'nBASIS

Home » ARTIKEL » JANGAN SESALI AHY DAN SBY

JANGAN SESALI AHY DAN SBY

AKSES

  • 541,646 KALI

ARSIP


Kalaulah kita agak jeli memerhatikan pakem2 baru dalam perkembangan global, terutama militer semasa pemerintahan Jokowi, maka kita pasti bisa merasakan degradasi atau tepatnya reposisi peran militer yang belum terurus. Lihat saja kewenangan panglima saja sudah direDuksi, tetmasuk soal budget.

Taklah ada sebuah karpet merah panjang utk AHY sebagai militer selama Jokowi berkuasa. Jika pun akan meraih bintang, paling banter hanya 1 dan itu akan sangat-sangat sulit. Jadi, dilihat dari segi itu keputusan utk berhenti dari karir militer adalah sebuah kecerdasan untuk prospek aktualisasi diri.

Kasus “Lord Protector” yg mmbuat Anas bernasib “layu sebelum berkembang” bisa menceritakan banyak hal. Bahwa parpol adalah aset besar tak hanya bagi mantan penguasa. Bandingkanlah posisi Mega yang terus menerus dipertahankan dlm kapasitas yang begitu-begitu (harap maklumlah ya) yang juga memiliki similarities dgn kasus yg dibahas.

Saya perbandingkan AHY dengan adiknya. Saya menjadi faham keputusan yang direstui ayahnya (orang menuduh SBY yg rakus, saya kira keluarga ini berunding demokratis, sama spt Raja Inal Siregar berhenti dalam pangkat Mayjen utk menjadi Gubernur yang juga tak begitu menyenangkan di dalam keluarga namun mrk berada dalam posisi at the point of no choice).

Saya berharap sbg militer yang lbh banyak bergaul dlm pentas internasional ketimbang mangurusi “sirih dan garam” di wilayah territorial dalam negeri, AHY akan menjadi salah satu stok kepemimpinan nasional melalui orbitasi Partai Demokrat.

Ingat, partai ini pernah peroleh mayoritas suara dan kini tengah proses pembersihan agar para petualang terbuang kalau tak mampu menjadi kader yang tak hanya militan, tetapi juga cerdas dan tangguh, berkepribadian dan bermartabat (obsesi yang menantang).

Bagaimana sikap menghadapi putaran kedua di DKI? Saya tak bisa membayangkan jika rezim ini menganggap SBY sebagai musuh sejati yang untuk pilkada DKI saja misalnya tak dapat diajak kompromi. Tetapi saya agak berfikir liar bahwa jika M dan J membawa A ke SBY dan AHY dengan jaminan AA bisa ditertibkan, keadaan akan lain.

Tapi itu tak akan banyak menolong Ahok-Djarot. Kini bukan partai yang menjadi majikan politik meski fakta pasukan nasi bunkus nasih belun henti-henti di grassroot yang malang.

Jika pilkada DKI tak dibawa ke ranah curang, Indonesia pasti lebih bahagia dan Jakarta bisa lebih humanis tanpa teriakan memalukan “taik, taik, taik”.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: