'nBASIS

Home » ARTIKEL » MEDAN RUMAH KITA

MEDAN RUMAH KITA

AKSES

  • 564,277 KALI

ARSIP


medan-rumah-kita

| Semua umat beragama tahu bahwa penganut agama lain meyakini agamanyalah yang terbaik dan menjadi jaminan untuk maslahat dunia dan akhirat | Bisakah hidup rukun dalam perbedaan? | Itu memang harus diperjuangkan bersama|

Jurnalis Rijam Kamal Siahaan mempertegas “Bukan Burhanuddin Siagian mantan Pangdam I/BB yang berpangkat Mayor Jenderal itu, pak”, ketika  ia meminta tanggapan saya tentang kejadian Kamis malam ba’da sholat Isya (26/1/2017) di sebuah Masjid Taqwa di Kecamatan Medan Timur. Masjid itu memang, sebagaimana seluruh masjid Taqwa milik Muhammadiyah lainnya di Indonesia, secara rutin wajib menyelenggarakan pengajian entah itu ba’da sholat Maghrib atau waktu-waktu lain yang ditentukan oleh badan kenaziran bekerjasama dengan Majelis Tabligh, salah satu organ dalam pimpinan Muhammadiyah.

Adalah Valentina Boru Pasaribu yang mengawali protes yang kemudian diikuti oleh belasan lainnya terhadap tausiah ustaz Burhanuddin Siagian seputar fakta-fakta tak terbantahkan mengenai andil umat Islam dalam kepeloporan perjuangan memerdekaan Indonesia.  Orang kerap menyebut penyandang gelar akademik magister (Agama) yang juga mahir memainkan gitar ini sebagai ustaz mu’allaf. Burhanuddin Siagian sebetulnya beprofesi sebagai praktisi pendidikan (dosen) sekaligus selalu berusaha membagi waktunya untuk mengisi peran sebagai guru jama’ah. Ia juga kerap melakukan muhibbah ke daerah-daerah rawan dakwah. Ia cukup dikenal dalam peta pejuang dakwah di Indonesia.

Saya pernah menyaksikan video tentang kegiatan dakwah Burhanuddin Siagian ditayangkan oleh pimpinan jama’ah yang menyelenggarakan sholat Jum’at di Bandara Soekarno-Hatta, sambil meminta uluran tangan untuk pembiayaan kegiatan ustaz ini. Ketika saya konfirmasi kepada ustaz Burhanuddin Siagian, ia malah tidak tahu dan tak pernah mendokumentasikan kegiatan dakwahnya. Jangankan untuk diedarkan ke berbagai penjuru tanah air. Ia pun menyatakan bahwa sumber pembiayaan dakwahnya, khususnya ke daerah rawan dakwah, selama ini berasal dari tokoh-tokoh muslim lokal.

Burhanuddin Siagian dalam setiap ceramahnya memiliki ciri khas karena penguasaanya dalam bidang kajian perbandingan agama (comparative religion). Mungkin karena latar belakang sebagai mu’allaf, aktivis dakwah seperti Burhanuddin Siagian memang kerap memilih pencerahan berdasarkan perspektif perbandingan teologi dan syariat agama-agama, khususnya di antara sesama yang dikenal sebagai agama samawi. Dalam catatan dakwah di kota Medan, pilihan kecenderungan kajian ustaz Burhanuddin Siagian sangat identik dengan kerja-kerja ustaz ahli tafsir almarhum Gazali Pasaribu dan juga almarhum ustaz Abdullah Sinaga. Ilmuan autodidak almarhum HM Joesoef Sou’yb tentulah memiliki kelas tersendiri dengan penguasaannya yang sangat baik terhadap bahasa-bahasa kitab suci selain Arab (Al-qur’an). Hanya saja almarhum HM Joesoef Sou’yb lebih memiliki kompetensi yang sangat luar biasa tidak di atas panggung (podium), melainkan melalui tulisan.

Disadari atau tidak, kajian perbandingan agama di Indonesia saat ini tidak lagi terbatas pada kelas-kelas di perguruan tinggi. Bahkan banyak publikasi yang dapat disaksikan melalui youtube menyajikan debat-debat serius di antara para ahli agama yang berbeda khususnya Islam dan Kristen. Ini kelihatan mengikuti saja atas aktivitas dakwah Islam yang mendunia yang dilakukan oleh seorang dokter yang luar biasa, Zakir Naik dan pendahulunya Ahmed Deedat.

Di tingkat Nasional saat ini akan dengan mudah bertemu dengan video ustaz Ihsan Mokoginta, Syamsul Arifin Nababan, Felix Siaw dan lain-lain. Sensitivitas (bagi yang bukan muslim) tentu akan sangat berbeda ketika mendengarkan tausiah perbandingan agama dari orang yang dulunya beragama Kristen, sebagaimana halnya muslim akan merasa sangat terganggu mengikuti kajian kritik atas ajaran Islam dari seorang murtad.

Apa yang kini mulai muncul kembali dalam fenomena relasi antar agama di Indonesia ialah debat-debat publik di antara para ahli yang berbeda kepercayaan. Hasilnya kita belum tahu, tetapi ini bukan sesuatu yang baru jika dihubungkan dengan keadaan pada tahun-tahun pasca kemerdekaan. Paradoksnya sangat terasa, ada liberalitas mengajukan kontroversi ajaran agama-agama di tengah Negara berbicara setengah faham tentang SARA dan keinginan bersejuk-sejuk dalam tema pluralisme. Apa yang menarik untuk dicatat dari kejadian ini?

Dalam terminologi sosiologi ada yang disebut cultural goal (cita-cita budaya) yang lazimnya dapat merajut perbedaan di antara warga yang majemuk. Cultural goal  itu bersifat ideal sehingga karena idealitasnya itu pula membuatnya tidak serta merta dengan mudah dapat dicapai. Tetapi mestinya lazim dianggap mampu merajut seluruh warga untuk sekaligus mengenyampingkan detil-detil perbedaan yang bagaimana pun mesti ada selamanya di antara mereka, karena bermacam latar belakang seperti kelas sosial ekonomi, termasuk agama.

Lazimnya lagi, dalam setiap kemajemukan ada peluang tampilnya salah satu unsur yang akhirnya menjadi lebih dominan (dominant culture) dan itu tak selamanya karena dominant culture itu didukung oleh jumlah penukung yang lebih unggul secara kuantitatif. Sifat posisi dominant culture itu memang tidak selalu permanen, karena sesungguhnya di antara sesamanya ada rivalitas yang berlangsung. Meski dibingkai oleh cultural goal  tadi, jika salah satu unsur atau secara bersama-sama tanpa disadari melanggar norma kemajemukan, maka prinsip-prinsip fairness semakin lama akan semakin melemah, dan munculnya penguatan perasaan in group (kita) dan out group (mereka) dapat menjurus kepada ketegangan yang merugikan, apalagi tidak ada atau tidak ada lagi koridor yang tersedia untuk dialog secara efektif.

Mula-mula mungkin yang satu merasa tak begitu memerlukan yang lain lagi. Jika dibiarkan akan beranjak kepada kondisi lebih serius yakni yang satu merasa dimusuhi atau malah sudah merasa perlu memusuhi yang lain. Bagaimana pun juga, ini selalu bersifat resiprokal (ibarat berbalas pantun). Kondisi seperti ini adalah tahapan yang menunjukkan institutionaluzed mean (sarana terlembaga untuk mewadahi proses pencapaian tujuan) sudah tak mampu lagi menampung dinamika ke arah pencapaian cultural goal.

Kita tahu kota Medan memiliki karakter demografi yang khas. Dengan luas wilayah 265,10 km2 kota ini memiliki populasi ( 2015) 2.210.624 jiwa dengan kepadatan 8.008/km2. Di tanah Melayu ini bermukim orang Melayu sendiri, Jawa sebagai mayoritas, Tionghoa sebagai kelompok etnis penguasa ekonomi, Orang Tapanuli (Mandailing, Angkola, Toba) yang memiliki sejarah panjang dalam birokrasi dan politik, Minangkabau yang memiliki reputasi besar dalam dagang menengah dan kecil, Karo, Aceh, Tamil dan suku-suku Indonesia lainnya. Komposisi keberagamaan menunjukkan Islam (68,83%) sebagai mayoritas disusul Protestan (20,27%), Buddha (8,79%), Katolik (2,79%), Hindu (0,44%), dan masih ada yang lainnya (0,85%).  Kota Medan memiliki 2.676 rumah ibadah terdiri dari 1721 Masjid dan Musholla, 691 Gereja Protestan, 35 Gereja Katholik, 33 Kuil, 135 Vihara dan 60 Klenteng.

Medan Rumah kita memang menghendaki sebuah perspektif yang khas dan benar. Tak sekadar memperbesar kesan palsu yang seram seperti dikeluhkan oleh Romo H Raden Muhammad Syafii dengan stigmatisasi terhadap umat Islam karena untuk setiap perayaan natal pihak Kepolisian menjaga gereja, sesuatu yang baginya cukup berbahaya bagi Islam di Indonesia dan wajib segera dihentikan.

Meski misalnya berbeda agama, namun selalu ada banyak faktor perajut solidaritas ganda antara satu dengan yang lain. Misalnya si A muslim dan si B Kristen. Urusan hidup keseharian keduanya tidak melulu pada ufuk diametral, karena (misalnya) di kantor mereka adalah satu tim kerja, atau dalam klub olah raga mereka adalah duet andalan tim. Atau dalam organisasi kepemudaan mereka adalah sesama pengurus inti.

Fakta bahwa dalam adat orang Batak misalnya ada solidaritas dalihan na tolu (three exogamic Merriage systemliquid social structure) yang dapat mengurangi setiap potensi ketegangan. Ustaz Burhanuddin Siagian itu misalnya, hingga kini setahu saya masih memiliki amanguda (pak cik) atau amangtua (uwak) atan namboru (bibi) yang berbeda agama dengannya. Dia pasti sangat faham menata modus vivendi (posisi) dan modus operandi (pola interaksi) dengan pihak yang berbeda agama dengannya.

Karena itu labrakan Valentina Boru Pasaribu ke wilayah yang melampaui batas demarkasi fisik dan psikogis tidak seharusnya terjadi. Jika misalnya ia merasa kurang cocok dengan isi ceramah ustaz Burhan Siagian ia bisa berkomunikasi lebih santun, atau bahkan jika menilai sudah ada pelanggaran serius ia bisa melakukan upaya hukum. Semua umat beragama tahu bahwa penganut agama lain meyakini agamanyalah yang terbaik dan menjadi jaminan untuk maslahat dunia dan akhirat.

Bisakah hidup rukun dalam perbedaan? Itu memang harus diperjuangkan bersama. Dalam Islam misalnya ada dalil tak boleh memaksakan agama kepada orang beragama lain (QS Al Baqarah: 256), dan juga (sebagaimana) diingatkan oleh Habib Rizieq pada khutbahnya di Monas Jakarta saat Jum’atan aksi Superdamai 212, agama apa pun tidak boleh dinistakan (QS Al-An’am:108).

Belakangan ini memang harus diakui adanya peningkatan ketegangan yang mengganggu kerukunan secara nasional yang saya yakini akar persoalannya berawal di Jakarta. Juga saya yakini memiliki Meski Aksi Bela Islam I, II dan III adalah salah satu ekspresi dari ketegangan itu, namun pembelahan solidaritas sangat terasa, baik oleh media maupun yang lain.

Naskah ini diterbitkan oleh Harian Waspada,
Medan, Senin, 30 Januari 2017, hlm B9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: