'nBASIS

Home » ARTIKEL » COBAAN: KEPERGIAN NUR’AIN LUBIS

COBAAN: KEPERGIAN NUR’AIN LUBIS

AKSES

  • 557,706 KALI

ARSIP


buku
Saya menggunakan kata itu (Cobaan), karena cucu saya yang tinggal di Padangsidimpuan menta’ziahi saya lewat sosmed dengan kata pembuka itu. Memang kami sedang berduka. Keluarga besar Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, sedang berduka.

Berulang wartawan berusaha meminta pendapat saya tentang keadjian itu. Akhirnya saya hanya jawab demikian:
“Kami mendapat cobaan besar. Kami sedang berduka. Nur’ain Lubis adalah kolega yang baik, berpretasi dan penuh pengabdian. Semoga segala khilaf beliau diampuni oleh Allah Swt dan amalnya menghantarkan ke surga”
Ketika ditanya pendapat sebaiknya hukum apa yang tepat untuk mahasiswa itu, saya menjawab:
“Kami mendapat cobaan. Kami sedang berduka. Salah seorang dari ibu di rumah besar kami meninggal dunia karena kekerasan. Pelakunya adalah anak kami sendiri, yang sudah kami didik selama 6 (enam) semester. Dari sudut mana pun kalian melihatnya, jawaban saya hanyalah sesuatu yang jujujur berdasarkan perasaan saya saat ini bahwa kami sedang mendapat cobaan, kami sedang berduka. Pihak Kepolisian sedang menjalankan tugasnya, saya yakin mereka akan sangat profesional. Silakan hukum berbicara seadil-adilnya”.
*****
Minggu malam, di sekitar jalan Karyawisata, Medan, saya mendapatkan seorang partner diskusi yang luar biasa produktif. Ia seorang penulis, salah satu judul bukunya “Kaffahisme”. Dia orang yang secara ideologis sangat kuat dan orang yang secara empiris sudah malang-melintang di dunia pergerakan. Namanya Zulfikar MS. Tema perbincangan yang diselingi sholat Isya bersamanya itu ialah pendidikan masyarakat. Surya Dharma Dalimunthe yang memperkenalkan saya dengan Zulfikar MS. Kami bertiga berbicara tentang pendidikan masyarakat berbasis kemasjidan. Kami berbicara gerakan ekonomi, berbasis pendidikan masyarakat bertumpukan jama’ah.
*****
Senin pagi, tadi, saya memulai kegiatan dengan membaca artikel saya yang diterbitkan oleh sebuah harian lokal, lalu kemudian memindahkannya ke blog pribadi saya. Setelah itu saya bergegas menuju MAN 2 Medan, untuk menjadi moderator Seminar Internasional terkait pendidikan. Ada tiga buku yang dibahas di sini, yakni karya:
  • Prof.Dr.H.Syahrin Harahap, MA,
  • Prof Dr.H.Muhammad Fauzan Noordin (Kuala Lumpur) dan
  • Dr H Burhanuddin Harahap.
Seminar ini membentang pembicaraan yang amat serius tentang pendidikan. Saya memulai dengan berusaha merebut perhatian audiens atas tiga hal: pemerataan pendidiian, kualitas pendidikan dan akses. Saya tak lupa menyebut senior saya Ibrahim Sakty Batubara yang duduk pada kursi audiens terdepan, tentang usaha-usaha mereka memperjuangkan anggaran 20 % dari APBN dan APBD untuk pendidikan. Itu dicantumkan dalam konstitusi. Begitu penting pendidikan itu.
******
Usai sholat zuhur di Man 2 Medan saya bergegas menuju kampus UMSU, Jalan Kapten Muhktar Basri. Hujan cukup lebat. Setelah memarkir kenderaan di space pada bagian halaman depan kampus, saya berinjit-injit sambil memilih jalan yang tak tergenang, menuju auditorium. Ini diskusi serius lagi tentang pendidikan. Di sana sudah berkumpul para aktivis mahasiswa UMSU dengan seragam kebesaran masing-masing, yang sudah siap berdiskusi. Mereka menempati meja-meja bundar persis seperti forum asuhan Karni Ilyas. Saya meminta perubahan pola dari yang tadinya berupa mendengarkan aspirasi aktivis lalu kemudian memberi tawaran solusi dari permasalahan yang dikemukakan, menjadi paparan awal (saya) selama kurang lebih 15 menit, lalu kemudian ada dialog. Hal ini saya tawarkan karena sudah menduga bahwa dialognya kelak pastilah akan lebih bersifat teknis dan menyangkut hal-hal yang sama sekali tidak akan saya kuasai (misalnya tentang proses pengajuan rencana kegiatan, fasilitas, ketentuan perizinan dan lain sebagainya). Itulah bagian yang saya kira akan tepat diarahkan kepada para pejabat Universitas (Kepala Biro dan para Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan).
*******
Dalam paparan saya, saya tawarkan kepada mereka (para aktivis) pemikiran-pemikiran besar yang saya sarikan dari catatan tentang para pendiri bangsa, serta problematika besar Indonesia kontemporer yang mestinya membuat mereka (para aktivis) tertantang sebagai negarawan, sembari mereduksi hal-hal kecil yang kerap memicu kekurang-harmonisan sesama. Identitas, pendayagunaan aparatur negara, legitimasi, sumberdaya alam dan distribusi. Keempat domain itu saya bahas dengan contoh-contoh yang saya anggap akan sangat mudah mereka fahami. Saya berusaha sangat kocak dan agak mendominasi. Saya ingin membuyarkan image kekakuan serasa anti dialog yang mungkin sedikit banyaknya terukir selama ini. Lancar. Saya mendapatkan reaksi-reaksi dialogis (tawa dan dukungan) di sela penyampaian paparan saya dengan menggunakan slide. Setelah menutup paparan, saya langsung mengajukan permohonan pamit kepada semua peserta. Tetapi moderator meminta bertahan sejenak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan.
*******
Waktu saya terbatas. Beberapa pertanyaan terpaksa saya tinggal dengan mohon maaf setelah menjawab hanya dua di antaranya, berhubung saya masih ada agenda kegiatan di ruangan yang berbeda di kampus. Saya mengakhiri dengan pesan untuk Teropong (penerbitan mahasiswa kampus UMSU), agar mereka membuat sebuah reportase yang baik tentang DAS Sungai Deli dan Perumahan Nelayan. Tancapkan pendidikan dalam reportasemu, mungkin tak pala melebihi jurnalis yang membongkar water gate dan panama papers. Tetapi kalau bisa, silakan saingi kualitas reportase-reportase legendaris itu. Saya merujuk beberapa nama kolega saya yang ahli untuk investigative reporting yang saya jamin akan bersedia membimbing mereka. Saya ingatkan, kertas koranmu itu berasal dari kayu yang ditebang. Karena itu jangan sia-siakan pengorbanan bangsa dengan cetakan yang tak bermutu di atas kertas yang ditebang dan secara otomatis mengurangi keseimbangan alam itu (penebangan kayu di hutan).
*****
Seorang kolega dosen, Razoki Nainggolan, berusaha membincangkan sesuatu kepada saya saat berpapasan, setelah saya keluar dari Auditorium. Katanya “ini pembunuhan”. Mulanya saya tak hirau dan hanya mengatakan iya. Iya, pembunuhan itu tak dapat ditoleransi. Beliau pun merasa jawaban saya tak perlu diprotes dan ia pun terus berlalu. Tetapi dari pintu sebuah ruangan seorang kolega dosen lainnya meminta saya masuk. “Sadis. Sadis”, katanya. Di situlah saya tahu persis apa yang dimaksud oleh Razoki Nainggolan. Pendidikan kita ternoda (lagi). RSS menganiaya Nur’ain Lubis, dan meninggal. Saya tak akan mengatakan bahwa RSS membunuh Nur’ain Lubis, karena belum tentu ia bermaksud membunuh meski jelas dengan penganiayaan yang dilakukannya telah menyebabkan Nur’ain Lubis meninggal. Kita akan menunggu keputusan pengadilan.
*****
Saya berfikir untuk pergi menuju ke kerumunan di halaman kampus Gedung FKIP sebelum pergi ke Medan Baru menemui seseorang yang belum lama ber-sms. Dari sebanyak orang yang saya tanya, tak seorang pun tahu kejadian sesungguhnya. Beberapa mahasiswa memutar video yang dibuatnya dan saya minta space di antara para mahasiswa yang berkerumun itu untuk ikut menonton. Tetapi saya hanya lihat video kerumunan dengan teriakan dan desak-desakan massa saja. Pemilik video menunjuk layar “ini dia orangnya”, tetapi saya tidak dapat melihat wajahnya (RSS) yang memang tampil sangat sekilas di layar.
******
Saya mendekat ke gedung yang disebut-sebut tempat kejadian perkara. Saya lihat seseorang petugas dari bagian kerumah-tanggan, Syarif namanya. Saya panggil dan saya tanya:”Di mana kejadiannya?” Ia pun membawa saya ke tempat kejadian.
*******
“Di sini pak. Di sini. Semula saya mendengar jeritan ketika saya berada di luar. Saya berlari ke arah kamar mandi Gedung Fak Ekonomi. Di sana tidak ada kejadian apa-apa. Saya teruskan berlari ke sini. Langsung saya dorong pintu ini”, katanya, sambil menunjuk ke arah sebuah pintu kamar mandi yang nyaris tak berjarak dengan tubuhnya. “Agak kesulitan sedikit ketika saya mendorong untuk membuka pintu ini karena tangga ini (dia menunjuk sebuah tangga yang terletak kurang dari satu meter dari pintu kamar mandi) digunakan untuk mengganjal”.”Tangga apa ini? Kok di dalam kamar mandi?” Tanya saya. Kata seorang petugas cleaning service, tangga kecil itu memang disimpan di dalam kamar mandi ini. Setelah mendorong pintu dan terbuka, jelas Syarif, seseorang berlari dari dalam sambil berbenah seperti menyembunyikan sesuatu di bagian perutnya. Orang itu basah kuyup. Saya bentak, kata Syarif “Ngapain kau di sini?” Orang itu menjawab “keran air bocor pak”, sambil berlari ke luar. Saya berteriak “tangkap” setelah melihat ibu Nur’ain Lubis tergeletak. Saya kejar. Teriakan saya disambut oleh orang di luar “tangkap pemerkosa”. Itu penjelasan Syarif. Akhirnya saya menyadari bahwa sejumlah jurnalis sudah ada di belakang saya, dan tanya jawab saya dengan Syrif sangat baik untuk pemberitaan mereka. Tiba-tiba hp Syarif berbunyi. Saya rangkul ia menjauh dari depan kamar mandi menuju taman di belakang gedung FKIP. Pergilah memenuhi panggilan telefon itu. Kamu dibutuhkan. “Emang siapa tadi yang memanggil?”, tanya saya. Saya dekatkan kuping saya ke wajahnya untuk mengetahui siapa yang memanggil tanpa harus di dengar para jurnalis yang mengerubungi. Pergilah. Pergilah. Terimakasih, ya Syarif”, ucap saya. Sejumlah jurnalis yang masih berada di lokasi berbalik menanyai saya. Saya jawab ringkas “saya kuli tinta, narasumber kita telah pergi”. Saya hanya berusaha menghindari proses perubahan posisi menjadi narasumber pemberitaan.
*****
Saya kira petugas cleaning service yang akhirnya membantu mengeluarkan dari kamar mandi, atau meneriakkan kejadian hingga orang lain datang dan membantu, sedangkan saya mengejar ke gedung sebelah, dan seorang ibu yang menunggu di luar kamar mandi di gedung sebelah itu berkata, “di sini orangnya”. Kalimat itu saya catat dalam hati, dari Syarif.
*******
Saya menuju halaman depan kampus, tepatnya di halaman masjid. Pak Tukimin datang menemui saya. Pak Nizar Idris yang sudah bertahun-tahun tak bertemu padahal bekerja di kampus yang sama juga melangkah cepat mengulurkan tangan sambil berucap kerinduan karena tak bertemu sekian lama. Rafdinal dengan wajah memerah melukiskan raut ketidak-puasan dan sedikit emosional menjauh dari kerumunan mahasiswa dekat pagar kampus dan sambil berlalu ia mendekat ke saya. Saya tanya apa yang harus kita lakukan? Ia menjawab dengan terburu-buru “Pak, pimpinan harus bernegosiasi dengan pihak Kepolisian yang bertahan di luar kampus. Apa maksud mereka tetap bertahan di depan kampus? Keberadaan mereka di sana rawan untuk dianggap sebagai sesuatu yang mudah memancing emosi mahasiswa”. Saya sangat setuju pendapatnya dan saya persilakan dia pergi sambil menunjuk ke arah gedung (isyarat itu saya berikan: pergilah beritahu pimpinan sesuatu yang segera wajib dilakukan). Gas air mata sudah dilepas, dan teriakan dari kedua belah pihak (petugas Kepolisian dan mahasiswa) sudah memanas. Rudianto muncul dari kerumunan mahasiswa itu, dan saya lihat ia terbutu-buru ingin masuk ke dalam gedung rektorat dan saya tidak mengganggap perlu menahannya karena yakin ia sedang mengerjakan sesuatu yang sangat segera untuk menanggapi keadaan. Beberapa karyawan berseragam universitas melakukan upaya mengarahkan mahasiswa menjauh dari pagar dan meminta pulang dari pintu keluar bagian belakang kampus.
******
Saya tidak melihat ada peluang untuk keluar kampus saat itu dengan mobil, karena pintu belakang hanya dipersiapkan untuk keluar masuk kenderaan roda dua. Kemudian saya minta pengertian Pak Tukimin agar berkenan saya tinggalkan. Roni dan Nirwan mencari saya di kerumunan itu. Mereka menyaksikan mobil saya sudah dinaiki sampai ke atap oleh beberapa orang mahasiswa untuk bisa melihat ke luar kampus, ke arah para petugas Kepolisian masih bertahan, dan mereka (Roni dan Nirwan) tentu tidak bisa berbuat apa-apa di tengah massa yang memanas itu.
******
Saya kembali ke ruangan saya. Tak lama kemudian, Mujahiddin datang ke ruangan saya menyerahkan buku barunya yang diterbitkan bulan lalu. Mujahiddin adalah dosen muda, kandidat doktor yang baru beberapa bulan lalu menikah. Kami diskusi sejenak tentang isi buku itu. Tak lama kemudian sejumlah orang lainnya datang. Ada yang bertanya dan ada pula yang memberi penjelasan. Ada pula yang saya lihat sedang ingin memeroleh informasi dengan berpura-pura menjelaskan sesuatu. Saya harus menunjukkan sikap kepadanya bahwa saya benar-benar menganggapnya seorang narasumber yang perlu saya dengar. Tak lama kemudian seorang aktivis mahasiswa, yang tadi termasuk salah seorang yang ikut dalam forum diskusi di auditorium, datang. Ia menyerahkan sebuah buku kepada saya. Sebuah buku yang saya beri pengantar. Bagus buku itu, karena memang ditulis oleh mahasiswa-mahasiswa berbakat. Buku itu hanya kumpulan tulisan. Saya sudah memeriksanya sebelumnya, sebelum naik cetak, meski tak memeriksa disain sampul. Saya puas atas hasil karya mereka. Saya anjurkan segera dilanunching saja. Minta koordinasi dengan pimpinan Fakultas atau Pimpinan Universitas agar mendapat fasilitasi tempat, sound system dan lain sebagainya. Sesulit apa pun keadaan, gairah menampung pikiran dan aspirasi pendidikan tak boleh surut.
******
Saya ingat Dhabit Barkah Siregar, putera ketiga saya, yang sedang berlatih menjadi jurnalis dengan perhatian yang lebih fokus pada video dan fotografi. Dalam hati saya berfikir ia pasti banyak mendapat info dan juga foto serta video tentang kejadian ini. Saya telefon 7 kali. Ia tak menjawab. Belakang saya tahu ia berada di kancah “perselisihan” itu saat saya telefon. Ia tak mungkin menyahut meski mengetahui panggilan saya. Itu saya ketahui setelah ia kemudian datang dan membuka laptopnya untuk melihat hasil kerjanya. Dia menyebut beberapa nama mahasiswa yang dibawa oleh petugas sambil menunjukkan video. Ia menceritakan terpaksa merangkul dan memegangi tangan seorang petugas karena khawatir akan melemparkan sesuatu ke arah kerumunan mahasiswa. “Jangan, komandan Jangan, komandan” nanti makin kacau, dia bilang. Saya tanya, “apa reaksi petugas itu?”. Ia menjawab dengan tertawa lebar: “mukaku dilihatinya”.
****
Andang, seorang jurnalis yang kerap datang ke ruangan saya, saya minta menelefon Napitupulu (Napitupulu adalah warga istimewa civitas academika kami, seorang penganut protestan yang sangat kerap diskusi bersama saya di kantor saya. Ia distributor koran dan majalah di kampus yang sudah lama bekerja di kampus) yang tak saya lihat di kampus dengan pesan bahwa jika ia tidak begitu jauh dari kampus, tolong belikan 9 Lontong Sayur dan membawa ke ruangan saya. Roni yang minta segera akan pulang saya minta pesankan kepada Pon (petugas ruangan) agar AC dan Wifi tidak dimatikan. Kita akan lama tertahan dalam kampus dengan suasana seperti ini.
******
Pak Ibrahim Sakty Batubara, seorang anggota PWM Sumatera Utara, menelefon. Saya beri penjelasan sebatas yang saya tahu. Saya yakinkan bahwa pak Ibrahim Sakty Batubara pastilah kenal Nur’ain, karena seingat saya kami pernah berbincang. Magrib pun tiba. Saya pergi berwudhu. Di kamar mandi saya renungi kejadian yang menimpa Nur’ain Lubis sambil berdoa dalam hati. Usai berwudhu, saya menuju ruang dosen. Saya menemukan beberapa orang sudah berdiri hendak sholat maghrib. Saya dipersilakan menjadi imam. Usai sholat saya berdoa lagi, dan segera menyalami jamaah untuk isyarat bahwa saya pamit ke ruangan saya.
******
Napitupulu sudah hadir membawa bungkusan lontong sayur. Ia mencarikan piring dan sendok. Untuk saya disediakannya air hangat segelas penuh yang membuat saya begitu memuji kecekatannya. Syukurnya tak ada lagi tamu yang datang, hingga jatah yang dibawa Napitupulu tidak kurang. Ia setuju pendapat bahwa pangkal kesulitan proses evakuasi disebabkan adanya kelompok yang sangat geram dan ingin melakukan eksekusi terhadap RSS. sedangkan pada kerumunan yang sama ada pula kelompok yang menginginkan jalan hukum. Anehnya, masih ada kelompok ketiga yang kurang lebih setuju melindungi RSS untuk diproses hukum tetapi aparat keamanan jangan masuk kampus, mereka bermaksud menyerah-terimakan RSS di pintu gerbang kampus. Tentulah tak satu dari ketiga kelompok yang bisa terterima dari rencana evakuasi pihak keamanan.
******
Usai makan lontong sayur saya ulurkan Rp 100.000 kepada Napitupulu. Mulanya ia menolak. Saya masih meneruskan pekerjaan yang tertinggal. Nirwan pamit mau pulang. Saya jawab, sudah, kita pulang saja dulu. Agaknya massa sudah reda, kenderaan sudah bisa keluar kampus. Nirwan menumpang ke mobil saya menuju mobilnya yang diparkir di kejauhan.
*****
Di jalan saya menelfon Arifin Saleh Siregar, dosen FISIP UMSU yang berasal dari Kampung Marancar, Padangsidimpuan. Ternyata ia tak mengenal RSS. Di jalan saya menelefon lagi. Rijam Kamal Siahaan, mahasiswa FISIP UMSU, untuk meminta informasi perkembangan kasus. Posisinya sedang berada di Polres, dan ia memang berpos di situ. Saya tanya tentang mahasiswa yang ditahan. Ia menerangkan keyakinannya bahwa mahasiswa yang ditahan itu tidak akan ditahan berlama-lama. Itu sudah benar, akan ada  kericuhan baru jika mahasiswa yang dibawa ke kantor polisi (selain RSS) ditahan berkepanjangan hanya karena kericuhan dalam proses evakuasi. Saya teringat Muhammad Thoriq, seorang jurnalis senior yang bekerja pada harian Waspada. Saya hubungi, tak aktif hpnya. Saya ingin menanyakan lead pemberitaan mereka besok. Sewaktu di kampus, seseorang memberi tahu bahwa Muhammad Thoriq ada di kerumunan di depan Gedung FKIP. Saya juga berfikir untuk menelefon para jurnalis yang namanya tercatat dalam memori hp saya, untuk maksud yang sama. Tetapi saya urungkan. Saya memilih menulis artikel ini. Terus terang, saya khawatir media menyodorkan judul-judul pemberitaan yang  kurang ramah. Bagaimana pemberitaan kurang ramah? Ini memang bisa dianggap subjektif.
*******
Masih ada saja yang meminta keterangan (dari media). Saya hanya menjawab:
“Kami mendapat cobaan besar. Kami sedang berduka. Nur’ain Lubis adalah kolega yang baik, berpretasi dan penuh pengabdian. Semoga segala khilaf beliau diampuni oleh Allah Swt dan amalnya menghantarkan ke surga”.
Shohibul Anshor Siregar, dosen FISIP UMSU
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: