'nBASIS

Home » ARTIKEL » IWAN LONTONG DUTA ANTI KEJAHATAN

IWAN LONTONG DUTA ANTI KEJAHATAN

AKSES

  • 512,201 KALI

ARSIP


pedagang_lontong_20160630_172826

Presiden baru Filifina Rodrigo Duterte malah menjanjikan perlindungan bagi warga Negara yang memberikan perlawanan kepada para gembong narkotika. Bunuh saja, katanya, jika melawan dan jika mengancam akan mencederaimu. Saya akan hadir untuk Anda dengan membawa kekuatan resmi negara.

“Pedagang Lontong Ini Ditangkap karena Aniaya Preman”. Itulah salah satu judul berita yang terbit pada media lokal, Kamis, 30 Juni 2016, pekan lalu. Sangat menarik. Mengundang haru, dan solidaritas. Seorang pedagang Lontong menganiaya seorang preman. Postur tubuhnya biasa-biasa saja. Tidak tegap, tidak tinggi dan tidak memiliki keahlian beladiri seperti Pencaksilat, Tarung Derajat, Jiujitsu, Gulat, Kungfu atau Karate. Ia hanya punya sebuah sikap kuat dan niat besar membela keluarga dengan mencari nafkah di jalan yang benar secara halal. Ia juga memiliki keberanian menghadapi segala resiko, sambil memberi tanggungjawabnya kepada Negaranya melalui kewajiban membayar pajak dari hasil usahanya di sektor informal yang lazim tak terperhatikan dan terlindungi itu.

Pria yang kesehariannya berdagang lontong dan sarapan pagi di Pasar Petisah itu bernama Miswanto alias Iwan Lontong (42), warga Jalan Bunga Wijaya Kusuma, Padangbulan. Untuk sementara ia terpaksa meringkuk di sel Polsek Medan Baru. Preman yang dianiayanya bernama Roby (44), warga Jalan Mojopahit, Medan. Dalam pengakuannya ketika diperiksa Polisi, Iwan Lontong berkata “Saya memukuli Roby lantaran dia kerap membuat ulah jahat. Dagangan saya diganggunya”.

Di Balik Peristiwa. Iwan Lontong memang menghantamkan balok kepada Roby yang akhirnya dirawat di rumah sakit. Selain Iwan Lontong, dikhabarkan, ada dua orang lagi yang masih dalam pencarian, karena ikut melakukan penganiayaan terhadap preman predator (pengganggu) keamanan berusaha itu. Sebenarnya Iwan Lontong tidak pernah memiliki niat melakukan kekerasan terhadap Roby. Namun, karena kerap berbuat ulah, Iwan terpaksa menghantam kepala Roby dengan balok kayu. Kata Iwan Lontong, selain mengganggu dagangan, Roby juga memukul dua anggotanya.

Pedagang lain yang berlokasi di sekitar itu mungkin sama sikapnya dengan Iwan Lontong, bahwa jika tak keterlaluan, akan memilih aman dan mendiamkan saja perlakuan penjahat seperti Roby yang akhirnya melapor kepada pihak Kepolisian setelah mengalami pembalasan (penjeraan) pada hari Kamis (23/6/2016) yang lalu.

Dalam pandangan saya, terlepas apa pendapat pakar hukum tentang ini, Iwan Lontong tidak melakukan penganiayaan, melainkan perlawanan untuk membela diri (harkat dan martabat serta hak normatif) dengan sebuah bentuk perlakuan kekerasan yang diharapkannya dapat menyelamatkan eksistensi diri.

Apa yang dapat dipetik dari peristiwa ini? Melihat isi berita, mungkin tidak meleset membuat kesimpulan pertama, bahwa pekerjaan sebagai tukang peras yang mungkin kerap disebut dengan julukan lain, yakni preman, tampaknya masih diakui sebagai living reality di Medan. Kedua, pihak Kepolisian dengan program yang dibantu publikasi besar-besaran berupa spanduk “Tim Pemburu Preman” yang dilengkapi dengan nomor hp yang dapat dihubungi, rasanya belum dapat menekan jumlah penjahat yang antara lain dihajar hingga masuk rumah sakit oleh Iwan penjual Lontong itu. Ketiga, kita belum tahu kesimpulan dari proses verbal dan rekonstruksi kasus yang dibuat oleh kepolisian, rencana tuntutan dari Jaksa dan vonis pengadilan kelak. Tetapi, keempat, rasanya cukup zolimlah membiarkan Iwan Lontong malah tersudutkan kelak. Ia pastilah orang baik-baik. Bekerja membela keluarga, meringankan beban pemerintah, dan karena keyakinannya atas kebenaran membela hak-haknya mendapatkan pekerjaan dan nafkah keluarga, ia terpaksa melakukan kekerasan yang sama sekali tidak terhindarkannya lagi (overmacht).

Konsep overmacht kelihatannya telah diatur dalam pasal 48 KUHPidana “Barang siapa melakukan perbuatan karena terpaksa oleh sesuatu kekuasaan yang tidak dapat dihindarkan tidak boleh dihukum”. Kata “terpaksa” di sini harus diartikan sebagai paksaan bathin maupun paksaan lahir (rohani maupun jasmani). Mr. J. E. Jonkers (1946) membedakan overmacht  itu atas 3 macam, yaitu absolute overmacht, relatief overmacht, dan noodtoestand (darurat). Dari tiga ketagori itu, kelihatannya Iwan Lontong yang dalam melakukan kekerasan terhadap preman Roby berada dalam posisi absolute overmacht. Ia membela harkat dan martabat serta hak-hak absolutnya yang tak seorang pun dapat mencabutnya dari dirinya (pekerjaan yang sah dan nafkah hidup yang halal).

Bangkitkan Keberanian. Negara memang sangat kewalahan menjanjikan pekerjaan yang layak bagi setiap warga Negara, apalagi universal basic income (UBI) bagi setiap warga, terutama yang tidak memiliki pekerjaan (pengangguran). Angka gini rasio yang menunjukkan kesenjangan pendapatan antar warga Negara juga semakin parah dari waktu ke waktu. Angka keparahan kemiskinan juga tidak mungkin kita abaikan ketika memikirkan beban berat yang ditanggung oleh rakyat bawah.

Kita semua dalam duka yang sama. Kita semua dalam kesulitan yang sama, dengan pemerintahan serta agenda yang itu-itu juga. Karena itu, memang, tak pelak lagi, Roby yang memilih menjadi preman juga wajib difahamkan sebagai sebuah tragedi sulit dalam status pilihan keterpaksaan. Tetapi ia tidak dilindungi hukum dalam pekerjaan yang memusuhi kebajikan itu. Ia sungguh-sungguh menjadi musuh bagi masyarakatnya. Ia wajib mempertanggungjawabkannya di depan hukum.

Jika Iwan Lontong bisa berusaha terus-menerus membangun kepercayaan diri dan melakukan sesuatu yang sah untuk mendapatkan nafkah, mengapa Roby tidak mengikuti langkahnya? Siapa dia sebetulnya, warga Negara kelas mana Roby ini sebetulnya? Hak istimewa apa yang dimiliki oleh Roby sehingga ia boleh dan begitu leluasa menjadi preman dan hidup dengan cara-cara hitam yang menjadi musuh bagi Iwan Lontong dan para pelaku sektor informal yang mulia itu?

Siapa, organisasi mana, insttitusi mana, dan hukum mana yang menjadi perisai bagi kelanggengan kejahatan Roby sebagai musuh bagi masyarakat? Dengan pembentukan satuan tugas anti preman sebetulnya Kepolisian sudah memiliki respon terukur untuk memberantas kejahatan-kejahatan yang selama ini menjadi keluhan luas di tengah masyarakat. Masih banyak pertanyaan serius di sini, terutama jika dilihat dari sudut Negara hukum, untuk Roby dan rentetan fakta-fakta yang melestarikan institusi pemerasan dan menjadi begitu nyaman sebagai penjahat. Itu wajib diakhiri.

Penutup. Negara justru wajib bangga kepada Iwan Lontong dan mendorong tumbuhnya sejuta Iwan Lontong di lahan-lahan usaha lain agar Negara semakin sehat, dan warga Negara semakin sadar bahwa mencari nafkah itu adalah kewajiban sekaligus ibadah yang dihargai setinggi-tingginya di mata tuhan. Jika hukum justru akan memosisikan Iwan Lontong sebagai penjahat, entah dengan dalih “main hakim sendiri” atau argumen-argumen hukum formal lainnya yang dapat dipasangkan secara kaku tanpa filosofi menjadi argument anti keadilan, maka Indonesia patut malu dan berduka. Kini harus dipastikan, bahwa setelah menjalani perawatan, Roby wajib dituntut di peradilan yang jujur untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Sebagai perbandingan, presiden baru Filifina Rodrigo Duterte malah menjanjikan perlindungan bagi warga Negara yang memberikan perlawanan kepada para gembong narkotika. Bunuh saja, katanya, jika melawan dan jika mengancam akan mencederaimu. Saya akan hadir untuk Anda dengan membawa kekuatan resmi negara, dan Negara kita harus bersih dari musuh yang berbahaya ini (perdagangan haram narkotika), tegasnya.

Bahkan menurut saya, Iwan Lontong pantas dibawa kepada Kapolri agar mendapat penghargaan dan pengukuhan sebagai “Duta Masyarakat Sipil Anti Kejahatan”. Tidak salah Walikota Medan Dzulmi Eldin memulai proses ke arah itu dengan menjenguk Iwan Lontong di tahanan, memberinya advokasi hukum dan mengawal kasusnya hingga tuntas. Menurut saya pula, Iwan Lontong tidak perlu ditahan berlama-lama, karena ia perlu segera dipulangkan ke keluarganya yang akan merayakan Idulfitri yang beberapa hari lagi akan tiba.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini diterbitkan oleh Harian Waspada, Senin 4 Juli 2016, Hlm B6


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: