'nBASIS

Home » ARTIKEL » ORIENTASI NILAI BUDAYA: LARANGAN PERNIKAHAN DALAM ADAT BATAK

ORIENTASI NILAI BUDAYA: LARANGAN PERNIKAHAN DALAM ADAT BATAK

AKSES

  • 540,961 KALI

ARSIP


Slide1

Seorang pemuda Batak yang dibesarkan di luar Tanah Batak, Rizal Hidayat Pasaribu, bertanya serius pandangan adat tentang perkawinan serumpun marga dalam Batak. Ini kasus Pasaribu dan Tanjung.

Saya hanya mampu menerangkan demikian:

“Dinamika perkembangan marga terus berlangsung. Batak memiliki sikap inklusif. Marga Tanjung itu konon dua asal. Satu bagian dari Borbor yang bersaudara dengan marga Pasaribu itu.

Satu lagi yang lazimnya banyak ditemukan di pesisir pantai Barat, yang konon berasal dari sebuah tempat (Tanjung) di Sumatera Barat. Mereka yang termasuk dalam kategori ini ialah (sekadar menyebut beberapa nama saja) mantan Pangab RI alm Jenderal Feisal Tanjung. Juga mantan Menteri Pemuda RI dan Olahraga dan mantan Mensesneg RI Akbar Tanjung. Asosiasi besar Borbor Morsada (Borbor United) selalu menghitung dan merasa kedua tokoh itu adalah bagian dari pomparan (keturunan) mereka.

Tetapi dengan sikap inklusifnya itu orang Batak (tak hanya rumpun Borbor Morsada) mampu tidak membedakan-bedakan kedua Tanjung ini dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi bagaimana kedudukan pernikahan di antara dua lain jenis sesama Borbor (Pasaribu dan Tanjung) ini? Mereka mariboto tentunya, dan jika meminjam istilah fiqh seolah mereka ini muhrim.

Di Mandailing ada sebuah marga yang dapat disebut marga “kompromi”, yakni Lintang, yang adalah sebuah marga yang diberikan kepada sejumlah komunitas yang sama agar tak dianggap begitu janggal saling mengawini.

Nah ada dua hal kesimpulan yang mungkin dapat ditarik:

Pertama, semakin berkembang populasi Batak itu maka marga serumpun tak jarang saling mengawini.

Fleksibilitas yang demikian itu juga terlihat dalam contoh yang menjadi kesimpulan kedua, yakni bahwa kendati satu marga bisa dianggap kawin (lazimnya sepihak dalam arti hanya satu pihak yang dapat mengambil isteri dari pihak lain meski tentu bisa juga saling mengawini dalam arti posisi mora dan anak boru bisa saling bertukar posisi) dengan hanya memberi penamaan baru terhadap komunitas tertentu menjadi marga lain (Lintang).

Itu tentu saja karena mereka sudah mengadopsi atau terpengaruh oleh ajaran Islam yang tak mengharamkan kawin semarga.

Di antara marga dan rumpun marga Batak tentu tak jarang juga ditemukan perbedaan keketatan dan kelonggaran dalam soal ini.

Begitulah untuk sementara”

Ada semacam desakan yang saya rasakan muncul dari pertanyaan pemuda Batak marga Pasaribu yang tadi malam mengajukan pertanyaan kepada saya tentang hubungan marga Pasaribu dan Tanjung. Bolehkah pernikahan di antara kedua marga itu? Setelah mencari dari berbagai sumber saya merasa banyak yang belum saya ketahui selama ini.

Lima larangan pernikahan dalam adat Batak ialah Na Mariboto, Na Dua Punggu Saparihotan, Na Marpariban Na So Boi Olion, Na Marboru Ni Namboru, Na Marpadan.

Jika diperhatikan basis pelarangan itu dapat disederhanakan menjadi pertalian hubungan darah, perikatan berdasarkan konsep Dalihan Na Tolu, dan peristiwa khusus yang menimbulkan hubungan yang mengadopsi hubungan pertalian darah (quacy blood connection). Berikut penjelasannya:

Slide5

NA MARIBOTO

Sama dengan hukum yang berlaku universal, antara sesama saudara kandung dilarang keras terjadi pernikahan. Dalam basis atau konsep dasar adat orang Batak mereka yang semarga itu pada dasarnya dianggap saudara kandung, dan inilah alasan kuat perkawinan semarga itu dipantangkan (terlarang).

Menurut catatan, Parsadaan Parna (kumpulan marga-marga yang termasuk dalam rumpun Parna) termasuk yang masih cukup awet memelihara ketentuan ini. Marga-marga apa saja yang termasuk dalam Parna? Ada yang bilang 40-an, 50-an, 60-an. Berikut ini catatan dari pihak yang mengatakan 71 marga Parna, yaitu:

1 Bancin ( Sigalingging )
2 Banurea ( Sigalingging )
3 Boangmenalu ( Sigalingging )
4 Brampu ( Sigalingging )
5 Brasa ( Sigalingging )
6 Bringin ( Sigalingging )
7 Dalimunthe
8 Gajah ( Sigalingging )
9 Garingging ( Sigalingging )
10 Ginting Baho
11 Ginting Beras
12 Ginting Capa
13 Ginting Guruputih
14 Ginting Jadibata
15 Ginting jawak
16 Ginting manik
17 Ginting Munthe
18 Ginting Pase
19 Ginting Sigaramata
20 Ginting Sinisuka
21 Ginting Sinusingen
22 Ginting Sugihen
23 Ginting Tumangger
24 Haro
25 Kombih (Sigalingging )
26 Maharaja
27 Manik Kecupak (Sigalingging)
28 Munte
29 Nadeak
30 Nahampun
31 Napitu
32 Pasi
33 Pinayungan (Sigalingging ? )
34 Rumahorbo
35 Saing
36 Saraan (Sigalingging )
37 Saragih Dajawak
38 Saragih damunte
39 Saragih Dasalak
40 Saragih Sumbayak
41 Siadari
42 Siallagan
43 Siambaton
44 Sidabalok
45 Sidabungke
46 Sidabutar
47 Sidauruk
48 Sigalingging
49 Sijabat
50 Simalango
51 Simanihuruk
52 Simarmata
53 Simbolon Altong
54 Simbolon Hapotan
55 Simbolon Pande
56 Simbolon Panihai
57 Simbolon Sirimbang
58 Simbolon Suhut Nihuta
59 Simbolon Tuan
60 Sitanggang Bau
61 Sitanggang Gusar
62 Sitanggang Lipan
63 Sitanggang Silo
64 Sitanggang Upar Par Rangin Na 8 ( Sigalingging )
65 Sitio
66 Tamba
67 Tendang ( Sigalingging )
68 Tinambunan
69 Tumanggor
70 Turnip
71 Turuten

Slide2

DUA PUNGGU SAPARIHOTAN

Dalam adat istiadat Batak pernikahan antara dua orang yang sebelumnya saudara mereka sudah terjadi pernikahan. Tidak ada besan dua kali (besan tunggal). Artinya Si Doli menikah dengan si Boru. Saudara lelaki (kandung) si Doli tak boleh lagi mengambil isteri di antara saudara (kandung) perempuan si Boru. Saudara (kandung) lelaki perempuan si Boru juga tidak diperkenankan beristerikan saudara (kandung) perempuan si Doli.

PARIBAN NA SO BOI OLION

Hampir mirip dengan konsep Dua Punggu Saparihotan, seseorang yang sudah menikahi boru tulangnya sekaligus menutup kemungkinan (dipantangkan) bagi abang dan adiknya untuk menikahi saudara perempuan isterinya. Padahal selamanya tak ada yang bisa merubah status mereka sebagai marpariban. Itulah kisah Pariban Na So Boi Olion.

MARBORU NI NAMBORU

Pernikahan dalam adat Batak juga menegaskan satu arah berdasarkan Dalihan Na Tolu (pihak boru ke hula-hula). Contohnya begini: Seorang perempuan bernama si Boru adalah puteri dari adik atau puteri dari abang seorang perempuan yang memiliki seorang anak lelaki bernama si Doli. Dalam hal ini si Boru adalah boru tulang dari si Doli. Mereka boleh menikah. Tetapi saudara lelaki dari si Boru sama sekali tidak boleh menikahi saudara lelaki dari si Doli. Inilah yang disebut dengan Marboru Ni Namboru.

NA MARPADAN

Adanya sebuah perjanjian atau ikrar (padan) luhur yang dibuat tempo dulu antara dua marga berisi kesepakatan senasib-sepenanggungan sebagai saudara kandung yang karena itu dipantangkan adanya perkawinan sesamanya.

1.Hutabarat & Silaban Sitio
2.Manullang & Panjaitan
3.Sinambela & Panjaitan
4.Sibuea & Panjaitan
5.Sitorus & Hutajulu (termasuk Hutahaean, Aruan)
6.Sitorus Pane & Nababan
7.Naibaho & Lumbantoruan
8.Silalahi & Tampubolon
9.Sihotang & Toga Marbun (termasuk Lumbanbatu, Lumbangaol, Banjarnahor)
10.Manalu & Banjarnahor
11.Simanungkalit & Banjarnahor
12.Simamora Debataraja & Manurung
13.Simamora Debataraja & Lumbangaol
14.Nainggolan & Siregar
15.Tampubolon & Sitompul
16. Pangaribuan & Hutapea
17. Purba & Lumbanbatu
18. Pasaribu & Damanik
19.Sinaga Bonor Suhutnihuta & Situmorang Suhutnihuta
20.Sinaga Bonor Suhutnihuta & Pandeangan Suhutnihuta

Bagi para rekan dan senior yang lebih faham, mohon pencerahan. Terimakasih.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: