'nBASIS

Home » ARTIKEL » LAPORAN SORDAK

LAPORAN SORDAK

AKSES

  • 557,706 KALI

ARSIP


raja_arab_3

| Wisata halal akan menjadi trend yang semakin meningkat | Penduduk muslim dunia pun akan menjadi daya dukung yang kuat, karena nanti pada tahun 2050, dunia akan menemukan dirinya sebagai planet dengan penduduk mayoritas muslim. Perhatikan, tidak ada pedang di situ | Tidak ada senjata pemusnah | Malah perkembangan itu tak terhalang oleh buruknya perlakuan kepada penduduk muslim di berbagai tempat di dunia seperti di Rohingya, Syiria, Indonesia dan lain-lain|

Sordak adalah salah seorang anggota tim liputan yang ditugasi oleh media tempatnya bekerja untuk meliput kunjungan Raja Salman selama berada di Indonesia.

Sejak hari pertama liputan mereka sudah ketat memberlakukan pola kerja dan berprinsip “tak ada kejadian dan pembicaraan yang tak direkam”. Ketiga jurnalis ini bermaksud hendak menuliskan sebuah buku bacaan popular dari hasil liputan mereka. Karena itu video dan foto serta catatan angle dari setiap uraian benar-benar difikirkan.

Sejak awal tim ini telah mendiskusikan makna kehadiran Raja Salman justru di tengah buruknya perlakuan terhadap Islam, membawa banyak uang dan di tengah fakta catatan hutang terbesar sepanjang sejarah pemerintahan Indonesia dengan peningkatan luar biasa peran Cina di dalamnya.

Karena hujan lebat yang membawa banjir, tim Sordak tak bisa ke kantor usai liputan. Disepakati untuk mengerjakan laporan di rumah Sordak yang kelihatannya akses masih cukup baik meski di beberapa ruas jalan sudah mulai tergenang beberapa sentimeter.

Tiba di rumah Sordak, mereka langsung mulai membuat transkrip dalam bahasa asli (Arab) dan menerjemahkan semua pembicaraan yang direkam ke dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris. Kedua rekan Sordak, Fuad Habib dan Salmah Halimah, berperan dengan keahlian berbeda. Sordak mulai membaca narasi laporan yang dipadukan dengan hasil awal terjemahan yang dikerjasamakan itu:

“Sambil tertawa kecil Raja Salman bertanya datar hampir tanpa ekspresi: “bagaimana begitu banyak andil bahasa Arab dalam bahasa politik, bahasa kenegaraan dan bahasa budaya di Indonesia tetapi pada saat yang sama sinisme terhadap Arab menandai kebencian terhadap Islam di negeri yang sangat malang Indonesia ini?

Adil, Adab, Hikmah, Musyawarah, Wakil, Sultan, Majelis, Dewan, Mufakat, Siasat, Mahkamah, Hakim, Saksi, Abdi, Syarat, Dakwa, Badan, Madani, Riwayat, Sejarah, Ma’lumat, Ibadah, Madrasyah, Ilmu, Kafir, Rukun, Sebab, Akibat, Makam, Faham, Wali, Ma’zul dan lain-lain. Semua itu dipinjam dari bahasa Arab Islam.

Nama masjid terkenal dan dianggap sebagai penanda patriotisme Indonesia dalam merebut kemerdekaannya, yang dibangun oleh Presiden Pertama negeri ini di ibukota Negara (Jakarta), diberinama Istiqlal. Selain itu banyak nama berbahasa Arab yang ditemukan dalam sejarah pendirian Indonesia seperti  Abdul Kaffar, Abdul Kahar Muzakir, Raden Ruslan Wongsokusumo, Agus Muhsin Dasaad, Kasman Singdimedjo, AR BaswedanMuhammad Hatta, A Ahmad Sanusi, Haji Abdul Wahid Hasyim, Ashar Sutejo Munandar, Abdul Halim Majalengka alias Muhammad Syatari, Ki Bagus Hadikusumo, Ki Hajar Dewantara,  Raden Suleiman Effendi Kusumaatmaja, Abdul Fatah Hasan, Mas Mansoer, Masjkur, Sutarjo Kartohadikusumo, Muhammad Yamin, Ahmad Subarjo, Raden Syamsudin, Husein Jayadiningrat, Asikin Wijaya Kusuma, Raden Abdul Kadir, Mas Margono Joyohadikusumo, dan lain-lain. Nama-nama ini kerap diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota.

Ketika merasa terpaksa harus memaki pun orang Indonesia tak jarang memakai bahasa Arab: “laknat, haram, zolim, setan, khianat”, dan lain-lain. Saat merasa ta’jub orang Indonesia kerap berkata Masyaa Allah. Atau Subhanallah. Ketika akan membuat appointment, orang Indonesia kerap mengunci dengan kata Insyaa Allah. Ketika merasa bersalah orang Indonesia juga berbahasa Arab, astagfirullah. Menyemangati sebuah gerakan seperti pada pertemuan publik, mereka pun sangat percaya diri dan penuh keyakinan mendengungkan takbir: Allahu Akbar. Saat merasa beroleh kemudahan, orang Indonesia tak menepuk dada melainkan berucap Alhamdulillah.

Saya tidak menafikan adanya warna lain, terutama Sanskerta yang diserap sangat dalam terutama pada kebudayaan Jawa dan juga upacara-upoacara yang banyak dilaksanakan dengan label agama, namun yang saya maksudkan itu adalah hal-hal yang kelihatannya dominan dan lebih merasuk pada kedirian Indonesia”.

Tampaknya kedua rekan Sordak, Fuad Habib dan Salmah Halimah, sepakat dengan narasi yang dibuat Sordak dan manggut-manggut saja. Tetapi entah apa sebab, Gellok (teman sekost Sordak) yang kebetulan ada di sekitar ruang kerja merasa kurang senang. Ia ingin memberi batasan wilayah pengaruh bahasa Arab itu di Indonesia, maka dia pun berkata “itu kan bukan Indonesia secara keseluruhan. Sempit kalilah kalian berfikir. Coba kalian pergi ke tanah Batak. Di sana minus sumbangan Arab terhadap bahasa lokal”.

Sordak dengan tenang menjawab. Pertama, yang saya baca itu bukan ucapan kami bertiga. Itu ucapan narasumber kami, yakni Raja Salman. Dalam jurnalistik opini jurnalis selalu dibedakan dengan fakta-fakta liputan, termasuk opini narasumber. Jelas itu Gellok? Kedua, saya beri contoh “Toba”. Itu bahasa Arab berasal dari kata Thoyyibah, artinya indah atau permai. Tao Toba kita itu kan indah, Uli? Ido kan? “Balige” itu tak identik dengan Belgia karena ia dinamai dengan bahasa Arab, yakni Balaga, yang artinya telah tiba atau telah sampai. “Samosir” itu berasal dari kata Misriyyun yang artinya orang Mesir. Saya ingin sekali kau bantah dengan jawaban ilmiah. Jangan yang lain.

Bahkan “huria” adalah adaptasi lokal untuk qaryah yang berasal dari bahasa Arab dan maknanya adalah sebuah teritorial atau kawasan pemukiman tertentu. “Butet” adalah kata yang diambil dari Bunayt yang bermakna anak perempuan. “Salem” yang menjadi nama sebuah desa di sana, yakni huta Salem, adalah adaptasi beraksen Eropa tetapi jangan salah, itu berasal dari bahasa Arab “Salama“, yang berarti selamat dan itu pulalah makna Islam serta nama Raja Salman berasal dari kosa kata itu. Memang kau serba sedikit perlu mempelajari Arabic Grammar untuk bisa ikut diskusi hal-hal yang begini, Gellok. Tak cukup ala ni aru-aru jala dang acci tangis“.

Gellok terdiam sejenak lalu berkata lagi, “ngarang kalian”. Dengan tenang Sordak menjawab “sekali lagi, kalau kau tak punya argumen berbasis pengetahuan, saya rasa kau diam saja.  Kalau kau merasa tak enak karena pengetahuan ini, dan kau merasa menjadi manusia lain yang bukan dirimu yang selama ini kau persepsikan, lebih bagus kau tidur saja. Ingat, makin kau dalami masalah ini, makin jauh kau dari bayang dirimu yang kau kenali secara eksistensial selama ini”.

Belum selesai juga rupanya bagi Gellok, karena kemudian ia bertanya lagi. “Bandingkan dengan nama-nama Presiden RI. Apa yang kalian dapat?” Oh iya, jawab Sordak sambil tertawa. Kau mungkin tidak tahu ada Presiden RI bernama lain Ahmad Soekarno. Indonesia semasa krisis pada awal kemerdekaan juga memiliki dua presiden yang seakan terlupakan oleh sejarah yakni Assaat Datoek Moedo dan Sjafroeddin Prawiranegara. Soeharto itu akhirnya bernama lengkap Haji Muhammad Soeharto, Habibie itu bernama awal Baharoeddin Joesoef. Gus Dur adalah sebuah panggilan popular. Nama asli yang diberikan oleh ayahnya ialah Abdurrachman Wahid. Megawati yang menempelkan mana bapaknya di belakang namanya, Soekarnoputri, belakangan menambah titel “Hajjah” di depan namanya. Soesilo Bambang Yoedhoyono tak jarang kita dengar disebut bernama lengkap Dr.Haji Soesilo Bambang Yoedhoyono.

Kita tak tahu besok sepulang Raja Salman dari kunjungan khusus ke Indonesia Joko Widodo akan menambah nama awal menjadi Ahmad atau Muhammad. Keren kan Ahmad Joko Widodo atau Muhammad Joko Widodo? Jika itu terjadi, kau jangan pitam ya Gellok. Untuk sementara kau renungi dululah mengapa Joko Widodo sangat penting diberitakan menjadi imam sholat”.

Sordak menambahkan lagi “Satu hal yang perlu kau sadari, Gellok, ialah persepsi atau mitos lama bahwa Batak itu mengalami apa yang oleh WB Sidjabat diistilahkan dengan tragedi splendid isolation (penyendirian yang sangat terasing) selama berabad-abad, itu tidak benar. Abad-abad pertama agama Jahudi diduga sudah berhubungan dengan Batak. Batak juga dijelaskan sudah berhubungan dengan Masehi pada abad-abad pertama agama itu, dan begitu juga dengan Islam. Hanya saja kau harus bedakan Masehi dan Kristen karena keduanya hadir dalam waktu yang berbeda dan dengan motif yang berbeda pula. Timur Tengah dengan Indonesia, khususnya Batak, itu sudah berhubungan lama. Kau harus mulai kritis dan bahkan skeptis tentang warisan pengetahuanmu tentang bangsamu Bangso Batak yang gagah perkasa itu”.

Setelah merenung sejenak, Gellok masih mengajukan soal baru. “Adat istiadat kami di Tanah Batak misalnya, itu sangat orisinal, antara lain yang hingga kini masih dipegang teguh oleh komunitas Ugamo Malim. Orang Batak berasal dari Pusuk Buhit dan berdiaspora kemana-mana. Anda-anda semua akan bingung mencari andil Arab di sana”.

Sordak melirik Fuad Habib yang peneliti agama-agama suku dan Salmah Halimah yang peneliti Adat istiadat Nusantara, sambil tertawa kecil. Kedua rekannya ini mempersilakan saja Sordak melanjutkan penjelasan: “Kedua teman saya ini pasti lebih tahu dan lebih mahir menuturkan ketimbang saya. Tetapi Datu Na Hinan di Tanah Batak kerap menggunakan tabas-tabas (mantra) berbunyi “Sumillah dirohaman dirohimin“. Kau tahulah artinya itu ya Gellok. Lidah Batak tak begitu fasih menyebut Bismillahirrahmanirrahim.

Kau bilang tadi Ugamo Malim. Carilah dengan penuh kesungguhan dan kejujuran sebagai motif akademis, dalam kamus Batak yang mana akan kau temukan kosa kata “Malim”? Mungkin kau tak pernah membaca buku kamus pertama yang dibuat oleh HN van der Tuuk. Bahasa Arab yang kata dasarnya “ilman” adalah asal muasal kata Malim, yang untuk orang Batak lazimnya memang menyebut seperti itu untuk memaksudkan “Mu’allim”.

Orang Batak berasal dari Pusuk Buhit dan kemudian berdiaspora. Sejarah, Antropologi dan Arkelogi beserta cabang-cabangnya sudah begini maju pada abad ini, masih juga kau menegakkan mitos yang tak masuk akal. Bahkan jika kau jeli, Gellok, Pusuk BuhIt itu pun sebuah nama kontroversial karena tak jelas berasal dari bahasa apa. Pusuk itu apakah bukan bahasa Melayu “pucuk”? Coba cari penggunaan kata buhit dalam bahasa Batak, sekerap apa dan dalam kisah-kisah apa. Buhit itu adalah bukit yang bermakna dolok dalam bahasa Batak. Darimana asal-muasal penciptaan nama Pusuk Buhit itu, Gellok? Jadikanlah itu missi pentingmu semasa muda.

Saya akui, kata Sordak, akan selalu ada kontroversi pendapat tentang ini, tetapi saya hanya mau kau memberi sanggahan dengan pengetahuan, redakan emosimu. Saya pun berkedudukan sebagai salah satu yang memiliki pandangan yang siap disanggah oleh siapa pun di arena akademis.

Kau pernah menelaah secara jujur mengapa sangat identik bendera Sisingamangaraja dengan bendera yang dikenal di kerajaan-kerajaan Timur Tengah lainya pada abad-abad dulu, yang gambar pedangnya itu tak identik dengan pedang Eropa melainkan pedang dari wilayah Timur Tengah? Kau pernah menelaah mengapa dalam stempel kerajaan Sisingamangaraja berdwi bahasa dan aksara itu ada tulisan Arab yang antara lain menyebut “Hijrah Nabi“? Modom maho, pinta Sordak. Dengar, tambah Sordak. Raja Salman bawa uang ke sini. Jumlahnya banyak sekali. Kurasa lebih baik jangan kau baca beritanya, nanti kau bisa pingsan”.

Raja Salman yang dijadwalkan berkunjung ke Indonesia selama tanggal 1- 9 Maret memboyong 1.500 rombongan, 10 Menteri dan 25 Pangeran itu menurut berbagai sumber memiliki harta kekayaan sekitar USD 17 miliar (setara Rp 226 triliun). Jangan kau ribut tentang itu. Itu memang standar dia.

Raja Salman memiliki banyak emas yang tak hanya dapat dilihat dari peralatan di istana termasuk kolam renang yang berlapis emas.  Tentu ada kaitan dengan pertimbangan politik jika Raja Salman memiliki sekitar 10 persen saham media dan surat kabar terkemuka di negerinya. Tak aneh ada kapal pesiar mewah berukuran panjang lapangan sepak bola. Ada yacht yang ditempatkan di destinasi liburan favorit keluarga raja di Marbella, Spanyol, dengan ruang perjamuan sendiri dan 30 ruang tidur ditambah lebih dari 20 tempat bagi petugas.

Bayangkan, keluarga kerajaan ini berstandar liburan berbiaya USD 30.000.000 (setara Rp 336 miliar). Ada sebuah sekolah yang dikhususkan bagi para bangsawan di Riyadh dan Raja Salman juga memiki istana pribadi di Riyadh dengan interior super mewah. Begitu pun disebut-sebut bahwa Raja Salman yang juga memiliki banyak rumah mewah lainnya yang dapat setara dengan para milioner dunia lainnya taklah sekaya para pendahulunya.

Jangan heran jika Raja Salman memiliki ratusan pengawal yang senantiasa mendampingi setiap kali keluarga kerajaan menjalani liburan mewah. Raja Salman memerlukan penjara pribadi khusus untuk para pangeran yang nakal dan putri yang selalu boros dan kerap lalai membayar tagihan mereka. Begitu. Selow aja kau, Gellok.

Wisata halal adalah isyu penting yang konon sudah menduduki posisi ke 4 dalam industri modern. Arab takkan melewatkan itu dalam perhitungan investasinya di Indonesia. Tahukah Negara-negara mana sekarang yang beroleh kelimpahan dari konsep dan penerapan wisata halal itu? Indonesia sebagai Negara dengan mayoritas penduduk muslim mestinya malu hanya beroleh bagian sangat kecil dari pasar wisata halal di bawah Malaysia, Thailand, Filipina, apalagi Singapura dan Jepang.

Wisata halal akan menjadi trend yang semakin meningkat. Penduduk muslim dunia pun akan menjadi daya dukung yang kuat, karena nanti pada tahun 2050, dunia akan menemukan dirinya sebagai planet dengan penduduk mayoritas muslim. Perhatikan, tidak ada pedang di situ. Tidak ada senjata pemusnah. Malah perkembangan itu tak terhalang oleh buruknya perlakuan kepada penduduk muslim di berbagai tempat di dunia seperti di Rohingya, Syiria, Indonesia dan lain-lain.

Sordak merasa memenuhi kewajibannya berbicara benar kepada Gellok. Kedua rekan kerjanya yang lain dengan sangat halus mengingatkan, “laporan kita mesti seegera tayang. Jangan buang-buang waktu. Sekiranya Gellok berkenan, lebih baik dilayani pada lain waktu”.

Shohibul Anshor Siregar
Koordinator Umum ‘nBASIS
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA,
Medan, Senin 6 Maret 2017 Hlm B 9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: