'nBASIS

Home » ARTIKEL » MELONTAR JUMRAH

MELONTAR JUMRAH

AKSES

  • 550,950 KALI

ARSIP


ZIKIR DAN DOA BERSAMA

Tidak ada lagi Aksi Bela Islam IV, tegas Habib Rizieq Shihab. Baginya semua yang telah dilakukan sudah cukup. Tetapi jika ternyata peradilan terhadap Ahok dalam kasus penistaan agama Islam itu hanya menghasilkan kekecewaan bagi rasa dan nalar keadilan umat, apalagi terdakwa ini dibebaskan dari segala tuntutan, jalan terakhir hanya satu: revolusi.

Itu berarti Aksi Bela Islam I, II dan III yang sudah dijalankan dengan begitu damai adalah upaya sepatutnya (moral obligation) dan normal-konstitusional bagi suatu umat yang secara de facto dan de jure adalah sebagai bagian integral dari bangsa dengan komposisi demografis maoritas, dalam memengaruhi Negara agar adil dan tegar menegakkan keadilan itu. Semua ada batasnya, dan ketika sudah terlampaui, nilai-nilai kesantunan dan ketundukan kepada umara (pemerintah) sudah harus dievaluasi kembali dan dihadapi dengan cara lain, yakni revolusi itu.

Tetapi itu semua hanyalah sesuatu yang dapat muncul sebagai akibat belaka dan tak mungkin tidak hanya apabila hukum sudah tidak mendengar hati nurani. Hanya saja Syamsuddin Haris dari LIPI, dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Ilmu Politik (AIPI) dan Populi Center, di Jakarta, Kamis 15 Desember 2016 yang lalu, cenderung menyederhanakan budaya dan alam pikiran umat Islam Indonesia ketika ia mengatakan kemungkinan hukum jalanan juga bisa terjadi.

Syamsuddin Haris mungkin tak sempat memperkaya imaginasi tentang kemungkinan variasi perlawanan-perlawanan orang-orang lemah dan tertindas dalam sejarah. Terbukti tidak semua mengambil modus kekerasan. Sejarah dunia telah menceritakan sejumlah non-violence movement  yang berhasil merubah tatanan tanpa setetes darah pun tumpah ke bumi.  Revolusi bisa berbagai bentuk, sebut sajalah revolusi mental yang dikampanyekan oleh Presiden Jokowi. Itu tak pernah terpikirkan oleh Syamsuddin Haris. Mungkin ia hanya terpikat untuk menganalisis meme yang beredar di dunia maya tentang Lontar Jumrah pasca Aksi Bela Islam III. Lontar Jumrah adalah salah satu kegiatan dalam rangkaian ibadah haji, simbolisasi yang mengikuti kisah nabi Ibrahim. Lontaran bukan dengan batu besar, tetapi difahamkan sebagai pernyataan simbolis memerangi syaiton dan para pengikutnya.

Memang benar, Habib Rizieq Shihab tidak sedang menakut-nakuti, tidak sedang mengancam, dan tidak sedang pamer kekuatan kepada siapa pun. Ia pun sangat sadar bahwa ia bukan siapa-siapa. Seluruh jamaah yang hadir di Monas pada tanggal 2 Desember 2016 bukan karena daya magnetik dia yang memukau dan mempesona. Bukan sama sekali. Juga bukan karena pengaruh ormas yang mana pun. Bukan karena kampanye organisasi Islam mana pun, bukan karena kiyahi dan habib yang mana pun. Bukan karena kekuatan fatwa belaka. Melainkan akumulasi kekecewaan sudah sampai pada sebuah titik kulminasi yang tak begitu disadari (terutama oleh pemerintah) dengan tumbuhnya secara alamiah kesadaran yang sangat massif bahwa keadilan begitu mahal dan harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, mungkin tak hanya dengan kata-kata pembentuk opini publik (al-lisan), tetapi juga mungkin wajib dengan harta (al-mal) dan bahkan mungkin pula sudah tiba saatnya dengan mengorbankan keselamatan jiwa-raga (an-nafs).

Habib Rizieq sendiri hanyalah satu di antara mata rantai kesadaran itu, dan bekerja hanya menjalankan apa yang benar menurut tuntunan syariah yang baku. Itu ia tegaskan dengan sangat jujur. Karena itu akan sia-sia orang yang berfikir model kejama’ahan komandoisme yang lazim dalam fakta-fakta sosial kemasyarakatan di Indonesia. Ia hanya mengomandokan dirinya sendiri berdasarkan dialognya dengan Al-Qur’an dan mengekspresikannya dalam kehidupan yang kemudian menjadi perbandingan stimulatif  bagi setiap jaringan umat yang sedang mempertanyakan arah Negara dan keadilan.

Sebagaimana halnya hampir seluruh umat Islam dunia bertanya, Habib Rizieq Shihab pun mengekspresikan keheranannya atas nasib Islam yang mayoritas di negerinya sendiri itu di hadapan jutaan jama’ah yang datang dari hampir seluruh penjuru tanah air. Ia benar-benar ingin menegaskan betapa berbahayanya sikap abu-abu dan pragmatis banyak orang di dalam jaringan kekuasaan yang begitu banyak merugikan Islam. Mengapa begitu sepele orang memandang dan memperlakukan Islam? Karena itu dengan sangat santun dan tegas ia ingin menyuruh berfikir semua orang: “Kitab suci tidak boleh dipermainkan”. Allah menyatakan dalam Al-Qur’anulkarim innallaha ya’murukum bil’adli wa ihsan. Sesugguhnya Allah memerintahkan menegakkan keadilan; justice for all. Justice, keadilan, itu untuk semua umat manusia, tanpa memandang suku, tanpa memandang bangsa, tanpa memandang agama, semua umat manusia wajib untuk diperlakukan dengan adil, saudara. Dan penegakan keadilan itu pun juga harus menjamin setiap agama yang ada di bumi Indonesia ini, tidak boleh dinistakan, saudara. Allah nyatakan dalam Al-Qur’anulkarim “jangan sekali-kali kau mencaci-maki, kau menista, kau menodai orang-orang yang menyembah selain Allah”.

Dengan berkata “kalau umat agama lain saja tidak boleh kita nistakan, apalagi umat Islam, umatnya nabi Muhammad SAW”, Habib Rizieq sekaligus membentangkan nalar dan logika keislaman berkaitan dengan rukun dalam kemajemukan. Ia sama sekali tidak sedang bermanis mukut ketika berkata “karena itu, saudara, Kristen tidak boleh kita nistakan. Katholik, tidak boleh kita hina-hina. Buddha, Hindu, Kong Hu Chu, tidak boleh ada yang mencaci-makinya saudara. Apalagi agama Islam yang merupakan agama mayoritas penduduk RI”. Status mayoritas Islam di Indonesia dan di mana pun di benua terbentang ini, adalah jaminan bagi hidup aman dan tenteram bagi semua orang yang jamak dalam ideologi, agama dan budaya.

Tafsir-tafsir pun bermunculan tentang ungkapan-ungkapan Habib Rizieq Shihab. Islam akan melakukan sesuatu, dan itu pastilah menjadi mesin pelindas yang akan merusak NKRI yang harga mati itu. Habib Rizieq Shihab sangat menyadari pikiran-pikiran kotor itu, dan lalu berkata demikian:

“…….saya ingin sampaikan kepada seluruh ulama, kepada seluruh umara yang hadir bersama kita di tempat ini. Hari ini jutaan umat Islam datang ke Jakarta bukan untuk merusak NKRI;  bukan untuk melawan Pancasila; bukan untuk menodai UUD 1945; dan bukan juga untuk menghancurkan kebinneka Tungal Ikaan kita. Tapi jutaan umat Islam ini, saya sampaikan kepada seluruh ulama dan umara, khususnya kepada bapak Presiden, mereka datang untuk membela Al-Qur’an, mereka datang untuk membela agama, mereka datang untuk menegakkan hukum, justru karena mereka cinta kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika…….”.

Secara subjektif pemeluk agama mana pun pasti akan menujukkan keinginannya beroleh keadilan ketika agamanya dinitsa. Karena itu, mengapa harus ada kekuatan yang seolah-olah menghalang-halangi umat Islam Indonesia mendapatkan hak normatifnya (keadilan)? Karena itu cukup fair ketika Habib Rizieq berkata:

“kita ingin nyatakan di depan seluruh ulama dan umara, khususnya pimpinan MPR dan DPR juga Presiden, bahwa agama apa pun tidak boleh dinistakan di Indonesia, dan siapa pun, sekali lagi, siapa pun manusianya, yang menistakan agama apa pun, mereka harus ditahan, mereka harus ditangkap, mereka harus diseret ke pengadilan dan mereka harus dihukum yang berat, saudara. Sebab, sekali saja penista agama dibiarkan, besok semua akan mudah untuk dinistakan saudara”.

Seiring perkembangan kasus penistaan agama Islam oleh Ahok dan Aksi Bela Islam I, II dan III, kini berseliweran opini untuk menyudutkan umat Islam antara lain dengan mengatakan bahwa urusan ini hanya dipicu oleh pilkada DKI mengingat tiadanya kandidat yang mampu menyaingin Ahok dengan karya-karya besarnya dan semua koruptor takut kepada Ahok hingga memilih jalan pintas berbau SARA yang anti keberagaman dan anti NKRI. Sebetulnya ini juga adalah merupakan jenis penistaan juga. Padahal tindak penistaan agama itu sama sekali tidak identik dengan ekspresi keberagaman, ekpresi kemajemukan, dan kebhinnekaan. Penistaan agama itu jelas pelanggaran hukum, dan itu benar-benar sebuah upaya penghancuran NKRI, penghancuran Bhinneka Tungal Ika. Karena itu Habib Rizieq Shihab menginginkan stop segala bentuk penistaan agama, dan adili semua penista agama yang ada di Indonesia.

Apa yang akan diekspresikan oleh umat lain ketika kitab suci agamanya dinista? Bukankah ayat suci berada di atas ayat konstitusi, dan karena ia adalah kalam Ilahi, firman Ilahi maka umat agama mana pun akan mengekspresikan substansi tuntutan bahwa kehendak kitab suci adalah harga mati untuk dipatuhi, untuk ditaati? Kedudukan kitab suci sangat berbeda dengan hukum positif yang berlaku di Negara mana pun. Karena itu, menurut Habib Rizieq Shihab tidak boleh diganti, tidak boleh direvisi.

Mungkin kedengarannya akan sangat menggetarkan bagi siapa pun yang bukan penganut agama Islam di Indonesia ketika Habib Rizieq Shihab berkata:

“…….konstitusi itu produk akal bashari, produk akal insani,  sehingga tidak boleh bertentangan dengan ayat suci. Ayat konstitusi yang mana pun yang sejalan dengan ayat suci, yang tidak bertentangan dengan Al-quran dan Hadits Nabi, yang tidak berlawanan dengan hukum Allah dan rasul-NYA, yang tidak melawan dengan syariah Islam, kita sebagai umat Islam Indonesia wajib untuk mematuhinya saudara. Tapi manakala ada ayat konstitusi yang bertentangan dengan ayat suci, bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Nabi, bertentangan dengan hukum Allah dan rasul-NYA, menabrak aturan-aturan syariah Islam,  maka umat Islam wajib untuk menolaknya; wajib untuk meluruskannya; wajib untuk mengembalikannya ke jalan Allah, agar tidak bertentangan dengan ayat suci”.

Apalagi ketika pada penghujung khotbahnya Habib Rizieq Shihab menegaskan

“…….saya ingin ingatkan, hari ini kita kumpul karena surah Al-Maidah ayat 51 dinistakan. Ingat, ini isyaratun ilahiyyah. Ini isyarat dari Allah. Bahwa perjuangan kita tidak hanya sampai kepada Ahok ditahan atau dipenjara. Tapi harus lebih dari itu. Surah Al-Maidah ayat 51 harus ditegakkan di bumi Indonesia. Harus diberlakukan di bumi Indonesia, bumi yang berpenduduk mayoritas muslim, harus tunduk kepada Al-Qur’anulkarim. Tidak boleh ada lagi yang menghalang untuk penerapan Surah Al-Maidah ayat 51”.

Ketika, Prof JE Sahetapy mengatakan dalam satu khotbahnya sembari mengutip ayat Injil, bahwa seluruh jamaah gereja harus mendukung Ahok sampai menjadi presiden RI nanti, siapakah yang protes dan menuduh khutbah Sahetapy itu penuh provokasi memecah belah dan dimotivasi oleh ambisi politik yang kotor? Itu tidak perlu. Tetapi ketika JE Sahetapy dan seluruh orang yang sefaham dengannya di negeri ini menemukan kesadaran umat Islam untuk tidak lagi dipimpin oleh orang yang tak seakidah dengannya, peradilan demokrasi mana yang mampu menyelesaikannya? Akankah umat Islam harus dipersalahkan? Jangan begitu.

Ini tidak sederhana, ini semua adalah pertikaian yang tak perlu perlu ditutup-tutupi lagi. Ide revolusi berdasarkan simbol lontar Jumrah sedang mencari pola dan bentuk yang paling efektif.

Shohibul Anshor Siregar.
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada,
Medan, 19 Desember 2016, hlm B7.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: