'nBASIS

Home » ARTIKEL » MENTOR KEAGAMAAN

MENTOR KEAGAMAAN

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


mentor

Pidato tertulis yang dibacakan Presiden dalam perayaan ini mustahil salah ketik. Karena itu pertanyaannya seberapa besar perbedaan pemahaman dan penafsiran Pancasila itu di antara Negara (rezim berkuasa) dengan umat beragama? Saya kira umat Islam di Indonesia banyak yang berharap Menteri Agama Lukman Syaifuddin dapat memerankan diri sekaligus menjadi mentor dalam bidang agama bagi Presiden Jokowi


“Api `ata `ola hege, air `ata `ola neni”. Ungkapan itu dibacakan terbata-bata oleh Presiden Jokowi dalam pidatonya pada Perayaan Natal Nasional yang diselenggarakan di Alun-alun rumah jabatan Gubernur NTT, Senin sore, 28 Desember 2015. Tepuk tangan riuh dihadiahi untuk beliau. Usai membacakan kalimat itu, Presiden Jokowi pun melanjutkan dengan sebuah permohonan maaf (di luar naskah yang sudah dipersiapkan untuk dibacakan): “Kalau keliru sedikit-sedikit dimaafkan ya”. Tepuk tangan riuh pun bergema kembali.

Dengan judul “Perayaan Natal Momentum Revolusi Karakter dan Mental”, website resmi Kantor Staf Presiden dalam pemberitaan tentang Natal Nasional itu tak menjelaskan apa makna “Api `ata `ola hege, air `ata `ola neni” itu. Hanya saja, dengan menyimak kalimat sebelumnya, mungkin pembuat pidato Presiden meminjam pepatah itu untuk mengatakan kegotong-royongan, kebersamaan dan solidaritas sesama bangsa yang demikian penting untuk terus dibangun penuh kesungguhan dan ketulusan.

“Sebagai keluarga kita mendiami bumi sebagai rumah bersama. Peristiwa natal mengingatkan kita untuk hidup sebagai keluarga. Kita mempunyai tanggungjawab untuk menjadikan hidup bersama di bumi ini semakin baik. Saling memberi api dan air, saling tolong menolong, saling bergotong royong. Api `ata `ola hege, air `ata `ola neni”.  Api dan air sangat pnting bagi kehidupan, dan saling memberi dan menerima keduanya pada sesama orang bertetangga, sesama rakyat sebuah negara, disimbolkan sebagai kebersatuan dalam sebuah keluarga.

Bukan Satu Agama. Makin terasa konteks pengutipan pepatah lokal NTT itu jika dihubungkan dengan kalimat selanjutnya yang dibacakan oleh Presiden: “Kita bersyukur merayakan natal dalam keluarga Indonesia yang berbhinneka tunggal Ika. Leluhur bangsa Indonesia telah membuat sumpah satu nusa satu bangsa satu bahasa dan bukan satu agama”.

Tetapi apa gerangan yang terpikir dalam bathin Menteri Agama Lukman Syaifuddin yang hadir dalam perayaan itu saat menyaksikan imam masjid Oepura, Ustaz Umarba, yang dengan syahdu dan hidmatnya mengumandangkan azan mengiringi Reny Gadja dari Gereja Musafir Indonesia yang dengan hidmatnya pula melantunkan salah satu versi  lagu Ave Maria (karya Schubert)? Keduanya secara beriringan melantunkan Ave Maria dan Azan.  Tidak jelas dalam pemberitaan apakah ustaz ini mengumandangkan azan shubuh yang bagi kebanyakan masjid di Indonesia lazim dengan penambahan kalimat “ashshalatu khairun minan naum”. Juga tidak jelas apakah ia mendahului lantunan azan dengan ayat dari surah Al-Ahzab ayat 56 (Innallaha wa malaikatahu yusholluna ‘alan nabi. Ya ayyuhalladziina amanu shollu ‘alaihi wa sallimu taslima), sebagaimana kebanyakan masjid di Indonesia mentradisikannya. Media hanya memberitakan bahwa kedua orang ini sudah berlatih sebelumnya.

Mungkinkah dalam pikiran Menteri Agama Lukman Syaifuddin ada pemilahan masalah bahwa jika sekadar melantunkan qasidah dalam sebuah acara natal persoalannya lebih ringan (tidak ikut azan). Atau malah mungkin ada yang berpendapat bahwa muslim NTT sudah selangkah lebih maju dibanding yang lain karena bisa “berdakwah” melalui acara natal yang dihadiri oleh Presiden dengan menampilkan qasidah dari ibu-ibu pengajian di Kupang yang sudah berlatih sebelumnya (yang antara lain diberi lirik “bermacam-macam suku bangsa di dunia, bermacam-macam pula agamanya, penuh keyakinan mereka beribadah, karena takut akan mati dan dosa”)?

Apa gerangan pandangan Menteri Agama Lukman Syaifuddin ketika Reny Gadja berkata bahwa kolaborasi kedua agama ini dihadirkan untuk menunjukkan toleransi antar umat beragama yang ada di NTT, dan ini sangat berkesan karena sesuatu yang berbeda ternyata bisa dipadukan menjadi satu paket yang lebih indah? Tidakkah Menteri Agama Lukman Syaifuddin tergoda untuk sekadar bertanya kepada ustaz Umarba yang diberitakan mengaku senang bisa turut berkontribusi bagi umat Kristen pada perayaan Natal Nasional 2015 dan merasakan bahwa melodi baru yang tercipta dari lagu Ave Maria dan azan itu menunjukkan bahwa perbedaan pun bisa disatukan?

Tentulah Menteri Agama Lukman Syaifuddin tidak perlu bertanya kepada Reny Gadja yang berkata “meski menganut agama yang berbeda, selama ini masyarakat NTT selalu hidup dengan rukun; perbedaan tak menjadi penghalang, tetapi justru menjadi keindahan tersendiri dalam hidup yang penuh toleransi.”  Reny Gadja tak seagama dengan Menteri Agama Lukman Syaifuddin, karena itu tak mengapa mereka berbeda pemahaman tentang substansi kerukunan dan implementasinya dalam keberagamaan. Tetapi tentulah sangat normal jika sekadar dalam hati saja Menteri Agama Lukman Syaifuddin bertanya mengapa begitu simple pemahaman temannya seagama, yang menjadi salah seorang aktor penting dalam perayaan Natal Nasional, yakni ustaz Umarba, ketika imam masjid Oepura ini berkata “Kita satu keluarga. Alangkah baiknya hidup rukun dan damai” yang disimbolkan dengan partisipasinya dalam perayaan natal.

Sungguh pentinglah Menteri Agama Lukman Syaifuddin menyelidik, apakah partisipasi ustaz Umarba dalam perayaan natal itu sebuah kesukarelaan berdasarkan pemahamannya tentang agamanya, atau sesuatu yang dianggap sebagai keniscayaan politik belaka karena tekanan struktural yang mirip-mirip dengan ketakutan yang belum sembuh dari insiden Tolikara saat Iedulfitri lalu?

Barangkali sangat patutlah Menteri Agama Lukman Syaifuddin bertanya dalam hati mengapa ustaz Umarba sangat sejalan pemikirannya dengan Menteri Perdagangan Thomas Lembong (Ketua Umum Panitia Natal Nasional 2015), yang mengatakan bahwa perayaan ini bagi semua kalangan, dan memang yang kita banggakan adalah kerukunan antar agama yang juga  satu hal yang bisa kita contoh dari masyarakat NTT”.

Menurut sebuah sumber (http://pgi.or.id/), ketika diterima di istana Negara, delegasi Pimpinan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) pada hari Selasa, 22 Desember 2015, hadir Pdt. Dr. Henriette T.H. Lebang, Pdt. Gomar Gultom, M.Th, Pdt. Bambang Wijaya dan Pdt. Krise Gosal, M.Th, Mgr. I. Suharyo, Rm. YR. Edy Purwanto Pr, Rm. Agus Ulahayana, dan Rm. Benny Susetyo Pr . Sedangkan Presiden Jokowi didampingi oleh Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki. Tidak ada penjelasan apakah Menteri Agama perlu dihadirkan dalam acara seperti ini.

Penutup. Ucapan selamat merayakan natal saja sudah menimbulkan kontroversi berkepanjangan selama ini bagi umat Islam dunia. Tetapi dari NTT malah azan yang adalah panggilan untuk ibadah (sholat) sudah mereka padukan dengan lantunan lagu Ave Maria dalam perayaan Natal Nasional. Presiden ada di situ, Menteri Agama ada di situ, yang artinya sebuah tradisi kenegaraan telah ditorehkan untuk peluang berlaku selamanya. 

Ketika Presiden Jokowi berkata “merayakan natal berarti mengubah cara berpikir, mengubah cara bertindak, mengubah cara berhubungan antar anak bangsa untuk menghayati Pancasila”, tentulah semua setuju tanpa memandang agama apa yang dianut oleh seseorang. Namun ketika Presiden berkata “Pancasila harus menjadi habitus bangsa dalam menjalankan iman, menjalankan harap dan menjalankan kasih tuhan”, banyak orang dari agama yang berbeda-beda di Indonesia akan bertanya mengapa iman disubordinasikan kepada Pancasila? Sungguh, ini sebuah kontroversi seusia Indonesia.

Pidato tertulis yang dibacakan Presiden dalam perayaan ini mustahil salah ketik. Karena itu pertanyaannya seberapa besar perbedaan pemahaman dan penafsiran Pancasila itu di antara Negara (rezim berkuasa) dengan umat beragama? Saya kira umat Islam di Indonesia banyak yang berharap Menteri Agama Lukman Syaifuddin dapat memerankan diri sekaligus menjadi mentor dalam bidang agama bagi Presiden Jokowi.

Jangan biarkan rakyat Indonesia bingung. Dalam bagian tertentu dari pidatonya Presiden berucap bahwa leluhur bangsa Indonesia telah membuat sumpah satu nusa satu bangsa satu bahasa dan bukan satu agama. Tetapi ketika Azan dilantunkan dalam acara natal, jelas sekali ada kekacauan berfikir. Jargon revolusi mental tentu tak boleh menjadi senjata menutup kepalsuan.

 

Shohibul Anshor Siregar.
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada Medan, Senin, 4 Januari 2016, hlm B7


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: