'nBASIS

Home » ARTIKEL » GELLOK MAU JADI KPK

GELLOK MAU JADI KPK

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


20161003_075029.jpg

|KPK mungkin lebih baik tak mengerti atau berpura-pura tidak tahu saja mengapa kejahatan struktural yang melahirkan kemiskinan struktural yang parah dengan rentetan penderitaan tak terperikan, antara lain penguasaan oleh warga Negara istimewa sebesar 0,2 % untuk 74 % luas lahan yang ada di Indonesia|

Sordak mendengarkan serius. Aku, kata Gellok, baru bertelefon kepada inongku (mamaku). Kubilang, nanti aku (ingin) menjadi pimpinan KPK. Biar kutangkapi itu para Gubernur, Bupati, Walikota, Menteri, Kepala Dinas dan yang lain-lain.

“Apa kata inongmu? Apa kuping saya tak salah mendengar? Kau mau jadi pimpinan KPK? Kau tahukah KPK itu apa? Kau sadarkah sesiapa yang boleh masuk ke lembaga superbody itu? Kau mau jadi pimpinan KPK? Tahukah kau proses seleksinya begitu rumit? Kau mau jadi anggota KPK? Tahukah kau godaannya besar di sana?” tanya Sordak beruntun dengan nada naik turun.

Gellok pun diam. Ia kehilangan kata-kata. Lalu secara tak sadar ia malah menampar-nampar kening sendiri dengan birama 4/4 sebanyak 71 kali. Entah mengapa jumlah ketukan sebanyak 71 kali pada kening, seolah dengan penuh sentimentil benar-benar mengingatkannya tentang usia kemerdekaan RI. Ini mungkin kebetulan saja, tetapi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya karya Wage Rudolf Soetratman itu juga dibuat dengan birama 4/4. Akhirnya tak dapat ditahannya rahasia percakapan dengan inongnya yang membuatnya menyesal sedalam-dalamnya. Ia menceritakan kepada Sordak. Rupanya dialognya memang cukup seru:

Inong: Jadi kau ini ingin menjadi KPK? Sudah kau pikirkan itu baik-baik, Gellok? Kau tangkaplah tulangmu (paman dari saudara ibu) yang gubernur itu nanti, itu maksudmu kan? Amangborumu (paman dari saudara ayah) yang Bupati itu. Namborumu (isteri amangboru, bibi) yang kepala Dinas itu. Semua akan kau tangkap dan penjarakan? Dimana hati nuranimu?

Gellok: Kalau itu tidaklah, inong. Mana mungkin aku tega menangkap tulang. Bagaimana mungkin aku menangkap nantulang (isteri dari tulang), apa nanti kata boru tulangku (puteri paman) yang cantik itu? Maulah dia memutus hubungan dengan aku nanti. Pejabat-pejabat yang lain saja yang akan aku tangkapi, inong. Kan tak ada famili kita yang menduduki jabatan Menteri. Gubernur, Bupati dan Walikota yang akan saya tangkap nanti pastilah bukan famili kita, Inong. Saya bisa memastikan itu, Inong.

Inong: Menangkap Ahok berani kau? Sudah gerah kali inong melihat orang ini. Seolah dia bersinggasana di atas hukum. Kata orang yang pintar-pintar, yang inong dengar dari berita dan dan dialog di televisi, korupsi paling besar itu justru dilakukan oleh orang paling berkuasa pada satu masa dan pada sebuah tempat, dengan berbagai cara. Hanya saja mereka pandai menggunakan kekuasannya agar dapat menjadi perisai yang membuat mereka aman. Menangkap presiden berani kau, Gellok? Jangan hanya recehan-recehan yang kau soroti.

Gellok: Entahlah, inong. Aku hanya ingin membuat inong bahagia. Anak inong menjadi pimpinan KPK. Itu kan sangat membahagiakan inong? Itu menurutku, inong. Tapi sudahlah, inong. Gak usah jadilah kalau begitu. Dari pertanyaan-pertanyaan inong sama aku kurasakan tak benar juga ini semua. Gak usah jadilah, inong. Gak usah jadi. Biarlah aku jadi polisi saja macam tulang  yang di Batam itu. Atau menjadi jaksa seperti amangboru yang di Jakarta itu. Nanti inong bilanginlah sama tulang atau sama amangboru, biar aku dibantu masuk kerja di instansi tempat mereka berkuasa. Semester depan aku sudah tamat dan wisuda. Dua bulan kemudian lazimnya ijazah sudah dapat diambil.

Susah juga, inong, zaman sekarang jika tanpa backing. Pastinya mesti pakai uang jika akan diterima bekerja. Cerita-cerita teman-teman kuliah aku saja cukup membuatku getir, ketika mendengar bahwa untuk menjadi satpam yang sekarang lebih kerap dijuluki nama lebih keren, yakni security, harus pula menyogok puluhan juta. Konon jika aku mau masuk polisi atau jaksa. Tentu uangnya nanti akan lebih banyak kan, inong?

Untuk sementara ini aku tak pernah berniat menjadi pegawai pada instansi pemerintahan sipil kecuali pada bagian yang ada peluang memeroleh uang masuk seperti Dinas Pekerjaan Umum, atau bagian perizinan. Untuk menjadi politisi aku merasa tak berbakat sama sekali. Menjadi guru atau dosen, andalannya hanya kepintaran dan kesederhanaan hidup yang patut menjadi panutan dengan mutu integritasnya yang menonjol. Aku bukan tipe yang mendekati karakter itu kurasa, inong. Lagi pula semua dosenku tak ada yang terpandang dari segi ekonomi. Dunia mereka adalah dunia miskin dengan kadar idealisme. Aku tak tertarik sama sekali.

Untuk menjadi pedagang rasanya sebagai orang yang berasal dari keluarga agraris yang kemudian memiliki sejumlah famili yang memegang posisi penting pada birokrasi pemerintahan, rasanya aku tak memiliki warisan kultural.  Kata orang, kewirausahaan itu sebuah bakat juga. Aku tak memilikinya, inong.

Sordak termenung mendengar penuturan Gellok tentang dialognya bersama inongnya mengenai rencana menjadi pimpinan KPK yang kemudian melebar kemana-mana dengan rasionalisasi tertentu untuk setiap kemungkinan pilihan pekerjaan dengan menghitung faktor nepotisme yang dimiliki Gellok. Aku sangat sependapat dengan inongmu, Gellok, tegas Sordak. Ada tingkat keawaman yang parah yang tercermin dari cara berfikirmu sekaligus juga saya rasakan sebagai living reality yang dapat mewakili psikologis mayoritas rakyat Indonesia saat ini.

Gellok heran. Dalam hal apalah Sordak sepakat dengan inongku? Inongku sama sekali tak memberi solusi melainkan hanya sejumlah pertanyaan yang menggambarkan ketidak-puasannya menyaksikan peran dan kinerja KPK hari ini. Hanya itu gambaran sikap inong Gellok. Inong Gellok sama sekali tak memberi bantahan saat Gellok membentangkan rencana masa depan dengan mengandalkan famili yang memiliki kekuasaan dalam birokrasi.

Ambal ni hata majolo, ai tung aha do umbahen Antasari Azhar dohot Abraham Samad madabu sian hundulanna (apa penyebab Antasari dan Abraham Samad terpental dari kedudukan mereka)? Pertanyaan itu membuat Sordak merasa memiliki kesempatan strategis untuk berbicara lebih dalam mengenai perspektifnya tentang KPK kepada temannya satu kost itu. Ia memulai. “Seorang perwira polisi bernama Williardi Wizard akhirnya memberi kesaksian di pengadilan bahwa Antasari Azhar itu tidak bersalah, hanya dijadikan target belaka dan kasusnya dikarang. Namun, hingga Antasari Azhar selesai menjalani hukumannya, dan juga pernah melakukan upaya hukum (banding) misteri ketidak-adilan terhadapnya tidak pernah terbuka. Peradilan waktu itu mengabaikan fakta-fakta persidangan yang menunjukkan imparsialitas peradilan itu sendiri sangat bermasalah”.

Bagi saya, sela Gellok, Antasari Azhar itu bersalah. Bersalah. Tak ada yang bisa membantah itu. Kalau bukan, mengapa pula diberhentikan dari jabatannya sebagai ketua KPK dan malah dihukum beberapa tahun? Bagi saya, katanya lagi, dihukumnya Antasari Azhar adalah bukti bahwa negeri ini masih sangat peduli terhadap supremasi hukum. Jika bukan karena kuatnya takaran supremasi hukum yang melukiskan tegaknya hukum tanpa pandang bulu sebagai panglima di Indonesia, manalah mungkin seorang dengan kekuasaan besar sebagai ketua lembaga superbody KPK masuk penjara? Sangat tidak masuk akal, tambah Gellok.

Hukum itu memang bertepi-tepi. Ada tepian legalistik-formal, ada sosiologis dan ada pula filosofis. Menghitung-hitung jumlah pejabat yang sudah dimasukkan ke penjara boleh jadi adalah sebuah fakta tak terbantahkan tentang supremasi hukum. Itu jika kita mau sederhana berfikir. Tetapi itu kebenaran sangat debatable, sebab di balik itu semua masih tersedia ruang keraguan yang mendalam ditinjau dari kemurnian penegakan hukum dan keadilan secara sosiologis dan substantif-filosofis.

Memang sulitlah bicara dengan orang macam kau ini, Sordak, sergah Gellok. Mana mungkin Abraham Samad diberhentikan dan Bambang ditangkap dan malah diborgol jika bukan kesalahan yang tak mungkin ditoleransi oleh hukum, termasuk Antasari Azhar, apalagi mereka-mereka itu adalah sebagai pemegang jabatan penting di negeri ini (pimpinan KPK, yang mestinya wajib menjadi panutan), jika bukan karena pelanggaran pidana yang begitu berat?

Sulit berbicara kepadamu, Gellok. Susah, kata Sordak. Pencarian batin dan nyalimu saya rasakan selalu terbangun dari sudut yang tak berdimensi nalar dan filosofi yang diperlukan, tak usah sampai nalar dan filosofi yang cukup tinggi. Kau hanya mampu berusaha kecil menyeka air mata, dan ketika tak kunjung berhenti dan orang yang menangis terus mengeluarkan air mata, kau pun tak segan dan selalu sibuk membenarkan tindakanmu bahwa kau sudah mengatasi masalah padahal akarnya sendiri kau tak pernah mau tahu, yakni mengapa seseorang menangis hingga mengeluarkan air mata. Kelasmu di situ. Sampai sebatas itu.

Sordak melanjutkan. Kita mungkin pernah memiliki KPK dengan sebuah kewibawaan dan dengan visi kerja yang menjawab kebutuhan zamannya. Tetapi ketika ada kekuatan politik yang memaksakan KPK kucar-kacir dengan dalih-dalih buatan menggelikan, akhirnya dunia pun wajib faham bahwa instrument KPK begitu riskan dan tak diperlukan sama sekali sehebat yang diinginkan oleh sejarah. Ibarat sebuah musik ia mungkin dianggap lebih baik dibatasi untuk dimainkan hanya pada rentang tangga nada tertentu tanpa beranjak dari kawasan sebuah oktaf.

Kekuatan mana yang membatasinya? Untuk amannya saya harus sebut Negara, meskipun saya sangat faham apa beda Negara dengan pemerintah. Karena Negara secara formal tetap saja abadi meski gonta-ganti pemerintahan seperti kita yang sudah memiliki 9 Presiden (Soekarno, Sjafroeddin Prawiranegara, Assaat, Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, Jokowi) dan 41 Kabinet di Negara yang sama, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang dimerdekakan dengan begitu susah payah pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pembatasan itu memaksa. Agenda ditetapkan, dan rakyat banyak tidak boleh tahu itu. Karena itulah KPK ini pasti merasa tak memiliki urusan untuk bertanya mengapa ada kejahatan-kejahatan besar yang membuat Indonesia sebagai Negara dengan dasar Pancasila tetapi memeragakan kehidupan senjang luar biasa dengan penguasaan segelintir warga istimewa terhadap mayoritas kekayaan dan aset. KPK mungkin lebih baik tak mengerti atau berpura-pura tidak tahu saja mengapa kejahatan struktural yang melahirkan kemiskinan struktural yang parah dengan rentetan penderitaan tak terperikan, antara lain penguasaan oleh warga Negara istimewa sebesar 0,2 % untuk 74 % luas lahan yang ada di Indonesia.

Tanggal 20 Agustus 2016 yang lalu ekonom Indonesia Faisal Basri memberi penjelasan dengan tegas tentang Tren Ketimpangan Memburuk dan Pesta Pora Kapitalis Kroni. Katanya, konsentrasi kekayaan menunjukkan kondisi ketimpangan yang amat parah. Indonesia menduduki peringkat ketiga terparah setelah Rusia dan Thailand. Satu persen rumah tangga Indonesia menguasai 50,3 % kekayaan nasional.

Semakin parah jika melihat penguasaan 10 persen terkaya yang menguasai 77 % kekayaan nasional. Jadi 90 % penduduk sisanya hanya menikmati tidak sampai seperempat kekayaan nasional. Lebih ironis lagi, sekitar dua pertiga kekayaan yang dikuasai orang kaya Indonesia diperoleh karena kedekatannya dengan penguasa. Crony-capitalism index Indonesia menduduki peringkat ketujuh.

Pantas saja para saudagar kian banyak yang menyemut ke dalam kekuasaan dan menguasai pucuk pimpinan partai politik. Karena dengan begitu kenikmatan berbisnisnya terlindungi. Sektor-sektor kroni pada umumnya bersandar pada fasilitas dan konsesi dari penguasa. Banyak dari mereka tidak siap bersaing secara sehat.

Tiba-tiba Sordak menganggap sudah lebih baik berhenti berbicara, karena merasa bahwa Gellok sudah tak faham. Sia-sia.

 

 

Shohibul Anshor Siregar.
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan,
Senin, 03 Oktober 2016, hlm B7


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: