'nBASIS

Home » ARTIKEL » PILKADA DKI: PERTANYAAN JURNALIS

PILKADA DKI: PERTANYAAN JURNALIS

AKSES

  • 541,646 KALI

ARSIP


Empat pertanyaan berikut saya jawab dengan tanpa melihat hasil perhitungan cepat para pengelola survey (Saya memang tidak begitu percaya kepada lembaga survey mana pun di Indonesia).

Saya juga tidak menyimak siaran tv hari ini, kecuali pada waktu pagi tadi saat belum ada laporan perolehan suara dari kubu mana pun dan lembaga survey mana pun.

Pertanyaan pertama: Apakah Perolehan suara saat ini, akan memasuki dua putaran?

Pertanyaan kedua: Jika terjadi dua putaran, apakah yang akan terjadi keberpihakan oleh pemilih, maksud saya terjadi sentimen agama dalam pemilihan putan kedua nanti.

Pertanyaan ketiga: Jika terjadi sentimen agama, faktor apakah penyebabnya.

Pertanyaan keempat: Apa keunggulan dan kekurangan dari pasangan Anis dan Sandiaga.

Jawaban saya:

Memang ada janji sesumbar Ahok dan seluruh pendukungnya untuk menang dalam satu putaran. Tetapi orang banyak tidak menyadari bahwa itu sebetulnya hanyalah sebuah taktik kampanye.

Ahok-Djarot dan seluruh pendukungnya memang hanya bisa menjadi pemenang dalam Pilkada DKI ini jika mampu unggul mencapai angka kemenangan di atas 50 % dalam satu putaran.

Melawan pasangan mana pun pada putaran kedua Ahok-Djarot saya kira pasti kalah. Apa penyebab? Semua faktor termasuk sentimen antar kelas, sentimen Agama dan derita kebijakan sudah tergabung dalam sikap politik (pilihan) ini. Tak begitu penting lagi pemberitaan media mainstream dalam kondisi seperti ini.

Tidak mungkin tak diakui menguatnya faktor sentimen kelas, korban kebijakan dan agama, karena kasus penistaan agama oleh Ahok misalnya hanya menyisakan para anti Islam, sekularis, liberalis, minoritas yang merasa sangat bermusuhan dengan mayoritas sunni di Indonesia dan semisalnya mau dan mampu betahan tinggal di kubu Ahok-Djarot.

Itu sama sekali tidak mungkin unggul kecuali dengan kekerasan yang lazim dalam demokrasi Indonesia hingga kini. Penistaan terhadap Islam ini juga mengkonsolidasikan pemilih non-muslim lebih kuat di kubu Ahok-Djarot. Sentimen antar kelas memiliki dampak luar biasa se Indonesia yang jika diteliti sangat mencemaskan.

Saya tidak melihat data yang diberikan oleh lembaga-lembaga survey, tetapi saya cenderung mengatakan bahwa Anies-Sandi adalah Gubernur mendatang di DKI. Mengapa? Kelihatannya kedua pasangan ini lebih mampu menarik orang yang berada di luar pendukung diehard Ahok-Djarot.

Jika lihat cermat Pilkada DKI itu mengerucut pada referensi di balik tiga pasangan. AHY-Silvy pastilah terhubung dengan nama SBY. Ahok-Djarot adalah anak main Mega dan Joko Widodo. Anies-Sandiaga adalah besutan Prabowo.

Kelihatan Prabowo kini masih lebih terterima ketimbang SBY. Begitu pula kita bisa berkata bahwa kristalisasi dukungan ke Ahok-Djarot sekaligus menjadi ukuran seberapa suka orang kepada pemerintahan Joko Widodo.

Jika Sandiaga yang menjadi orang nomor satu dalam pasangan besutan Prabowo ini, akan masih banyak lagi pemilih dari kubu Ahok dan kubu AHY yang bisa diraih.

Tetapi semua yang saya nyatakan di atas akan gugur 100 % jika martabat demokrasi tak ditegakkan. Mengapa? Ini alasan saya:

Pertama, kekerasan tanpa peradaban dalam demokrasi Indonesia selama ini tidak hanya money bombing, tetapi juga dalam pembuatan data penduduk dan data pemilih yang memengaruhi (mereduksi atau menggelembungkan data tak sah) hak memilih atau dipilih masyarakat. Kejadian yang menunjukkan ketiadaan/kekurangan fasilitas sehingga kelompok dengan keterbatasan akses tidak dapat menggunakan hak memilih. Intimidasi. Kecurangan dalam perhitungan dan sebagainya.

Kedua, pengawasan lembaga resmi dan civil society sesungguhnya harus dapat diandalkan. Namun, keadaan belum memungkinkan untuk itu. Kondisi ini berlaku umum untuk Indonesia.

Hal-hal di atas itu tidak dapat saya hitung dalam Pilkada DKI sekarang ini dan bagaimana signifikansi pengaruhnya memenangkan satu pasangan.

Tetapi jika KTP pun sudah dimain-mainkan, dan adanya vidio yang viral dari TPS 154 tentang banyaknya orang yang memiliki KTP namun tak ada dalam daftar pemilih serta tak mendapat formulir C6, juga adanya vidio viral mobilisasi pemilih dari luar DKI yang dilakukan oleh kader partai tertentu, indikasi sudah sangat kuat.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: