'nBASIS

Home » ARTIKEL » MEMBANGUN SUMUT

MEMBANGUN SUMUT

AKSES

  • 538,596 KALI

ARSIP


img_20150916083410_55f8c712a6ec4
Kita akan membangun sebuah fasilitas umum yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di Kota Medan, yakni berupa sebuah perpustakaan lengkap dan paling modern untuk ukuran zaman ini.

Mula-mula kita buatlah sebuah daftar undangan untuk sosialisasi awal. Dalam daftar itu semua pengusaha menjadi lapisan pertama. Ya, pengusaha, dari semua sektor. Industriawan, pedagang dan jasa. Kemudian seluruh pejabat menjadi lapisan kedua. Para pimpinan lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta dan pimpinan organisasi kemahasiswaan pada lapisan berikutnya.
Undangan lux kita tebar sesuai daftar itu. Sebagai ketua penyelenggara saya akan bubuhkan tandatangan saya berikut stempel jabatan yang didesign bagus sedemikian rupa berwarna merah dan putih.
Lalu ada sebuah pertanyaan serius. Apakah Anda keberatan jika di dalam lembaran undangan itu ada tandatangan Bapak Saut Situmorang sebagai tokoh nasional asal Sumut yang kini menjabat sebagai salah seorang pimpinan KPK?
Dalam agenda acara yang tertera dalam undangan Bapak Saut Situmorang pun akan mendapat giliran pertama pemberi kata sambutan sebelum yang lain seperti Gubernur, Walikota, Ketua Kadinda Sumut dan Medan, Rektor USU, Rektor Unimed, Rektor UINSU, Kopertis Wilayah I, Ketua MUI, Ketua NU, Ketua Al-Washliyah, Ketua Muhammadiyah. Ephorus HKBP, Keuskupan Agung, dan pimpinan organisasi keagamaan lainnya.
Kita minta dalam sambutan beliau ada aksentuasi khusus kepada para pengusaha untuk memberi donasi dan jika berkenan dilakukan seperti mengabsen mereka. Silakan, bapak itu, pengusaha bidang ini, kra-kira akan menyumbang berapa sekarang? Ayo panitia, silakan mendekat ke beliau. Ada cheque yang segera akan ditandatangani oleh beliau untuk membangun perpustakaan modern kita ini.
Jangan terlupa, para tokoh yang sudah pasang-pasang ancang-ancang untuk ikut berebut jabatan Gubernur dan Wakil melalui pilgub 2018 dilibatkan juga. Edy Rahmayadi, Gus Irawan Pasaribu, JR Saragih, Tuani Lumbatobing, Sahril Tumanggor, Victor E Simanjuntak, Maruli Siahaan, Muslim Simbolon, Ara Siahaan, Junimart Girsang, dan lain-lain. Tak ada alasan menolak mereka untuk berorasi di sana, sambil diminta menyatakan jumlah uang yang dapat mereka sumbangkan.
Selain para pemimpin formal dan non-formal yang disebut di atas, dalam kepanitiaan untuk pekerjaan besar ini dicantumkan posisi penting dan strategis bagi Ketua Pemuda Pancasila, Ketua IPK, Ketua AMPI, Ketua PW Pemuda Muhammadiyah, Ketua GP Ansor, Ketua PMII, HMI, PMKRI, GMKI, GMNI, IMM, HIMMAH, dan yang lain (semua diikut-sertakan). Tak ketinggalan para ketua Parpol.
Ada sebuah dokumen yang menjelaskan begitu pentingnya fasilitas umum berupa perpustakaan ini untuk mendorong akselerasi pengembangan sumberdaya manusia bagi kebersaingan dengan SDM Negara mana pun. Kita tertinggal dalam hamper semua bidang, termasuk ekonomi. Pasal utamanya ada pada ketertinggalan pendidikan. Investasi dalam  bidang ini tak boleh dinomorduakan. Kira-kira begitu.
Perlu diperjelas pula bahwa ini bukanlah langkah satu-satunya, tentu saja. Tetapi mengambil salah satu sektor penting dari multi-sektor yang sangat perlu adalah jiwa dari sebuah kebertahapan pembangunan terutama di tengah ketiadaan dan ketidak-berdayaan nyata sebuah bangsa yang tertinggal oleh beban sejarah dan perlakuan tak manusiawi lainnya dalam kurun yang begitu lama.
Rencana berikut akan didorong, dengan pola yang sama, membangun infrastruktur perekonomian. Misalnya sebuah cold storage raksasa di Tanah Karo, tak kurang dari 10 hektar, yang nanti akan sanggup mengawetkan semua produk pertanian di sana untuk beberapa bulan sebelum harga normal. Kerap terjadi di sana, saat panen harga produk jatuh ke titik nadir hingga petani rugi total dan memilih tak memetik hasil. Tragedi seperti itu tak usah berulang lagi.
Menunggu uang dari brankas Negara adalah sesuatu kemustahilan mengejar ketertinggalan saat ini. Kapasitas fiskal daerah sangat rendah ditimpali dengan ketidak-kreativan kepadal daerah terpilih di daerah. Cengkeraman Jakarta (Pusat) sangat kuat atas nama NKRI plus otonomi aerah yang cacat motif. Karena itu harus ada pemcarian alternative membangun daerah tanpa mengendalkan uang brankas (APBD dan APBN) yang dipastikan tak pernah akan teralokasikan.
Banyak sekali yang harus dipikirkan untuk membangun Sumut, tetapi kurang jelas dari mana harus dimulai. Percaya dengan agenda-agenda normatif yang dikendalikan oleh lembaga dan kepemimpinan resmi, terasa sesuatu yang tak memberi harapan.
Akan ada yang bertanya kritis, mengapa bapak Saut Situmorang? Apakah maksudnya menggertak pengusaha agar mau menyumbang uang yang diperlukan? Begini: Bapak Saut Situmorang itu sangat besar perhatiannya ke kampong halamannya (Sumut). Secara etik taklah melanggar jika pengaruh beliau dimanfaatkan. Toh selama ini pun beliau sudah bolak-balik ke Sumatera Utara dan tampil dalam forum-forum yang diselenggarakan oleh para aktivis, termasuk ketampilan yang terakhir, Jum’at pekan lalu,  bersama Gubsu HT Erry Nuradi, Yasonna H Laoly, Trimedya Panjaitan, dan seorang aktivis anti korupsi dari kampus UGM, membahas korupsi.
Ide ini hanya memanfaatkan praktik yang sudah beliau jalankan.

Shohibul Anshor Siregar
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: