'nBASIS

Home » ARTIKEL » MAIN HAKIM SENDIRI

MAIN HAKIM SENDIRI

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


main-hakim-sendiri

Seorang jurnalis memberitahu saya bahwa sepekan terakhir ini di Medan setidaknya ada dua penjahat teraniaya dimassa (diramai-ramaikan). Ia menginginkan saya memberi komentar atas fenomena itu

Menurut saya, hukum itu sebetulnya ada di setiap sanubari orang, masyarakat dan institusi-institusinya sekaligus. Perbedaan kadar pemahaman dan kepatuhan dari satu ke lain orang apalagi penyimpangannya (perdata dan atau pidana) menjadi urusan negara. Negara yang benar tentulah tidak diukur dari seberapa besar orang deviatif yang berhasil mereka hukum, melainkan seberapa patuh orang kepada hukum yang berlaku sehingga lembaga pemasyarakatan sangat sepi kalau bukan kosong.

Bagi dua orang yang menjadi korban massa dalam kejadian sepek di Medan itu hukum terpenting bukan lagi tertib sosial (social order), melainkan hukum lain, yakni pemenuhan kebutuhannya yang mendesak dan yang tak tersedia jalan normal untuk pemuasannya. Mengapa orang berbuat jahat? Tentulah karena ada dorongan untuk itu. Juga karena tersedia kesempatan. Tetapi yang lebih penting diselidik ialah bagaimana cara pandang terhadap kejahatan tertentu pada saat tertentu.

Penjahat yang divonis pengadilan karena mencuri dua butir kakao itu tetaplah kejahatan. Tetapi penjahat yang membakar ribuah ha lahan hingga menyebabkan tebaran asap yang menyebabkan bencana besar, dalam pandangan hukum tidaklah kejahatan karena faktanya untuk mengumumkan nama-nama yang bertanggungjawab pemerintah pun merasa sangat ketakutan. Itulah sebuah contoh hukum dan penerapannya berdasarkan pilih bulu nasional.

Dua tersangka itu bukanlah pembobol bank milyaran atau penilap APBN atau APBD milyaran rupiah. Pelaku itu tak pernah mau menjadi penjahat, tetapi ia terpaksa dengan resiko menjadi mayat di tangan massa yang marah.

Antara si tersangka dan massa pelaku penganiayaan itu diduga tidak ada perbedaan kelas. Mereka sama-sama miskin. “Betapa sialnya hari ini saat mau bayar belanjaan berupa 2 liter beras ternyata kantong sudah kosong karena sudah dirogoh pencopet”. Tragedi itu sangat memilukan, bahkan juga bagi si pencopet. Tetapi di sinilah kita menjadi sadar sesadar-sadarnya bahwa rakyat yang marah adalah fungsi dari rakyat yang lapar sambil terpuruk dalam ketakyakinan atas penegakan hukum.

Apalagi saat sekarang, dalam tradisi mayoritas ramadhan harusnya diisi dengan warna-warni pilihan konsumsi dengan menu daging sebagai simbol penting dan bahkan sebagian sudah mensakralkannya. Negara kalah terhadap mafia, sehingga harga (daging) hanya bisa ditonton meroket. Ini sebuah kemenangan megah bagi para mafia, dan di situ nyata sekali hukum tidaklah perlu berlaku.

Bahasa kekesalan itulah yang merubah dan melebur diri kepada fenomena hukum: penjahat dan rakyat yang marah.┬áRakyat yang marah sudah merasa benar, apalagi selama ini ia tahu hukum enggan tegak. Kali ini ia (rakyat) inginkan hukum itu tegak setegak-tegaknya. Kau akan menyebutnya main “hakim sendiri”. Itu urusanmu.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: