'nBASIS

Home » ARTIKEL » SEKOLAH SEHARI PENUH

SEKOLAH SEHARI PENUH

AKSES

  • 535,471 KALI

ARSIP


jufrianto-full-day-school-umushabri-5

Gagasan sekolah sehari penuh itu bagus dan saya kira brilliant. Jika boleh sedikit bombastis, kali inilah baru saya merasa sudah mulai bertemu dengan wacana gerakan revolusi mental ala Jokowi yang berbeda dari yang umumnya didengungkan selama pemerintahan ini. Selama ini kebanyakan memang tak hanya terkesan, tetapi benar-benar terasakan, berawal dan hanya berakhir sloganistik belaka. Kemeja putih dilepas di luar celana, dengan lengan digulung. Jangan-jangan ebentar lagi, menjelang suksesi, satu atau dua kancing teratas kemeja akan dilepas begitu saja, agar terkesan sudah sangat letih bekerja dan masih ingin menuntaskan kerja-kerja lain, tanpa henti. Begitu penting dramatisasi itu. Revolusi mental yang ditata sebagai panggung depan menurut teori dramaturgi.

Sehari penuh berada di sekolah itu baik sekali, meski tak mutlak, karena dianggap dapat membuat murid dan siswa mengalami proses pemiskinan banyak hal dalam mengakumulasi variasi pengalaman hidup yang bermanfaat. Akumulasi pengalaman hidup itu sendiri berlangsung tanpa kenal mundur (irreversible) dan dengan tahapan-tahapan yang melekat pada  proses pertumbuhan dan perkembangan manusia. Faktor itu penting mengokohkan proses menjadi (being process) seseorang, dan tak seluruhnya dapat diperoleh dari sumber tunggal, yakni sekolah. Bukankah orang Minang selalu memandang penting hal-hal di luar pendidikan formal di sekolah dengan mengatakan alam takambang jadi guru (alam dengan segenap keberadaannya adalah guru yang baik)?

Sekolah yang mengikat dan merebut waktu murid dan siswa sehari penuh juga dikritik dapat memperobotkan manusia, karena instruksi-instruksi pembelajaran dicurigai dapat membuat pemiskinan kualitas kemanusiaan. Juga dianggap menyita waktu kebersamaan yang akan menggersangkan interaksi sesama anggota keluarga, meskipun kecenderungan keluarga modern perkotaan sudah sangat sulit mendapatkan kesempatan itu. Di pedesaan dengan kecenderungan proses pematangan sosial anak yang umumnya berlangsung lebih cepat, keluarga-keluarga lazim memberi peran penting pada anak dalam bidang ekonomi.

Gagasan penyelenggaraan sekolah sehari penuh yang dilemparkan oleh Mendikbud Muhajir Effendy kemungkinan saja telah mewakili aspirasi mayoritas orang kota. Kini kita berada pada sebuah keadaan yang faktanya semakin sulit membatasi murid dan siswa agar tak menjadi bagian dari problem sosial yang semakin serius dan melampaui masalah-masalah kenakalan remaja (juvenile deliuency) konvensional. Mereka kini menjadi sasaran empuk bagi orang-orang seperti almarhum Freddy Budiman dan figur penggantinya, toke-toke dalam dan luar negeri, dan para kolaborator dari unsur-unsur penting pemerintahan yang memperkaya diri sendiri sambil merusak masa depan Indonesia di balik peredaran narkoba sebagaimana diungkap Kordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar.

Etalase-etalase modern yang dibangun oleh pebisnis sebagai mesin penggandaan uang begitu dahsyat menohok. Karena sebagaimana temuan seorang dokter yang bekerja pada Bulan Sabit Merah di Medan, sejumlah jajanan khas anak-anak sudah lama dijadikan sebagai media awal untuk pemasaran narkoba. Perdagangan narkoba memang jahat dan untuk Indonesia ditengarai sudah berkembang pada tahapan yang menjadi bagian dari strategi menguasai Indonesia oleh Negara lain.

Murid dan siswa di tengah-tengah masyarakat tak berada di ruang hampa, karena di luar lingkungan sekolah mereka ditunggu oleh berbagai bentuk media desktruktif yang berkembang subur sejalan dengan lemahnya pemerintah menegakkan hukum atas proses produksi uang yang inherent dalam bisnis. Karena itu kemasuk-akalan gagasan sekolah sehari penuh bukanlah sesuatu yang buruk. Gagasan ini menyisihkan peluang-peluang besar perusakan terhadap murid dan siswa yang sama sekali sudah tak terkendalikan lagi dalam modernisasi yang gegap gempita.

Semua orang berpandangan bahwa merebut masa depan dalam persaingan yang setiap saat bertambah sulit dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya melalui pendidikan. Itu sebuah jalan damai. Karena itu dalam pandangan sebuah Negara, normalnya membuka kesempatan setara bagi semua orang, menjadi sangat penting. Tetapi itulah yang tak selalu mungkin dilakukan, dan Negara seperti Indonesia telah lama berkutat pada masalah ini, dan tak pernah melangkah cukup maju. Memeratakan pendidikan sekaligus meningkatkan mutu terbukti tak mudah. Malah Negara terkesan bertindak tak substantif sambil memilah-milah tradisi bangsa lain untuk dipinjam pakai.

Kita tahu sekolah sehari penuh sudah pernah disiasati secara bertahap oleh Mendiknas Muhammad Nuh dengan jalan penambahan jam belajar. Banyak orang mencemaskannya dengan alasan-alasan yang pastilah benar meski tak mempertimbangkan perumusan argumen berdasarkan kompleksitas (multivarian) permasahaan. Sekolah sehari penuh sudah diterapkan oleh para pemilik sekolah elit di Indonesia, dan mereka (pihak sekolah, orangtua dan murid/siswa) sangat puas dengan alternatif itu. Tetapi tanpa disadari pengkastaan sudah direncanakan. Anak-anak orang kaya semakin dipastikan merebut masa depan Indonesia dalam pola persaingan yang tidak fair.

Pendidikan di Indonesia memang selalu menampilkan kelaziman yang lucu-lucu. Misalnya, bukan tidak penting mengetahui serapan umum kurikulum bagi murid dan siswa melalui Ujian Nasional (UN). Tetapi sepenting apakah itu jika asupan materi pelajaran telah dipastikan berkesenjangan kalau bukan diskriminatif di antara sekolah yang ada di ibu kota Negara dan sekolah yang ada di pelosok? Semua sekolah sudah pula mengerjasamakan penyelesaian soal UN dengan guru di bawah instruksi kepala sekolah meski di saat berlangsunya semua itu ada institusi pengawasan eksternal yang merasa sangat nyaman kalau sudah diberi “minum kopi dan makan roti serta sedikit uang dalam amplop”. Akhirnya UN itu menjadi akrobat menipu diri sendiri dan para murid dan siswa mematri ketidak-jujuran pada dirinya justru pada etape terpenting kehidupannya.

Muhajir Efendy belum sempat mengemukakan utuh gagasan sekolah sehari penuh untuk kemudian merasa tak nyaman lagi membicarakannya karena terlalu banyak dikritik. Akhirnya ia pun berlindung di balik kewibawaan Presiden dan Wakil Presiden yang dikatakan akan mengkaji ulang, dan jika nanti akan dilaksanakan sifatnya bertahap.

Saya berusaha menerjemahkan data-data terbaru yang disajikan oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang membandingkan lama penyelenggaraan sekolah di antara 33 negara dan menemukan benang merahnya dengan kemajuan Negara-negara itu. Tentu bukan soal lama berada di sekolah saja yang menjadi faktor yang menentukan, karena seluruh faktor kependidikan, pembiayaan dan fasilitas juga harus dihadirkan dalam menemukan benang merah persekolahan dan kemajuan sesuatu bangsa.

Akhirnya saya mencoba sebuah simulasi. Sekolah sehari penuh tidak memiliki makna jika tidak ada perbaikan serius dalam infrastruktur dan jumlah serta kualitas tenaga kependidikan. Biayanya sangat besar ternyata. Katakanlah sebuah kelas dengan kapasitas 25 murid dan siswa, setidaknya harus ada dua atau tiga orang guru, seorang guru BP atau social worker (pekerja sosial sekolah), seorang tukang masak atau yang bertanggungjawab atas makanan yang harus diasupi kepada murid dan siswa tepat waktu, sebuah ruangan untuk belajar, sebuah ruangan untuk istirahat, sebuah ruangan untuk guru dan dua buah kamar mandi untuk guru dan untuk murid. Semua itu di luar fasilitas normal yang wajib lainnya seperti laboratorium, perpustakaan, lapangan olah raga, masjid dan lain-lain. Hitungan-hitungan dalam simulasi itu menunjukkan alokasi 20 % dari APBN dan APBD masih sangat kurang.

Gagasan sekolah sehari penuh pastilah terbentur dengan fakta kondisi lingkungan sekolah. Mendiknas Muhammad Nuh mengatakan bahwa untuk anggaran 2011-2012 gedung SD dan SMP yang rusak berat di seluruh Indonesia 153 ribu ruang, dan diperlukan Rp 20,4 triliun. Pada tahun yang sama Menteri Agama Suryadharma Ali memroyeksikan 55 ribu ruang kelas MI dan MTs yang mengalami kerusakan dan hanya dapat diperbaiki sebanyak 5.000 ruang kelas untuk tahun 2012 dengan biaya tersedia Rp 507 miliar. Pekerjaan kedua menteri merehabilitasi ruang sekolah itu masih belum tuntas, dan mereka belum memberikan data dan rencana perbaikan ruang-ruang kelas bagi SLTA. Kita juga perlu menghitung beban kebutuhan pertambahan ruang-ruang kelas baru.

Tetapi dalam rangka memenangi persaingan masa depan antar bangsa semua permasalahan itu tidak boleh menbuat surut. Gagasan sekolah sehari penuh itu bagus dan saya kira brilliant. Jika boleh sedikit bombastis, kali inilah baru saya merasa sudah mulai bertemu dengan wacana gerakan revolusi mental ala Jokowi yang berbeda dari yang umumnya didengungkan selama pemerintahan ini. Selama ini kebanyakan memang tak hanya terkesan, tetapi benar-benar terasakan, berawal dan hanya berakhir sloganistik belaka. Kemeja putih dilepas di luar celana, dengan lengan digulung. Jangan-jangan ebentar lagi, menjelang suksesi, satu atau dua kancing teratas kemeja akan dilepas begitu saja, agar terkesan sudah sangat letih bekerja dan masih ingin menuntaskan kerja-kerja lain, tanpa henti. Begitu penting dramatisasi itu. Revolusi mental yang ditata sebagai panggung depan menurut teori dramaturgi.

Bahkan lebih buruk lagi, kini revolusi mental malah sudah menjurus sebagai senjata pemojokan bagi orang yang rajin memberi pengimbangan gagasan, apalagi bagi yang suka mengeritik. Dikhawatirkan, pemerintahan yang tumbuh menjadi “rezim benar sendiri” merupakan sesuatu gejala serius yang mendekati kediktatoran. Itu cukup berbahaya ke depan.

Dalam pandangan saya wacana belajar sehari penuh di sekolah adalah sebentuk rencana besar yang jelas mengarah revolusi mental yang serius, baik dilihat dari perspektif dan lingkup serta sasarannya, maupun dari segi kemungkinan pengukuran hasil yang ingin dicapainya kelak.

 

Shohibul Anshor Siregar.
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada,
Medan, Senin, 15 Agustus 2016, hlm B7

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: