'nBASIS

Home » ARTIKEL » PILGUBSU 2018

PILGUBSU 2018

AKSES

  • 535,471 KALI

ARSIP


 

ilusrasi-pilkada

Pimpinan parpol yang berpengalaman dalam pemerintahan daerah akan dominan dalam perhelatan ini. Lihatlah HT Erry sebagai incumbent dan kemungkinan majunya Gus Irawan, Ngogesa, Tuani, dan JR Saragih dan Nurdin Tampubolon. Semua mereka adalah pimpinan puncak partai di Sumut. Percuma investasi besar merebut posisi itu jika tak ada reward di belakang. Jika dilihat dari analisis kepartaian maka hanya ada peluang 4 pasangan atau sangat sulit membayangkan 5 pasangan yang maju.

Kali ini akan ada suguhan politik baru, yakni akan masih adanya calon lain dari jalur perseorangan. Ini termasuk hal penting dalam bahasan pilgubsu 2018. Kali inilah pertamakali di Sumut akan muncul. Itu dugaan saya. Mereka, paling sedikit satu orang, yang maju dari jalur ini tidak main-main dalam arti penuh kecermatan perhitungan. Mereka mengantongi modal besar dan kemampuan maneuver yang terlatih dengan networking yang memadai.

Pilgubsu 2018 ini sangat dekat dengan event pemilu 2019. Karena itu semua partai terutama Golkar, PDIP,  Demokrat dan Gerindra akan menjadikannya uji tarung penting memenaskan mesin partai seperti DKI. Nanti rivalitas yang sama akan terjadi di daerah-daerah besar lainnya di Indonesia seperti Jabar, Jateng dan Jatim. Di situlah pengendalian ketat partai dari Jakarta membuat pengabaian atas aspirasi rakyat hingga calon-calonnya bisa tak begitu disukasi rakyat. Jarang ada partai yang berusaha menyelami aspirasi konstituennya seperti PKS melalui simulasi pilgubsu lokal.

Hal lain yang akan selalu penting dibahas ialah posisi incumbent HT Erry. Ia pucuk piminan NasDem tetapi sudah cukup lama belum dilantik. Mungkin saja pimpinan pusat partai ini memiliki agenda lain berhubung salah seorang anggota DPR-RI dari Sumut ialah orang penting di partai ini, Prananda Paloh.

Saya kira sudah umum dalam pikiran elit politik di Sumut bahwa HT Erry itu dianggap lemah, dan karena itu dengan sendirinya menjadi dorongan munculnya lebih banyak orang yang berani maju. Jika Erry berprestasi, orang akan berhitung melawan incumbent seperti yang kita saksikan di Tebingtinggi kemaren.

Dalam kemasan pencitraan diri nanti akan ada bahasa yang menonjolkan agenda bersih anti korupsi. Itu dikaitkan dengan fakta beberapa KDH sudah pernah dihukum. Tapi rakyat secara mayoritas tak percaya lagi itu. Mereka tahu itu semua sangat politis. Bahkan jika tokoh besar seperti Abdillah atau Rahudman Harahap atau Syamsul Arifin Silaban maju, peluang menang cukup besar.

Ini memang paradox, sesuai proses pembelajaran yang dialami masyarakat tentang hakekat penegakan hukum di Indinesia. Orang tak lagi begitu percaya definisi dan makna korupsi. Terlebih mereka yang melek informasi dan dapat membandingkan fenomena Jakarta dengan daerah.

Akhirnya nanti rivalitas itu akan dapat mengambil cara-cara pengarusutamaan modus-modus barbar, yakni money bombing. Karena itu siapa yang paling berhasil memainkan uang dan kecurangan lainnya, kelihatannya potensil menjadi pemenang. Itu jika tak ada perbaikan system dan kesadaran civil society untuk melawan.

Catatlah bahwa semua modus pemenangan berbau barbar itu akan kita saksikan makin leluasa karena kapasitas dan apalagi integritas penyelenggara yang begitu rendah. Ini salah satu faktor yang sudah menjadi pakem utama dalam demokrasi Indonesia.

Perlukah menganalisis persukuan? Ya, politik tak bisa lepas dari primordialitas dan SARA. Bukankah puncak fenomena kenegaraan Indonesia sudah memperagakan itu dalam pilkada DKI?

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: