'nBASIS

Home » ARTIKEL » KEDAI MENAH SUDAH TUTUP

KEDAI MENAH SUDAH TUTUP

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


warung-tradisional

Betul bahwa pasar modern dan ritel modern itu memiliki kemampuan penyerapan tenaga kerja untuk tingkat tertentu. Tetapi tampaknya itu terlalu mahal untuk tutupnya kedai Menah dan kedai-kadai lain yang sekelas dengannya. Diperlukan sebuah konsepsi kuat untuk perlindungan

Belasan tahun lalu Menah bersama suaminya membuka kedai di perempatan jalan. Tempat itu strategis. Selain berada di titik yang dapat diakses dengan mudah dari seluruh penjuru pemukiman, kedai Menah juga berada di salah satu lintasan utama yang menghubungkan lingkungan itu dengan wilayah-wilayah pemukiman lain yang berdekatan.

Waktu itu Menah berstatus sebagai pengantin baru. Suaminya yang pendiam adalah orang tekun. Kesantunan dan kehalusan bahasanya cukup menonjol. Pembagian tugas mereka sangat jelas. Menah lebih banyak menanggungjawabi etalase dan transaski dengan konsumen, sedangkan suaminya menanggung-jawabi pengadaan bahan-bahan dagangan (membeli ke grosir) yang akan dijual di kedai mereka. Setiap pagi suaminya  sudah pergi, dan kembali dengan barang dagangan setelah matahari terbit.

Kedai Menah tak begitu jauh dari masjid. Suami isteri pemilik kedai yang memiliki tiga orang putera dan puteri ini menjadi anggota jama’ah tetap di sana. Perwiridan yang dikelola atas nama masjid itu juga mereka ikuti. Menah ikut wirid kaum ibu pada hari Jum’at sore, sedangkan suaminya aktif mengikuti wirid kaum bapa setiap hari Kamis malam Jum’at.

Meskipun rumah yang dijadikan sebagai kedai oleh Menah itu adalah rumah sewaan, perkembangannya cukup maju. Di depan kedai mereka belakangan berdiri warung makanan milik tetangga yang tinggal di belakang kedai mereka. Kedai makanan ini memanfaatkan arus pengunjung  ke kedai Menah, dan kelihatannya juga berkembang sehat. Menah bersama suaminya pun mampu membeli rumah persis di sebelah kiri kedai mereka. Di kampung asal mereka, Menah dan suaminya juga mampu membeli sebidang tanah.Selain itu konon, menurut tetangga, masih ada lagi sebidang tanah lainnya yang berhasil mereka beli di tempat lain. Semua itu hasil dari kedai yang mereka awali sewaktu masih pengantin baru belasan tahun lalu.

Menah Sudah Kalah. Tetapi sudah kurang lebih dua bulan kedai Menah tutup. Tidak ada lagi kegiatan. Rumahnya tutup terus. Hanya ada kedai makanan di depan rumahnya yang tetap buka. Menah, suaminya dan ketiga putera-puterinya sudah pergi. Banyak orang bertanya-tanya karena kehilangan. Tetapi banyak orang tak mendapat penjelasan yang cukup.

Mengapa kedai Menah tutup? Beberapa tetangga berkata, kedai Menah kalah bersaing. Awalnya banyak catatan hutang dari pelanggan, tak semua dapat ditagih. Modal yang tertanam di tangan pelanggan dicoba ditanggulangi dengan uang panas yang ditawarkan oleh rentenir. Bunganya tentu tak normal dan mencekik. Tetapi, sebagaimana kelaziman bagi kalangan tertentu di masyarakat kita, Menah dengan sangat terpaksa memilih opsi itu. Cash-flow kedai akhirnya semakin bermasalah. Stok barang dagangan semakin hari semakin berkurang. Kedai-kedai saingan di beberapa lokasi berdekatan, dengan cepat bisa membuat kedai Menah tak menjadi pilihan berbelanja. Kedai ditutup. Tumpur.  Menah beserta keluarganya telah pergi.

Walau tak pernah terdengar oleh sesiapa, Menah dan suaminya pastilah tahu dan berpendapat bahwa kehadiran secara menjamur ritel modern dengan bangununan atmosfer yang memanjakan konsumen telah menerjang dan menyingkirkan mereka dari arena. Kedai Menah tidak disingkirkan oleh kedai-kedai sekitar milik para tetangga lainnya. Di antara sesama kedai itu sudah ada pola sharing sejak awal atas seluruh pembelanjaan masyarakat lingkungan.

Menah hanya tak memiliki kekuasaan, sehingga lebih baik menganggap bahwa hal itu bukan urusannya, atau jauh dari jangkauan intervensinya. Tetapi ia bukan tidak tahu bahwa kepemihakan tidak untuknya. Ia tahu pemerintanya telah memaksanya bersaing dengan para pemodal kuat yang mempersempit peluang hidup bagi kedainya dan kedai-kedai lain di sekitar pemukimannya. Kedai-kedai yang masih bertahan berpeluang mengerdil seiring perjalanan waktu, dan boleh jadi secara sistematis akan mengalami nasib yang sama jika tidak ada perubahan strategi bertahan.

Tak Ada Lagi Peluang. Penelitian Hans Erawan (2012) menunjukkan tragedi kedai Menah sudah terjadi sebelumnya. Menurutnya pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia khususnya kota Medan semakin pesat. Pada kondisi pasar dengan tingkat persaingan yang sangat ketat ini, keberadaan konsumen yang loyal sangat dibutuhkan agar ritel dapat bertahan hidup. Kepuasan konsumen adalah titik kritis yang senantiasa dihubungkan dengan loyalitas konsumen. Kepuasan konsumen sangat bergantung pada persepsi dan harapan konsumen. Suasana toko atau store atmosphere memengaruhi keadaan emosional konsumen, yang kemudian mendorong untuk meningkatkan atau mengurangi belanja.

Pada tahun 2011 Hans Erawan mencatat bahwa satu di antara perusahaan ritel minimarket besar di Kota Medan sudah lebih dari 50 gerai. Di Medan, sebagaimana di kota-kota besar lainnya, persaingan berlansung dalam dua level. Level pertama adalah sesama perusahaan besar. Level kedua ialah dengan kedai-kedai sekelas kedai Menah. Tidak ada peluang bertahan bagi kedai Menah dan sejenis.

Di Medan, sejak tahun 2011 Pemerintah Kota Medan telah menerbitkan Peraturan Walikota (Perwal) Nomor 20/2011 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Ketentuan ini memiliki kepemihakan yang sangat tak memuaskan bagi kepentngan kedai Menah dan sejenisnya. Ada fakta lain bahwa serbuan minimarket itu dibarengi dengan praktik tak mengindahkan hukum, khususnya soal perizinan.

Mengapa tetap saja beroperasi? Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi C DPRD Medan beberapa bulan lalin mengungkapkan bahwa setidaknya ada 90 gerai yang bermasalah dengan perizinannya. Dikhabarkan, Komisi C DPRD Kota Medan menilai Pemerintah sangat mendesak melahirkan kebijakan untuk menyelamatkan pedagang kecil dengan melakukan pembatasan jumlah retail. Fakta yang mirip juga ditemukan di kota lain, Pekan Baru misalnya. Di Kota ini, hingga 2015, dari 400-an lebih ritel mini market, hanya 203 yang sudah memiliki izin perdagangan pada saat peraturan daerah (Perda) dibuat.

Melita Iffah d.k.k (2011), Wyati Saddewisasi d.k.k (2011), Euis Soliha (2008) dan Noor Kholis d.k.k (2011) dalam Ema Yohana Sihombing dan Paidi Hidayat (2013) menuturkan eksistensi yang saling mengancam dalam persaingan di antara ritel modern dan tradisional dan sesama  ritel modern. Faktor utama adalah modernitas berbasis modal. Dari penuturan ini diperoleh kesimpulan persaingan yang sangat sempurna dalam arena ini yang bermakna keterancaman ritel tradisional.

Analisis yang dikemukakan Ema Yohana Sihombing dan Paidi Hidayat menunjukkan signifikansi dampak kehadiran ritel modern (mereka meneliti hanya salah satu di antara ritel modern yang ada) terhadap omset ritel tradisional. Inisiatif pengambilan strategi harga pada ritel tradisional juga terpengaruh, serta inisiatif pengambilan strategi kerapian toko pada ritel tradisional.  Mayoritas ritel tradisional di kota Medan yang masih mampu bertahan menjalankan usahanya adalah ritel dengan jarak lebih dari sepuluh bangunan dari ritel modern yang dijadikan sample yaitu 45,5% dari responden.  Sebagian besar ritel tradisional itu memiliki jam operasional tiga belas sampai tujuh belas jam, yaitu 60,6% dari sampel. Namun sebanyak 24,2% ritel tradisiomal sudah memiliki jam operasional delapan belas jam sampai 24 jam. Sebesar 71.2% ritel tradisional yang menjadi sampel penelitian memiliki tingkat kemiripan produk 80% sampai 90% terhadap produk ritel modern yang dijadikan sample.  Sangat masuk akal untuk mendorong ritel tradisional dalam persaingan yang sangat tak berimbang ini.

Penutup. Dalam rencama pembangunan jangka menengah Indonesia pemerintah telah menetapkan sasaran untuk menurunkan tingkat koefisiensi gini dari 41 menjadi 36 pada tahun 2019. Hal yang dianggap sangat tepat dilakukan ialah melakukan intervensi untuk mengurangi kesenjangan, terutama dalam 4 hal utama. Pertama, ketimpangan peluang. Nasib anak dari keluarga miskin terpengaruh dalam budaya yang menyebabkannya sulit keluar dari kemiskinan itu. Kedua, ketimpangan pasar kerja. Pekerja dengan keterampilan tinggi menerima penghasilan lebih besar. Faktanya Indonesia memiliki tenaga kerja yang mayoritas tak terdidik.

Ketiga, Konsentrasi kekayaan. Kaum elit di Indonesia memiliki asset dan keuangan yang perbedaaanya dengan kepemilikan mayoritas amat mencolok. Properti saham dan lain-lain ikut mendorong ketimpangan saat ini dan tentu saja pada masa depan juga. Keempat, ketimpangan dalam menghadapi goncangan. Saat terjadi goncangan, masyarakat miskin dan rentan akan lebih terpuruk karena dampak, menurunkan kemampuan mereka secara drastis untuk memerolah pemasukan dan melakukan investasi kesehatan dan pendidikan.

Betul bahwa pasar modern dan ritel modern itu memiliki kemampuan penyerapan tenaga kerja untuk tingkat tertentu. Tetapi tampaknya itu terlalu mahal untuk tutupnya kedai Menah dan kedai-kedai lain yang sekelas dengannya. Diperlukan sebuah konsepsi kuat untuk perlindungan.

 

Shohibul Anshor Siregar.Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS). Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, Senin, 17 Mei 2016, hlm B7


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: