'nBASIS

Home » ARTIKEL » Sri-Bintang Pamungkas: MAKAR ALA HABIBIE

Sri-Bintang Pamungkas: MAKAR ALA HABIBIE

AKSES

  • 538,596 KALI

ARSIP


15349609_10207781769324158_6031021898808190412_n

Sampai hari Minggu pagi tanggal 15 November itu, aku masih belum sadar benar akan makna tuduhan makar itu.

Baru sore harinya menjelang Maghrib, ketika aku sampai di rumah, sudah ada lima orang anggota Polri dengan pakaian dinas menungguku. Salah satunya aku kenal sebagai Pak Wim, yang pernah menjaga rumahku yang dilempari batu oleh orang tak dikenal sepulangku dari Jerman pada pertengahan April 1995. Sambil berjalan masuk rumah membawa tas kerjaku untuk menaruhnya di kamar kerja, aku tertegun dan menyapa mereka, setengah bertanya:

SBP: Lho, Pak Wim, apa khabar?
Wim: Khabar baik Pak Bintang. Mudah-mudahan bapak sekeluarga juga baik.
SBP: Sudah lama? Wah ada apa ini? Ada yang khusus, Pak Wim? Pak Wim, nama lengkap Pak Wim itu siapa ya? Maaf, aku lupa.
Wim: Wimpy Wukubun, Pak Bintang.
SBP: Ah, ya. Jadi, ada apa nih?
Wim: Begini, Pak Bintang. Sebelumnya mohon maaf. Saya mendapat perintah agar mengantar Pak Bintang ke Markas Besar.
SBP: Polri?
Wim: Benar, Pak.
SBP: Ada suratnya?
Wim: Ad, Pak.
SBP: Sekarang?
Wim: Siap, Pak.
SBP: Ya, aku pun baru datang. Jadi saya perlu sholat dulu dan tilpun ke beberapa orang.
Wim: Siap, Pak.
SBP: Ya, kalau begitu tunggu saja, ya. Sudah minum?
Wim: Siap, sudah, Pak.
*******

Aku berjalan menuju kamarku yang diikuti segera oleh Erna. Setelah pintu kamar ditutup, Erna bertanya:

Erna: Ada apa lagi?
SBP: DItangkap. Gak apa-apa. Nanti kan dilepas lagi. Ayah tidak berbuat apa-apa, kok. Cuma mau diperiksa. Nanti dilepas lagi.
Erna: Kira-kira, apa ini?
SBP: Pasti soal penembakan di Semanggi itu.
Erna: Kenapa ditangkap?
SBP: Dugaan ayah, kira-kira Pak Habibie mau menjadikan kita kambing hitam.
Erna: Jadi kenapa ayah yang ditangkap?
SBP: Kalau gak salah pasalnya pasal makar.
Erna: Ah, ayah.
SBP: Kan gak mungkin ayah makar. Apa yang mau dipakai untuk makar? Orang Orba memang suka main tuduh makar. Sekarang tenang saja. Ayah mau menilpun Bang Buyung dan lain-lain. Juga Mas Sr-Edi Swasono.
*******

Ah, kamu ya, Tanya Bang Ali Sadikin. Ya, Bang. Saya kira kita semua.  Sini, sini, kata Bang Ali Sadikin memintaku mendekat; lalu lanjutnya:

Bang Ali Sadikin: “Bintang, kamu kan gak ikut tandatangan di Sahid?” tanyanya melanjutkan dengan setengah berbisik.
SBP: Benar.
Bang Ali Sadikin: Jadi kenapa ditangkap?
SBP: Mungkin karena saya orasi di depan MPR. Saya meminta mahasiswa masuk, tetapi dicegah anak buah Bang Ali Sadikin.
Bang Ali Sadikin: Siapa?
SBP: Seorang Kolonel Marinir.
Bang Ali Sadikin: Ya sudah, saya sedang diperiksa sama penyidik ini. Kamu hati-hati, ya.
SBP: Beres, Bang. Sudah biasa.

*****

Ternyata Pak Kemal Idris adalah yang tiba pertamakali di Mabes Polri, sesudah Maghrib; disusul Bang Ali Salidikin hamoir bersamaan dengan Meilono Suwondo dan Sri-Edi Swasono sekitar pukul 19.30; baru kemudian aku. Mas Edi didampingi pengacara, aktivis muda, Syarief Simbolon.

Menurut Direktur Reserse Umum Kolonel Edi Darmadi, seluruhnya yang akan ditangkap adalah 21 orang. Mungkin itu berdasarkan jumlah penandatangan; dan berikut aku, menjadi 22 orang.

Rata-rata kami dituduh melakukan kejahatan terhadap keamanan Negara atau khususnya makar menurut pasal 107 dan 110 KUHP, serta aksi mencegah sidang lembaga perwakilan rakyat menurut pasal 110 KHUP.

*******

Kami sempat saling menunggu di lobby depan, sehingga bisa keluar bersama-sama. Seperti biasa, kami dicegat oleh para wartawan yang sudah berkumpul untuk dimintai pendapat kami. Bang Ali Sadikin yang pertama bicara, antara lain dikatakannya:

“Begitu takutnya Habibie kehilangan kekuasaan, lepas dari jabatannya, sampai-sampai saya yang sudah sejak 1978 mengambil posisi sebagai oposan, masih tega diperiksa juga. Pertemuan di Sahid itu sama sekali tidak menyinggung keinginan untuk makar. Apa yang kami lakukan hanya memberi alternatif lain agar kita semua bisa keluar dari masalah bangsa ini. Bayangkan, mahasiswa dan aparat beserta Pam Swakarsa sudah saling berhadapan untuk bentrok; itu kan situasi yang sudah sangat gawat. Sekarang malah pemuda dan mahasiswa dibunuhi lagi. Apa maunya Habibie? Apa maunya Wiranto?”

Sedangkan Pak Kemal Idris berkomentar lebih singkat lagi: “Tuduhan kepada kami adalah fitnah”, katanya memulai.

“Apa yang kami perjuangkan adalah upaya mengembalikan citra ABRI. Karena itu dibutuhkan kepemimpinan baru. ABRI harus mengubah sikap, karena ke depan harus lebih dekat kepada rakyat daripada kepada pemerintah. Mengapa pikiran seperti itu justru yang dituduhkan sebagai melakukan makar? Ini tentu fitnah”.

*******

Sedangkan aku merasa ada yang masih perlu ditambahkan:

“Pertama, saya memang tidak menandatangani Komunike Bersama. Tidak berarti saya tidak setuju. Bahkan hari pertama dimulainya rancangan komunike tersebut, sayalah yang mengundang para tokoh itu untuk datang ke YLBHI. Memang selanjutnya sesudah itu saya tidak ikut serta menyusunnya seperti bentuk Komunike Bersama yang sekarang. Akan tetapi kalau saya, akan menyusunnya lebih rinci lagi, yaitu tentang apa saja yang akan kami kerjakan kalau Presidium terbentuk. Ini saya sampaikan pula kepada penyidik; bahwa di antara kami ada sedikit perbedaan.

Kedua, saya dituduh dengan pasal yang sama, akan tetapi oleh sebab saya berorasi di depan MPR pada tanggal 11 dan dituduh melakukan provakasi kepada mahasiswa untuk masuk ke DPR/MPR. Selain itu ada pertanyaan dari penyidik yang kiranya bisa disimpulkan tentang telah terjadinya kesalahan intelijen. Yaitu, mereka mendapat informasi, bahwa pada tanggal 13 pukul 16.000 gedung DPR/MPR akan diserbu oleh ribuah mahasiswa. Secara kebetulan, ada informasi yang konon datang dari Hotel Sahid, mengatakan bahwa para penandatangan Komunike Bersama telah “menunggangi” para mahasiswa. Oleh karena itu Presiden BJ Habibie menyatakan “akan menindak tegas”. Ini pun kemudian diartikan secara keliru oleh aparat keamanan, dengan boleh menembak” para mahasiswa yang diduga akan menyerbu DPR/MPR. Kalau dicermati, penembakan itu tepat terjadi beberapa saat sesudah pukul 16.00.

Jadi ini semua adalah kesalahan intelijen dalam mengartikan informasi. Menurut saya, mestinya Menhankam/Pangab yang paling bertanggungjawab dalam soal itu, yang berakibat pada tewasnya 16 pemuda dan mahasiswa. Nah, penangkapan terhadap kami itu punya maksud intelijen untuk menjadikan kami sebagai kambing hitam. Demikian. Terimakasih”.

(Dipetik dari Sri-Bintang Pamungkas: Ganti Rezim Ganti Sistim, Pergulatan Menguasai Nusantara, 2014, hlm 163-171).

 

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: