'nBASIS

Home » ARTIKEL » MEMAHAMI GERAKAN SUPERDAMAI 212

MEMAHAMI GERAKAN SUPERDAMAI 212

AKSES

  • 568,980 KALI

ARSIP


memahami-212

Hegemoni tak boleh terusik. Itulah cita-cita besar sepanjang masa, dan Gerakan Bela Islam I, II dan III berhadapan dengan sulitnya merontokkan mitos itu.

Kenanglah Indonesia masa-masa gawat pada penghujung tahun 1960. Ada sebuah istilah yang dulu sangat populer yang melukiskan etape ketegangan dalam politik, yakni “hamil tua”. Itu memang bahasa lamanya. Melukiskan ketegangan yang sangat massif secara nasional, yang kurang lebih mengulangi ketegangan lama, seperti pada tahun-tahun terakhir penghujung Orde Lama di bawah pemerintahan Soekarno. “Hamil tua” melukiskan kondisi genting menanti kelahiran.

Kendati bentuk-bentuk yang akan diambil dalam benturan ideologis yang makin mengerucut pada situasi hadap-hadapan itu tercatat tiap hari semakin jelas, tetapi semua masih menahan diri pada tataran simbol-simbol dalam gerakan. Ingat baik-baik, sebagaimana pada penghujung Orde Lama yang sangat riuh itu, umat Islam menjadi salah satu dari dua pihak yang berhadap-hadapan penuh ketegangan. Ini seperti sebuah perulangan saja. Seolah tidak ada sesuatu pun yang harus diherankan. Ia (Islam) seolah tetap sebagai pihak pemberi reaksi belaka. Ini hanya babak baru dari gerakan abadi melawan penindasan yang akut sejak zaman kolonial ratusan tahun.

Perhatikan baik-baik. Umat Islam tak berusaha membungkus diri dengan label dan atau predikat apa pun kecuali predikat dirinya sendiri. Ia tak biasa bersandiwara. Tampaknya ia sedang mengalami sebuah proses penyadaran baru yang serius hingga ingin tak hanya memperkenalkan jatidiri sesungguhnya tak ubahnya di sebuah rimbaraya politik yang sangat berbahaya dan siap menggulungnya. Kendati sebenarnya ia hanyalah minta difahami dan dihargai (hak-haknya).

Gerakannya hanya sebatas berusaha berkata lebih jelas dan lebih terang-benderang tentang siapa dirinya yang selama ini selalu dianggap begitu sepele. Hanya berusaha sebatas merebut perhatian tentang siapa dirinya yang selama ini selalu dianggap tak perlu dihitung. Hanya sekadar mengekspresikan sesuatu tentang siapa dirinya yang selama ini tak memiliki pilihan lain kecuali begitu saja bersabar dalam iklim morat-marit (miskin dan bodoh) di bawah dikte kekuatan-kekuatan yang sama sekali tak difahaminya. Sekarang ia ingin difahami. Sekarang ia ingin ditempatkan secara bermartabat sesuai andil besarnya yang dikaburkan. Sekarang ia bahkan ingin dunia menilainya tanpa kendala untuk dibanggakan dalam demokrasi yang benar, jujur dan genuine. Sekarang ia minta segala label negatif dirinya yang dipasang berabad-abad oleh kekuatan tangan jahat dilepas tanpa syarat apa pun.

Kepada dirinya sendiri yang majemuk, ia pun kelihatannya memesankan secara lembut melalui berbagai ungkapan dan simbol yang semakin lama semakin jelas difahami bahwa semua ini memang hanyalah sebuah rangkaian panjang sejarah kelalaian yang fatal. Seolah ia berkata kepada dirinya sendiri, “menangislah seperti dituntunkan oleh ustaz Arifin Ilham yang lembut”. Kepada dirinya sendiri ia berpesan menyadarkan tentang tragedi besar numerical mayority  dalam fakta tak terbantahkan technical minority  terwariskan. Ia berusaha menjelaskan, meski tak begitu runtut, kepada dirinya sendiri, bahwa semua ini hanyalah sebuah kondisi yang benar-benar bersumber dari ketak-siapan agenda membaca masa depan dan betapa kita menjauhi semua titah ilahi (wa’tashimu bihablillahi jamia wala tafarraku: berpegang teguh pada kendali Allah dan jangan bercerai-berai). Ini sedang mereview dengan airmata pertaubatan yang bercucuran tentang keumatan yang tak pernah terkonsolidasi oleh kekuatan politik apa pun terutama setelah Soeharto bekerja “menusantarakan Indonesia” sesuai platform Kejawen sekuler yang dipaksa amat bersahabat dengan modal.

Tidak ada siklus berdasarkan hitungan masa dalam fenomena umat Islam Indonesia sebagaimana terlihat dalam gerakan Bela Islam I, II dan III. Sebagaimana terjadi pada awal abad 15 hijriyah, seolah tanpa disadari gerakan-gerakan memantik kesadaran muncul agak sporadis meski akhirnya mengonsolidasikan diri untuk muhasabah dan dari sana sedikit demi sedikit merumuskan tak hanya simbol, melainkan juga pekerjaan-pekerjaan yang perlu disegerakan. Ia hanya semakin cemburu dan semakin sadar tentang keadilan yang tak memihakinya dengan alasan yang tak masuk akal dalam sistem. Sistem itu sendirilah yang menyadarkannya setelah berulangkali babak belur di dalamnya. Hanya saja kini ia semakin berani terbuka dan meski ia sendiri berbelah-belah, sebagaimana dalam sebuah etape gerakan sosial yang lazim sepanjang sejarah, ada etape konsolidasi yang menunjukkan ia mengabaikan untuk sementara semua ufuk perbedaan yang maujud (eksis) sehingga ia memang tampak begitu besar dan dapat sangat menggentarkan siapa pun yang melihatnya sebagai musuhnya.

Tetapi ia akan dan selalu terbukti disudutkan dalam sejarah. Lawannya membungkus diri dengan label dan predikat tertentu yang atas nama dan untuk Indonesia yang ada dalam cita-citanya hanya akan diterjemahkan dengan sendirinya sebagai keindonesiaan terbaik. Damai. Indonesia damai. Satu. Indonesia satu. Kita. Indonesia kita. Merah Putih. Indonesia merah putih.

Banyak lagi istilah-istilah reaktif-artifisial untuk melawan Gerakan Bela Islam I, II dan III yang sangat mengundang pertanyaan akal sehat dan secara implisit dirancang sedemikian rapih berbubuh tuduhan peyoratif (merendahkan). Semua dinyatakan secara deklaratif-menantang agar benar-benar justified untuk klaim terbenar sebagai satria Indonesia dengan kadar kecintaan terbaik yang pernah ada sepanjang sejarah. Bhinneka terbaik Indonesia. Nasionalis terbaik Indonesia. Plural terbaik Indonesia. Maju terbaik Indonesia. Nusantara terbaik Indonesia. Damai terdamai Indonesia. Semua itu sambil menggandeng simbol-simbol resmi Negara. Gerakan ini ingin agar Negara serta merta menindas umat Islam. Mengapa? Karena dalam pikirannya ini adalah sebuah masalah besar untuk hegemoni yang sudah lama.

Hegemoni tak boleh terusik. Itulah cita-cita besar sepanjang masa, dan Gerakan Bela Islam I, II dan III berhadapan dengan sulitnya merontokkan mitos itu. Jika pada Gerakan Bela Islam II tanggal 4 Nopember 2016 Jokowi menghindar dan meski pada akhirnya memberikan penegasan sikap yang fifty-fifty (setengahnya membuat kepuasan umat), kunjungan demi kunjungan dan pertemuan demi pertemuannya dengan kelompok-kelompok Islam pada hari-hari berikutnya menandakan keseriusannya memahami ancaman keresahan akumulatif yang dapat menghadirkan peta kesulitan besar ke depan. Meski sangat jelas memahami bahwa tidak ada kemakaran apa pun dalam Gerakan Bela Islam I, II dan III, tetapi agaknya Presiden Jokowi faham sekali bahwa bahasanya tak begitu dipercaya oleh mayoritas yang dikunjunginya itu. Karena itu, entah mengapa pula, menegaskan kepastian loyalitas satuan-satuan militer seolah dipandang menjadi sebuah keharusan. Padahal Gerakan Bela Islam I dan II, begitu pun III tak berniat merongrong kekuasaan pemerintahan yang sah yang memerlukan mobilisasi kekuatan militer. Itulah sebabnya hal ini dipandang sangat tidak bijak oleh sesiapa pun yang ada dalam posisi membela Gerakan Bela Islam I, II dan III. Harapan tidak ada lagi Gerakan Islam III tanggal 2 Desember 2016 malah melahirkan kesunggulan lebih besar dan “memaksa” Presiden dan Wakil Presiden beserta sejumlah Menteri bergabung di Silang Monas di tengah guyuran hujan.

Buah ketidak-puasan tumbuh tak terbendung. Kini Gerakan Bela Islam III menyisakan kalkulasi penting tentang mengapa Ahok tak juga ditahan padahal dialah biang dari semua kekacauan ini. Di seberang lain sesal mendalam ditujukan kepada tindakan Presiden dan Wakil Presiden beserta para Menteri yang malah mengukuhkan Gerakan Aksi Bela Islam III sebagai doa besar umat Islam yang nilainya sungguh tak terhingga untuk maslahat bangsa dan negara. Tuduhan ditunggangi untuk Gerakan Bela Islam I sudah gugur dengan sendirinya. Tetapi kini media mainstream umumnya dengan begitu serius mengekspresikan kegembiraan para penentang Gerakan Islam I, II dan III karena di sana ada (berhasil diimbuhkan) label makar dengan adanya penangkapan-penangkapan sejumlah aktivis. Mereka dituduh makar, sesuatu yang amat serius dan diyakini akan dapat memicu persoalan baru lagi ke depan.

Sekiranya Presiden Jokowi memandu pemerintahan, khususnya dalam menghadapi Gerakan Bela Islam I, II dan III, dengan komunikasi substantif, sejak awal semua ini sudah berakhir dengan begitu indah, damai, penuh kemaafan, tanpa curiga, dan yang lebih penting sebetulnya memastikan Ahok tidak diistimewakan oleh hukum dan kekuatan penegakan hukum negara.  Tetapi kini orang bertanya serius mengapa ada penangkapan terhadap Rachmawati Soekarnoputri yang selama ini kerap menuduh secara serius mengapa Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi-JK tak memiliki kesungguhan mengadopsi gagasan besar Trisakti Bung Karno meski secara formal kerap menyebutnya dalam berbagai kesempatan? Mengapa Kivlan Zen yang terus-menerus menyuarakan bahaya kembalinya komunisme di Indonesia sebagai ideologi terlarang dan berbahaya bagi negari ini justru dituduh makar dan ditangkap? Mengapa Sri-Bintang Pamungkas yang selama ini sangat vocal menyuarakan kemandirian bangsa dan pembebasan dari neo-imperialisme dan neo-kolonialisme serta pembelaannya terhadap nasib umat Islam dan bangsa Indonesia di bawah hegemoni ekonomi minoritas yang semua lembaga ekonomi dan politik dunia sangat faham keadaan itu justru ditangkap dan dituduh makar? Mengapa Ratna Sarumpaet yang tak kenal lelah memberikan pembelaan terhadap rakyat Jakarta dan interupsi-interupsi penting berkenaan dengan semua ketak-beresan yang dilihat oleh seniman ini justru ditangkap dan dituduh makar? Mengapa mereka ini dan sejumlah orang lainnya yang menyuarakan kembali ke UUD 1945 sebagai solusi permasalahan nasional yang begitu akut ditangkap dengan tuduhan makar?

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dengan sabar memperlihatkan kesungguhan menunggu pihak Kepolisian dengan bukti-bukti sah tentang tuduhan makar itu sambil mengekspresikan kebebasan berinisiatif mengeluarkan pendapat sangat dijamin oleh konstitusi di Negara yang sudah memulai demokrasinya ini. Bahkan, menurutnya, jika pun semua orang yang dituduh makar itu akan meminta MPR melakukan sidang istimewa agar Indonesia kembali ke UUD 1945 tanpa amandemen, sangat tak masuk akal memaknainya makar.

Ada sebuah kekhawatiran munculnya dua irama dan ekspresi politik ke depan. Di satu pihak tepuk-tepuk tangan riuh akan dimobilisasi mengutuk Gerakan Aksi Bela Islam I, II dan III secara langsung maupun tidak langsung dan itu akan semakin menemukan keberaniannya sendiri melakukan apa yang dianggapnya perlu dan penting, apalagui simbol-simbol negara secara semberono dapat mereka sematkan ke dalam gerakan mereka. Di pihak lain muhasabah dan zikir para pembela Gerakan I, II dan III se-tanah air bisa masuk ke wilayah yang lebih sensitif dan menohok. Senjata orang-orang lemah (weapon of the weak) bisa memanfaatkan kelemahan diri sendiri sebagai modus. Bagaimana jika seruan rush money benar-benar dijalankan dan para pendukung Gerakan Bela Islam I, II dan III menarik semua uangnya yang sebetulnya tak seberapa itu (ingat umat Islam Indonesia ini mayoritas tak terdidik dan miskin) dari bank yang ada? Itu tidak perlu terjadi, karena Gerakan Bela Islam I, II dan III tidak ingin Indonesia mengalami kesulitan baru.

Mengapa Ahok tidak juga ditahan? Mengapa? Khutbah Jum’at Habib Rizieq menjelaskannya dengan rinci di Monas dengan Jama’ah Nasional yang luar biasa besar dan yang tak bubar oleh guyuran hujan itu. Ia mau jangan tak semua berbicara dan menyikapi sungguh-sungguh keadilan hukum terhadap penista agama Islam, sebab agama apa pun di Indonesia tidak boleh dinista. Gerakan Bela Islam I, II dan III adalah ekspresi reaktif belaka berbahasa anti ketidak-adilan dan penindasan. Indonesia harus sejahtera, dan itu memerlukan keadilan tak sebatas kata-kata. Indonesia wajib religious, karena itu memang niat awal mendirikan Indonesia merdeka.

Sebuah tausiah bergema di Monas menjelang sidang Jum’at. Katanya begini “Umat baru ini lemah lembut sesama muslim, tetapi tegas terhadap kafir. Rela berjihad di jalan Allah. Tidak takut dibully, dicaci dan dituduh”. Masih adakah orang yang akan berbisik Aksi Superdamai 212, Gerakan Islam I, II dan III, tak penting didengar dan usul-usulnya tak perlu diakomodasi? Situasi “hamil tua” harus berakhir damai untuk Indonesia. Itu tergantung kepada pemerintahan Presiden Jokowi.

Shohibul Anshor Siregar
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA
Medan, 5 Desember 2016, hlm B7

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: