'nBASIS

Home » ARTIKEL » GURU DAN SENIORKU: BUDI DERITA SINULINGGA

GURU DAN SENIORKU: BUDI DERITA SINULINGGA

AKSES

  • 535,235 KALI

ARSIP


14793900_1542571005760383_210180213_n

[Catatan menyambut peluncuran buku yang sekaligus untuk merayakan 40 Tahun Pernikahan Beliau bersama Bunda Samaria Br Tarigan]

Budi Derita Sinulingga. Saya baru tahu nama lengkap ini dalam buku ototobiografi yang tanggal 29 Oktober 2016 nanti akan diluncurkan. Otobiografi itu diberi judul “Birokrat, Akademisi, dan Pekerja Pelayan” yang diberi sub judul “Dengan Kerja Keras Semua Bisa”. Di dalam otobiografi itu pulalah saya temukan penjelasan “Derita” yang mengantarai nama awal (Budi) dan marga (Sinulingga) beliau.

“Derita” itu sebetulnya mewakili keadaan Indonesia pada masa beliau kecil (agresi Belanda I maupun II) yang juga akan dapat diceritakan dengan baik oleh banyak orang seusia beliau atau yang lebih tua. Memang begitulah susahnya keadaan Negara-bangsa kita waktu itu, berhadapan dengan banyak tantangan mulai dari perjuangan menegakkan eksistensi diri sebagai Negara merdeka, hingga upaya pemersatuan pada tahun-tahun berikutnya di antara kekuatan bangsa dan meredam berbagai konflik yang terjadi. Instabilitas yang menyebabkan banyak penderitaan itu menerpa keseluruhan, hampir tanpa kecuali.

Meskipun begitu, beliau menceritakan penuh keharuan dan sangat spesifik tentang pengalaman beliau dan yang berkaitan dengan pemberian (oleh ayah beliau) nama itu. Begini kata beliau:

“Setelah kembali dari pengungsian, maka ayahku memberi namaku Derita…. Latar belakang nama Derita ialah mengenang penderitaan selama masa pengungsian…. Semasa dalam gendongan tinggal di desa Kutabluh sampai tiba masa agresi Belanda yang ke dua yang dimulai tanggal 19 Desember 1948. Suasana menjadi berobah, karena ayahku seorang laskar pejuang yang berada di bawah pimpinan mayor Selamat Ginting, Komandan Sektor III yang sangat terkenal waktu itu.

Oleh karena para pejuang tidak mau menyerah maka semua keluarga pejuang harus meninggalkan kampung masing masing karena akan ditangkap oleh Belanda, terlebih waktu itu ada seorang Belanda yang mati tertembak di dekat kampung kami. Dalam usia kurang dari dua tahun, aku digendong ibuku selalu berpindah tempat, dalam pengungsian.

Satu ingatanku yang paling dini ialah ketika aku digendong ibuku dalam perjalanan dan melihat pesawat terbang. Maka ia bersembunyi di bawah pohon. Waktu itu aku pun tidak tahu kenapa bersembunyi. Setelah pesawat terbang jauh, barulah ibuku keluar dari bawah pohon dan melanjutkan perjalananan. Rupanya waktu itu pesawat mustang Belanda tidak segan segan menembaki para pengungsi yang ada di perjalanan”.

Esensi yang sama juga saya temukan ketika membaca otobiografi tokoh-tokoh lain, termasuk tentang kehidupan masa kecil Gubernur Raja Inal Siregar yang diceritakan dalam sebuah dokumen kecil yang menjelaskan latar belakang program Marsipature Hutana Be (Pesikap Kuta Kemulihenta). Saya juga pernah membaca tentang masa kecil bapak Presiden Soekarno, bapak Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, bapak Presiden RI Soeharto, bapak Mohammad Natsir, bapak Hamka, bapak Presiden BJ Habibie, dan lain-lain. Semua dapat dihubungkan dengan benang merah aksentuasi yang memberi pesan tentang betapa Indonesia didirikan tidak dengan mudah oleh para syuhada (pejuang) kita.

Pekerjaan seperti ini, mengisahkan ulang berbagai kejadian penting, apalagi yang meyangkut perjuangan bangsa, tak boleh menemukan perasaan bosan dan loja (capek). Sesuatu yang tidak boleh berhenti. Tentu dalam kaitan membangun kesadaran rasional memandang masa depan oleh generasi penyambung. Bukankah sejarah itu sesuatu yang berusaha mengonstruk masa depan dengan berbagai sublimasi yang diperlukan agar apa yang dipesankan oleh pepatah tidak terjadi: “jangan sampai jatuh dua kali ke lubang yang sama”, atau “kehilangan tongkat dua kali” ? Sejarah memang guru yang baik, selamanya.

Sebelumnya saya hanya tahu Budi Sinulingga, yang biasanya saya panggil “guru” atau “senior”. Memang kedua panggilan itulah yang selalu saya gunakan silih-berganti kepada beliau setiap bertemu.

Sesekali muncul juga pertanyaan dalam hati saya, apakah beliau keberatan dengan salah satu atau kedua panggilan saya itu. Bagaimana cara mengetahuinya ya? Beliau sangat matang. Tak pernah over-reaktif, dan karena itu pula tak mudah untuk membaca sikap senang atau kurang senang beliau terhadap sesuatu. Berbicara kepada senior, kepada orang segenerasi, kepada yang lebih muda, kepada yang memuji atau bahkan kepada yang mengeritik, saya perhatikan sama saja cara beliau. Karena itu saya tetap pada keyakinan saya bahwa panggilan paling tepat dan akan saya gunakan selamanya ialah guru dan senior.

Saya tak memiliki kedekatan pribadi dengan beliau dalam arti tidak pernah memiliki hubungan kerja resmi apa pun. Juga tidak pernah memiliki kesempatan berbincang khusus tentang hal-hal bersifat pribadi dan keluarga. Mungkin saya hanya ditakdirkan pernah dan berulangkali berada pada banyak forum yang sama dengan beliau dan karena itu pikiran-pikiran beliaulah yang lebih saya kenali.

Memang, suatu ketika, seorang teman, almarhum Juah Sinulingga, yang tinggal di sekitar Jalan Sembada Medan, memberi saya sebuah buku kecil tentang paguyuban Marga Sinulingga di Kota Medan. Saya perhatian daftar nama tokoh yang tertulis di situ. Ada nama beliau. Almarhum teman saya itu bercerita tentang ketokohan beliau, perannya dalam membangun solidaritas dan memerhatikan pembangunan di kampung halaman.

Saya lupa tahun berapa kejadiannya dan dalam forum apa. Beliau menyajikan pokok pikiran dengan mencantumkan sejumlah daftar literatur dalam naskah beliau. Usai forum saya temui beliau untuk meminta pinjam copy jika beliau tidak keberatan. Beberapa hari kemudian seseorang (kalau tak salah ajudan beliau yang kebetulan pula menjadi mahasiswa di tempat saya mengajar, UMSU), memberikan sejumlah buku kepada saya. Kepemilikan literatur itu menyebabkan saya merasa memiliki kedekatan dengan beliau. Tentu kedekatan di sini hanyalah dari perasaan subjektif saya pribadi.

Ada kenikmatan dan kemanfaatan besar bertemu, apalagi berinteraksi intensif, dengan para guru dan senior yang ahli dalam bidangnya. Akan saya gunakan sedikit ruang untuk menjelaskan itu di sini.

Saya tahu dan pernah bertemu dengan beberapa orang yang mungkin ketika berbicara tentang perencanaan dan pembangunan atau hal-hal terkait dengan kajian seputar itu, khususnya di daerah ini. Suatu ketika saya pernah meminta kepada rektor kami (UMSU) almarhum bapak Dr H Dalmy Iskandar untuk diikut-sertakan menghadiri undangan pembahasan Rencana Pembangunan Sumatera Utara di Binagraha yang waktu itu bapak Hadibroto menjadi narasumber. Beliau pun pernah kami undang ke kampus kami untuk studium general tentang arah pembangunan nasional. Saya juga akhirnya mengenal dan mengetahui jalan pikiran seorang yang namanya sebetulnya sudah lama saya ketahui, yakni bapak Abduh Pane. Menyenangkan menyimak uraian sistematisnya yang tak bernuansa agitatif sedikit pun.

Di ruang kerjanya di kampus UI Salemba, saya pernah berdiskusi cukup lama dengan bapak Prof Dr Sri-Edi Swasono. Ketika hadir berulangkali memberi kuliah di kampus kami, saya selalu ditugaskan untuk menjadi pendamping beliau, meski saya tidak belajar ekonomi. Isteri beliau, Ibu Prof Dr Mutia Hatta, seorang ahli Antropologi, juga pernah meminta saya mendamingi beliau untuk berkeliling kota Medan. Saya simak betul ucapan-ucapannya tentang arah pembangunan kota Medan, pola-pola investasi, segregasi dan ketimpangan yang semakin tak terdamaikan.

Bapak Prof Dr Jan S Aritonang, seorang tokoh Kristen yang banyak menulis buku tentang Gereja dan Batak, pernah saya temui di Jogjakarta. Ketika itu saya sedang meneliti Ugamo Malim untuk penyelesaian kuliah saya pada Program Pasca Sarjana (Sosiologi) di UGM. Beliau memberi saya banyak bahan bacaan yang kemudian saya foto copy dan sejumlah pertanyaan yang mengganjal di benak saya tentang Habatahon menemukan jawaban melalui diskusi dengan beliau.

Saya juga berkesempatan, atas jasa bapak Prof Dr Hotman Siahaan dari UNAIR, bertemu berulangkali dan berdiskusi dengan bapak JR Hutauruk, mantan Ephorus HKPB yang banyak memberi saya pengetahuan baru tentang relasi agama dan adat serta dimensi-dimensi ketegangannya.

Belum lama ini saya dipertemukan dalam sebuah forum dengan bapak Edwards McKinnon, arkeolog terkemuka yang beroleh ketenaran berkat karya-karyanya. Karya-karyanya saya sadari ke depan akan banyak merontokkan mitos tentang banyak hal sekitar kebudayaan dan juga sejarah. Hal yang sama saya simpulkan ketika bertemu dan berbincang dengan Uli Kozok yang melalui karyanya belakangan ini banyak mengguncang soal etape sejarah Batak Toba.

Suatu ketika saya harus terburu-buru (dari Jogjakarta) menuju Jakarta. Saya ingin bertemu dengan Bapak Mitsuo Nakamura dari Ciba University yang dalam rangka berkunjung sebagai tamu kehormatan pada Muktamar Muhammadiyah datang ke Indonesia bersama isterinya yang juga antroplog, Ibu Hisako Nakamura (salah satu karyanya Divorce in Java).

Ada dua kesempatan penting yang saya peroleh saat itu. Pertama pengajian PP Muhammadiyah di Jalan Menteng Raya Jakarta Pusat yang memberi kesempatan kepada bapak Mitsuo Nakamura untuk menjelaskan pandangannya tentang Muhammadiyah dan umat Islam Indonesia, dan diskusi mendalam yang dihadiri oleh awak media di rumah almarhum Bapak Lukman Harun, di Jalan Sukabumi Nomor 11 Jakarta. Di sana ada juga bapak Syu’bah Asa, pemeran Aidit dalam filem G 30 S PKI yang terkenal itu.

Dua orang autodidak almarhum Bapak HM Joesoef So’uyb dan almarhum Bapak H TA Lathief Rousydiy adalah tokoh yang secara langsung ada di ruangan tempat saya belajar saat menjadi mahasiswa. Begitu juga almarhum Bapak Prof M Adham Nasution yang pernah, setelah menguji saya (meja hijau) untuk program Sarjana, meminta saya datang ke ruangannya untuk menyampaikan keinginan beliau agar saya membantu beliau mengajar Sosiologi Pembangunan. Saya terima tugas itu dengan penuh penghargaan dan dengan demikian saya telah memanfaatkan banyak waktu dan kesempatan menimba ilmu dari beliau selama menjadi pembantu beliau.

Begitulah pandangan saya terhadap guru dan senior Budi Derita Sinulingga. Ia seorang pendidik, dalam dimensi spesifik yang saya kenali. Akan saya ceritakan tentang bobot akademis guru dan senior saya ini, betapa pun sedikit yang saya tahu tentang itu. Sejak awal cita cita beliau, sejak di ITB, sebetulnya ialah menjadi akademisi, karena senang ilmu pengetahuan dan berbakat untuk mengajar (memberi kuliah). Di ITB pernah menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Mekanika Teknik.

Dalam otobiografi ini beliau menceritakan perasaan senang menerima kedatangan sejumlah mahasiswa yang membutuhkan bimbingan beliau. Beliau menguasai hakekat ilmu yang diamanahkan untuk beliau ajarkan, hingga bisa menerbitkan dua buah diktat yaitu “Mekanika Teknik Statis Tak Tentu“ dan “Kokoh “ . Kedua diktat itu sangat laris dan dipakai sampai jauh keluar dari pulau Jawa. Bagi seorang “Derita” waktu itu hasil penjualan dikat pun tentu dihitung cermat dan memang dihitung-hitung dapat juga membiayai tugas akhir untuk mendapat gelar sarjana di ITB.

Mengapa beliau akhirnya tidak bekerja di dunia pendidikan adalah sesuatu yang menurut saya dijelaskan dalam otobiografi ini dan itu sangat terkait dengan “Derita” yang tanpa sadar membangun rasa tanggungjawab yang kuat, tak berjuang untuk diri sendiri, dan sedikit sikap safety first yang khas. Saya sebutkan khas adalah karena tak menjuruskan beliau menjadi seorang pragmatis sebagaimana umum terjadi pada orang-orang yang berangkat dari keadaan susah dalam keluarga.

Seangkatan beliau banyak di negeri ini yang akhirnya menyadari perlunya menambah title di belakang atau di depan nama. Sebagiannya terjerumus pada pragmatisme untuk hanya mengejar title itu. Tetapi guru dan senior saya ini menceritakan kisah berbeda tentang dirinya.

Punyakah pembaca seorang atau beberapa orang teman pejabat yang dalam masa jabatannya itu menyempatkan diri melanjutkan pendidikan S2 atau S3? Bagaimana mereka memandang kegiatan itu? Saya berharap tak banyaklah yang menjalaninya sambil lalu tetapi wisuda juga. Itu bukan tipikal guru dan senior saya ini.

Di Indonesia, titel itu sangat penting dan banyak dipergunakan pada tempat dan kesempatan yang salah. Salah satu efeknya ialah kerapnya ketak-sesuaian title dengan kemampuan. Guru dan senior saya ini tidak akan identik sama sekali dengan fenomena itu dan menjalani proses pendidikan yang diikutinya dengan sempurna. Bahkan saya membayangkan beberapa dari dosennya semasa S2 dan S3 mungkin begitu lemah penguasaan materinya di hadapan guru dan senior saya ini. Tentu saja bukan watak bagi guru dan senior saya ini untuk memberi reaksi yang menyulitkan.

Beberapa waktu lalu saya diundang ke sebuah forum diskusi yang ketika saya tiba di tempat acara saya temukan salah seorang pembicaranya adalah guru dan senior saya ini. Saya menyimak ulasannya yang cermat tentang World Class City. Saat diberi kesempatan, saya langsung memberi tanggapan yang saya tujukan kepada semua pembicara yang dimoderatori oleh rekan Jaya Arjuna dari USU. Waktu itu saya mengira guru dan senior saya ini sangat lemah dalam memahami konsepsi pembangunan berhubung terlalu lama di birokrasi.

Dalam pikiran saya tragedi menyeret-nyeret masyarakat ke pembangunan harus diakhiri, dirubah menjadi upaya serius mendekatkan pembangunan kepada masyarakat. Ketika menulis pengantar untuk buku (terjemahan) Tirai Kemiskinan karya Mahbub-Ul Haq, Mochtar Lubis saya catat meneruskan kritik tajam sesuai kondisi Indonesia sebagai Negara eks jajahan dan yang sulit terlepas dari ulah para komprador dengan aksentuasi pertumbuhan sebagai mitos yang faktanya tak pernah berkeadilan.

Growth Theory begitu kuat dan hasilnya pertumbuhan inklusif tak pernah terjadi. Brutalitas kapitalisme di Indonesia misalnya telah menunjukkan fakta kesenjangan tak terbantahkan. Tak sampai 2 % warga “istimewa” negeri ini menguasai hamper 80 % lahan dengan berbagai pertuntukan yang disahkan oleh Negara. Hanya sekitar 1 % warga istimewa yang menguasai dan mengontrol lebih dari 50 % kekayaan negeri ini. Memang inilah hasil akhir yang menimpa setelah mengikuti nasehat yang disampaikan setelah melempar kritik tajam tentang Ersatz capitalism oleh Kunio Yoshihara pada tahun 1980-an.

“Berbicara soal pertumbuhan ekonomi, maka selalu diukur dengan tingkatnya yaitu GNP percapita dan laju pertumbuhannya dengan persentase tertentu. Menurut Todarro 5-7 % adalah angka yang dituju, lebih dari itu sudah pertumbuhan yang cepat seperti yang dialami oleh Indonesia sebelum krisis ekonomi tahun 1998 dan juga negeri Cina yang sempat dua digit atau diatas 10 %. Tetapi disamping itu sering juga didengungkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, yaitu bagaimana mensehjaterakan masyakat atapun dengan kata lain meningkatkan Pembangunan Manusia yang sering diukur dengan HDI”.

Kalimat di atas adalah resume pemikiran guru dan senior saya ini yang tentu saja dihubungan dengan berbagai temuan dan teori yang dicantumkan dalam sejumlah literatur up to date yang akhirnya dengan tegar mengemukakan pendapat bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkualitas alias dapat mensejahterakan masyarakat ataupun meningkatakan pembangunan Manusia. Itu sangat penting, karena pembangunan itu tak lain kecuali pembangunan manusia (memanusiakan manusia). Itulah tujuan utama aktivitas manusia, sedangkan pertumbuhan ekonomi adalah instrumen belaka yang memang penting dalam memajukannya.

Meski saya belum pernah membaca disertasi beliau, tetapi saya yakin apa yang dikemukakan dalam salah satu bagian dari otobiografi beliau cukup mewakili. Bagi guru dan senior saya ini, GNP memberikan kontribusi untuk Pembangunan Manuisa melalui dua jalur. Pertama, aktvitas rumah tangga dalam perekonomian. Kedua, aktivitas pemerintah serta aktivitas masyarakat madani, seperti organisasi masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat yang juga turut mengambil peran yang disebut.

Adalah rumus yang kini sudah sangat diakui bahwa pertumbuhan ekonomi harus dikombinasikan dengan pemerataan dan hasil-hasil pembangunan. Kesamaan kesempatan harus terjamin untuk generasi sekarang dan generasi mendatang, dan semua orang, laki-laki dan perempuan, harus diberdayakan untuk mengambil bagian dalam merencanakan dan melaksanakan faktor-faktor kunci yang membentuk masa depan mereka. Guru dan senior saya berkata demikian:

Memang tidak ada hubungan yang sistematis antar pertumbuhan pendapatan dengan pembangunan manusia. Pembangunan manusia tidak hanya dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh distribusinya, jadi isunya bukan lagi berapa pertumbuhannya, tetapi juga bagaimana pertumbuhan itu terjadi. Haruslah diperhatikan struktur dan kualitas pertumbuhan itu diarahkan untuk mendukung peningkatan kualitas umat manusia sekarang dan generasi yang akan datang.

Pada kesempatan-kesempatan mendatang saya akan berusaha mengajak guru dan senior saya ini untuk berdiskusi tentang keadilan pembangunan dan bagaimana menyuarakan pemikiran yang sekiranya dapat menjadi penyeimbang bagi perilaku pembangunan yang tetap dengan growth oriented.

Selain tugas rutin beliau selama ini, kiranya masih sangat perlu dibebani lagi dengan tugas-tugas kebangsaan lainnya. Sebagai perbandingan, saya mencatat suatu kegembiraan tentang abang saya Dr RE Nainggolan, mantan Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, yang setelah pensiun dari birokrasi mendirikan sebuah Yayasan yang bekerja untuk melahirkan pemikiran-pemikiran tentang pembangunan.

Guru dan senior saya ini juga akan saya sarankan kelak berkenan membentuk Yayasan atau lembaga yang bekerja serupa. Banyak sekali yang masih harus dikerjakan oleh para senior yang memiliki kapasitas dan kepedulian seperti guru dan senior saya ini. Misalnya tentang ketimpangan pembangunan yang makin mengkhawatirkan. World Bank sendiri misalnya (2015) telah memberi catatan bahwa dalam rencana pembangunan jangka menengah pemerintah yang menetapkan sasaran untuk menurunkan tingkat koefisien gini, dari 41 menjadi 36 (2019).

Menurut World Bank urgensi mencermati 4 penyebab ketimpangan sangat penting ditanggulangi, yakni:

Pertama, ketimpangan peluang. Nasib anak dari keluarga miskin terpengaruh dalam budaya yang menyebabkannya sulit keluar dari kemiskinan itu.

Kedua, ketimpangan pasar kerja. Pekerja dengan keterampilan tinggi menerima penghasilan lebih besar. Faktanya Indonesia memiliki tenaga kerja yang mayoritas tak terdidik.

Ketiga, Konsentrasi kekayaan. Kaum elit di Indonesia memiliki asset dan keuangan yang perbedaaanya dengan kepemilikan mayoritas amat mencolok. Properti saham dan lain-lain ikut mendorong ketimpangan saat ini dan tentu saja pada masa depan juga.

Keempat, ketimpangan dalam menghadapi goncangan. Saat terjadi goncangan, masyarakat miskin dan rentan akan lebih terpuruk karena dampak, menurunkan kemampuan mereka secara drastic untuk memerolah pemasukan dan melakukan investasi kesehatan dan pendidikan.

Suatu ketika beberapa teman mengajak saya diskusi tentang pembangunan di Tanah Karo dan menyebut-nyebut sejumlah nama untuk dipromosikan sebagai calon Bupati. Ketika nama guru dan senor saya ini disebut-sebut, saya langsung memberi pendapat. Saya tidak setuju mengajukan nama beliau. Beliau bukan orang yang harus kita dorong-dorong memasuki dunia politik praktis yang begitu liar. Beliau akan berakhir dramatis pada waktu yang tak lama.

Hal yang sama pernah saya kemukakan dengan tulus kepada abang saya Dr RE Nainggolan saat beliau ikut mencalonkan diri sebagai Wakil Gubenur Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2013 yang lalu. Saya menghitung cermat, dan akhirnya saya kumpulkan keberanian untuk mengemukakan pokok pikiran saya kepada beliau.

Menurut saya ada perbedaan pengalaman beliau dalam birokrasi selama ini dengan keharusan perebutan kekuasaan melalui pilkada yang tidak boleh tidak masih selalu tak bermartabat. Posisi political pointy beliau selama ini dalam jabatan apa pun yang beliau emban, seluruhnya adalah rekrutmen berdasarkan kualitas (merit system). Sedangkan demokrasi kita saat ini masihlah sebatas prosedural, dan basisnya adalah transaksi politik yang koruptif.

Saya pernah bertemu (dalam sebuah ceramah tentang kebudayaan Karo di UGM) dengan Bapak Prof Dr Masri Singarimbun. Kesederhanaannya saya lihat amat identik dengan guru dan senior saya ini. “Tak mampu saya membayangkan orang baik-baik menjadi lain justru di penghujung usia produktifnya hanya karena obsesi kita yang tak realistis”. Itu jawaban saya ketika ditanya latar belakang penolakan guru dan senior saya ini memasuki arena politik yang liar itu.

Saya merenung cukup lama ketika beberapa waktu yang lalu guru dan senior saya Budi Derita Sinulingga meminta saya ikut memberi catatan tentang otobiografi beliau. Terus terang saya bertanya, mengapa saya? Memang siapa saya ini?

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: