'nBASIS

Home » ARTIKEL » KEGETIRAN DI INDONESIA

KEGETIRAN DI INDONESIA

AKSES

  • 535,471 KALI

ARSIP


getirrr.jpg

Banyak kegembiraan dalam seremoni-seremoni merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-71, antara lain dipulihkannya hak GNH ikut bertugas bersama 67 rekan paskibranya meski hanya untuk upacara sore hari di istana negara | Tetapi RHRMS memilih tak larut di dalamnya | Ia menyergah pemerintah Republik Indonesia melalui sebuah do’a |

Inilah tiga orang pemicu perbincangan amat serius tentang Indonesia bulan ini. Pertama, Arcandra Tahar (AT) yang diberhentikan sebagai menteri ESDM karena ternyata ia berkewarganegaraan Amerika. Kedua, Gloria Natapraja Hamel  (GNH),  gadis berusia 16 tahun yang sempat digugurkan sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) menjelang bertugas untuk upacara peringatan hari kemerdekaan ke-71 di istana Negara. Ketiga, anggota DPR-RI dari Dapil Sumut I Romo H Raden Muhammad Syafi’i (RHRMS) karena do’a kenegaraan yang dipimpinnnya dan diaminkan Presiden, Wakil Presiden, Para Menteri Kabinet Kerja, Pimpinan DPR-RI dan para anggota DPR-RI, Pimpinan DPD-RI, para Duta Besar Negara Sahabat, dan para undangan lainnya, di Gedung DPR-RI. Sebelumnya, meski diminta oleh pimpinan DPR-RI, RHRMS tak memberi naskah do’a yang mengguncangkan dan sarat kritik itu, serta mewakili keperiadaan mayoritas rakyat Indonesia yang terpuruk.

AT diberi amanah (Menteri ESDM) melalui perombakan Kabinet Kerja jilid II. Meski bekerja hanya 20 hari, ia sempat melakukan banyak pekerjaan, termasuk pergi ke KPK yang banyak orang memastikannya terkait rencana pembersihan. Kelihatannya ia sangat siap. Usai dilantik (27/7/2016), AT  bercerita bahwa dirinya menjadi Menteri berawal dari sebuah diskusi yang dilanjutkan penugasan untuk melakukan kajian informal soal Blok Masela.Tentu bukan orang sembarangan teman diskusi dan yang memberi penugasan kepadanya. Sehari setelah dilantik  ia  membahas rencana penyelesaian revisi UU Nomor 22 tahun 2001 tentang Migas bersama pimpinan di kementeriannya. Esoknya, selain memberitahu pemerintah akan segera memberi kepastian hukum kepada PT Freeport Indonesia, dua staf khusus yang dibawanya dari Amerika diperkenalkan kepada media. Keduanya, Jaffee Suardin dan Prahoro Nurtjahyo, akan membantunya dalam mengurusi sektor energi.

Tanggal 2 Agustus AT menyatakan, pemerintah segera menghapuskan beberapa pajak sektor migas, dan mengubah cara penghitungan biaya penggantian operasi (cost recovery) melalui revisi PP No 79 tahun 2010. Catatan kerja  hari-hari berikutnya luar biasa. Tanggal 4 Agustus menggelar pertemuan dengan para kontraktor migas untuk mendorong percepatan penyelesaian proyek-proyek hulu (upstream). Tanggal 5 Agustus bersama Inpex Corporation  membicarakan pengembangan aspek teknikal dan komersial Blok Masela. Dari pertemuan itu diketahui bahwa akan ada penurunan cukup signifikan dalam kebutuhan investasi untuk pengembangan onshore.

Tanggal 9 Agustus bersama Menko Kemaritiman Luhut B Panjaitan membahas potensi migas wilayah Natuna, sambil melaporkan perkembangan terminal gas alam cair (LNG) Benoa. Tanggal 10 Agustus melayangkan surat persetujuan ekspor konsentrat untuk Freeport (kepada Kementerian Perdagangan) yang berlaku lima bulan (hingga 11 Januari 2017). Tanggal 11 Agustus menerima kunjungan para pelaku usaha migas dari Indonesian Petroleum Association (IPA), sembari menerima masukan revisi PP 79 tahun 2010.

Lalu pada tanggal 15 Agustus AT diberhentikan dengan hormat oleh Presiden Jokowi sekaligus menunjuk Luhut B Panjaitan sebagai Plt Menteri ESDM. Begitu besar desakan mempermasalahkan status kewarganegaraan AT meski pemerintah sudah berusaha mengatur komunikasi pembelaan satu bahasa. Terasa seperti sinetron saja, dan urang Piaman (orang Pariaman) itu pun curhat:

“Saya meninggalkan Indonesia tahun 1996. Kembali 3 hari sebelum dilantik. Pelantikan hari Rabu, saya sampai di Indonesia hari Minggu. Kalau Allah berkehendak Kun Fayakun, jadi, dan kita menjadi saksi kemarin kalau Allah berkehendak Kun Fayakun, jadi. Apakah ini sebuah cobaan? Ini bukan cobaan. Semua sudah digariskan oleh Allah. Manusia bisa merencana but the best planner siapa? Allah. Serahkan semua urusanmu pada Allah. Kita hanya bisa berusaha”.

Dalam benak saya muncul kecurigaan, sebetulnya AT bukan tak berterus-terang soal status kewarganegaraannya (Amerika) saat ditawari jabatan menteri, meski masih memegang paspor Indonesia (valid hingga 2017). Setelah menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Amerika, AT yang alumni ITB ini memilih menetap dan bekerja di sana, dan pada tahun 1912 menjadi warga Negara paman Syam itu. Pilihan itu membuat AT dengan sendirinya melepas status kewarganegaraan Indonesianya. Itulah permasalahan AT. Seakan tak dapat dipercaya, tetapi benar-benar sudah terjadi. Seseorang berkewarganegaraan Amerika, meski berdarah Minang, menjadi pembantu Presiden (Menteri). Luar biasa.

Terpikir oleh saya, jika orang kepercayaan Presiden dari Negara kelahiran yang dicintai AT menawarkan pulang kampung, tentu sekaligus dijanjikan jaminan penyelesaian permasalahan kewarganegaraan. Lalu mengapa akhirnya menjadi begini buruk? Pertanyaan itulah yang dijawab banyak orang dengan berbagai spekulasi. Tetapi Luhut B Panjaitan marah kepada media yang bertanya tentang perannya memperkenalkan AT kepada Presiden Jokowi.

Saya pribadi menaruh respek terhadap orang pintar yang rada lugu ini dan membuat sebuah catatan singkat, demikian:

“Tole ma puang. Nga diatur na marhuaso i sude na tau sidalananta. Pos ma roham, sai na ro do hatiuron tu joloan on”. (pasrahkan sajalah, kawan. Allah sudah mengatur segala sesuatu yang akan kita lalui. Yakinlah, akan hadir peluang-peluang cerah pada masa depan).

Pada saat hampir bersamaan sebuah peristiwa memilukan menimpa GNH. Sejak diumumkan tanggal 26 Juni 2016, gadis belia itu dinyatakan menjadi salah seorang dari 68 anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) untuk upacara Peringatan Hari Uang Tahun Kemerdekaan ke-71 di istana Negara. Proses seleksi ketat berjenjang telah dilaluinya. Pada tahap akhir barulah ia dipermasalahkan karena dianggap orang Perancis. Ia digugurkan. Dalam keadaan sedih, entah inisiatif pihak mana, dari Cibubur, tempat penggemblengan para calon Paskibra itu, tanggal 13 Agustus 2016, GNH dan ibunya menulis pernyataan.

“Yang bertanda tangan di bawah ini Gloria Natapraja Hamel.  Lahir di Indonesia,  Jakarta, 1 Januari 2000, seorang perempuan, sedang menempuh pendidikan pada SMA Islam Dian Didaktika, Cinere, Depok. Rumah kami di Jalan Sulawesi Blok G, Nomor 96 A, Cinere, Megapolitan Estate Depok, Jawa Barat.

Dengan ini saya menyatakan bahwa saya ditakdirkan terlahir dari perkawinan antara ibu saya Ira Natapraja (Warga Negara Indonesia) dengan ayah saya Diedier Hamel (Warga Negara Perancis). Sejak lahir sampai saat ini saya tinggal di Indonesia, dan mengikuti pendidikan sejak TK, SD, SMP dan SMA di Indonesia. Saya tidak pernah memilih kewarganegaraan Perancis, karena darah dan nafas saya untuk Indonesia tercinta. Sesuai pasal 4 huruf d, UU No. 12 Tahun 2006, saya adalah warga Negara Indonesia, serta sesuai pasal 21 UU No. 12 Tahun 2006, saya adalah Warga Negara Indonesia. 

Maka dengan ini Saya menyatakan kepada Yang Mulia Presiden RI Bapak Ir. H. Joko Widodo, saya warga Negara Indonesia dan memilih Kewarganegaraan Indonesia serta akan tetap menjadi Warga Negara Indonesia karena Indonesia adalah tanah tumpah darah saya”.

Akhirnya GNH dipertemukan dengan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden JK. Sembari menerima banyak nasehat ia pun mendapat kepastian pembatalan atas pencabutannya dari keanggotaan Paskibra. Para ahli hukum berpendapat gadis belia ini tak berdosa, bukan seseorang yang patut mendapat perlakuan buruk. Aturan hukumnya berbeda dengan kasus yang menimpa AT yang di tengah liarnya dugaan, oleh sebagian orang dicurigai sebagai agen Amerika yang akan menguras sumberdaya alam melalui kewenangannya sebagai Menteri ESDM (Seburuk itukah gerangan?).

Bagaimana mengusir kesan Negara sudah sangat tak beres, dengan kedua peristiwa ini? Berbagai spekulasi berkembang mengarah kecurigaan atas ketak-mampuan mengelola Negara dan apalagi untuk menjamin keselamatan dalam kedaulatan penuh untuk urusan politik, ekonomi dan sosial budaya di tengah persaingan global. Terkesan begitu amatiran. Bukan tak penting menyahuti gagasan-gagasan global tentang citizen of the earth (warga universal bumi), tetapi tentu hal itu tak mudah bagi Indonesia dan sebagian besar Negara-negara di dunia yang terpuruk oleh kemiskinan akibat hegemoni yang diperparah oleh para komprador yang bermain mencari keuntungan pribadi di tengah fakta kesenjangan.

Maka di tengah keriuhan tersebab kedua peristiwa itu tibalah Indonesia pada sebuah kejadian penting kenegaraan yang mengagenda-utamakan pembacaan Pidato Presiden Jokowi di Gedung DPR-RI tanggal 16 Agustus 2016. Acara ditutup dengan do’a secara Islam yang dipimpin RHRMS dan mendapat tepuk tangan riuh. Inilah penggalan do’a yang mewakili perasaan mayoritas rakyat Indonesia itu.

“Kami seperti mata pisau yang hanya tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas sehingga mengusik rasa keadilan bangsa ini. Wahai Allah, memang semua penjara overcapacity. Tapi kami tidak melihat ada upaya untuk mengurangi kejahatan. Karena kejahatan seperti diorganisir  ya Allah. Kami tahu pesan dari sahabat Nabi-Mu bahwa kejahatan-kejahatan ini bisa hebat bukan karena penjahat yang hebat, tapi karena orang-orang baik belum bersatu atau belum mendapat kesempatan di negeri ini untuk membuat kebijakan-kebijakan yang baik, yang bisa menekan kejahatan-kejahatan itu.

Lihatlah kehidupan ekonomi kami. Bung Karno sangat khawatir bangsa kami akan menjadi kuli di negeri kami sendiri. Tapi hari ini, sepertinya kami kehilangan kekuatan untuk menyetop itu bisa terjadi. Lihatlah Allah, bumi kami yang kaya dikelola oleh bangsa lain dan kulinya adalah bangsa kami, ya rabbal alamin. Kehidupan sosial budaya, sepertinya kami kehilangan jati diri bangsa ini, yang ramah, yang santun, yang saling percaya.. Kami juga belum tahu bagaimana kekuatan pertahanan dan keamanan bangsa ini kalau suatu ketika bangsa lain menyerang bangsa kami, ya rahman ya rahim.

Tapi kami masih percaya kepadaMu, bahwa kami masih menadahkan tangan kepadaMu. Artinya Engkau adalah Tuhan kami, Engkau adalah Allah Yang Maha Kuasa. Jauhkan kami dari pemimpin yang khianat yang hanya memberikan janji-janji palsu, harapan-harapan kosong, dan kekuasaannya yang bukan untuk memajukan dan melindungi rakyat ini, tapi seakan-akan arogansi kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat. Dimana-mana rakyat digusur tanpa tahu kemana mereka harus pergi. Dimana-mana rakyat kehilangan pekerjaan. Allah, di negeri yang kaya ini, rakyat ini outsourcing wahai Allah. Tidak ada jaminan kehidupan mereka. Aparat seakan begitu antusias untuk menakuti rakyat. Hari ini di Kota Medan, Sumatera Utara, 5000 kepala keluarga, rakyat Indonesia, sengsara dengan perlakuan aparat negara ya rabbal alamin. Allah, lindungilah rakyat ini. Mereka banyak tidak tahu apa-apa. Mereka percaya. akan kendali negara dan pemerintahan kepada pemerintah.

Allah, kalau ada mereka yang ingin bertaubat terimalah taubatnya ya Allah. Tapi kalau mereka tidak mau bertaubat dengan kesalahan yang mereka perbuat, gantikan dia dengan pemimpin yang lebih baik di negeri ini, ya Allah”.

Ada orang menilai do’a itu khas aspirasi oposisi yang berkeinginan sama: merebut kekuasaan. Bagi saya tidak sesederhana itu. Untuk menjadi oposisi saja orang Indonesia kini sudah sangat ketakutan dan sama sekali tak mampu menggambarkan dirinya mengerti politik apalagi perjuangan politik. Jangankan menyuarakan kebenaran di tengah atmosfir yang meniru zaman demokrasi terpimpin. Jadi, isi do’a yang dipimpin RHRMS itu luar biasa.

Banyak kegembiraan dalam seremoni-seremoni merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-71, antara lain dipulihkannya hak GNH ikut bertugas bersama 67 rekan paskibranya meski hanya untuk upacara sore hari di istana negara. Tetapi RHRMS memilih tak larut di dalamnya. Ia menyergah pemerintah Republik Indonesia melalui sebuah do’a. Tentang AT belakangan telah dijanjikan kemudahan oleh pemerintahan mengurus status kewarganegaraan sesuai UU No 12 tahun 2006. Ingat, ia diberhentikan dengan hormat dan juga dianggap berjasa untuk Indonesia.

Tetapi masalahnya tidak sesederahana itu. Bagaimana memikir-ulang nasib para diaspora Indonesia di manca Negara seperti AT. Bahkan tak sedikit jumlah cucu orang Indonesia lahir di manca Negara yang serta-merta diklaim sebagai warga Negara di tempat ia lahir. Sekali lagi, ini sangat tidak mudah bagi Indonesia yang kini dibanjiri tenaga kerja asing terutama dari Tiongkok, terutama jika ditilik dari sejarah dan fakta peran dominatif etnis tertentu dalam bidang ekonomi yang sudah lama menggerahkan.

Mudah-mudahan terkabullah do’a yang dipimpin  RHRMS dan diaminkan oleh tidak saja seluruh orang yang hadir di gedung DPR-RI itu, tetapi juga oleh mayoritas rakyat Indonesia. Merdeka.

 

Shohibul Anshor Siregar
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada,
Medan, Senin, 22 Agustus 2016 hlm B7

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: