'nBASIS

Home » ARTIKEL » KEBERTUHANAN

KEBERTUHANAN

AKSES

  • 550,950 KALI

ARSIP


kebertuhanan
Sekularisasi seiring kemajuan iptek menawarkan tantangan berat bagi kebertuhanan dan keberagamaan yang akan selalu berbeda secara kualitatif dan kuantitatif antara satu dan lain komunitas kebertuhanan dan keberagamaan. Semua merasa was-was. Itu sudah sangat pasti.

Di Indonesia kebertuhanan itu sangat penting, dan itu bermakna tidak sekadar bertuhan. Sila pertama dari Pancasila berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Konsep ketuhanan dalam Pancasila barang tentu merujuk pada ajaran agama. Jika merujuk pada bunyi awal (sebelum dikompromikan) sila pertama Pancasila ini (Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya), nyatalah ia sebagai sumbangan Islam yang tak dapat dinafikan. Islam mewarisi faham ketuhanan Yang Maha Esa sebagai tawhid.

Dengan pendekatan dan ekspresi yang berbeda-beda dalam kemajemukan kebertuhanan dan keberagamaan, dan terkadang dapat lebih merujuk pada pandangan subjektif tertentu, kebertuhanan dan keberagamaan itu cukup banyak dipermasalahkan dalam kaitannya dengan nalar dan tindakan. Jumlah terbanyak dari populasi tentulah orang yang sehari-harinya berada pada posisi keberagamaan kategoris dengan tanpa kesediaan hidup dalam kebertuhanan yang diajarkan oleh agama, terserah seberapa tinggi kadar ketuhanan dan keberagamaannya dipandang oleh banyak orang di sekitarnya. Persoalan kebertuhanan itu memang tak selalu terhubung dengan legitimasi, seberapa teknis pun itu dibuat.

Kebertuhanan dan Komunitas. Secara simbolik mungkin banyak orang menyatakan kebertuhanannya sedemikian rupa, tetapi aspek kognisi kebertuhanannya itu bisa saja sangat bermasalah. Itu bisa terjadi karena kadar pengetahuan tentang kebertuhanan dan keberagamaan tidak cukup memadai. Sejak pelembagaan agama menjadi sedemikian penting memang ia bisa menyita kebertuhanan dan keberagamaan yang hakiki.

Korelasi kadar kognisi kebertuhanan dan keberagamaan tentulah sesuatu yang penting menurut tuntutan kebertuhanan dan keberagamaan itu sendiri, termasuk perwujudan kebertuhanan dan keberagamaan itu dalam kehidupan sehari-hari. Di antara orang di dalam atau pun di luar kebertuhanan dan keberagamaan kelompok tertentu, tak selalu tersedia legitimasi yang cukup sempurna untuk mengidentifikasi seseorang untuk dinyatakan lebih berkuaitas kebertuhanan dan keberagamaannya dibanding yang lain.

Aksi-aksi saling menyalahkan tak selalu dapat ditepis, dan karena tuhan sendiri sebagai sumber kebenaran tidak selalu dapat “dihadirkan” memutuskan sengketa, maka kecurigaan dalam disharmoni teruslah berlanjut. Dari sini bisa muncul percikan api, dan sejarah sudah mengisahkannya dengan baik. Dalam kisah-kisah memilukan untuk persengketaan kebertuhanan dan keberagamaan, selalu ada pelajaran yang dapat dipetik, meski tak selalu membangun keadaan lebih baik.

Klaim dan tuduhan memang sesuatu yang kerap terjadi, tetapi sesungguhnya tak dimungkinkan tampilnya seseorang yang beroleh pengukuhan sebagai pemberi legitimasi atas kadar kebertuhanan dan keberagamaan seseorang. Tetapi hal itu tentu saja tidak akan menghalangi peraihan posisi sosial pemegang otoritas keagamaan tertentu yang kedudukannya akan dapat dibedakan antara satu dan lain agama. Tetapi otoritas demi otoritas bisa berbenturan untuk sebab dan tujuan yang berbeda dan dapat pada posisi hadap-hadapan untuk saling mengeliminasi.

Zdybicka (2005) memang pernah membagi kadar ketidak-bertuhanan atara lain dengan menyebut bukti-bukti ketiadaan motivasi religius, pengabaian, dan ketidak-tahuan akan konsep tuhan. Ternyata jika dirujuk ke dalam konten ajaran kebertuhanan dan keberagamaan yang majemuk itu, ungkapan Zdybicka tidaklah sesuatu yang baru sama sekali. Konsep-konsep munafik, kafir dan lain-lain adalah kategorisasi yang sudah lama disediakan untuk tujuan mengoreksi kadar kebertuhanan dan keberagamaan yang menyimpang.

Sekularisasi. Sekularisasi seiring kemajuan iptek menawarkan tantangan berat bagi kebertuhanan dan keberagamaan yang akan selalu berbeda secara kualitatif dan kuantitatif antara satu dan lain komunitas kebertuhanan dan keberagamaan. Semua merasa was-was. Itu sudah sangat pasti. Apakah karena para anggota komunitas kebertuhanan dan keberagamaan tertentu mengalami kegagalan memberi respon atas perubahan atau karena konsepsi-konsepsi kebertuhanan dan keberagamaan itu sendiri beserta dogma-dogmanya yang akhirnya gagal untuk menjelaskan, kedua-duanya bisa sama-sama kuat dalam memberikan andil untuk terjadinya krisis.

Meski berdasarkan sifatnya cukup bervariasi, ketidak-bertuhanan dan ketidak-beragamaan dinyatakan memiliki kaitan dengan fakta-fakta lain yang bertentangan diametral dengan dogma.

Wikipedia mencatat bahwa kepercayaan pada tuhan ataupun kehidupan setelah mati berada dalam posisi terendah di antara para anggota Akademi Sains Nasional Amerika Serikat. Hanya 7,0% anggota yang percaya pada tuhan  (Nature, 1998). Korelasi yang mengindikasikan menurunnya tingkat kepercayaan seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan juga ditemukan oleh survei Frank Sulloway dari Institut Teknologi Massachusetts dan Michael Shermer dari California State University (1998).  Dicatat pula bahwa sebuah artikel dalam Majalah Mensa menunjukkan adanya korelasi yang berbanding terbalik antara keimanan dengan kecerdasan. Hal ini dihasilkan dari 39 kajian antara tahun 1927 sampai dengan tahun 2002.

Konon semakin luas diberitakan tentang masyarakat di beberapa belahan dunia yang enggan melaporkan dirinya sebagai ateis untuk menghindari stigma sosial, diskriminasi, dan penganiayaan. Survei tahun 2005 yang dipublikasi dalam Encyclopædia Britannica menunjukkan bahwa kelompok non-religius mencapai sekitar 11,9% populasi dunia, dan ateis sekitar 2,3%.

Wikipedia juga mencatat bahwa survei November-Desember 2006 di Amerika Serikat dan lima negara Eropa (Financial Times, 2006) menunjukkan orang Amerika (73%) cenderung lebih percaya kepada tuhan/dewa atau makhluk tertinggi dalam bentuk apapun daripada orang Eropa. Di antara orang dewasa Eropa, orang Italia adalah yang paling banyak percaya (62%) dan orang Perancis adalah yang paling rendah (27%). Di Perancis, 32% mengaku dirinya sebagai ateis, dan 32% lainnya mengaku sebagai agnostik.

Penutup. Menurut catatan Wikipedia penulis Perancis abad ke-18, Baron d’Holbach disebut-sebut sebagai salah seorang pertama yang menyebut dirinya ateis. Dalam buku Système de la Nature (1770), ia melukiskan jagad raya dalam pengertian materialisme filsafat, determinisme yang sempit, dan ateisme.  Buku ini dan bukunya Common Sense (1772) dikutuk oleh Parlemen Paris, dan salinan-salinannya dibakar di depan umum.

Situasi ini tentu lebih melukiskan interaksi dengan kebertuhanan dan keberagamaan yang ada pada masa itu. Pandangan stigmatif dan bahkan peyoratif atas ketak-bertuhanan dan ketak-beragamaan memang telah tercatat sebagai reaksi kebertuhanan dan keberagamaan yang dominan pada masa itu. 

Di Indonesia sejak kurun waktu yang relatif lama semakin kerap muncul ejekan terhadap diri sendiri yang melukiskan keruntuhan kepercayaan sesama dalam kebertuhanan dan keberagamaan. Nalar keberagamaan jelas tak menggembirakan, tentu karena kebertuhanan yang bermasalah juga.

Itulah alasan mengapa orang kini semakin berani dan sering memplesetkan Pancasila antara lain dengan menyebut “Keuangan Yang Maha Kuasa” untuk sila pertama. Tentu ini koreksi yang telak atas tingkat korupsi dan kehebohan pemberantasannya yang tak efektif. 

Sebetulnya ejekan ini sangat bermanfaat untuk mencoba memahami bahwa keruntuhan aspek paling berharga dalam sebuah bangsa cukup serius.

 
Shohibul Anshor Siregar, Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS). Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh harian Waspada, Medan, Senin, 28 Desember 2015, hlm B7. 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: