'nBASIS

Home » ARTIKEL » WORLD CLASS CITY (1)

WORLD CLASS CITY (1)

AKSES

  • 538,714 KALI

ARSIP


Profesor John Friedmann, Kepala Program Perencanaan Kota di UCLA, banyak menulis publikasi bidang kebijakan pembangunan daerah, pengembangan dan fenomena restrukturisasi ekonomi dan spasial kota era global.

Dalam sebuah artikelnya berjudul “Hipotesis Kota Dunia”, ia memberi pujian atas pokok-pokok pandangan Manuel Castells (1972) dan David Harvey (1973) yang dengan jelas menghubungkan proses-proses pembentukan kota dengan pergerakan industri kapitalisme yang lebih luas. Ia mencoba menyadarkan melalui tulisannya itu bahwa studi kota tak lagi dapat menghindar untuk tak langsung terhubung  dengan ekonomi dunia.

Pendekatan ini memertajam wawasan mendalami proses-proses perubahan yang melanda seluruh wilayah perkotaan, yang dengan sendirinya pula menawarkan sebuah perspektif keruangan ekonomi. Kelihatannya hal itu sudah menjadi kebutuhan yang demikian pesat berkembang menekan kesadaran usang dan kaku atas batas-batas nasional kenegaraan, sebagaimana  menjadi pakem kuat sebelumnya.  

Dari kerangka berfikir yang meniscayakan keterhubungan dengan kekuatan-kekuatan dan desakan ekonomi global, John Friedmann mengajukan tujuh hipotesis utama proses-proses urbanisasi yang dimaksudkannya sebagai kerangka kerja penelitian. Pada tahap ini sama sekali ia tak bermaksud mengajukan sebuah teori atau generalisasi universal yang serta-merta dapat dipaksakan tentang kota-kota dunia, melainkan sebuah titik awal  penyelidikan politik. Dengan hipotesis itu John Friedmann berharap dapat menemukan perbedaan yang signifikan antara kota-kota yang telah menjadi ‘basing point’ untuk modal global, baik karena modus integrasi masing-masing dengan ekonomi global, maupun karena latar belakang faktor masa lalu (sejarah), kebijakan nasional, dan pengaruh budaya. Variabel ekonomi memang begitu menentukan bagi semua upaya penjelasan atas permasalahan yang kelak pasti ditemukan dalam setiap kota atau world class city itu.

Hipotesis Kota Dunia. Hipotesis kota dunia dibangun untuk menjelaskan organisasi spasial divisi kerja internasional baru, hubungan kontradiktif produksi era manajemen global, dan penentuan politik kepentingan teritorial yang menawarkan pemahaman tentang apa yang terjadi di kota-kota global utama ekonomi dunia dan jenis-jenis konflik politik apa yang banyak mendominasi. Pertama, kota-kota utama yang menghubungkan seluruh dunia digunakan oleh modal global sebagai titik-titik pangkalan dalam organisasi dan artikulasi keruangan produksi dan pasar. Keterkaitan yang dihasilkan memungkinkan untuk pengaturan kota dunia ke dalam hierarki keruangan yang kompleks. Kedua, fungsi kontrol global kota-kota dunia secara langsung tercermin dalam struktur dan dinamika sektor produksi dan ketenaga-kerjaan.Ketiga, kota dunia adalah situs utama untuk konsentrasi dan akumulasi modal internasional. Keempat, kota-kota dunia adalah tujuan sejumlah besar migran domestik dan internasional. Kelima, pembentukan Kota dunia dengan sendirinya terbawa ke fokus kontradiksi kapitalisme industri, baik secara spasial maupun polarisasi kelas. Keenam, pertumbuhan kota dunia menghasilkan biaya-biaya sosial pada tingkat yang cenderung melebihi kapasitas fiskal negara.  Ketujuh, bentuk dan tingkat integrasi kota dengan ekonomi dunia, dan fungsi-fungsi yang dibebankan dalam kerangka baru pembagian keruangan ketenaga-kerjaan, akan menentukan setiap perubahan struktural terjadi di dalamnya. 

Seluruh kota dunia berada pada ketidak-seragaman bentuk dan tingkat integrasinya dengan ekonomi global. Di sini akan selalu muncul dialog yang meletihkan dan bahkan mencemaskan, karena sudah barang-tentu fungsi yang ditugaskan kepada setiap kota pada kerangka divisi spasial baru tenaga kerja juga akan menentukan terjadinya perubahan struktural. Meski semua dibayangkan ada pada keniscayaan terintegrasi dengan sistem kapitalis dunia, tetapi tetap saja tersisa asumsi terbuka untuk referensi pengembangan bentuk-bentuk khusus setiap kota dunia. Intensitas dan variasi serta durasi dan pertautan dengan perekonomian kota ke dalam sistem global, pasar modal, tenaga kerja dan komoditas, kelak akan menjelaskan tentang berbagai derajat kekotaan dari sebuah kota dunia tertentu di mata dunia.

Gerangan perubahan struktural apa yang selalu terjadi di dalamnya? Pertama, perubahan kawasan urban kontemporer adalah untuk sebagian besar kelangsungan proses adaptasi terhadap perubahan yang secara eksternal diinduksi berkelanjutan. Kedua, perubahan fungsi metropolitan, struktur pasar tenaga kerja, dan bentuk fisik kota dapat dijelaskan dengan mengacu pada proses di seluruh dunia yang antara lain wajib memengaruhi arah dan volume aliran modal transnasional, manajemen dan atau kontrol terhadap produksi, dan  struktur kerja berbasis kegiatan ekonomi.

Beban Indonesia. Sehebat apa tawaran imperatif dan seberapa luas ketersediaan opsi-opsi pengintegrasian diri terhadap kota kelas dunia itu selalu menegaskan signifikansi pengaruh-pengaruh ekonomi yang selalu terbuka untuk diijtihadkan oleh dialog dengan kondisi endogen tertentu. Artinya memang harus diperkuat pendapat dan keyakinan bahwa setiap kota dunia tetap berpeluang berencana memertahankan tak sekadar pola spasial berdasarkan rujukan akumulasi faktor-faktor sejarah, kebijakan nasional suatu negara yang bertujuan untuk melindungi subsistem ekonomi nasional dari persaingan luar melalui penutupan parsial untuk imigrasi, impor komoditas dan operasi modal internasional modal, dan ketiga, kondisi sosial tertentu, seperti apartheid di South Afrika, yang memberikan pengaruh besar pada proses perkotaan dan strukturnya. 

Di Indonesia hal yang disebut terakhir adalah sebuah persoalan besar yang sangat sensitif. Ada kesenjangan yang mewariskan kondisi permanen kemiskinan struktural yang dari satu ke lain rezim pemerintahan tak pernah mendapat koreksi serius selain wacana-wacana ringan yang muncul tak begitu substantif pada perkampanyean politik khususnya saat-saat suksesi berlangsung, yang jelas hanya dimaksudkan untuk pengelabuan pemilih untuk peraihan mayoritas suara. Kondisi struktural ini diperkirakan tidak mungkin berubah, mengingat sistem demokrasi yang umumnya berbasis transaksi politik selalu tunduk pada pengaruh kapital domestik maupun internasional. Resistensi para pemodal adalah keterbantaian peluang bagi pemimpin yang berniat menjalankan misi kesejahteraan berdasarkan cita-cita konstitusi, karena mereka secara langsung berhadap-hadapan dengan penolakan pengendali multi national corporations.

Buku The Rise of Ersatz Capitalism in South-East Asia (1988) yang ditulis oleh Kunio Yoshihara  menganggap kapitalisme Indonesia yang bersifat ersatzs atau pseudo capitalism perlu dirubah dengan tiga rekomendasi, yakni menanggulangi keterbelakangan teknologi, memperbaiki kualitas intervensi pemerintah, dan menghapus diskriminasi terhadap orang-orang keturunan Cina. Ketiga faktor itu dianggapnya dapat merombak watak pembangunan yang tidak efisien untuk berubah menjadi kapitalisme yang tak berbeda dengan di Jepang dan dunia Barat pada umumnya. Jalannya ialah sistem sosial dan politik harus dibangun sedemikian rupa agar kapitalisme yang dinamis dapat tumbuh.  Rekomendasi Kunio Yoshihara tak sepenuhnya melakukan pemilahan berdasarkan peran keturunan Cina di berbagai Negara di Asia tenggara. Karena pada dasarnya diskriminasi terhadap keturunan Cina di Indonesia malah adalah sebuah penegasan penting atas penguasaan mereka atas ekonomi.

Tidak mungkin hilang dari catatan sejarah bahwa sejak zaman penjajahan Belanda diskriminasi yang terjadi di Idonesia malah dalam bentuk penempatan orang yang berasal dari Timur Asing termasuk keturunan Cina sebagai warga kelas satu. Inilah kesulitan awal Indonesia dalam merealisasikan cita-cita kemerdekaannya. Kita ketahui dampaknya sangat buruk hingga hari ini. Diskriminasi yang sesungguhnya malah akan kelihatan jika memeriksa tidak pada bagian hilir seperti selama ini diteriakkan dengan amat bersemangat oleh kalangan tertentu. Bukankah hasil diskriminasi jika setiap tahun pengumuman nama orang terkaya di Indonesia mutlak didominasi oleh kerutunan Cina Dalam dialog yang diselenggarakan oleh Karni Ilyas melalui program ILC yang dia asuh (13 Januari 2016), Yusril Ihza Mahendra memberi data  bahwa 0,2 % orang Indonesia  menguasai 74 % dari keseluruhan tanah melalui konglomerasi, realestate, pertambangan, perkebunan sawit, HPH dan sebagainya. Ini bom waktu, katanya, apalagi, maaf-maaf kalau memakai bahasa lama, mereka yang 0,2 % itu non primbumi. Karni Ilyas menimpali, 50 % kekayaan Indonesia hari ini adalah milik 1 % warga negara.

Akhirnya apa yang menjadi kenyataan ialah brutalitas kapitalisme dengan segenap keganasannya. Ini, bahkan mungkin sudah dimulai sejak sejarah pertama masuknya modal asing pada masa pemerintahan kolonial. Data cukup tersedia tentang ini. Terjadi ketidak-merataan karena meskipun pertumbuhan cukup tinggi, namun terus diikuti oleh kesenjangan. Kini hampir 40 % rakyat masih tergolong miskin dan mendekati miskin yang selalu difeeding dengan beras miskin yang sangat tak berkualitas.

Fakta yang menunjukkan masih rendahnya tingkat pendidikan dan kesempatan untuk mengecap pendidikan tinggi yang pada gilirannya  memunculkan fakta lain tenaga kerja didominasi oleh lulusan pendidikan SD yang tak bersaing, menunjukkan absennya negara.  PDB per kapita dan tingkat pendidikan berada pada posisi degradatif, di bawah posisi Cina dan disusul oleh Vietnam.

Brutalitas kapitalisme di Indonesia juga telah melahirkan fenomena sensitif, yakni terjadi kesenjangan antara kawasan Barat dan Timur, yang sebetulnya harus dimulai penelaahannya dengan melihat fakta kesenjangan antara Jawa dan luar Jawa. Dalam banyak keluhan yang tak usai, hingga kini tidak ditemukan mengapa Negara tidak berhasil mengoptimalkan SDA sebagai modal pembangunan yang memakmurkan seluruh rakyat, kecuali alasan-alasan pengintegrasian dengan kapitalisme dunia.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh harian Waspada, Medan, Senin, 22 Februari 2016, hlm B5
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: