'nBASIS

Home » ARTIKEL » BATAK MUSLIM

BATAK MUSLIM

AKSES

  • 538,596 KALI

ARSIP


a

Sebuah seminar nasional bertema kebangsaan yang menyoroti Dalihan Na Tolu (DNT) dalam Perspektif Agama-Agama dan Pancasila diselenggarakan oleh Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) di pondok pesanteren Musthafawiyah, Purba Baru, Mandailing Natal, Kamis, tanggal 23 maret 2017 yang lalu. Seminar ini mengawali Shilaturrahim Nasional (Silatnas) organisasi keagamaan suku-bangsa Batak berusia menjelang setengah abad ini.

Esok harinya, Jum’at 24 Maret 2017, acara Silatnas dilanjutkan dengan peresmian sebuah monumen yang menandai masuknya Islam di Nusantara, di kota bersejarah Barus, Tapanuli Tengah, oleh Presiden RI Joko Widodo. Konstruk monumen itu mengambil ide dari DNT. Ada tiga pilar yang yang ditempatkan dengan jarak yang ditentukan sedemikian rupa hingga membentuk konsep tungku, dan di atasnya bertengger sebuah bola dunia. Barulah pada hari Sabtu tanggal 25 Maret 2017 Presiden Joko Widodo membuka silatnas di pondok pesanteren Musthafawiyah.

Slide2
DNT adalah sebuah konsep sistem kekerabatan yang menjadi living reality  di tengah masyarakat Batak. Tak hanya dikenal di Toba dan Angkola. Mandailing menyebutnya Dalian Na Tolu. Di Simalungun dikenal Tolu Sahundulan. Rakut Sitelu dikenal di Karo dan Pakpak menyebut Daliken Sitelu. Dari satu ke lain puak yang keseluruhannya lazim disebut Batak ini terdapat perbedaan tentang ketat dan longgarnya penerapan DNT. Tentu tidak hanya faktor nilai-nilai lokal tertentu yang menyebabkannya demikian, karena diketahui agama yang dianut juga turut berpengaruh. Selain itu orang yang tak cermat dapat kurang faham dengan konsep-konsep  lain yang hidup di tengah komunitas-komunitas ini, misalnya “Suhi Ni Ampang Na Opat” yang terdapat di Toba. Kendati dikenal konsep-konsep yang seperti itu, namun DNT ditemukan di semua puak atau komunitas yang selama ini lazim disebut Batak.

Slide3

Diskusi yang saya tawarkan kepada peserta seminar Nasional ini ialah, bahwa sebagai ide-ide yang berasal dari sumber yang berbeda, DNT kemungkinan besar sangatlah perlu diperiksa apakah ia memiliki sisi ketegangan tertentu dengan agama dan Pancasila. Perubahan sosial mendera tak selalu dengan setengah-setengah atau sebagian. Interaksi seperti ini dalam pandangan saya hanyalah sebuah dialektika yang tak terhindari sama sekali, dan sifat pertarungannya menjadi semacam never ending process (proses tiada akhir). Maka bukan tidak mungkin DNT suatu ketika bisa saja mengalahkan agama dan Pancasila segaligus dalam derajat tertentu. Begitu juga agama dan atau Pancasila bisa mengalahkan dua yang lainnya. Karena itu tak bisa dihindarkan untuk sungguh-sungguh mengenali konsep dan sejarah DNT itu. Harmoni di antaranya sangat diperlukan.

Sejarah terbentuknya falsafah DNT dan kemungkinan keterkaitannya dengan gagasan-gagasan yang mirip seperti Trimurti (Hindu), Trinitas (Kristen) dan Tungku Tigo Sajarangan (Minangkabau) adalah sesuatu yang begitu penting ditelaah. Saya tak berani seekstrim beberapa orang yang menyebut DNT itu dibuat orang lain untuk Batak.

Slide4

Wilayah berpijak falsafah DNT dan tingkat penerimaan serta living reality-nya di antara puak-puak yang selama ini diklaim sebagai Batak, pencarian kompabilitas DNT dengan Pancasila saya anggap tidak begitu sulit dipetakan. Sedangkan penelusuran untuk menemukan kompabilitasnya dengan agama-agama mudah terjebak dalam taktik “cocokologi” dan reifikasi  berlebihan. Asumsinya sederhana saja. Agama, apalagi agama wahyu, memiliki karakteristik tersendiri yang sifatnya tak jarang menaklukkan institusi-institusi yang dibangun berdasarkan nilai-nilai sosial yang menjadi sasaran. Posisinya jelas lebih suprematif, terutama dipandang dalam perspektif hukum yang member pengakuan terhadap agama.
Slide5

Untuk menyebut suatu komunitas penduduk yang memiliki homeland  di wilayah Sumatera, setidaknya sebutan Batak dan yang sangat mirip dengannya kita temukan di beberapa tempat di dunia ini, antara lain di  Malaysia, di Filipina dan juga di  Eropa, tepatnya Bulgaria. Memang tak cukup pejelasan untuk mempertemukan semuanya dalam bentuk yang terterima sebagai satu unititas tercerai-berai. Tetapi tak sedikit literatur menegaskan semua Batak itu sebagai identitas ketertinggalan atau julukan stigmatif. Khusus yang di Sumatera, sebuah ungkapan menyebut:

“the word Batak may have originally been an epithet used by muslim lowlanders to refer to the mountain peoples in a derogatory way, as primitives” (encyclopedia of world cultures, the gale group, inc, 1996).

Daniel Perret (2010 ) bahkan menegaskan bahwa nama Batak itu adalah konstruk para musyafir. Sejalan dengan itu, sebuah sumber terpercaya menerangkan bahwa merujuk pada data yang diberikan Javasche Courant, 23-03-1830, yang di dalamnya termuat statistik surat kabar utama di Eropa. Salah satunya adalah De gazelle de France (koran sore di Perancis bertiras 7.000 exp). Salah satu editornya  berinisial (marga) Lubis. Lubis editor tersebut rupanya warga Perancis. Family name Lubis ada juga yang berasal dari Eropa Tengah.

Sumber itu juga menjelaskan bahwa dalam Gumbu Humene (1892), orang Batak pertama yang pernah menggunakan marga di belakang namanya adalah Thomas Siregar di Sipirok, seorang pendeta muda, dan kemudian pendeta Markus Siregar (Sumatra-Courant: nieuws- en advertentieblad, 02-04-1894). Ada empat calon pendeta yang memakai marga di belakang namanya, yakni Jos Harahap, Jafet Harahap, Samuel Tandjong dan Cornelia Pane (Algemeen Handelsblad, 13-09-1894). Ada dugaan bahwa keempat orang ini adalah nama-nama baptis.

Harry parkin (1978) dengan penuh yakin menegaskan bahwa puak-puakBatak (Mandailing, Angkola, Simalungun, Karo dan Dairi/Pakpak) semuanya berinduk kepada Batak Toba dengan alasan karakteristik yang lebih bersifat sentral pada Batak Toba, seperti bahasa, sistem kekerabatan, tarombo,  dan juga aksara.

Slide7Namun ini tak selalu dapat diterima oleh puak-puak Batak lainnya. Salah satu alasan paling bersejarah dan berusi tua ialah dokumen Batak Maninggoring yang dibuat pada tahun 1922. Konon, di Mandailing pemerintahan kolonial Belanda merasa penting menyatukan semua yang mereka kategorikan Batak ini. Mandailing dihadapi dengan cara yang dapat dijelaskan dengan mengutip dokumen ini.

“Assalamoe alaikoem. Kami jang bertanda tangan dibawah ini, radja Mangatas, Soetan Soripada Panoesoenan, Mangaradja Panoesoenan, Soetan Koemala Boelan, Soetan Singa Soro Baringin, Mangardja Panobaoenan, Mangaradja Soetan Solengaon, Mangaradja Goenoeng Sorik Marapi, Soetan Pandapotan, Mangaradja Solompoon, Mangaradja Moeda Panoesoenan, Mangaradja Iskandar Panoeroenan, Soetan Bintang Pandapotan, Patoean Koemala Boelan.

Masing masing radja Panoesoenan (Kepala Koeria) di Pakantan Lombang, Pakantan Doeali, Oleoe Tamiang, Manambin, Kota Nopan, Panombangan, Maga, Pidoli Boekit, Kota Siantar, Panjaboengan Djoeloe, Panjaboengan Tonga, Goenoeng Baringin, Gewezen Kepala Koeria di Goenoeng Toea, semoeanja dalam lingkungan onderafdeling groot en klein Mandailing, Oelo en Pakantan, Afdeling Padangsidempuan, Residentie Tapanoeli.

Menerangkan dengan sesoenggoehnja bahwa bangsa dari pendoedoek Mandailing itoe ia lah bangsa “Batak”, sedangkan agamanja sebahagian besar “Islam” dan sebahgian ketjil sekali agama “Christen” iaitoe dalam Koeria Pakantan Lombang, Pakantan Boekit dan Kota Siantar. Nama Mandailing itoe boekanlah nama bangsa akan tetapi nama negeri (loehak). Demikianlah soepaja terang akan adanja. Diperboeat dalam kerapatan radja2 Mandailing di Kajoe Laoet, tanggal 18 agustus 1922”.

Raja-raja itu diminta untuk menandatangani pernyataan bahwa mereka adalah Batak yang meski tinggal di Mandailing, tetap Batak karena Mandailing itu hanyalah sebuah penamaan untuk sebuah kawasan wilayah. Untuk zaman ini sedikit kebebasan menerjemahkannya dapat membantu untuk tiba pada suatu kesimpulan bahwa para raja itu telah menandatangani sebuah dokumen yang tak bersesuaian dengan kata hati. Lagi pula mengapa tak dibuat saja dalam bahasa mereka sendiri, yakni bahasa Mandailing.

Gugatan-gugatan terbaru terhadap Batak muncul dari hampir semua tak terkecuali orang-orang Toba sendiri meski jumlah dari yang disebut terakhir ini jauh lebih kecil. Seorang penulis yang bersemangat, Edward Simanungkalit, berusaha membongkar sejumlah mitos yang dibangun tentang Batak berdasar fakta-fakta iptek. Bagaimana membantah hasil pemeriksaan DNA yang menunjukkan hal yang berbeda dari yang difahami selama ini? Itu antara lain pokok pikiran yang dia ajukan. Kita ketahui semangat sebagian orang Batak  untuk menjadi bagian dari keturunan Jahudi. Itu juga diruntuhkan.

Dua tahun lalu Nuansa Kaban menulis petisi berisi tiga hal. Pertama,  karena Batak adalah sebuah mitos yang dibuat oleh belanda, dalam catatan dan bukti arkeologi tidak pernah ditemukan sebuah kerajaan batak atau raja yang disebut batak. Batak tidak pernah ada.

Kedua, kembalikan suku-suku di Sumatera Utara menjadi suku yang berdiri sendiri tanpa menjadi sub suku dari Batak seperti Karo, Toba, Simalungun, Pakpak, Angkola, Mandailing, dan sebagainya. Penyatuan ini (dalam kesatuan bangsa Batak) membuat kebingungan yang besar akan banyaknya perbedaan bahasa, adat istiadat dan silsilah yang membuat justru terjadinya saling tumpang tindih dan menjadikan semakin rancu.

Ketiga, konotasi batak yang berarti negatif yaitu bar-bar atau primitif sangat menghina keseluruhan suku-suku di sumatera utara terutama suku karo yang pada umumnya tidak ingin disebut batak karo.

Slide8

Memang ada penjelasan yang cukup baik tentang ini. “Apakah Ada Sejarah Batak?” Itulah pertanyaan penting yang diajukan oleh Anthony Reid dalam belasan halaman kertas kerjanya yang diterbitkan oleh National University of Singapore, Asia Research Institute (Working Paper No. 78), pada tanggal 1 November 2006. Menurut ilmuan ini dengan jumlah sekitar 8 hingga 10 juta dan menduduki posisi terbesar ketiga di Indonesia setelah Jawa dan Sunda (Sensus Penduduk 2010), suku-bangsa Batak adalah salah satu kelompok yang paling penting dan menarik di Indonesia.

Slide11

Telah bermukim selama ribuan tahun di Sumatera, dan dalam beberapa abad terakhir telah menjadi kajian menarik bagi tak hanya para antropolog (tetapi juga bagi para mahasiswa terutama dari agama dan misiologi Kristen), namun penarikan garis-garis kesamaan mereka dengan sebagian besar kelompok suku-bangsa di dataran tinggi di Asia Tenggara tetap kabur. Bahkan mereka tetap menjadi orang tanpa sejarah.  Itu kata Anthony Reid.

Kesulitan apa yang dialami sehingga begitu musykil? Anthony Reid dengan tegas menuduh keberkutatan yang sangat kaku (pada sebuah visi sesat) oleh pihak luar dari karya-karya akademis. Tidak ada, atau hampir tidak berkas yang mampu menunjukkan (terutama pada abad sebelum akhir pertemuan abad kesembilan belas) yang terbebas dari kepentingan yang bertalian erat dengan misi Barat yang kolonialistik. Ia tak mengabaikan bahwa Batak sendiri sendiri sebetulnya telah berusaha sekuat tenaganya untuk bekerja membangun diri sendiri dan yang mungkin akan diidentidfikasi sebagai usaha-usaha reaktif sebagaimana tercatat dalam sejarah perlawanan Singamangaraja XII dan para imam yang belakangan menjadi simbol untuk identifikasi tunggal atas apa yang kelak menjadi sumber bagi konsep pahlawan nasionalis bagi mereka dengan kaitannya dengan perlawanan terhadap Belanda.

Slide14

Sesuai judul bukunya “Batak Fruit of Hindu Thought” (1978) Harry Parkin memaparkan pengaruh Hindu yang tebal terhadap alam berpikir Batak. “The Structure of the Toba-Batak Belief in the High God” karya Ph. L. Tobing (1956)  juga memaparkan  hal yang mirip. Kiranya karya J. Tideman dalam  “Hindoe-invloed in Noordelijk Batakland” (1936) dan

Anicetus B. Sinaga (The Toba-Batak High God: Transcendence and Immanence, 1981) lebiuh dari cukup untuk menjelaskan hal itu. Bukankah Tuhan yang disebut dengan Debata Mulajadi Na Bolon menciptakan Debata Na Tolu melalui telur-telur raksasa burung Patiaraja atau disebut juga Hulambujati, dan Debata Na Tolu adalah tiga dewa yang bernama Batara Guru, Soripada (sori) dan Mangala Bulan (bala bulan) yang masing-masing mempuyai kekuasaan dan tugas yang berbeda-beda,   dan kepada Debata Na Tolu diberikan oleh Debata Mula Jadi Na Bolon wewenang sebagai penguasa kosmos: benua bawah, benua tengah dan benua atas? Keyakinan-keyakinan itu, tak pelak lagi, juga terlihat pada ungkapan doa pemujaan martonggo (memanggil Tuhan).

Slide15

Banyak sekali mitos tentang Batak yang secara optimistik diyakini akan menemukan klarifikasi sesuai perjalanan waktu yang memasilitasi perkembangan iptek. JBMI tak boleh berhenti pada pengukuhan mitos-mitos itu betapa pun pentingnya membangun kebersamaan di tengah sesama Batak yang kemudian diharapkan pula memicu perkokohan nasional.

Kasus  Aboge (alif, rebo, wage) desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah dapat menjadi sebuah perbandingan.  Islam masuk ke tanah Jawa  dalam keadaan penduduknya telah memiliki kepercayaan aatas kekuatan benda-benda tertentu (dinamisme), kekuatan arwah orang yang meninggal (animisme) dan kepercayaan kekuatan binatang-binatang (totemisme). Peleburan tradisi turun-temurun ini dengan Islam muncullah sinkretisme islam (akulturasi budaya islam dengan tradisi lokal), yakni islam dengan cita rasa lokal. Penanggalan sendiri digunakan menetapkan awal ramadhan, idhul fitri dan idhul adha yang mengakibatkan ibadah puasa dan hari raya selalu berbeda dengan hasil hisab maupun ru’yah, tanpa alas an kecuali tradisi nenek moyang.

Slide16

Pelajaran dari Minangkabau tentulah sangat brilian. Menghapus suatu adat kebiasaan pastilah akan menimbulkan adat baru karena itu memang kebutuhan selagi masih hidup. Lalu apa yang harus dilakukan? Di negeri Bundo Kandung permasalahan itu diselesaikan dengan piagam Adat Basandi Sara, Sara basandi Kitabullah.

JBMI mencatat keberhasilan membawa Presiden Joko Widodo dalam perhelatan mereka. Bandingkanlah Natal tahun lalu yang dijadwalkan di Humbahas digeser ke Indonesia Timur. Beberapa waktu lalu juga terdengar khabar Presiden Joko Widodo akan ke Sarulla meresmikan operasional industri pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di Indonesia. Presiden Jokowi tidak jadi datang. Pertengahan bulan ini dijadwalkan hadir pada perhelatan Kongres Aliansi Masyarakat Adat Nusantara yang dihadiri oleh ribuan delegasi se-Indonesia di Tanjung Gusta, Deli Serdang. Presiden Joko Widodo tidak hadir.

Di tengah kebingungan dunia tentang penentuan kapan masuknya Islam ke Indonesia, dan itu sudah berusia lama, Joko Widodo pun datang ke Barus dan di sana meresmikan sebuah monument yang secara politik menyelesaikan kontroversi. Bargaining apa yang dimiliki JBMI? Majulah terus.

Shohibul Anshor Siregar.
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA,
Medan, 27 Maret 2019

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: