'nBASIS

Home » ARTIKEL » PROTES GELLOK DAN SORDAK

PROTES GELLOK DAN SORDAK

AKSES

  • 535,235 KALI

ARSIP


bendera-cina-berkibar-di-maluku-utara

Bendera Cina Berkibar di Maluku Utara
www.panjimas.com

Gellok dan Sordak dalam waktu hampir bersamaan mengirim inbox kepada saya. Isinya sama-sama pertanyaan atau bahkan dapat disebut protes:

“Mengapa Anda sebut Raja Salman itu Siregar. Sebelumnya Anda pernah juga menuliskan Mohammad Ali Siregar, dan tokoh-tokoh besar lainnya sebagai bermarga Siregar”.

Saya menjawab sederhana:

(-) Siregar itu memang marga saya. Saya suka makin banyak saudara saya semarga, apalagi orang-orang penting seperti Hillary Clinton boru Regar, dan lain-lain.

(-) Anda berdua harap memahami saya yang mulai merasa cemas atas situasi keterdesakan sosial, ekonomi dan politik yang jika tak diwaspadai satu saat nanti bahkan identitas kepribumian seperti marga itu bisa dianggap aneh.

(-) Lae Gellok dan Sordak. Singapura itu Melayu, tetapi sekarang sudah habislah cerita Melayu di sana. Apa yang mereka lakukan dalam penggeseran posisi normatif pribumi di sana ialah dengan taktik merit-system.

(-) Merit-system itu untuk tingkat tertentu sangat baik. Sangat bagus. Tetapi bayangkanlah penduduk Indonesia yang terbelakang dalam segala hal disuruh berlaga prestasi dengan pelaku bisnis internasional bermodal raksasa. Atas nama merit-system habis penduduk kita ini dilibas dan akhirnya akan menjadi budak di negeri sendiri.

(-) Negara dan pemerintahan kita berdasarkan konstitusi wajib hadir untuk melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Dengan begitu kepemihakan wajib hadir. Bahkan positif discrimination itu menjadi keniscayaan.

(-) Lihatlah apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh Perdana Menteri kita Juanda yang pernah melakukan kebijakan affirmative action dalam bidang ekonomi yang disebut “ekonomi benteng”. Tujuannya ialah mempromosikan kemampuan pribumi dalam dunia usaha agar tak menjadi bulan-bulanan non pribumi yang diwariskan oleh sistem kolonial Belanda selama ratusan tahun.

(-) Lae Gellok dan Sordak. Saya sama sekali tidak mengada-ada. Dalam politik era baru pengarusutamaan isyu gender dalam politik Indonesia sudah diwajibjan antara lain dengan implementasi nyata mengalokasikan jatah 30 % untuk porsi yang wajib diisi oleh perempuan.

(-) Catat baik-baik lae Gellok dan lae Sordak. Ini hak normatif semata. Bukan pikiran sempit yang rasis. Tidak sama sekali. Meski saya sadar sesadar-sadarnya bahwa pikiran saya ini tidak disenangi oleh orang-orang “jahat” yang terkadang berpura-pura pluralis atau pihak-pihak tertentu lainnya dengan label lain yang mengesankan mereka lebih hebat, lebih maju, lebih berpendidikan, lebih moderen, lebih beradab, dan lain-lain kamuflase itu.

(-) Tentu saja ini semua selaras dengan kebhinnekaan kita. Saya suka orang Jawa mencintai kejawaannya, begitu juga orang Aceh, Sunda, Minang, Nias, dan begitu juga yang lain.

Dalam Al-quran disebut begini, lae Gellok dan Sordak:

“Ya ayyuhannas. Inna khalaqnaakum minzdakarin wa untsa, wa ja’alnaakum tsu’uban wa qaba’ila lita’arafuu. Inna akramun ‘indallahi atsqaakum”.

Ernesto TM (Italia) pernah mengajukan konsep demikian:

“Unity in diversity is a concept of ‘unity without uniformity and diversity without fragmentation’ that shifts focus from unity based on a mere tolerance of physical, cultural, linguistic, social, religious, political, ideological and/or psychological differences towards a more complex unity based on an understanding …”

 

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: