'nBASIS

Home » ARTIKEL » SARINAH

SARINAH

AKSES

  • 568,914 KALI

ARSIP


gedung
Sarinah. Nama sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Tinggi bangunannya tercatat 74 (tujuh puluh empat) meter. Terdiri dari 15 (lima belas) lantai. Diperlukan waktu beberapa tahun membangun gedung ini. Dimulai pada tahun 1963, baru dapat diresmikan pada tahun 1967, oleh Presiden pertama RI Soekarno.

Saya belum menemukan makna di balik angka 74 (meter) dan 15 (lantai), tahun 1963 dan 1967. Bukankah lazimnya Bung Karno dalam berfikir dan mengembangkan sesuatu tidak jarang menandainya dengan simbol-simbol tertentu? Ya, saya belum menemukan angka-angka itu kebetulan atau memiliki makna tersendiri bagi Bung Karno.

Sebelumnya, Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas, didirikan, yang adalah sebuah bangunan yang dimaksudkan oleh Bung Karno sebagai monumen peringatan perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia menentang kolonialisme. Tingginya 132 meter, mulai dibangun pada tanggal 17 Agustus 1961. Di puncak tugu ini diletakkan sebuah mahkota berbentuk lidah api berlapis lembaran emas. Lidah api itu dimaksudkan untuk melambangkan gejolak dan semangat perjuangan yang membara.

Selain itu, sebuah bangunan yang dinamai Hotel Indonesia didirikan di atas lahan seluas 25.082 meter persegi. Hotel ini menjadi hotel berbintang pertama yang dibangun di Jakarta, diresmikan pada tanggal 5 Agustus 1962 oleh Bung Karno. A Dramatic Symbol of Free Nations Working Together  adalah slogan yang diberi Bung Karno untuk hotel yang peresmiannya sekaligus dimaksudkan untuk menyambut Asian Games IV tahun 1962.

Sebuah sarana olah raga juga sebelumnya sudah lebih dahulu dibangun di Jakarta oleh Bung Karno, dinamai Stadion Utama Gelora Bung Karno. Stadion ini berkapasitas awal sekitar 100.000 orang, yang mulai dibangun pada pertengahan tahun 1958. Ketika sudah rampung untuk fase pertamanya pada kuartal ketiga 1962, diketahui bahwa Stadion ini menjadi salah satu sarana olah raga terbesar di dunia.

Sebelumnya Bung Karno juga tercatat melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan Masjid Istiqlal yang terletak di pusat ibukota, Jakarta, pada tanggal 24 Agustus 1951. Untuk kawasan Asia Tenggara, pada waktu itu masjid Istiqlal diklaim sebagai masjid terbesar.

Siapa Sarinah? Didirikan mulai tahun 1963 dan diresmikan tahun 1967. Berarti jika diperbandingkan dengan gedung-gedung pusat perbelanjaan yang dibangun di Jakarta dan di kota-kota lain di Indonesia, Sarinah adalah pusat perbelanjaan pertama. Juga gedung pusat perbelanjaan dengan ketinggian yang pantas dijuluki pencakar langit, pertama, di Indonesia.

Konon, nama Sarinah itu diketahui berasal dari nama pengasuh Soekarno pada masa kecil. Gedung ini memang digagas olehnya. Sebelumnya ia telah melakukan lawatan ke sejumlah Negara, tentu bukan untuk studi banding tentang gedung-gedung. Tetapi sarjana teknik ini sekaligus beroleh resume tentang konsep bangunan pusat perbelanjaan modern pada masa itu. Itulah yang diwujudkannya di Jakarta.

Bung Karno sangat terbiasa dengan penjagaan seluruh tindak-tanduknya dengan reasoning yang kuat terhadap kejuangan dan pembelaan terhadap rakyatnya sendiri. Karena itu Sarinah baginya bukan sekadar sebuah modernitas. Melainkan sebuah gedung yang mewadahi kebutuhan akan pusat perbelanjaan yang mampu memenuhi kebutuhan rakyat untuk mendapatkan barang-barang murah tetapi dengan mutu yang bagus. Sebaiknya konsep terakhir itu kita catat ulang: barang-barang murah tetapi dengan mutu yang bagus. Itu obsesi Bung Karno tentang Sarinah itu.

Sarinah adalah judul sebuah buku yang ditulis oleh Bung Karno pada tahun 1947.  Dalam pengantarnya Bung Karno menulis bahwa sesudah berpindah kediaman dari Jakarta ke Yogyakarta, salah satu kesibukan Bung Karno ialah memberi pencerahan tiap dua pekan yang disebut kursus wanita. Materi pencerahan yang disampaikannya dalam kursus-kursus itulah yang menjadi bahan penerbitan buku Sarinah.

Dalam pengantar ini pula Bung Karno menjanjikan bahwa “Siapa yang membaca kitab yang saya sajikan sekarang ini – yang isinya telah saya uraikan di dalam kursus-kursus wanita itu dalam pokok-pokoknya – akan mengerti apa sebab saya anggap soal wanita itu soal yang amat penting. Soal wanita adalah soal masyarakat. Sayang sekali, bahwa soal wanita itu belum pernah dipelajari sungguh-sungguh oleh pergerakan kita. Sudah lama saya bermaksud menulis buku tentang soal itu, tetapi selalu maksud saya itu terhalang oleh beberapa sebab. Tetapi sesudah kita memproklamasikan kemerdekaan, maka menurut pendapat saya soal wanita itu perlu dengan segera dijelaskan dan dipopulerkan. Sebab kita tidak dapat menyusun Negara dan tidak dapat menyusun masyarakat, jika (antara lain-lain soal) kita tidak mengerti soal wanita”.

“Saya namakan kitab ini Sarinah sebagai tanda terimakasih saya kepada pengasuh saya ketika saya masih kanak-kanak”, kata Bung Karno. Dari Sarinah-lah, aku Bung Karno, ia menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih…. mendapat banyak pelajaran mencintai orang kecil. Dia sendiripun orang kecil.  Meskipun Sarinah itu sebetulnya hanyalah si Mbok kecil, orang rendahan, menurut pandangan subjektif dan empiris Bung Karno, ia adalah orang yang budinya selalu besar.

Indonesia Menggugat. Ruth Indiah Rahayu, seorang peneliti dari INKRISPENA (Institut Kajian Krisis dan Studi Pembangunan Alternatif) dalam tulisannya yang dipaparkan pada acara peluncuran Sarinah oleh Syabas Books dan Institut Nalar Jatinangor di Bandung, 23 Januari 2013, menyoroti pola pikir evolusi unilinear yang digunakan Bung Karno dalam mengulas wanita pejuang Indonesia. Pada bab IV misalnya Bung Karno, dalam pemahaman Ruth Indiah Rahayu, dikutip bertutur demikian: “Siapa yang memperhatikan benar tingkatan-tingkatan pergerakan wanita sebagai yang saya gambarkan, akan dapat menentukan dengan tepat derajat pergerakan wanita Indonesia”.

Ruth Indah Rahayu menegaskan Sarinah dituturkan dengan tesis tentang bentuk keluarga dan masyarakat patriarki yang tidak menindas perempuan yang dikombinasikan dengan tesis evolusi pergerakan perempuan bertingkat. Tingkatan pertama dapat dinamai paguyuban koncowingking menuju tingkatan kedua (feminisme), menuju tingkatan ketiga (sosialisme).

Dengan hati-hati Ruth Indiah Rahayu mencatat bahwa dengan meminjam penjelasan Lewis H, Morgan dan J.J. Bachofen yang disintesakan oleh Engels, Bung Karno berusaha menerangkan keterbelakangan perempuan untuk kemudian dengan tegar mengemukakan bahwa perempuan berada pada posisi terbelakang bukanlah karena kodrat alam, melainkan terbentuk dalam sejarah perkembangan cara produksi masyarakat. Pengalaman empirik tumbuhnya pemikiran dan gerakan perempuan di Eropa selama abad 17-20 yang dimulai dari paguyuban ibu-ibu borjuasi untuk menjadi perempuan yang sempurna sebagai pendamping suami, lalu meningkat kepada  gerakan feminisme yang wujudnya ialah memperjuangkan persamaan hak dengan laki-laki di ranah kerja dan hak pemilihan (suffragette), dan puncaknya ialah pergerakan sosialisme. Pada etape ini laki-laki dan perempuan berjuang bahu membahu untuk mendatangkan masyarakat sosialistis, sehingga keduanya sama-sama merdeka dan sejahtera.

Banyak kisah tentang Bung Karno yang sebagiannya mengantarkannya pada image poligamisme. Tetapi buku Sarinah membedah sisi yang jarang diperbincangkan oleh kalangan luas. Tentulah dengan buku Sarinah dapat pula dengan mudah dihubungkan banyak hal tentang heroisme sikap juang proklamator ini.

Suatu ketika misalnya, Bung Karno berpidato untuk sebuah pembelaan dirinya yang akhirnya pidato itu sendiri dijadikan sebuah buku dengan judul yang sama, yakni Indonesia Menggugat. Indonesia Menggugat adalah pidato pembelaan yang dibacakan pada persidangan di Landraad, Bandung pada tahun 1930. Soekarno bersama tiga rekannya (Gatot Mangkupradja, Maskoen dan Soepriandinata) dituduh hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda.

Dari balik jeruji penjara, konon dikhabarkan bahwa Soekarno berusaha menyusun dan menulis sendiri pidato pembelaannya. Isi pidato Indonesia Menggugat adalah tentang keadaan politik internasional dan kerusakan masyarakat Indonesia di bawah penjajahan. Pidato pembelaan ini kemudian menjadi suatu dokumen politik menentang kolonialisme dan imperialisme yang sangat monumental untuk Indonesia.

Buku itu begitu kuat memberi fokus perhatiannya terhadap penolakan atas eksistensi imperialisme dan kapitalisme yang ia bagi menurut jenis imperialisme tua dan modern dan yang dalam pandangannya keduanya ada pada hakekat yang sama. Bung Karno juga menjelaskan pemahaman dan gugatannya atas imperialisme di Indonesia sejak zaman kumpeni, cultuur stelsel, imperailisme dan modern dan lain-lain dengan tak lupa mengulas nasib bangsa Indonesia.

Dikaitkan dengan buku Sarinah, tentu kembalilah mengingat bahwa perempuan telah mengasuh dan mengasihi serta membimbingnya menjadi seorang yang demikian tangguh menghadapi musuh-musuh negerinya yang ingin ia bebaskan sepenuhnya dari kolonialisme dan imperialisme.

Penutup. Mengapa Sarinah menjadi pilihan tempat untuk pelaksanaan teror yang dilancarkan oleh orang yang kelihatannya sangat bersahaja itu pada hari Kamis pagi pekan lalu? Mengapa? Seseorang berkata kepada saya, di sana ada Starbuck yang mungkin dinilai menyimbolkan sesuatu. Bukankah Starbuck ada di banyak tempat?

Pertanyaan lain yang membuat saya belum dapat menemukan jawaban ialah mengapa jika hanya untuk resiko yang demikian mahal para pelaku tidak berusaha memilih sasaran lain yang dengan mudah diperkirakan dapat mereka lakukan dengan resiko sebanding? Biarkanlah ini menjadi pertanyaan yang jawabannya pasti akan bertemu juga pada kemudian hari. Saya sangat yakin bahwa jawabannya tidak pada tagar yang jadi trending topic, yakni #KitaTidakTakut, yang dikatakan merupakan respon menanggapi aksi teror itu.

Menanggapi peristiwa memilukan ini banyak pihak sudah memberi reaksi dengan tak hanya berkata #KitaTidakTakut. PP Muhammadiyah misalnya menyatakan kutukannya secara keras sembari menyampaikan belasungkawa kepada para korban baik yang wafat maupun yang terluka.

Organisasi keagamaan tertua di Indonesia ini juga mendesak aparatur keamanan, khususnya Kepolisian dan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk mengusut tuntas motif dan pelaku pemboman secara professional, objektif, dan seksama. Muhammadiyah juga berharap kepolisian tidak mengambil kesimpulan secara terburu-buru dalam menyampaikan informasi mengenai motif dan pelaku pemboman sebelum memiliki bukti kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dukungan Muhammadiyah terhadap pemberantasan dan pencegahan terorisme oleh Pemerintah digaris-bawahi dengan tetap memperhatikan hak azasi manusia, praduga tak bersalah, dan hukum yang berlaku. Lagi pula, upaya pemberantasan dan pencegahan teroris harus dilakukan dengan berbagai pendekatan yang menyeluruh. Pada akhir pernyataannya PP Muhammadiyah menghimbau masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh berita yang belum jelas kebenarannya. Masyarakat hendaknya tetap tenang dan tidak takut, serta mempercayakan sepenuhnya masalah pengamanan kepada aparatur keamanan.

 

 

Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, Senin 18 Januari 2016, hlm B7.
Shohibul Anshor Siregar. Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial
Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: