'nBASIS

Home » ARTIKEL » JIHAD KONTEMPORER

JIHAD KONTEMPORER

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


jihadlogobesar

http://sangpencerah.com/2015/05/netizen-muhammadiyah-mendukung-jihad.html

Agenda pertama jihad kontemporer adalah “perang” terhadap segenap bentuk kejahatan, baik berupa rencana maupun tindakan, dalam penggunaan terminologi “jihad”. Teror verbal yang berlangsung selama ini telah memaksa orang menjadi ragu atas pakem kehidupannya sendiri, karena dengan menyimpangkan terminologi jihad tampaknya diinginkan korban komunitas besar.  Komunitas besar itu hendak disesatkan dan dikorbankan. Mereka tidak boleh dan tidak berhak tahu mengapa mereka disesatkan dan dikorbankan. Itu terlalu mewah untuk mereka.

Sasaran perang dalam agenda ini bisa Negara. Bisa organisasi. Bisa orang perorang. Di antara ketiganya sering ada kerjasama jahat yang tak boleh dikritik apalagi dilawan. Mereka mampu menukangi legitimasi untuk segala tindakan pemberangusan. Jika Negara dapat menjadi sasaran perang jihad kontemporer, itu hanyalah karena menurut banyak orang, Alexander L George (1991), Noam Chomsky (2002) dan lain-lain  misalnya,   negara pun bisa dan lazim pula digunakan oleh para penjahat yang mengendalikannya untuk secara aktif melakukan kejahatan teror. Teror kepada rakyat, baik di Negara itu sendiri, maupun di Negara lain. Mengapa Negara sampai begitu buruk? Negara memang tak lain dari komoditas perebutan belaka, di antara para pesaing yang siap menang dan menelan orang-orang kalah. Banyak yel-yel dan idiomatik aneh-aneh bisa digunakan untuk memaksakan justifikasi penindasan. Itu karena penindasan itu dianggap target awal untuk penguasaan atas hal-hal lebih besar, lebih abadi, dan keterjaminan tak terusik.

Sekian lama terminologi jihad itu sengaja disimpangkan, dan secara peyoratif memosisikan Islam tak hanya terbelakang dan tak berbudaya, tetapi juga jahat dan tidak berhak atas sebuah pembelaan. Melihat data kejahatan yang berawal dari motif buruk penggunaan terminologi jihad itu, rasanya dunia sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk berfikir lurus. Dunia hanya didorong memikirkan kemenangan yang terpilah secara tidak adil di antara warna kulit, di antara pemegang keyakinan majemuk, di antara pemegang catatan sejarah (jajahan atau penjajah). Perbenturan di antara sesama pendambanya terus difasilitasi, dengan pemolesan isyu keadilan global dan pernak-pernik ungkapan dan kebijakan politik yang menindas. Di sinilah keadilan tidak perlu diperdebatkan makna dan takarannya. Karena hak prerogatif mutlak untuk memberi interpretasi hanya bagi pemenang.

Seruan Bin Laden. “Semua kejahatan dan dosa-dosa yang dilakukan oleh Amerika adalah deklarasi yang jelas tentang perang terhadap Allah, Rasul-Nya, dan Muslim…. Jihad adalah kewajiban individu jika musuh menghancurkan negara-negara Muslim….Adapun pertempuran untuk memukul mundur (musuh), itu ditujukan untuk membela kesucian dan agama, dan itu adalah tugas. . . .” Kalimat itu dikutip sebagai pernyataan Osama bin Laden Saat Deklarasi Dunia Front Islam untuk Jihad melawan Yahudi dan Tentara Salib, 23 Februari 1998. Dengan itu, dan terutama setelah perontokan menara Wolrd Trade Centre 2001, terminologi jihad pun semakin kencang melahirkan industri baru. Industri permusuhan namanya. Mereka pandai melahirkan uang dari sana, sembari memperbesar aliran darah yang dianggap wajib ditumpahkan tanpa harus diperdebatkan.

Kata  Michael Knapp (2003), terminologi jihad berarti perjuangan di jalan Allah atau bekerja untuk tujuan mulia dengan tekad dan kesungguhan yang tidak mesti terkait dengan perang sama sekali. Ia membedakannya dengan perang yang dilancarkan Kristen abad pertengahan (perang salib). Betul, kata pensiunan intelijen militer ini, terminologi jihad bagi umat Islam telah mempertahankan konotasi agama dan militer ke dalam zaman modern. Berkembangnya penyimpangan terminologi jihad yang segera diikuti oleh program war on terrorism sungguh dahsyat. Miliarder George Soros angkat bicara dan mengkritik. Istilah war on terrorism itu metafora palsu, katanya.

Tetapi ada yang harus dicatat dari Moshe Sharon. Profesor berkebangsaan Jahudi ini mengaku sudah puluhan tahun mempelajari Islam.  Islam itu, katanya, pada dasarnya adalah agama yang dianut oleh semua nabi sejak Adam. Semua orang besar yang dicatat oleh sejarah, adalah muslim. Pemahaman ini ia sebut sebagai Islamisasi sejarah sekaligus Islamisasi geografi. Muhammad yang datang kemudian hanya proses pembebasan. Tidak ada Islamic occupation, melainkan Islamic liberation. Jadi jika ada orang Jahudi atau Kristen menuntut sesuatu berdasarkan koneksitas dan fakta sejarah yang mereka fahami dengan Raja Daud, Raja Sulaiman, Raja Musa dan bahkan Jesus, pada dasarnya mereka perlu disadarkan bahwa semua yang mereka upayakan itu adalah fakta Islam dan keislaman.

Sejak dunia ini diciptakan, kata Moshe Sharon, hanya satu agama, yakni Islam. Tentulah muslim yang faham akan membenarkan semua itu. Islam itu sangat besar, berupa illegal system, baik dilihat sebagai pola hidup individual, keluarga, masyarajat maupun Negara. Islam itu agama dunia, berbeda dengan yang lain yang terkait dengan suku-bangsa tertentu. Islam berdasarkan wahyu adalah sebuah Negara dunia, dan semua orang adalah warga di dalam Negara Islam dunia itu.

Jihad, tidaklah sesederhana yang Anda fahami dalam koran-koran sekarang, yakni perang suci. Jihad itu sebuah upaya sungguh-sungguh merealisasikan kehendak Allah dengan kekuatan fisik (tangan), dengan ucapan (lisan) dan dengan hati atau jiwa. Jihad dengan jiwa begitu besar, pengendalian diri melawan syaiton. Betul ada sisi jihad dengan tangan, tetapi jangan menyalahkan Islam karena Anda salah memahami makna sesungguhnya jihad itu. Jihad dengan pedang malah jenis jihad kecil dibanding dengan jihad menaklukkan hawa nafsu (diri sendiri).

Sekarang Anda mungkin menyaksikan dan berkesimpulan Islam itu tidak dalam posisi superioritasnya yang dicita-citakan kitab sucinya, Alqur’an. Ini tidak bisa diterima. Sistim Islam akan tetap berusaha untuk memperjuangkan wahyu untuk menyelamatkan dunia. Islam mungkin Anda saksikan tak berbuat apa-apa yang cukup signifikan. Kondisi ini adalah hudna, yakni kedaruratan ketika Islam tak memungkinan untuk melancarkan usaha dan perjuangannya mencapai cita-cita.

Penutup. Jihad kontemporer yang mengawali pelurusan pemahaman dunia akan melandasi pekerjaan yang dengan sendirinya akan pula lebih memudahkan untuk diselesaikan, secara lokal maupun internasional. Mengaudit kondisi keterpurukan saat ini sangat perlu, untuk selanjutnya menggarap semua yang terabaikan. Baik dalam kawasan masalah-masalah keumatan, masalah-masalah kebangsaan, maupun masalah kemanusiaan internasional yang kesemuanya berawal dari pelecehan atau pemerkosaan atas konstruk keadilan.

Bagi Moshe Sharon, sesuai dengan pengertiannya, maka sesungguhnya tidak ada kemungkinan menghentikan jihad itu. Jihad adalah sesuatu yang melekat secara abadi dalam Islam. Jihad itu karakter Islam. Karena itu, bukan ketakutan yang patut dikedepankan terhadap jihad Islam. Itu tidak perlu.

Para pemimpin yang secara demografis berada di tengah komunitas Islam kerap memoles bahasa untuk meyakinkan siapa-siapa dan kekuatan mana saja yang dianggapnya “musuh” untuk dapat memahami bahwa jihad itu hanyalah sebuah karakter layaknya seorang pelajar yang mengerahkan semua tenaga dan upayanya untuk menghadapai ujian di sekolah. Itu sudah betul dalam sebuah takaran minimalis. Tetapi ia sudah salah berharap pihak yang dianggapnya “musuh” itu akan menerima begitu saja. Tidak mungkin.

 

 

Shohibul Anshor Siregar.
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, Senin, 11 Januari 2016, hlm C5


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: