'nBASIS

Home » ARTIKEL » ILUSI GOOD GOVERNANCE

ILUSI GOOD GOVERNANCE

AKSES

  • 538,714 KALI

ARSIP


53f3b895e6a7eb702936e5b2cd929b98

| Washington Consensus adalah bahasa lain dari Neo-Liberalisme dengan instrumen deregulasi, privatisasi dan mekanisme pasar yang dengan jelas diadopsi sebagai kriteria Good Governance | Globalisasi dan hegemoni diperagakan di sana | Globalisasi sebagai ekspresi hegemoni sangat kentara dalam penampakannya sebagai pemaksaan Bank Dunia agar negara-negara penerima bantuan membuka pasarnya untuk dunia | Thahtcher sendiri misalnya menggunakan istilah TINA, (There is No Alternative, tidak ada pilihan lain) |

Sebelum menjadi wacana internasional yang secara otoritatif “dipaksakan” ke seluruh dunia pada dekade 1990-an, terminologi Good Governance (GG) pertama kali diperkenalkan oleh Bank Dunia (BD) dalam publikasinya (1989) berjudul Sub Saharan Africa: From Crisis to Sustainable Growth. BD memang sangat agresif mengkampanyekan konsep GG, bahkan memaksa dilakukannya penyesuaian-penyesuaian kelembagaan sebagai prasyarat mendapatkan bantuan pembangunan. Setiap negara wajib tunduk pada kriteria yang dibuat, dan para konsultan ditugasi untuk memperlancar proses itu. Bak gayung bersambut, lazim pula ada inisiatif negara pengharap bantuan mengundang agen-agen BD. Agen-agen itu memberikan pelatihan untuk akselerasi penyesuaian kelembagaan yang dirumuskan sebagai kriteria GG.

Konon dimaksudkan sebagai resep pemberdayaan masyarakat di Benua Afrika, wacana GG tidak lepas dari perubahan peta politik mencemaskan kala itu. Ada beberapa faktor kuat yang dinyatakan sebagai penyebab, di antaranya hilangnya legitimasi, keruntuhan ekonomi, dan protes rakyat. Orang-orang terkemuka dari institusi penting dunia itu dengan sangat yakin menuduh model legitimasi kekuasaan di Negara-negara Afrika.

Umumnya diyakini menerapkan sistem diktatorship. Meskipun ada partai, tetapi umumnya mengadopsi sistem partai tunggal. Ini mirip dengan pemerintahan model komunis di Eropa Timur. Trend baru menganggap semua tradisi itu harus dibongkar habis, karena diyakini sebagai salah satu penyebab utama keterbelakangan. Tentulah efek domino keruntuhan Uni Soviet pada dekade tahun 1990-an langsung berimbas. Munculnya pergolakan rakyat karena kesulitan ekonomi domestik, kegagalan pemerintah  mengelola Negara, dan sejumlah kesulitan lainnya ditengarai terkait erat dengan keniscayaan mengadopsi model pemerintahan dan legitimasi politik baru yang didiktekan.

Tetapi, apa pun kata BD, tak selamanya harus dipercaya begitu saja. Sebetulnya, krisis juga terjadi di hampir seluruh permukaan bumi. Ingatlah bahwa pada awal tahun 1980-an itu Eropa Barat dan juga Amerika Serikat sedang gencar-gencarnya mengasah semangat neo liberalisme yang diusung Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan (Reaganomic). Waktu itu Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher juga maju dengan konsep yang kemudian dikenal dengan julukan Thatcherisme. Hanya dengan cara yang amat kritis bisa ditemukan bahwa mereka pada dasarnya sedang menyusun strategi baru yang mematikan untuk menguasai dunia ketiga, khususnya Negara-negara Afrika. Maka yang terjadi sebetulnya adalah upaya mempertahankan hegemoni dan melestarikan superioritas kemajuan teknologi  di belahan Utara kepada Negara-negara miskin di belahan Selatan, dengan berbagai dalih seperti globalisasi.

Unsur pembenaran teoritis selalu diperoleh. Misalnya, tidak mungkin disangkal bahwa Negara-negara Afrika memiliki patronase kuat dalam hal politik, sosial, ekonomi, maupun budaya dengan negara yang tercatat dalam sejarah sebagai penjajahnya (Prancis, misalnya). Dengan begitu semakin kuatlah keyakinan bahwa wacana GG di Selatan, dengan sendirinya, dianggap pasti dapat diaplikasikan.

GG memiliki kaitan sangat erat dengan Washington Consensus yang perumusannya dilakukan di Washington DC oleh tiga lembaga keuangan besar (Bank, IMF dan Departemen Keuangan Amerika Serikat). Berdasarkan  Washington Consensus, sebuah pemerintahan dapat dikatakan identik dengan GG apabila memenuhi 10 kriteria, yakni disiplin fiskal; konsentrasi belanja publik pada barang-barang publik termasuk sektor pendidikan, kesehatan dan infrastruktur; reformasi perpajakan dengan memperluas basis dengan tarif moderat; bunga bank yang dikendalikan oleh mekanisme pasar; nilai mata uang yang kompetitif; liberalisasi perdagangan; keterbukaan terhadap infestasi asing; privatisasi perusahaan negara dan daerah; deregulasi atau penghapusan regulasi yang menghambat pasar asing atau membatasi kompetensi kecuali yang bisa dibenarkan untuk kepentingan keamanan, lingkungan, perlindungan konsumen atau keperluan pengawasan finansial; dan jaminan hukum untuk kepemilikan (Hayami dalam Pratikno, 2005).

Washington Consensus adalah bahasa lain dari Neo-Liberalisme dengan instrumen deregulasi, privatisasi dan mekanisme pasar yang dengan jelas diadopsi sebagai kriteria GG. Globalisasi dan hegemoni diperagakan di sana. Globalisasi sebagai ekspresi hegemoni sangat kentara dalam penampakannya sebagai pemaksaan BD agar negara-negara penerima bantuan membuka pasarnya untuk dunia. Thahtcher sendiri misalnya menggunakan istilah TINA, (There is No Alternative, tidak ada pilihan lain). Tentang hal ini Amien Rais (2008) menjelaskan bahwa maksud tidak ada alternatif lain bagi globalisasi; bagi WTO; World Bank, dan IMF; bagi ekonomi pasar bebas; bagi kapitalisme; bagi kuasa koorporasi; bagi monopoli media yang telah di merger; bagi hegemoni politik dan supremasi ekonomi barat, ialah bahwa sesungguhnya tidak ada alternatif kecuali semua negara harus memahami dan menyesuaikan diri dengan TINA tersebut. Ini adalah sukses besar kaum neoliberalisme yang didorong oleh produk nasional kotor yang tumbuh dan meningkat dengan cepat terutama di negara-negara maju; revolusi teknologi komunikasi; dan kekuatan-kekuatan yang mempermudah munculnya perusahaan-perusahaan besar berskala global (George A. Steiner dan Jhon F. Steiner, 1994)

Sesungguhnya niat jahat tak mungkin dinafikan dalam konsep GG. Sebuah pengakuan seorang mantan konsultan dari Amerika Serikat, Jhon Perkins (2007) sebagaimana dicatat oleh Budianto Shambazy menunjukkan bagaimana mekanisme kerja mereka dalam memuluskan kepentingannya. Tugas pertama Jhon Perkins, kata Budianto Shambazy, adalah membuat laporan-laporan fiktif untuk IMF dan World Bank untuk mengucurkan utang luar negeri kepada Negara-Negara Dunia Ketiga. Tugas kedua Perkins ialah membangkrutkan negara penerima utang. Setelah tersandra oleh utang yang menggunung, negara pengutang agar, misalnya, mendukung pemerintah AS dalam voting di Dewan Keamanan PBB. Bisa juga negara pengutang dipaksa menyewakan lokasi untuk pangkalan militer AS. Sering terjadi korporatokrasi memaksa pengutang untuk menjual ladang-ladang minyak mereka kepada MNC (Multi Nasional Corpopration) milik negara-negara-negara Barat.

Apakah nama yang tepat bagi BD selain penjajahan baru? Bagaimana nasib Afrika sekarang? Bagaimana kesenjangan dunia belahan Utara dibanding Selatan sekarang? Konsep GG telah memperkuat penyiksaan terhadap umat manusia mayoritas dengan mengabaikan keadilan.

Meski pun sebuah fiksi, saya akan menceritakan sedikit tentang The Legend of Tarzan, sebuah filem yang diangkat dari sebuah novel (2016). Konon sebuah konferensi diselenggarakan di Berlin. Hasilnya Kongo dibagi antara Belgia dan Inggris. Saat itu pemerintah Belgia sedang berada di ambang kebangkrutan, karena menanggung hutang yang besar untuk keperluan membangun rel kereta api nasional dan infrastruktur lainnya. Lalu Raja Belgia Leopold II mencari akal. Akhirnya memutuskan untuk melakukan pengekstrakan kandungan mineral yang terkenal sangat kaya di Kongo. Ia pun mengirimkan seorang kepercayaannya Léon Rom  dengan misi utama merebut bongkahan berlian yang dikenal dengan nama opar.

Akhir dari cerita tidak perlu diberi tahu. Tetapi Belgia memperbudak penduduk Kongo dan memperdagangkannya. Jangan pula lupa bahwa selamanya, di semua tempat, hal serupa tetaplah menjadi ajang pembataian orang tak berdosa. Hanya karena mereka tak tahu, atau belum tahu, tentang apa yang sudah terlebih dahulu diketahui oleh manusia-manusia bengis dan serakah dari tempat lain.

Saya menatap dalam-dalam foto-foto keluarga-keluarga pejuang yang menjadi tawanan dalam perang melawan penjajahan di Indonesia, antara lain keluarga Sisingamangaraja XII. Betapa hinanya mereka diperlakukan, sebanding dengan rendahnya pandangan para penjahat dari Eropa itu terhadap Indonesia secara keseluruhan. Mereka membangun jalan, pelabuhan, rel keretaapi, perkebunan sawit, teh dan lain-lain. Mereka akan selalu menganggap pribumi tak ubahnya sebagai antingano (sejenis hama) dalam tanaman, jahat, iblis dan makhluk tak beradab. Pantas dibunuh, dimusnahkan dan digelapkan sejarahnya dalam catatan dunia.

Terkadang mereka pun merasa wajib bertindak sangat licik dan kotor dalam kejahatannya untuk tak secara langsung berlumuran darah di tangan. Devide et impera, resep mempertentangkan rakyat jajahan agar saling bunuh untuk memudahkan penguasaan mutlak atas nama kebodohan rakyat yang tak berdosa.

Dengan proklamasi 17 Agustus 1945 saya belum puas menerima Indonesia sebagai warisan. Orang-orang yang dulu datang ke sini dengan niat jahat dan menghisap kekayaan Indonesia, masih harus dan wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya. Harus ada audit yang cermat untuk menghitung kerugian Indonesia, dan itu harus mereka bayar.

Saya kira, kita harus kembali menimbang semua yang dinyatakan sebagai kemajuan Indonesia kontemporer dengan cara Soekarno. Ia pernah berkata tentang kemandirian politik. Tentang kemandirian ekonomi. Tentang kemandirian sosial budaya. Trisakti. Ya, trisakti.

 

 

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, 18 Juli 2016, hlm B6.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: