonesia, Lolo Sutoro. Tetapi tampaknya Presiden Obama hanya amat ingin menggunakan bahasa Indonesia saat mengajukan hal-hal sepele dan dipandang akan mengudang simpatik. Itu yang dilakukannya saat berkunjung ke Indonesia didampingi isterinya, saat kepemimpinan Presiden SBY.

Laporan media mainstream nasional tentang pertemuan Presiden Jokowi dan Presiden Obama pada saat bencana asap di Indonesia itu umumnya  mengundang tanya besar bagi saya. Kebanyakan seakan hanya berbicara tak substantif. Mungkin orang yang ingin menelaah perlu mencari sumber lain, di antaranya artikel-artikel yang ditulis oleh orang-orang independen di Indonesia maupun di dunia internasional.

Sebuah Diskusi Janggal. Sebuah institusi bernama Brookings mengagendakan perbincangan dengan Presiden Jokowi. Kita akan lihat betapa lugunya Presiden kita Jokowi. Ada tayangan file di youtube yang membantu kita untuk menelaah. Awalnya Presiden Jokowi dipersilakan berbicara, dan itu dilakukan dengan membaca naskah. Kemudian dibawa duduk untuk mendengar dan menjawab pertanyaan-pertanyaan audiens.

Gelak tawa pun tak terhindari di sini. Terus terang, saya tak dapat menilai arah gelak tawa itu. Tetapi barangkali saja cukup menghibur lalu audiens tertawa. Seseorang telah berbicara banyak hal, dan itu dengan speed ungkapan yang cukup sulit difahami oleh orang yang tak lazim berbahasa Inggeris. Presiden Jokowi tak harus dianggap tak mampu menjawab. Tetapi, Anda tahu, ia berkata begini: “I want to test my minister. Please answer the question. But don’t speak longer than my speech”. Menteri itulah yang memberi jawaban. Kejadian ini berulang.

Audiens lainnya tampil. Cukup panjang ulasannya. Meski diawali dengan beberapa potong ungkapan bahasa Indonesia, substansi atau pokok pikirannya termasuk tentang keberadaan kelompok-kelompok civil society di Indonesia, seluruhnya disampaikan dengan bahasa Inggeris dengan speed yang cukup cepat.

Apa jawab Presiden Jokowi? “I want to test again my minister, foreign minister. Please answer”, sambil memberi tanda persilaan dengan tangan sambil tertawa seperti tanpa beban sama sekali. Lalu Menteri Luar Negeri RI pun diberi mikrofon dan memulai dengan lawakan “saya sangat berharap mampu melewati tes yang bapak Presiden berikan”. Setelah menjawab antara lain dengan penegasan tidak ada kehawatiran perubahan hubungan Indonesia dengan Amerika kecuali semakin kuat, menteri ini pun mengkelakari Presiden Jokowi “saya berharap Pak Presiden puas dengan jawaban saya, dalam bahasa Inggeris.

Pada waktu lain Presiden Jokowi pernah menerima jurnalis dari TV berbahasa Inggeris yang menyoalnya tentang pelaksanaan hukuman mati di Indonesia yang dilaksanakan justru pada awal pemerintahannya. Presiden Jokowi sangat percaya diri, dengan bahasa Indonesia. Argumen-argumennya meluncur rinci.

Tentulah harus dibayangkan bahwa penanggungjawab program dalam tv yang mewawancarai itu tidak ingin sekadar menguji apakah Presiden yang mantan Walikota Solo ini bisa berbahasa Inggeris dengan lancar. Itu tak penting bagi mereka. Sama sekali tak penting. Apa yang mereka inginkan adalah sesuatu yang bukan sekadar hal-hal pribadi mengenai Presiden Indonesia mantan Gubernur DKI itu, melainkan substansi apa yang dapat diperoleh di balik pelaksanaan hukuman mati terhadap para narapidana narkoba di Indonesia. Mereka ingin menakar Indonesia dalam hal krusial itu.

Media Wajib Membantu. Agaknya ada hal yang sangat perlu dibantu oleh media mainstream terhadap Indonesia kontemporer dengan segenap masalah-masalahnya. Media memanglah tak bisa disalahkan ketika menayangkan pembicaraan Presiden Jokowi dengan menterinya di Indonesia tentang bencana asap. Lalu diberitakan bahwa Presiden telah memotong masa kunjungannya di Amerika itu karena ingin cepat-cepat memberi respon terhadap puluhan juta rakyat yang menderita tanpa daya, diterpa bencana asap khususnya di Sumatera dan Kalimantan.

Media pun memberitakan kepastian kepulangan yang dipercepat itu, padahal sebelum berangkat siapa pun tahu kompleksitas bencana asap itu sudah sangat mengkhawatirkan. Banyak Presiden di dunia ini yang menunjukkan pilihannya mengedepankan penyelesaian masalah dalam negeri sehingga harus menunda kunjungan luar negeri, sebagaimana dilakukan Presiden Obama dalam jadwal ke Indonesia saat dipimpin Presiden SBY.

Sepulang dari Amerika sudah diberitakan secara luas bahwa Presiden Jokowi berkantor di Sumatera. Ada foto-foto yang menunjukkan betapa istimewanya presiden ini dibanding presiden-presiden yang pernah ada di Indonesia, hanya karena mau bertemu dan berbincang santai dengan suku terasing. Rakyat pun pasti menunggu, apa setelah ini. Akan samakah dengan hasil kunjungan berulang ke lokasi bencana di sekitar Sinabung?

Penutup. Agaknya kita perlulah kini sepakat tentang satu hal: apa urusan bernegara dan dalam pemeranan diri apa sebenarnya seorang pemimpin sebuah Negara tepat diposisikan. Itu memaksa kita untuk membedakan panggung depan (front stage) politik dan panggung belakang (back stage) politik. Diplomasi substantif diperlukan. Pekerjaan substantif diperlukan. Itu tak akan menafikan agenda lain, pencitraan misalnya. Betapa tak bertanggungjawabnya sebuah usaha yang mengabaikan kewajiban mengutamakan hal penting untuk lebih menonjolkan yang lain, yang aneh-aneh pula.

Media mainstream sangat berperan. Ketika rakyat yang makin awam tak terbimbingkan, kesulitan pun tentulah akan bertambah manakala disadari bahwa media dengan model kepemilikan dan korporasinya yang berorientasi neoliberal tak mungkin diajak bekerja pada ranah di luar kepentingan kapitalisasinya. Monopoli dalam kepemilikan media pun sudah terlanjur dikukuhkan oleh regulasi yang sangat tak ramah kepentingan nasional dalam arti yang sesungguhnya.

Apakah media mainstream kini sedang memusuhi Indonesia dengan sikap-sikap itu?

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, 2 Nopember 2015, hlm B5


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: