'nBASIS

Home » ARTIKEL » MASALAH ISLAM

MASALAH ISLAM

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


Saat mulai membaca karya Prof Dr Syahrin Harahap, MA, “Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna” (April 2016), saya langsung berfikir sesuatu yang saya anggap sangat mendasar, yakni kadar keterterimaan Islam sebagai jalan hidup bagi orang yang mengaku dirinya sebagai muslim atau di luarnya, beserta segenap konsekuensinya. Islam bukan saja menjadi jalan hidup bagi penganutnya saja, tetapi juga menyelamatkan seluruhnya, sebagaimana secara propagandis sering diwartakan dengan terminologi “rahmatan lil-alamin”. Saya juga sangat menyadari bahwa soal kesalah-fahaman terhadap Islam adalah cerita lama saja yang terus-menerus diperbaharui oleh bukan hanya orang, tetapi kekuatan media yang menopang pekerjaan-pekerjaan khusus dari pihak anti Islam (Kutub, 1964;  Mohammad, 1996). Hasil dan dampaknya berbeda berdasarkan sasarannya, muslim dan non muslim.

Saya sama sekali tidak pernah cemas akan lebih banyak orang murtad dari Islam (Helmidjas, 2013) karena menerima ajaran agama lain dengan pemahaman yang baik terhadap agama lama dan agama barunya itu secara komparatif, melainkan hanya cemas jika makin banyak yang terbawa nasib yang tak terperbaiki oleh sistem sehingga secara terpaksa murtad mengikuti kelicikan petugas-petugas agama lain (Miller, 2015).  Perang yang dirancang dan digencarkan seolah lebih manusiawi dan bermartabat ini saya yakin berlangsung terus sangat serius, dan kiranya tak dapat dilawan kecuali hanya dengan cara atau perang yang mereka inginkan sendiri.

Tak Sekadar Takdir. Merenungi QS at-Taubah: 32, sesekali saya jatuh pada pemahaman apologetik, bahwa Allah menjaga Islam sampai akhir zaman. Bukan dakwah yang serius, yang menyamai kecanggihan propaganda agama lain dan dengan segenap kolaborasinya, yang membuat trend populasi dunia dan kualitas kemusliman yang semakin baik. Saya yakin bahwa tak sedikit orang yang berfikiran seperti ini, sambil diam tak memiliki gagasan tentang penyelamatan warga muslim yang dijerat kemiskinan di hampir semua desa tertinggal di Indonesia misalnya, dan di semua kota besar yang beringas menindih dan meluluh-lantakkan orang muslim miskin demi satu kata “pembangunan”.

Saya curiga ini bukan hanya apologi semata. Boleh jadi sudah berubah menjadi penyakit khas orang-orang kalah dengan beban ganda yang bertambah setiap hari. Bayangkanlah, bagaimana gerangan orang yang akut menderita penyakit khas ini akan memikirkan kemiskinan sendiri (negeri sendiri) dan kemungkinan ide apa yang akan dia berikan seketika menyadari fakta betapa buruknya perlakuan Cina terhadap muslim Uyghur, jenis kejahatan di Filipina terhadap muslim Moro, corak kebrutalan Thailand terhadap muslim Pattani, model kesadisan para Biksu di bawah kendali Ashin Wirathu  yang berselera keras membunuh muslim Rohingya, Palestina yang tak tentu nasib, dan lain sebagainya.

Bagaimana orang dengan penyakit khas ini memikirkan kegesitan sikap Negara-negara besar yang mendikte Indonesia dalam kebijakan Global War on Terrorism yang demikian kejam itu (sedangkan ia jauh dari bersintuhan sistem nasional negaranya dan sistem internasional) dan menyuarakannya secara lantang dalam protes keras di lembaga dunia seperti PBB, padahal di depan hidungnya ada masalah yang tampak remeh-temeh tetapi sangat krusial seperti misalnya sebuah rencana pendirian masjid raya di Sarulla, Tapanuli Utara yang disandera begitu lama untuk tidak boleh berdiri, atau pengembalian masjid-masjid yang diruntuhkan secara kejam oleh para pengembang di kota-kota besar seperti Medan. Orang-orang dengan penyakit khas ini sangat bermasalah dalam peta kosmologi, untuk tidak mengatakannya tak memiliki peta kosmologi yang jelas. Sanggupkah ia memilah masalah untuk secara simultan memikirkan perlawanan atas brutalitas kapitalisme dan kekejakan neoliberalisme pengelolaan Negara yang semakin kejam sambil meneteskan airmatanya (berkorban) untuk perubahan sikap terhadap orang-orang miskin yang jangankan dibayangkan untuk mampu membayar iyuran BPJS, bahkan untuk ditampung oleh Negara dalam catatan penduduk saja tidak dapat dipastikan.  Orang-orang dengan penyakit khas ini akan sangat menderita memilih atau mengorganisasikan masalah dalam benaknya, untuk membuat segalanya itu berada tak lagi jelas-jelas di luar jangkauannya, baik oleh pembayangan maupun oleh penyikapan, apalagi tindakan efektif.  Mestinya dia harus percaya satu hal, bahwa tuhannya menurunkan Adam bukan untuk sendirian selamanya sebagai khalifah dengan keabadiannya pula, tetapi memerlukan penerusan misi dalam risalah, moral dan tata hidup keagamaan kesejagatan.

Menelaah daftar isi buku Prof Dr Syahrin, MA “Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna”, saya teringat data-data kesejagatan yang dikonstruk oleh kekuatan moral intelektual dunia dengan segenap maksud dan tujuannya. Ini sebuah contoh saja. Bahwa mengiringi terus gencarnya pemberitaan tentang kelompok militan ISIS dan pengungsi Suriah serta perselisihan-perselisihan sengit lainnya yang terus terjadi di Timur Tengah, suatu ketika, tahun lalu, saya teringat Pew Research Centre (PRC) yang mewartakan tajamnya keterbelahan pandangan muslim tentang hubungan yang seharusnya antara ajaran Islam dan hukum positif (2015). Ternyata di 10 negara dengan populasi muslim yang signifikan, terdapat perbedaan mencolok meyakini sejauh mana orang berpikir Al-Quran harus memengaruhi hukum.

Pendidikan Agama. Dari telaahan atas halaman-halaman buku  Prof Dr Syahrin, MA, saya ingin berkata kepadanya bahwa temuan survei PRC itu juga menjelaskan umumnya orang lebih berpendidikan (makin tinggi) cenderung berpendapat sekularistik:  hukum tidak harus mengikuti Al-Quran. Saya ingi beritahu sesuatu yang saya yakin diketahui juga oleh Prof Dr Syahrin, MA, bahwa sebagian mereka tidak percaya nilai compabilitas (kesesuaian) Al-Quran dengan tuntutan dan kompleksitas dunia modern. Agama adalah agama, sesuatu yang domainnya pada hubungan hamba- tuhan dan peribadatan, titik di situ. Sedangkan hukum, ekonomi, politik dan lainnya bukan urusan agama dan aneh jika mesti dikaitkan dengan Al-Quran. Di Nigeria misalnya, 48% sample berpendidikan menengah atau lebih mengatakan bahwa Al-Quran tidak harus memengaruhi hukum, dibandingkan 29% di antaranya yang hanya sempat mengenyam pendidikan menengah ke bawah.

PRC tidak mengeksplorasi memuaskan mengapa di banyak Negara berpenduduk muslim signifikan seperti itu menguat perbedaan pendapat tentang masalah ini. Di Pakistan, wilayah Palestina, Yordania, Malaysia dan Senegal, kira-kira setengah atau lebih dari populasi mengatakan bahwa hukum di negara mereka harus ketat mengikuti Al-Quran.  Tetapi tidak di Indonesia, Burkina Faso, Turki dan Lebanon. Ini tidak dapat dijelaskan sama sekali dengan hanya menyebutnya sebagai gejala yang mengiringi meningkatnya pendidikan.  Apalagi dengan hanya menyebut bukti bahwa di Nigeria 42% muslim berpikir hukum seharusnya tidak dipengaruhi oleh Al-Quran, sedangkan 27% lainnya menganggap sebaliknya. Jika PRC bersedia, dan ini baik untuk semua, seharusnya survei dilakukan menyeluruh dengan melepaskan batas teritorial (Negara dan kawasan). Mereka harus menyamakan semua orang untuk dimintai pendapat tentang masalah ini, termasuk muslim di Negara-negara maju (Amerika, Inggeris, Jerman, Perancis dan lain-lain).

Sebagai reaksi final setelah membaca halaman-halaman terakhir  bukunya “Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna” saya segera ingin mengajak Prof Dr Syahrin Harahap, MA untuk menegaskan sikap bersama, bahwa penjauhan diri dari agama dengan pemilahan yang sangat sekularistik yang terjadi di sini adalah masalah mendasar yang awalnya ada pada pendidikan kita. Ada tautan kuat yang sengaja diputus antara agama dan ilmu, dan sejarah harus kita perbaiki lagi dengan kritis. Kapitalisme berperan penting di sini, dan untuk Indonesia masalahnya sangat kompleks dengan kesenjangan sangat parah berkat peran istimewa dan sangat dominan minoritas suku-bangsa Cina. Mendapatkan gambaran baru untuk design masa depan tidak berhenti pada kosa demi kosa kata serta forum demi forum yang tak membumi ke relung kehidupan si Samin dan di Ulong. Mungkin Prof Dr Moshe Sharon (2013) harus didengarkan berulang-ulang, bahwa pilihan kosa kata dan diksi di dunia lain, semaju apa pun dan seberwibawa apa pun itu dipandang, tidaklah sesuatu yang serta-merta kita perlukan di dunia kita. Kita harus melawan. Karena mereka telah mengisi semua itu bukan hanya dengan persepsi, tetapi dengan nilai kaku khas subjektif mereka yang tak mungkin berdamai dengan kehidupan kita.

Saya ingin menawarkan satu hal, dan ini saya tegaskan sebagai sesuatu yang berada jauh di luar buku  “Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna” karya Prof Dr Syahrin, MA.  Seberapa seriuskah kita mengajarkan Al-Quran dan ilmu-ilmu turunannya serta ilmu-ilmu lain yang harus ditundukkan kepadanya kepada generasi kita. Pertanyaanya bisa juga masuk ke kebijakan, berapa jumlah kitab suci Al-Quran yang diproduksi dan sudahkah sesuai dengan jumlah keluarga dan orang-orang yang secara resmi dinyatakan sebagai muslim. MTQ itu sudah benar sebagai sesuatu instrumen penting untuk sebuah kesemarakan (syi’ar) dan seni qiraah (bacaan), tetapi sangat perlu diperbaiki untuk tak sekadar kompetisi di antara komunitas-komunitas yang gagal memahami Al-Quran sebagai jalan. Siapakah guru-guru yang mengasuh jama’ah, seberapa faham ia akan fungsi dan informasi Al-Quran.  Adakah mereka pemeran kaku sistem kependetaan dalam tradisi Roma yang tak perlu bersintuhan secara interaktif dengan umat mayoritas. Karena lebih menikmati keartisan dalam promosi agama sebagai komoditi yang ditopang oleh hegemoni media, sesuatu tentang guru-guru ini harus direformasi. Ketegangan hubungan antar kelas dalam khazanah pengajaran Islam sudah lama menjadi masalah. Orang di atas menikmati kelasnya dengan kehangatan perlakuan Negara, sedangkan orang di bawah menjalani misi dengan penuh keluhan. Sayangnya orang di atas dan orang di bawah saling merasa sangat yakin memaknai posisinya sebagai penuh ridho dari ilahi. Keduanya harus dibawa ke zona perdamaian.

Penutup. Meski tak membuat judul pembahasan khusus, buku “Jalan Islam Menuju Muslim Paripurna” karya Prof Dr Syahrin Harahap, MA mengandung semangat modernitas, dan saya kira memang itulah tawaran yang diarus-utamakan buku ini. Saya yakin hanya soal pilihan taktis agar tak dituduh anti peradaban universal dan incompabilitas dengan dunia modern. Ketika membahas konsep Islam rahmatan lil’alamin, misalnya, terasa perlu untuk keluar dari tafsir yang dikonstruk oleh kekuatan-kekuatan campuran (baik yang menginginkan Islam sebagai jalan hidup maupun yang menginginkan sebaliknya atau yang berada di antara keduanya). Islam itu tak benar diterjemahkan satu sisi dari yang dipentingkan dalam urgensi yang sesaat. Memberi tafsir tunggal tentang jihad, ini sebuah contoh paling populer, sebagai perang berdarah, sebagaimana diinginkan oleh kekuatan dunia yang kini bekerja keras menggerakkan Global War on Terrorism dengan agenda tersembunyinya, jelas harus ditolak. Begitu juga tentang ungkapan-ungkapan yang makin ditakuti oleh umat Islam sendiri seperti fundamentalisme, radikalisme dan lainnya.

Adalah benar Islam agama damai. Tetapi bagaimana menjelaskan sekian banyak perang yang langsung dipimpin oleh rasulullah Muhammad SAW (Al-Baqarah Ayat 190 dan Al-Anfaal Ayat 61)? Itu bukan ekspresi dan implementasi konsep rahmatan lil alamin? House of Salam, kata Prof Moshe Sharon (2003), adalah konsep abadi yang tidak tunduk kepada konsep apa pun meski akan dianggap illegal oleh sistem yang ada. Damai? Ya Islam siap dan sangat siap menjadi prakarsawan untuk itu. Perang? Agama ini bukan agama perang, tetapi tak mungkin tak berperang dengan segenap tantangan dan ancaman yang dihadapinya.  Karena itulah, mungkin cukup sulit untuk disepakati di antara pemikir Islam, seruan yang diikuti dengan sikap yang benar untuk memaksa kekuatan dunia agar ketidak-dilan dan kemiskinan tidak diabadikan. Hentikan Global War on Terrorism itu, karena anak-anak yang sedang belajar mengeja namanya sendiri pun kini sudah tahu agendanya yang membahayakan eksistensi kemanusiaan global. Mencari faktor-faktor posisi tawar yang tepat menjadi sangat penting dalam diplomasi penuh tantangan ini. Ketika orang Islam takut menjadi dirinya sendiri, itulah sebuah masalah Islam terbesar.  Masalah itu lebih besar dari permusuhan dari luar Islam.

Saya merasakan buku Prof Dr.Syahrin Harahap, MA berusaha memberi perhatian yang mencerahan di sekitar itu. Ke depan, saya ingin menyarankan kepada kolega saya ini agar membuat peta kajian baru berdasarkan hipotesis-hipotesis  yang dibangun berdasarkan data dan permasalahan yang memang benar-benar memerlukan jawaban demi masalahat Islam.

Shohibul Anshor Siregar. Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Insiatif & Swadaya (‘nBASIS). Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, Senin, 2 Mei 2016, hlm B7


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: