'nBASIS

Home » ARTIKEL » KONSENSUS DAN KESAKSIAN

KONSENSUS DAN KESAKSIAN

AKSES

  • 541,646 KALI

ARSIP


Darul ‘Ahdi wa Syahadah. Anda pernah mendengarnya? Istilah itu adalah konsep pemikiran yang diputuskan oleh Muktamar Muhammadiyah 47 di Makassar, tahun lalu. Konsep ini menegaskan pemahaman Muhammadiyah tentang Negara Pancasila yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, sebagai sebuah hasil konsensus (kesepakatan) nasional, yang secara cita-cita dan perjuangan wajib menjadi tempat pembuktian atau kesaksian untuk menjadi negeri yang aman dan damai, menuju kehidupan yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat dalam naungan ridha Allah SWT.

Kesepakatan (konsensus) nasional itulah yang diistilahkan dengan darul ‘Ahdi (Negara Kesepakatan Nasional). Sedangkan istilah darusy Syahadah dimaknai sebagai Negara Kesaksian (tekad dan cita-cita). Indonesia sebagai Negara Pancasila, terus-menerus wajib diperjuangkan menapaki kondisi (well-being) lebih baik dari waktu ke waktu. Muhammadiyah meyakini pandangan kebangsaan yang bertolak dari konsep Darul ‘Ahdi wa Syahadah ini sejalan dengan cita-cita Islam tentang Negara idaman yang dalam istilah yang populer di lingkungan Muhammadiyah disebut baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik dan berada dalam ampunan Allah SWT).

Sebagaimana layaknya sebuah Negara di dunia ini, pandangan-pandangan filosofis yang berkembang terhadapnya tidak pernah usai sama sekali. Pandangan-pandangan itu tentu saja dapat memiliki kesamaan bahkan perbedaan di antara sesama komponen bangsa. Namun demikian, dengan konsep ini (Darul ‘Ahdi wa Syahadah), setidaknya Muhammadiyah memiliki pegangan dalam memperjuangkan cita-cita kebangsaan dan kenegaraan yang ia yakini kebenarannya berdasar ijtihad yang dilakukannya. Ia pun menawarkannya menjadi pegangan publik.

Karakteristik. Sesuai tema Muktamar 47, Muhammadiyah dengan pandangan Islam Berkemajuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, senantiasa berusaha untuk mengintegrasikan nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Terserah itu dianggap aneh oleh kalangan tertentu. Muhammadiyah tetap menyerukan kesadaran seluruh umat Islam bahwa dirinya adalah bagian integral dari bangsa Indonesia dengan peran historis yang sangat menentukan sejak pra kemerdekaan hingga sesudah kemerdekaan.

Akan halnya Muhammadiyah telah bertekad akan terus memberikan sumbangsih besar di dalam upaya-upaya mencerdaskan dan memajukan kehidupan bangsa, serta mengembangkan moral politik (Islam) berwawasan kebangsaan di tengah pertarungan berbagai ideologi dunia.

Dalam pandangan Muhammadiyah negara ideal berdasarkan konsep darul ‘ahdi  wa syahadah itu Indonesia benar-benar sangat berpeluang beroleh berkah Allah SWT karena penduduknya memiliki sifat-sifat beriman dan bertaqwa (1), beribadah dan memakmurkannya (2), menjalankan fungsi kekhalifahan dan tidak membuat kerusakan di dalamnya (3), memiliki relasi hubungan harmonis dengan Allah, juga terhadap sesama manusia (4). Juga diwajibkan mampu mengembangkan pergaulan global yang setara dan berdasarkan taqwa (5), dan dengan semua itu diharapkan Indonesia dapat menjadi Negara unggulan yang bermartabat (6).

Dalil-dalil yang dirujuk untuk konstruk dan pendirian konsep kenegaraan dan kebangsaan itu bersumber dari Al-Qur’an. Sebuah Negara-bangsa wajib memupuk keimanan dan ketakwaannya.  [Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al A’raf:96)].

Negeri dengan penduduk yang beribadah dan memakmurkannya, tidak saja disebutkan dalam QS. Adz Dzariyat : 56 (dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku), tetapi juga ditegaskan oleh QS. Hud : 61[dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)].

Konsep darul ‘ahdi  wa syahadah yang difahami oleh Muhammadiyah juga menggambarkan penduduk yang menjalankan fungsi kekhalifahan dan tidak membuat kerusakan di dalamnya. Hal ini dilandasi QS. Al Baqarah:11[dan bila dikatakan kepada mereka janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab sesungguhnya Kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Dalam terjemahan ini Muhammadiyah berpandangan bahwa kerusakan di muka bumi tidak terbatas pada kerusakan benda semata, melainkan termasuk hasutan (orang-orang kafir) untuk memusuhi (dan menentang orang-orang Islam)]. Pada surah Al Baqarah:30 juga ditegaskan “ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal Kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Memiliki relasi hubungan harmonis dengan Allah, juga terhadap sesama manusia, adalah prinsip yang didasarkan pada pengertian yang terkandung dalam QS. Ali Imran : 112 [mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia (perlindungan yang ditetapkan Allah dalam Al Quran dan perlindungan yang diberikan oleh pemerintah Islam atas mereka) dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Keadaan yang demikian itu (ditimpa kehinaan, kerendahan, dan kemurkaan dari Allah) karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. Hal yang demikian itu (kekafiran dan pembunuhan atas Para nabi-nabi) disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”]

Relasi dan harmoni mendapat penegasan dalam QS. Al Hujurat : 13 yang menyebutkan “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” Ayat ini melandasi penafsiran Muhammadiyah atas kewajiban sebuah Negara (Indonesia) dan penduduknya untuk mengembangkan pergaulan global yang setara dan berdasar taqwa.

Muhammadiyah memandang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah Negara Pancasila yang ditegakkan di atas falsafah kebangsaan yang luhur dan sejalan dengan ajaran Islam yang secara imperatif wajib dikembangkan menjadi Negara unggulan bermartabat. Pandangan dan keyakinan ini didasarkan pada bunyi QS. Ali Imran : 110 (kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik).

Indonesia Berkemajuan. Dalam perspektif Muhammadiyah Islam adalah agama kemajuan yang diturunkan untuk mewujudkan kehidupan umat manusia yang tercerahkan dan terbangunnya peradaban semesta. Kehidupan kebangsaan maupun kemanusiaan universal yang digerakkan Muhammadiyah selalu berlandaskan komitmen menyemai benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemamkmuran dan keutamaan hidup menuju peradaban utama yang melahirkan keunggulan lahiriah dan ruhaniah.

Islam ditegakkan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan tanpa driskiminasi, menggelorakan misi anti-perang, anti-terorisme, anti-penindasan, anti-keterbelakangan, dan anti terhadap segala bentuk pengrusakan di muka bumi seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan kejahatan kemanusiaan, eksploitasi alam, serta berbagai kemungkaran.

Sebagai kekuatan strategis umat dan bangsa, Muhammadiyah senantiasa berkomitmen membangun Negara Pancasila dengan pandangan Islam yang berkemajuan itu, sesuai kepribadiannya, yakni pertama, beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan. Kedua, memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah islamiyah. Ketiga, lapang dada, luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam. Keempat, bersifat keagaamaan dan kemasyarakatan. Kelima, mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan serta dasar dan falsafah Negara yang sah. Keenam, amar ma’ruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh yang baik. Ketujuh, aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud islah dan pembangunan sesuai ajaran Islam. Kedelapan, bekerjasama dengan golongan Islam manapun dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam, serta membela kepentingannya. Kesembilan, membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun negar amencapai masyarakat Islam sebenar-benarnya. Kesepuluh, bersifat adil serta korektif ke dalam dan keluar dengan bijaksana.

Bagi Muhammadiyah semua sila yang tercantum dalam Pancasila (Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia), dipandang beresensi keselarasan dengan nilai-nilai ajaran Islam dan dapat diisi serta diaktualisasikan membangun kehidupan yang dicita-citakan, yaitu baldatun thayibatun wa rabbun ghafur.

Jika Muhammadiyah menilai Negara pancasila mengandung jiwa, pikiran dan cita-cita luhur sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 dapat diaktualisasikan sebagai baldatun thayibatun wa rabbun ghafur, yang berperikehidupan maju, adil, makmur , bermartabat dan berdaulat dalam naungan ridha Allah swt, maka Muhammadiyah juga berpendapat bahwa umat Islam Indonesia semestinya berjuang sekuat tenaga menjadikan Negara Pancasila ini sebagai Negara tempat membuktikan diri dalam membangun kehidupan kebangsaan yang penuh makna, menuju kemajuan  segala bidang kehidupan. Ini adalah arena berfastabiqulkhairat (berkompetisi sehat) dengan kreasi dan inovasi terbaik.

Zaman boleh berubah dan berkembang sepesat apa pun. Namun Muhammadiyah tetap pada pendirian sebagaimana dituangkan dalam butir ke-lima Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) yang dirumuskan pada tahun1969. Bahwa sebagai suatu kesyukuran serta wujud tanggungjawab keagamaan dan kebangsaan, Muhammadiyah senantiasa mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan Negara yang berdasar Pancasila dan UUD 1945, untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu Negara yang adil, makmur yang diridhai Allah swt, yaitu baldatun thayibatun wa rabbun ghafur.

Penutup. Apa yang kini diperjuangkan Muhammadiyah bukanlah sesuatu yang baru. Organisasi yang berdiri tahun 1912 ini melalui para pemimpinnya tercatat memiliki keterlibatan aktif dalam usaha-usaha menuju kemerdekaan. Kyai Haji Mas Mansur (anggota dari empat serangkai bersama Ir. Sukarno, Mohammad Hatta dan Ki Hajar Dewantara) tercatat merintis prakarsa persiapan kemerdekaan.

Tokoh penting Muhammadiyah lainnya (Ki Bagus Hadikusumo, Prof. Kahar Mudzakir, dan Mr. Kasman Singodimedjo), bersama para tokoh lainnya tercatat mengambil peran aktif merumuskan prinsip dan bangunan dasar Negara Indonesia sebagaimana keterlibatan pada institusi yang diberinama Badan Persiapan Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Mereka bersama tokoh lain menjadi perumus dan penandatangan lahirnya Piagam Jakarta yang menjiwai Pembukaan UUD 1945.

Tentu saja tidak boleh dipandang remeh, bahwa Panglima Besar Jenderal Soedirman selaku kader dan pimpinan Muhammadiyah, meski dalam kondisi kesehatan yang dalam sejarah selalu diceritakan tidak begitu prima, telah pula turut menyumbangkan peran strategisnya dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankannya. Bukankah sejarah mencatatnya menjadi tokoh utama perang gerilya, dan kemudian menjadi Panglima Tentara Nasional Indonesia?

Anda lupa Ir Juanda? Ia adalah tokoh Muhammadiyah yang tak mungkin dilupakan sebagai pencetus Deklarasi Juanda (tahun 1957) yang kemudian menjadi tonggak eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Deklarasi Juanda menyatukan laut ke dalam kepulauan Indonesia, sehingga Indonesia menjadi sebuah Negara utuh yang tak terkendala oleh batas-batas perairan yang seolah memisahkan satu sama lain.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini dikembangkan dari Orasi pada Dialog Kebangsaan Milad ke-52 IMM di Medan, Sabtu, 26 Maret 2015. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, Senin, 28 Maret 2016, hlm B5

Advertisements

1 Comment

  1. zulkarnain akhmad wildan says:

    Gan sumbernya dari mana ni ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: