'nBASIS

Home » ARTIKEL » CAPAIAN 71 TAHUN

CAPAIAN 71 TAHUN

AKSES

  • 535,471 KALI

ARSIP


PERAN PUBLIK.jpg

Seorang jurnalis bertanya kepada saya tentang ucapan JK bahwa 71 tahun Indonesia merdeka baru mampu sekadar aman sandang, sedangkan pangan dan papan belum.

JK sudah berbicara terus terang beberapa bulan lalu tentang kesenjangan. Kekayaan Indonesia sebesar 50 %, katanya, hanya dikuasai oleh 1% warga istimewa yang diuntungkan oleh buruknya sistem. Beliau juga sadar tantangan Indonesia yang sangat berat hingga mengatakan Indonesia akan hancur jika dipimpin oleh orang yang tidak berpengalaman meski akhirnya ia memilih sebagai wakil (Presiden) bagi mantan kepala daerah di sebuah kota kecil yang disebutnya tak berpengalaman itu.

Kita tdak memiliki peluang untuk keluar dari kemiskinan struktural yang massif ini sejak Indonesia mengikuti kehendak Yoshihara Kunio (1989) yang menyarankan bahwa untuk keluar dari kapitalisme malu-malu (ersatz capitalism) dan berubah menjadi kapitalis modern seperti Jepang dan Negara Barat lainnya, harus melakukan 3 hal:

(-) menyegerakan penanggulangan teknologi yang masih sangat terbelakang;

(-) mengurangi peran pemerintah dalam bisnis;

(-) memberi keleluasaan kepada orang keturunan Tionghoa dalam berperan utk pembangunan;

Resep itulah yang menghasilkan keadaan buruk hari ini. Pertumbuhan cukup tinggi tetapi sangat eksklusif.

Pemerintah hanya pandai mengundang modal besar dari luar (capital intensive) yang sekaligus bermakna pengabaian serius rakyat mayoritas krn perilaku pembangunan yang tidak padat karya (labour intensive).

Saat sekarang negara dipimpin oleh Jokowi-JK malah muncul paradoks besar. Masih terus ekspor tenaga tak berkeahlian (unskilled worker) ke luar negeri bahkan tanpa perlindungan negara, justru Indonesia dibanjiri tenaga kerja kasar (unskilled worker) dari China dengan kawalan perlindungan negaranya yang sangat kuat dan bahkan pula sedang diusulkan menjadi warga negara sesuai agenda politik dwi-kewarganegaraan pemerintahan yang sekarang.

Jika JK ingin menyaksikan Indonesia lebih buruk lagi dari apa yang dikemukakannya hari ini, ia diamkan saja rencana-rencana gila negeri ini. Kesenjangan luar biasa, pengistimewaan terhadap sekelumit warga negara akan memanas, agar tetap aman ia pun perlu meniru pemerintahan apartheid di Afrika Selatan menindas setiap orang yang protes terhdap kesenjangan dan penindaan sistematis.

Nelson Mandela adalah produk dari kejahatan itu, dan mencatatkan dirinya di penjara puluhan tahun demi keadilan utk rakyatnya.

Pedagang memimpin negara melakukan transaksi besar untuk (lazimnya) kedudukannya (ingat pernyataan Ahok tentang peran para pengembang di balik pilpres 2014) dan agendanya hanyalah kapitalisasi.

Mungkin tak sampai akhir hayat beliau yg sudah sepuh itu beliau akan dapat menyaksikan Indonesia yang semakin buruk di bawah neoliberalisasi yang luar biasa buruk.

Indoneia wajib memikir ulang trisakti bung karno (berdaulat politik, ekonomi dan budaya). Pada masa kabinet Juanda tahun 1950 pernah diterapkan program ekonomi benteng yg bertujuan membela pribumi dalam dunia usaha. Tapi seingat saya program itu berhenti terutama krn PKI menganggapnya program borjuasi.

Di Malaysia ada program mirip yg belakangan disebut New Economic Policy yang memberi pembelaan dan kepemihakan untuk pribumi. Kedua negara sebetulnya mirip kwcuali dalam ukuran penduduk dan luas wilayah. Tetapi percayalah orang Cina di Malaysia kini pasti lebih merasa secure ketimbang orang Tionghoa di Indonesia.

Akhirnya saya hendak menegaskan bahwa dlm kondisi sangat buruk ini perlu menerapkan affirmative action yang mirip program ekonomi benteng Kabinet Juanda.

Lalu, sesuai UUD semua orang diberi pekerjaan (job guaranty) dan para pengangguran dijamin beroleh biaya hidup sesuai prinsif universal basic income. Itu bisa dilakukan di Indonesia yang kaya dengan syarat jangan biarkan siapa pun menjadi koruptor, dan lembaga utk pemberantasan korupsi itu jangan berkelas dagelan. Ekonomi dikelola dengan berhenti menjadi komprador untuk memilih mengelola sendiri SDA serta menjadi ekportir barang jadi dan bahan aetengah jadi. Jangan lagi eksportir bahan mentah.

Akibat tekun dengan kebodohannya, Pemerintahan Indonesia sejak Soeharto asyik menggalakkan industri ekstraktif dan akhirnya tak maju-maju. Tiga puluh tahun lalu China dan India jauh di bawah level Indonesia. Kini bahkan Vietnam pun sudah mengejar.

Jadi, JK sedang memukul air di dulang.

Memang utk menjadi negarawan itu tak cukup sekadar pedagang (otomotif, misalnya) atau pedagang meubel, misalnya.

 

 

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: