'nBASIS

Home » ARTIKEL » KAMPUNG KUBUR

KAMPUNG KUBUR

AKSES

  • 557,168 KALI

ARSIP


20140128_062656_suasana-penggerebekan-polisi-di-kampung-kubur

Kampung Kubur itu adalah institusi deviatif modern yang amat kompleks,  yang diciptakan untuk arena pembangkangan terhadap negara dan hukum. Tujuannya untuk perolehan uang (terutama) melalui narkoba. Kampung Kubur itu tidak tercipta dengan sendirinya.

Tentulah banyak pihak memiliki andil menciptakannya sedemikian rupa.  Karena itu diasumsikan banyak institusi deviatif modern seperti itu di Indonesia saat ini, dan kalau aparat penegak hukum mau jujur bercerita, ini adalah kegagalan internal mereka. Tanpa menyepelekan faktor-faktor lainnya, Kampung Kubur lebih dapat diposisikan sebagai fungsi dari kegagalan aparatur. Itu lebih adil.

Saya sangat setuju mereka (Negara) melakukan sesuatu di sana meski sambil bertanya serius: “bagaimana menghadapi proses berikut yakni mutatis dan mutandis dalam arti tumbuhnya arena pengganti?” Sebab pada dasarnya yang mereka kerjakan di Kampung Kubur itu bukan solusi tuntas sama sekali, melainkan hanya poles-poles kecil. Bahkan jika pun nama Kampung Kubur diganti dengan Smart City, Welfare City, atau nama-nama lain yang bagus-bagus, keadaan sama sekali tidak berubah dilihat secara keseluruhan. Mengapa begitu?

Pertama, populasi pecandu narkoba (di Medan, di Sumatera Utara, di Indonesia dan di dunia) tidak dijamin berkurang karena operasi di Kampung Kubur. Suply akan tetap memiliki trend tumbuh. Kampung Kubur hanyalah satu di antara model yang dapat dikaitkan dengan masalah kenarkobaan. Di kota selalu muncul trend membangun variasi institusi kenarkobaan seiring dengan kompleksitas kebangunan kota. Di desa introduksi narkoba sudah melewati tahap kampanye, dan konsumen tetap sudah tumbuh dan dipastikan akan semakin berkembang.

Kedua, jika mau serius, ayo pastikan  darimana datangnya narkoba dan; sesiapa yang mendatangkannya serta, siapa yang dijadikan jaringan distribusi dan, sasarannya siapa saja? Selagi pertanyaan itu tak pernah terjawab dengan baik, maka respon pastilah seperti selama ini; kampanye jalan terus; razia jalan terus; pemidanaan jalan terus; rehabilitas (akan) jalan terus; tetapi sama sekali tidak ada yang berubah, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Habis Kampung Kubur, semua pihak dalam masyarakat internasional narkoba diyakini sudah mempersiapkan substitusi etalase baru. Maukah kita berfikir sederhana dengan analogi “jika sepeda tidak lagi diproduksi, apakah masih akan ada yang menaiki sepeda di permukaan bumi ini? Jika media massa sudah berhenti membeli kertas karena mereka sudah beralih ke media online, apakah masih akan ada yang membaca Koran di permukaan bumi?”.

Ketiga, terkadang geli juga saya membaca berita, para tokoh dan ulama diundang ke sebuah tempat untuk memusnahkan barang bukti. Di sana setiap orang (pastilah selalu) bertanya dalam hati: “kapan ada keterbukaan data tentang berapa yang didapat (hasil tangkapan), berapa yang dilaporkan (oleh petugas) dan berapa yang dimusnahkan?”

Keempat, terkadang geli juga hampir setiap hari membaca berita gembong dan jaringan trans-nasional narkoba dikatakan ditangkap. Saya selalu bertanya, gembong itu apa? Apa penjual selintting ganja atau seujung rambut bubuk narkoba? Kok tidak habis-habisnya? Itu berarti tidak ada kejujuran dalam berkomonukasi. Akibatnya, apa yang kita terima sekarang? Akhirnya semua orang gagap menyaksikan tak ada yang lebih kuat dari narkoba di negeri ini.

Kelima, terkadang geli juga membaca berita aparat melakukan pemeriksaan urine di instansi tertentu (di luar institusi penegak hukum, DPRD, misalnya). Dalam hati saya berkata: “mengapa tidak dimulai dari induk permasalahan? Apakah ini semacam arogansi atau pencitraan belaka? Ayolah dilakukan pemeriksaan urine setiap hari kepada semua aparat penegak hukum selama enam bulan tanpa henti. Dari sana kita dapat saksikan berapa banyak aparat penegak hukum yang harus dipecat karena tingkat keterlibatan/ketergantungannya kepada narkoba hingga secara akal sehat ia dianggap tak akan mampu bertugas sesuai harapan institusi”.

Keenam, ayo sama-sama kita cek, di manakah masih ada kelompok masyarakat di Indonesia yang mampu melakukan konsolidasi bersama dan bertekad melakukan tindakan bersama dalam melawan narkoba (misalnya sebagaimana lazimnya mereka mampu menjaga keamanan lingkungan antara lain dengan program siskamling atau sebagaimana mereka melakukan konsolidasi keagamaan dengan antara lain wirid malam Jum’atan)? Tidak ada. Semua merasa tak berdaya, karena semua tahu anatomi permasalahan narkoba. Bahkan di Kampung Kubur pun saya yakin sekali masih banyak orang baik-baik yang tak berdaya, memilih diam seribu bahasa dan tak mampu pindah dari tempat itu untuk menghindari bencana.

Ketujuh, saya tidak tahu akuraditasnya, tetapi kata orang sih, uang yang beredar di dunia 2/3 adalah hasil transaksi narkoba. Jika itu benar, maka diasumsikan bahwa di Indonesia pun keadaannya tidak jauh berbeda. Bagaimanalah melawan itu? Sama halnya dengan kesulitan melawan korupsi, karena semua suka. Apalagi aparat penegak hukumnya. Terserah bagaimana semua pihak double talk (omong ganda).

Tapi percayalah, jika aparat penegak hukum bersih dan sungguh-sungguh, narkoba di Indonesia bisa tuntas 100% dalam waktu hanya 6 bulan. Itulah sebabnya janji Indonesia untuk dirinya beberapa tahun lalu tentang Indonesia bebas narkoba tahun 2015 menjadi lawak-lawak.

Terimakasih, selamat untuk semua atas upaya di Kampung Kubur itu.

 

illustrasi

Shohibul Anshor Siregar
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Medan Bisnis, Medan, 15 Januari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: