'nBASIS

Home » ARTIKEL » MEMPERBAIKI NEGARA

MEMPERBAIKI NEGARA

AKSES

  • 568,980 KALI

ARSIP


oTMaTAlPLVLhXyq-800x450-noPad

Foto:https://www.change.org

| Kita perbaikilah Negara ini | Ayo sama-sama, dan jangan ada yang cengeng | Jangan ada yang lebih berusaha menutupi kealpaannya dengan memblow up kesalahan orang yang berekspresi penuh kekesalan karena ingin negerinya berpancasila secara murni dan konsekuen |

Pekan lalu diberitakan bahwa seorang pemuda yang berdomisili di Tobasa, Sahat S Gurning namanya, ditangkap oleh pihak Kepolisian Toba Samosir karena diduga telah melakukan penistaan terhadap negara dengan plesetan Pancasila dan gambar dirinya yang menerjang gambar Burung Garuda Pancasila. Semua itu diketahui dari akun facebook miliknya.

Memang sangat pasti bahwa bukan Sahat S Gurning orang pertama yang memplesetkan Pancasila menjadi Pancagila, dan memberi isi baru, yakni:

  • Pertama, Keuangan Yang Maha Kuasa;
  • Kedua, Korupsi Yang Adil Dan Merata;
  • Ketiga,  Persatuan Mafia Hukum Indonesia;
  • Keempat, Kekuasaan Yang Dipimpin oleh Nafsu Kebejatan Dalam Persekongkolan dan Kepurak-puraan;
  • Kelima, Kenyamanan Sosial Bagi Seluruh Keluarga Pejabat dan Wakil Rakyat.

Jadi, sekali lagi, menilik isinya, konsep Pancagila itu bukan original Sahat S Gurning pemuda asal Tobasa yang sudah menyelesaikan studinya pada sebuah perguruan tinggi swasta di Medan itu. Bertahun-tahun plesetan itu sudah beredar di dunia maya. Malah, dalam sebuah akun facebook milik sebuah kelompok kreatif yang memproduksi T-shirt bertuliskan protes-protes sosial, Pancagila pun sudah dicetak di atas T-shirt  dan sudah terjual banyak hingga kehabisan stock. Apa yang benar-benar bisa dikaitkan sebagai ekspresi khas Sahat S Gurning adalah gambar dirinya yang sedang menendang gambar Burung Garuda Pancasila yang tertera pada sebidang dinding (tembok).

Lazimnya dalam lambang Burung Garuda Pancasila itu ada semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Semboyan itu dirubah Sahat S Gurning menjadi “Berbeda-beda Sama Rakus”. Itu pun masih belum pasti apakah original Sahat S Gurning. Ketika membuat statusnya pada facebook pada tanggal 12 Januari 2014, Sahat S Gurning menulis:

“Pancasila itu hanya lambang Negara mimpi, yang benar adalah Pancagila”. Hingga rabu pekan lalu, status itu telah disebar oleh 15.302 orang melalui akun facebook masing-masing, dan mendapat komentar pro dan kontra dari 24.950 orang.

Kasus ini jelas berbeda dengan kasus “bebek nungging” Zaskia Gotik yang belakangan malah dinobatkan menjadi duta Pancasila, atau Dokter Klinik Pancasila, meski menuai banyak protes. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu sendiri dikhabarkan tidak setuju. Status dokter Klinik Pancasila yang diberikan kepada Zaskia Gotik menurutnya adalah sebuah kesalahan. Zaskia Gotik bukan dokter. Dia adalah pasien yang sakit. Sudah bertobat, jelas Riyamizrad Ryacudu.

Orang Yang Resah. Tanggal 10 April 2016 pukul 12.17 WIB Sahat S Gurning menulis sebuah status pada akun facebook-nya yang menegaskan pendapatnya tentang betapa jauhnya Pancasila dari realitas kehidupan sehari-hari.

”Pancasila itu hanya alat mereka untuk memperkaya diri, merampas hak-hak warga Negara. Saya ingin UUD 1945 dikembalikan ke asli nya”, tegas Sahat S Gurning. Pukul 16.55 WIB kembali Sahat S Gurning menulis status “Merampok dan memperkosa tanah adat/ulayat sah-sah saja asal sesuai UU yang berlaku di negeri Pancagila !! Ini salah satunya dari berjuta kasus!! Aparat Negara adalah alat untuk menindas dan membantu kaum-kaum ‘pecinta’ Pancagila menjarah kekayaan alam suatu daerah!! Juga sebagai alat mengintimidasi dan membungkam hak-hak kemerdekaan seseorang/kelompok atas kepentingan kelompok lain (hingga saat ini)”.

Diduga karena status-statusnya yang kontroversial tentang Pancagila itu, Sahat S Gurning mendapat protes dari sejumlah orang dan membullly-nya. Maka pada tanggal 11 April 2015 pukul 14.38 WIB ia menulis status baru:

“Terimaksih kepada para pembully  yang berusaha sekali membuat Pancagila semakin nyata pengamalannya! Ayooo. Tunjukkan aslimu!  Saya menantang negara dan masyarakat menjadi hakim/saksi, apakah Pancasila bisa dibuktikan kebenarannya dan realisasinya sejak Indonesia mengadopsi simbol burung garuda dengan tameng-tamengnya yang diprediksi nyata merupakan jiwa luhur seluruh suku-bangsa nusantara. Buktikan! Bila tidak terbukti, buang saja lambang itu, ganti dengan “bebek nungging”. Bila negara kesepakatan ini tidak berpancagila, berbeda-beda sama rakus (kenyataannya gila, pembunuh-penjilat-watak binal), segera wujudkan pancasila dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Pemerintahan yang bersih, keadilan sosial & ekonomi & miskinkan lalu tembak mati koruptor (ahh..mana bisa, bakalan banyak yang mati ditembak, pakai azas pancagila pulak dalilnya)”. 

Tanggal 12 April 2016 pukul 05:27 WIB Sahat S Gurning membuat status baru. Begini bunyinya:

“Katanya saudara sebangsa setanah air, entah apa lagilah sebutan kalian. Tapi ada yang digusur, dirampok tanahnya, diintimidasi, dibunuh atas nama undang-undang, belum menikmati listrik, belum punya jalan desa, budayanya dibilang sesat, diusir dari wilayahnya, didiskriminasi karena beda, dan lain-lain, kok diam saja ? Enak kan yang berpancagila itu?”

Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Sahat S Gurning demikian:

“Ya enaklah pula, kan disuguhin bebek nungging bergoyang itik ditemani onta arab sambil makan cabe di pelukan naga. Kalau ada yang mau protes kepemerintah atau sudah agak sadar, jangan anarkis ya, yang santun penyampaiannya, entar ditangkap aparat yang kita gaji itu loh. Sakit kalau ditangkap. Dipukili, dipijak-pijak lagi, terus disuruh menghapal Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dipermalukanlah pokoknya.  Kalau bos-bos besar terusik entar kalian kehilangan pekerjaan, gak bisa lagi makan enak, hilang kursi empuk, hilang deking, ekonomi negara lesu, pembangunan terhambat dan lain-lain. Hehehe. Saran saya, laksanakan aja amanah Pancagila itu dan segera ganti burung garuda yang ada tameng-tamengnya itu dengan bebek nungging atau apalah mau kalian. Yah..sesuaikan aja dengan jati diri kalian sesungguhnya. Aku pengenlah ada yang bisa mendesain bebek nungging mengganti garuda pancasila.  Kalau ada upload distasus ini ya. Buat aja yang gila-gilaan, karena negeri kesepakatan pendahulu kita ini memang gila. (terimakasih sebelumnya brother dan sister)”.

Tampaknya Sahat S Gurning sadar benar resiko dari perbuatannya jika dihadapkan ke ranah hukum. Tetapi kelihatannya ia memandang susbstansi  pesan yang disampaikannya tak bisa dikalahkan oleh rasa ketakutan. Sahat S Gurning adalah pemuda Batak yang resah. Ia beroganisasi. Ia pun tak memantangkan aksi-aksi lapangan, dan bahkan turun unjuk rasa ke jalan. Ia peduli. Tanggal 25 Maret 2016 pukul 22:11 WIB, ia membuat status lagi berbunyi demikian:

“Dana BODT (Badan Otorita Danau Toba, pen) sumber makanan lezat… Yah.. Kaum tikus, kucing, anjing dan kaum babi pun berebut bagian dan peran. Kalau mereka mati, bangkainya disemayamkan dengan baik dan kuburannya dibangun semegah mungkin melebihi bangunan rumahnya. Namanya akan dipuja-puji. Kalau ada yang tersadar, mereka-meraka akan dijadikan tambul (makanan selingan) di lapo-lapo (warung) tuak. Bonapasogit (tanah leluhur) lebih mendunia jadi daerah tujuan wisata kematian habatahon sekaligus wisata gaya hidup kaum-kaum binatang gen baru. Gak percaya? Iyakan BODT tanpa orang kampung”.

Status itu tentu ditujukan untuk isyu baru tentang kawasan kaldera Danau Toba yang akan dikelola oleh modal neolib baru yang dalam praktik di mana-mana pun, sejak dahulu, dan dalam kesimpulan kajian banyak literatur, selalu dinyatakan tak memberi peluang berkembang bersama rakyat. Rakyat akan terabaikan. Benefit  terbesar yang akan diperoleh akan menjadi bagian dari pemodal.

Dalam album foto yang terdapat dalam akun facebook  Sahat S Gurning terdapat banyak bukti kesungguhannya menjalani hidup, jujur dan bersahaja. Ia membudidayakan ternak itik. Ia berkebun, dan ia pun mengajak teman-temannya bergotong royong di ruang-ruang publik yang perlu dirawat untuk kemanfaatan bersama. Ia juga peduli warisan leluhur, antara lain dalam bentuk apresiasinya terhadap ulos bersama penulis asing Sandra Niessen sang legendaris itu.

Setelah beberapa hari mendekam dalam tahanan, secarik kertas yang ditandatangani oleh Sahat S Gurning diseberangkan ke dunia bebas melalui rekannya yang terus memberi support. Isi pesan berjudul “Seruan Dari Balik Jeruji Polres Tobasa” itu begini:

“Kembalikan hak-hak masyarakat adat Lumban Sitorus Kecamatan Parmaksian, Kab Tobasa. Dan saya menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia agar sadar dari kemunafikan yang pura-pura cinta Pancasila namun pengamalannya nihil. Untuk itu mari kita bangun negeri ini dengan kaki dan tangan kita di tanah air warisan leluhur kita.

Hancurkan segala bentuk mafia. Tanah untuk rakyat, bukan untuk industry modal asing- aseng. Wujudkan keadilan untuk segala makhluk yang hidup di bumi Indonesia”.

Respon-respon yang demikian itu tentu saja berasal dari pengetahuannya yang direferensi dari aktivitas selama menjadi mahasiswa, yang membuatnya tanggap tentang berbagai ancaman bagi komunitas lokalnya, alam pemberian tuhannya, bangsanya dan negaranya. Dengan ajaran Pancasilalah ia tahu konsep keadilan dan bagaimana harus berjuang untuk itu. Selidiklah sedalam-dalamnya apakah benar Sahat S Gurning itu anti Pancasila. Jangan pula Anda tidak jujur,  jika ternyata menemukannya hanya seorang yang tak sabar, dengan bahasa yang dia rasa tak perlu diperhalus secara eufemistik  demi kecintaan kepada Pancasila dan kesaktiannya.

Sewaktu wisuda tahun 2015, ia mengunggah sebuah foto bersama seorang temannya dengan sebuah catatan menandai kebimbangannya dalam peralihan status:

“semoga kepalan tangan ini bertahan hingga badan kembali ke tanah”.

Kelihatan sekali pemuda Batak yang amat realistis ini merasa akan ada ancaman idealisme ke depan sekaitan dengan perjalanan hidup di luar kampus dan dengan status baru (mungkin menikah, memiliki tanggungan isteri dan anak-anak, dan lain sebagainya).

IMG_4401

Foto: Karikatur Harian Waspada Senin, 18 April 2016, hlm B7

Khabar dari Perguruan Tinggi. Tahun 1963, lima puluh tiga tahun yang lalu, Soekarno, dalam salah satu pidatonya memberikan pandangan fundamental bagi eksistensi bangsa Indonesia, atau setidaknya ia berharap begitu. Itulah yang kemudian dikenal dengan konsep Trisakti. Di sana ia menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, serta memiliki kepribadian bangsa yang berkebudayaan. Ia berharap ketiga konsep tersebut dalam kerangka pemahaman ideologis akan mampu membawa bangsa Indonesia berkemajuan dan terlepas dari segala belenggu penjajahan sesungguhnya. Itu pula yang akan mendorong kemampuan Negara-bangsa untuk berusaha terus-menerus mewujudkan cita-cita serta tujuan Indonesia sebagai suatu negara berdaulat, adil, dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia, dengan kemampuan ikut intervensi menentukan tata dunia yang adil. 

Dibandingkan dengan kondisi Negara-bangsa hari ini, gerangan apa yang dapat dipersamakan dengan cita-cita kemerdekaan dan gagasan trisakti yang demikian tinggi, baik secara kuantitatif maupun kualitatif? Karut marut proses demokrasi terus melanda,  penegakan hukum tak berkeadilan, ekonomi berkarakteristik kesenjangan menindas untuk pengabadian kemiskinan struktural, dan gejala kuat kompradorisasi yang menelantarkan kepentingan Negara-bangsa. Retorika yang dibangun untuk itu sangat menyesatkan, yang akan semakin menambah kekecawaan mendalam bagi orang yang sadar dan setia kepada cita-cita kemerdekaan.

Perguruan Tinggi di Indonesia tercatat sudah melakukan 7 (tujuh) kali Kongres Pancasila. Jika dicermati tema maupun sorotan pembahasan masing-masing Kongres (1-7), apa yang dikeluhkan oleh Sahat S Gurning adalah sesuatu yang secara substantif disuarakan berdasarkan disiplin keilmuan oleh orang-orang yang diamanahi membahas topik-topik khas sesuai tema yang dibuat. Mari kita perbandingkan.

  • Kongres Pancasila pertama, tahun 2009, di kampus UGM, mengambil tema “meneguhkan, mereaktualisasikan, dan merevitalisasikan nilai-nilai Pancasila menuji Terwujudnya Indonesia yang modern, demokratis, adil dan sejahtera.
  • Kongkres Pancasila Kedua, tahun 2010, di kampus Udayana “Konsistensi nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 dan implementasinya”.
  • Kongres Pancasila Ketiga, tahun 2011, di kampus Unair “Harapan, Peluang dan Tantangan Pembudayaan Nilai-nilai Pancasila”.
  • Kongres Pancasila Keempat, tahun 2012, di kampus UGM “Penguatan, Singkronisasi, Harmonisasi dan Intergrasi Pelembagaan dan Pembudayaan Pancasila dalam Rangka Kedaulatan Bangsa”.
  • Kongkers Pancasila Kelima, tahun 2013, di kampus UGM “Strategi Pembudayaan Nilai-nilai Pancasila dalam Menguatkan Semangat Keindonesiaan”.
  • Kongres Pancasila Keenam, tahun 2013, di kampus Unpatti “Penguatan, Sinkronisasi, Harmonisasi dan Integrasi Pelembagaan dan Pembudayaan Pancasila dalam Rangka Memperkokoh Kedaulatan Bangsa”.
  • Kongres Pancasila Ketujuh, tahun 2015, di kampus UGM ” Membangun Kedaulatan Bangsa Berdasarkan Nilai-nilai Pancasila: Pemberdayaan Masyarakat dalam Kawasan Terluar, Terdepan, dan Tertinggal”.
  • Adapun Kongres Pancasila Ke Delapan yang akan berlangsung antara tanggal 31 Mei – 1 Juni 2016 mendatang di kampus UGM Yogjakarta, direncanakan mengusung tema yang sebetulnya tak jauh berbeda dari tema-tema yang diusung sebelumnya, yakni “Re-Aktualisasi Trisakti Untuk Mewujudkan Kesejahteraan Bangsa Indonesia Berdasar Nilai Budaya Pancasila”.

Penutup. Saya yakin semua orang perlu santun kepada sesama, terlebih kepada Negara-bangsanya, termasuk terhadap simbol-simbol ekspresif yang disepakati dalam bernegara itu. Tetapi sangat nyata ada janji yang diingkari, ada sumpah yang dilanggar, ada komitmen yang ditelantarkan, dan Negara-bangsa semakin terpuruk karena menjauhi ideologinya sendiri (Pancasila). Itulah pangkal kemarahan Sahat S Gurning.

Begitu pentingkah mempertajam kuku kekuasaan untuk pembalasan kepada orang-orang seperti Sahat S Gurning dan orang-orang lain yang kecewa sekali, dan yang jumlahnya dapat mencapai jutaan di Indonesia saat ini?

Bagaimana jika amarah kekuasaan diarahkan untuk memenuhi kewajibannya mempancasilakan dirinya sendiri, menata Indonesia berdasarkan ruh Pancasila dan mensejahterakan seluruh rakyat? Kita perbaikilah Negara ini. Ayo sama-sama, dan jangan ada yang cengeng. Jangan ada yang lebih berusaha menutupi kealpaannya dengan memblow up kesalahan orang yang berekspresi penuh kekesalan karena ingin negerinya berpancasila secara murni dan konsekuen.

11796403_923930647671147_2879196037495302170_n

Foto: Sahat S Gurning pada sebuah acara POSPERA, FB Arsib Ritonga

Shohibul Anshor Siregar adalah Koordinator Umum Pengembagan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS). Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, tanggal 18 April 2016, hlm B7.

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: