'nBASIS

Home » ARTIKEL » PETASAN DI GEREJA

PETASAN DI GEREJA

AKSES

  • 540,961 KALI

ARSIP


2016-08-31t152755z_1_lynxnpec7u1eo_rtroptp_3_indonesia-security-church

Foto: Antara/Irsan Mulyadi

| Belajar dari kasus-kasus yang sudah terjadi dalam kategori terorisme di Indonesia selama ini, agaknya Negara harus menyadari apa yang sedang menimpanya | Negara pun tak boleh menjadi mainan bagi instrument global yang tak menjamin keadilan yang hakiki | Para pemimpin umat Islam di Indonesia seharusnya menyadari kerugian besar memilih membangun arena besar saling tuding sembari secara tersamar saling memasang kuda-kuda untuk beroleh reward dari tukang ponten, atau pihak yang kurang lebih secara serampangan dan secara pragmatis dianggap patut dipertuan |

Segera setelah kejadian, dengan sigap sejumlah personel Polresta Medan langsung melakukan penggeledahan ke kamar  IAH, seorang remaja pelaku percobaan peledakan yang tertangkap saat melakukan aksinya di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep Jalan Dr Mansyur Medan, Minggu (28/8/2016) pagi. Aksi IAH tak membawa korban nyawa manusia, hanya berhasil melukai Pastor Albertus Pandiangan.

Berdasarkan interogasi terhadapnya, Kapolresta Medan Kombes Pol Mardiaz hari itu juga mengatakan bahwa IAH mengaku disuruh seseorang yang bertemu di jalan untuk melakukan pengeboman dengan target. Tentu menjadi sangat penting menemukan siapa yang menyuruh IAH melakukan tindakan nekad itu, dan mengapa targetnya adalah Pastor Albertus Pandiangan di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep Jalan Dr Mansyur Medan.

Salah seorang anggota Jemaat di Gereja sasaran IAH yang kebetulan duduk di sebelahnya, Nana, menceritakan kepada jurnalis bahwa tepat pukul 08.30 WIB, saat Pastor Albertus Pandiangan hendak menyampaikan khotbah di mimbar, tiba-tiba IAH berdiri. Kemudian ia berlari mendekati Pastor Albertus Pandiangan. Saat itulah Nana melihat ransel yang dibawa IAH mengeluarkan asap diiringi suara petasan dan kembang api.

Kelihatannya daripada menargetkan sebuah peledakan dengan korban lebih banyak, IAH lebih memilih Pastor Albertus Pandiangan sebagai sasaran. Jika menginginkan korban ledakan lebih besar, pastilah IAH memilih melakukan aksinya dengan tetap duduk berdekatan dengan kumpulan jemaat dan mati meledak bersama di sana. IAH justru berlari sambil menghunus pisau, dan dalam jarak yang memungkinkan mengayunkannya ke arah Pastor Albertus Pandiangan. Pastor Albertus Pandiangan berlari menghindar dan terus dikejar hingga salah satu sabetan berhasil melukai lengan kiri. Ransel IAH terbakar, tidak ada ledakan yang terjadi.

Menelaah kasus IAH sungguh menjadi sangat musykil, apa sebetulnya yang terjadi? Bagaimana menempatkan fenomena IAH ini dalam peta terorisme yang gencar diburu di Indonesia dengan mengerahkan kekuatan penuh Negara beserta media mainstream dan sokongan global? Umumnya orang di Indonesia hanya tahu bahkan pintar berucap ringan bahwa semua ini adalah bentuk-bentuk tindakan yang berawal dari radikalisme cara berfikir, kedangkalan pemahaman agama, dan tipisnya rasa toleransi terhadap minoritas. Komunitas tertentu pun lazimnya dengan mudah disangkut-pautkan dan kemudian menjadi dasar untuk menjustifikasinya sebagai sasaran perlakuan nista yang sistematis.

Merujuk kepada Daniel S. Lev, salah satu persoalan yang cukup pelik di Indonesia adalah bagaimana mengatasi ketegangan dalam hubungan antara negara dengan agama. Dari situ kemudian terkonfirmasi secara meyakinkan tentang semakin menguatnya persaingan ekonomi, sosial dan politik yang melahirkan berbagai bentuk ketegangan kontestasi dan konflik yang tak seorang pun mampu mereduksi agar tak ditemalikan dengan agama tertentu.

Dominasi, terutama dalam bidang ekonomi, yang diikuti oleh dominasi politik dan budaya, lambat laun melahirkan rasa ketidak-adilan dan bahkan rasa keterampasan (relative deprivation).  Mungkin ada orang atau golongan yang sangat mahir dan sudah sangat teratih bersandiwara untuk memenangkan persaingan atas nama agama yang disamarkan sedemikian rupa, sedangkan yang lain tak terlatih untuk itu dan dengan demikian selalu akan menjadi korban yang potensil dikukuhkan dalam logika generalisasi yang sangat simplistis.

Daniel S Lev sudah barang tentu benar untuk satu hal, tetapi tidak untuk yang lain. Ia tak berdiri pada posisi yang dapat melihat semua variable yang menyebabkan kerumitan yang luar biasa ini. Karena itu, menuntut berbagai instrumen yang berkeinginan semakin mengokohkan pentingnya perumusan baru mengenai peran agama atau kerukunan beragama dalam pertumbuhan negara-bangsa untuk tujuan menekan sepihak, sangatlah tidak bijak. Orang selalu memilih untuk tak mampu dengan jujur melukiskan duka dalam peradaban terjajah secara ekonomi, politik dan budaya. Padahal dunia internasional semestinya kini sudah mulai melakukan pertaubatan serius atas paradigma yang digunakan selama ini dalam memandang terorisme. Dangkal sekali, memang.

Dari akar paling dasar hingga puncak-puncak ketegangan berdimensi jamak, masalahnya hanya satu: ketidak-adilan. Keadilan itu ternyata dipandang hanya sebuah rongsokan belaka, karena neoliberalisme yang dipandu oleh isyu-isyu yang lahir dari scenario globalisasi dengan segenap instrumennya hanya bertujuan untuk pengokohan hegemoni belaka. Dunia tak mengenalnya (keadilan) sama sekali. Padahal dunia tanpa keadilan adalah arena pemangsaan belaka. Jika orang tak boleh melawan dalam penindasan, itu artinya hidup telah tamat.

Saya kira julukan radikalis yang tak dapat ditandingi sepanjang sejarah Indonesia adalah untuk Bung Karno, Hatta, Sjahrir dan teman-teman seperjuangannya serta yang kemudian dengan tekun terus-menerus menularkan radikalitas itu kepada banyak orang hingga secara bersama berani meneriakkan merdeka, melawan penjajah. Hasutannya yang mendunia adalah karya radikalis terkemuka yang dicatat oleh dunia, ketika ia mengumpulkan para pemimpin Negara tertindas dalam sebuah konferenasi di Bandung (Konferensi Asia-Afrika, 1955). Dokumen 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan, barang tentu adalah fakta karya radikalis para pendiri bangsa yang menjadi titik awal bagi eksistensi Indonesia.

Bagi Indonesia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam yang berpengalaman ditindas oleh penjajahan beratus tahun, apa yang kini terjadi hanyalah perulangan belaka. Dulu pun mereka adalah teroris di mata penjajah yang merampas hak-hak mereka. Hukum untuk mereka sengaja dibuat diskriminatif untuk membedakan dengan kaum penjajah dan kaum yang diistimewakan (Timur Asing) yang kini dalam kehidupan kenegaraan terutama dalam ekonomi, politik dan budaya, juga diistimewakan.

Saya percaya Harits Abu Ulya, seorang pengamat terorisme dari Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), ketika berkata sangat yakin tidak ada teroris di Indonesia yang memiliki kemampuan untuk merakit bom berbahan kimia berbahaya. Semua masih sangat amatiran, dan para pelaku merupakan pemain baru. Maka ketika seorang jurnalis menanyakan keterkaitan IAH dengan ISIS, saya pun dengan tegas memberinya jawaban:

100 % saya jamin IAH tak terkoneksi dengan ISIS karena keamatirannya sangat tak mencerminkan ISIS yang adalah bentukan dan sokongan Negara-negara paling kuat di dunia saat ini. Juga saya berani menjamin 100 % bahwa IAH tidak terkoneksi dengan kelompok umat yang mana pun di Indonesia.

IAH masih berumur 17 menjelang 18 tahun. Jadi pembawa petasan yang menghebohkan ini masih belum dewasa. Ibu IAH, Arista Boru Purba, kepada jurnalis, bertutur tentang putera bungsunya soal ketertarikan kepada dunia teknologi. Rupanya hal itu sudah berlangsung sejak lama. IAH pernah berencana untuk memupuk kemampuan membuat roket dan menciptakan robot. Di kelasnya ia suka pelajaran fisika. Arista Boru Purba juga mengaku sempat berkeinginan agar IAH melanjutkan kuliah dalam bidang teknologi atau elektronika. Namun IAH menolak karena ia merasa ada gangguan pada matanya.

Dengan lirih Arista Boru Purba mengenang, bahwa akibat gangguan pada mata IAH, prestasi di kelas menurun. Alasan itu pula yang membuat IAH belum mau melanjutkan kuliah. IAH menginginkan prioritas menjalani perobatan matanya. Belakangan, menurut ibunya, IAH suka main game dari handphonenya. Juga suka olah raga bola basket yang dilakukannya di halaman rumah.

Belajar dari kasus-kasus yang sudah terjadi dalam kategori terorisme di Indonesia selama ini, agaknya Negara harus menyadari apa yang sedang menimpanya. Negara pun tak boleh menjadi mainan bagi instrument global yang tak menjamin keadilan yang hakiki. Para pemimpin umat Islam di Indonesia seharusnya menyadari kerugian besar memilih membangun arena besar saling tuding sembari secara tersamar saling memasang kuda-kuda untuk beroleh reward dari tukang ponten, atau pihak yang kurang lebih secara serampangan dan secara pragmatis dianggap patut dipertuan.

 

 

Shohibul Anshor Siregar
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada,
Medan, Senin, 5 September 2016, hlm B 5.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: