'nBASIS

Home » ARTIKEL » POLITIK

POLITIK

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


images

|Apakah Anda bisa meminta dengan hormat kepada Negara-negara dan para pemegang kuasa pada multinational corporations agar mereka adil kepada bangsa dan Negara Indonesia dalam mengelola sumberdaya alam? |Menangis dengan air mata darah pun Anda menyembah menyampaikan permohonan itu, mereka tak akan mendengar|

Gellok dan Sordak seperti berseminar mesKi tanpa audiens, kecuali orang yang lalu lalang di samping mereka yang sedang duduk sarapan pagi tadi. Terkadang orang-orang yang duduk di sekeliling mereka seakan tersentak dan ikut menyimak meski tanpa nimbrung diskusi. Topik mereka kali ini tentang politik.

Gellok memulai dengan sebuah pernyataan tamanniyah (pengandaian proyektif) yang provakatif dan bertendensi peyoratif ke pihak atau kalangan tertentu. Dengan ringan sekali ia mengatakan “politisi muslim harus lebih banyak di partai nasionalis seperti PDIP, Golkar, Gerindra atau NasDem, dan lain-lain. Itu penting karena pemilih terbesar tetap muslim”.

Tak Sekadar Identitas Formal. Setelah mengernyitkan kening beberapa saat, Sordak menjawab demikian: “oh, gak jadikah kita memperjuangkan model khilafah itu, kawan? Takutnya mereka yang Anda usulkan ramai-ramai masuk ke partai yang Anda sebutkan itu malah lebih mementingkan langkah menyesuaikan diri lebih intens kepada tradisi yang berlaku umum dalam demokrasi prosedural-transaksional, yakni semua serba uang, halalkan segala cara, dan akhirnya status kemuslimannya saja yang secara formal tetap diusung, perilakunya sama sekali bukan. Anda pun tahu, mayoritas anggota partai dan anggota legislatif itu sedikit banyaknya memiliki proporsionalitas juga, berbanding dengan jumlah penduduk berdasarkan kategorisasi apa pun, termasuk agama. Tak usah Anda merebut, pendiri Partai Demokrat itu muslim, ya SBY. Begitu juga Ketum PDIP Megawati Soekarno Putri. Ketum Gerindra Prabowo Subianto. Kedua Ketum Golkar Abu Rizal Bakri dan Agung Laksono. NasDem itu dipimpin oleh Surya Paloh. Muslim dari Aceh”.

Lupakah Anda, sambung Sordak, bahwa Presiden RI pertama hingga yang sekarang itu semuanya beragama Islam? Dari dulu hingga sekarang Kementerian dan lembaga-lembaga penting itu tetap lebih terdistribusi sesuai dengan proporsi kategorisasi-kategorisasi keberagamaan yang menjadi living reality di Indonesia? Saya tak begitu faham maksud Anda.

Terus terang saya gagal faham, tambah Sordak sambil menggaris bawahi kekesalannya atas pemahaman Gellok tentang partai nasionalis. Seolah partai-partai yang didirikan dengan orientasi keagamaan seperti PDS dan PDKP yang sudah buru-buru berkubur itu, PPP, PKS, PKB, PBB, PAN dan lain-lain tidak memiliki dimensi nasionalitas. Ini kekacawan dari kelaziman sekukularitas yang melahirkan dikhotomi yang antagonistik antara agama dan sekularitas. Padahal Indonesia itu didirikan sebagai Negara sangat beragama dengan Pancasila yang menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertamanya. Mengapa Anda memusuhi agama dalam Negara dan bangsa sendiri?

Menurut Gellok khilafah itu kekuasaan. Bentuknya macam macam. Begitu katanya. Lalu, dengan penuh confidance berkata lagi  “mengusung khilafah juga tak bisa menerangkan konsepnya dan praktisnya mulai dari mana”. Sordak sedikit emosional menanggapi “siapa bilang khilafah itu pisang? Apakah begitu jauh kita dari sesuatu yang mestinya kita sangat dekat (agama) yang katanya menjadi way of life dan tak sekadar sistem kepercayaan? Sudah begitu jauhkah kita, sehingga sudah bernar-benar tertutup ijtihad, dan sehingga kita hanya akan menelaah panorama ciptaan anti khilafah sebagai karya given dan final seolah taqdir?

Ijtihad. Gellok tersudut. Tersudut, dan berkata “he he he saya sesungguhnya tidaklah anti khilafah, hanya tak setuju saja dengan konsepsi khilafah  seperti yang difahami mereka-meraka saja”. Sordak tak memberi ampun dan berkata “begitu pun Anda jangan sampai menggigil ketakutan ngucapin kosa kata khilafah. Kosa kata ini sekarang sedang dipojokkan menjadi seberbahaya atau malah lebih berbahaya dari tingkat kesalahan penggunaan kosa kata jihad.

Ada orang yang sangkin takutnya kepada lingkungan politik yang berkembang, berusaha menafsir kosa kata jihad itu hanya dalam kedangkalan yang serius, misalnya sungguh-sungguh berjalan kaki dari masjid ke rumah pulang dan pergi meski hujan lebat pada pagi subuh yang dingin. Itu contoh jihad terbaik yang ditemukannya dalam adaptasi berbasis ketakutan naïf itu. Kalau berperang tidak masuk dalam konsepsi jihad, karena kata para masternya, Islam itu adalah rahmatan lil alamin. Rahmatan lil alamin itu sama sekali tak mungkin bisa diwujudkan sebagai realitas kalau ada permusuhan, apalagi perang. Ondeh mandeh. Ondeh mandeh, tambah Sordak dengan seyum sinis seolah menguliti lawan bicaranya.

Bagi Sordak sudah perlu dan tiba saatnya diaudit serius: mengapa kosa kata “lebay” yang mestinya berasal dari penamaan sebuah institusi Islam yang sakral menjadi begitu buruk terjemahannya dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa kosa kata “syirik” begitu menyimpang maknanya di dalam kehidupan sehari-hari, padahal ia adalah konsep kunci dalam terminologi yang diperkenalkan ajaran agama sebagai musuh? Sebentar lagi, kata Sordak meramal, kosa kata “alhamdulillah” pun bisa berputar makna menjadi yang lain karena pemilik kosa kata itu lari ketakutan.

Anda harus puas dan bersyukur tak menjadi buta selamanya karena menganggap setiap pemikiran dan penjelasan serta ijtihad pemikiran Islam adalah sebuah radikalitas yang berbahaya dan itu harus diberangus dengan kekuatan resmi Negara. Begitu dahsyat pendangkalan itu, begitu nekad agenda-agenda deradikalisasi itu, sampai-sampai membuat Anda pucat setiap menyebut kosa kata khilafah dan kosa kata jihad. Anda menyedihkan.

Anda kini sudah menjadi bagian dari massa ketakutan yang telah terbentuk tanpa dasar, hanya karena tak mengenal sama sekali esensi ajaran agama yang Anda anut. Memang Anda sudah bersunat, juga beribadah, juga terlah berhaji, dan rupanya semua itu masih belum cukup untuk membangun kemusliman secara kualitatif. Kenali agamamu untuk dapat Anda jelaskan kepada setiap orang yang merasa aneh dan bermaksud memusuhi. Tak mungkin musuh-musuh agamamu menolongmu dalam kebodohan seperti itu.

Sifat Alamiah Konflik. Anda juga harus sadar sesadar-sadarnya, bahwa setiap aliran pemikiran itu akan tampil dengan keteringganasannnya masing-masing. Syukur kalau bisa berdialektika dari tesa, anti tesa dan sintesa. Tetapi Anda tak mungkin lebih mampu menjelaskan ketimbang sejarah bahwa perbenturan agama-agama itu adalah kefitrahan yang melekat pada sejarah dan alasan kehadiran agama-agama itu sendiri. Ketika Kristen lahir setelah Yahudi, maka yang terakhir adalah musuh substantif bagi yang pertama dan rasanya tak ada cara untuk mendamaikan itu kecuali kembali ke esensi agama masing-masing dengan sejujur-jujurnya. Islam yang hadir mengklaim untuk menggantikan  yang sebelumnya, sebagaimana Moshe Sharon belakangan sangat aktif mewartakan itu dengan kepakarannya yang teruji, adalah fakta yang tak mungkin dibantahkan.

Ayolah kita kembali ke topik, pinta Gellok. Khilafah itu, menurut saya kabur. Siapa yang mengangkat khaliahnya dan dari kalangan mana? Ayo, siapa ? Sordak lemas, bukan karena tak punya jawaban. Ia amat bersedih pertanyaan elementer dan sangat pemula. Ia pun berusaha berkomparasi dengan mengatakan: saya kira pertanyaan yang sama ada juga pada sistem demokrasi yang Anda banggakan itu. Atau pertanyaan demokrasinya kini sudah bergeser menjadi “kau punya uang dan kau manusia jahat maka kaulah raja?”

Gellok tak kehabisan akal. Begini katanya “ketika umat bertanya, dalam sistem khilafah itu kepala negaranya siapa dan yang ngangkat siapa? Jika berdasar sistem perwakilan lalu apa bedanya dengan sistem demokrasi saat ini? Kepala negara di manapun tetap akan memperhatikan aspek mayoritas. Maaf saya bukan meragukan khilafah.

Oh, oh oh, kata Sordak. Itu rupanya yang membuat Anda begitu bingung. Begini, kawan. Kan tidak salah meragukan? Menolak pun tidak salah. Bahkan yang sangat ketakutan pun diberi hak juga di sini. Meskipun semua itu memang pasti akan menjadi bagian yang akan berakumulasi menjadi pengekangan terhadap potensi ijtihad pada alam sekuler yang memaksa agama hingga kini lebih menyisakan dirinya hanya benar dan boleh ditoleransi pada ritual belaka, dan nanti masih akan dipaksakan oleh kekuatan struktural dan kultural lain agar menyeragamkan diri dengan agama-agama yang ada. Ha ha ha. Ini tragedi, kawan. Saya sangat kasihan kepada Anda. Menyedihkan.

Merah padam muka Gellok. Katanya, khilafah sebagai sebuah ideologi memang akan terus diperjuangkan oleh penganutnya. Demokrasi sebagai sebuah ideologi juga akan diperjuangkan oleh para menganutnya. Sebagai sebuah ideologi keduanya akan diperjuangkan bahkan sampai berdarah-darah oleh para pengikutnya. Semoga saja pertarungan itu hanya sebatas perang pemikiran dan dakwah

Sordak tertawa terbahak-bahak. Ia meminta Gellok memperbaharui pemahamannya atas dialektika konflik sepanjang sejarah dan pendefinisian perang sebagai akhir dari diplomasi yang gagal. Anda harus sdar, begitu ditegaskannya kepada Gellok, bahwa sungguh tidak pernah ada kesepakatan yang bisa disetujui oleh semua pihak yang berkonflik bahwa konflik saling mengeliminasi harus sebatas kata dan tulis menulis. Faktanya Indonesia merasa benar setelah merdeka, tetapi tak usah merdeka pun sebetulnya sumberdaya alam  pun dikelola Belanda penjajah itu juga dengan baik dan mereka membawa hasilnya ke negeri mereka seperti yang terjadi sekarang. Konflik ini bukan hanya wacana dan tak bisa hanya sebatas wacana, karena faktanya memperlemah musuh untuk ditelan habis adalah rumus sejak era Habil dan Qabil.

Penutup. Anda tidak pernah mencari perbandingan antara semut dan harimau. Harimau itu pemangsa, sama dengan Singa. Ia hanya bisa eksis dan melanjutkan generasinya karena minum darah dan makan daging dari hewan yang hidup. Ia hidup dengan jalan membunuh. Makhluk predator ini tak sama dengan semut. Anda hanya akan digigitnya jika telah mempersulitnya. Itu pun lazim dilakukannya saat akhir hanyatnya benar-benar sudah tiba karena Anda tindas.

Anda suka atau tidak, itu kenyataan yang harus kita terima. Apakah Anda bisa meminta dengan hormat kepada Negara-negara dan para pemegang kuasa pada multinational corporations agar mereka adil kepada bangsa dan Negara Indonesia dalam mengelola sumberdaya alam? Menangis dengan air mata darah pun Anda menyembah menyampaikan permohonan itu, mereka tak akan mendengar karena rumus kapitalisme dan neoliberalisme tidak menyisakan belas kasihan sebagai bagian inherent dalam jatidirinya.

Paling-paling Anda diberi serpihan kecil dari Community Social Responsibility (CSR) yang diciptakan sebagai kanalisasi sekaligus stabilisasi terukur tanpa berkorban materi demi keadilan yang difahamkan oleh para looser (pecundang).

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, Senin, 7 Maret 2016, hlm B7


1 Comment

  1. Di dalam kekuasaan, ibarat penyakit yang sudah masuk sampai ke tulang sumsum, hanya menunggu yang punya sakit kembali asalnya. Sekarang sudah kembali Legenda MPU GANRING Senjata makan Tuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: