'nBASIS

Home » ARTIKEL » SURVEY PERKEMBANGAN KONSEP JESUS SEJARAH

SURVEY PERKEMBANGAN KONSEP JESUS SEJARAH

AKSES

  • 535,471 KALI

ARSIP


Oleh Markus Dominggus L. D.

|Dapat disimpulkan bahwa penelitian Yesus Sejarah ini telah menyusun suatu Kristologi yang berbeda dari apa yang selama ini diyakini gereja|Inilah yang akan ditinjau penulis dalam tulisan ini|

I. PENDAHULUAN

Sejak mula, kekristenan telah menegaskan pentingnya kenyataan historis bagi keyakinannya. Karena itulah Paulus bisa berkata bahwa “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu…” (1Kor 15:16:)[1]. Penegasan ini dipegang terus oleh bapa-bapa gereja yang menentang keras segala bentuk Doketisme yang menyangkali kesejatian kemanusiaan Yesus Kristus dalam sejarah. Dalam satu abad terakhir dunia teknologi sedang menyaksikan suatu perkembangan yang demikian pesat dalam penelitian Yesus Sejarah (Historical Jesus). Perkembangan ini oleh para ahli bahkan telah mencapai “The Third Quest[2].”

Tujuannya adalah untuk mengetahui siapakah Yesus dibalik semua formula-formula doktrinal yang mengitari-Nya. Dalam bahasa yang lebih teknis tujuan penelitian ini adalah mencari hubungan Yesus Sejarah dan Kristus Iman (Kristus Kerygmatis)[3]. Ini didasari oleh asumsi bahwa keempat Injil adalah pengakuan iman kepada Kristus. Kristus yang dikisahkan adalah “Kristus Iman” yang diberitakan di dalam dan oleh gereja[4]. Dengan demikian kehidupan, kata-kata, perbuatan, dan penderitaan-Nya tentu tidak disajikan secara detail dan apa adanya sebab telah dipengaruhi oleh refleksi teologis (konfeksi iman) gereja pada kemudian hari[5].

Riset terakhir Yesus Sejarah dalam kesimpulannya mengatakan:

“Jesus may never have said 82 percent of what the gospels attribute to Him. The only verifiably authentic part of The Lord’s Prayer is ‘our Father’. Jesus never preached a Gospel of Salvation through His death, He never worked any miracles, and He most certainly was not raised from the dead … According to some of these scholars, The Real Jesus more of a social critic like Socrates than The Messianic Son of God and Agent of The Kingdom of God”.[6]

Dapat disimpulkan bahwa penelitian Yesus Sejarah ini telah menyusun suatu Kristologi yang berbeda dari apa yang selama ini diyakini gereja. Inilah yang akan ditinjau penulis dalam tulisan ini.

II.SEJARAH RISET YESUS SEJARAH

Studi terhadap Yesus Sejarah membuktikan bahwa ia sangat terkait erat dengan berkembangnya pandangan teologis atas Alkitab[7], studi kritis atas kitab-kitab Injil dan pengaruh filsafat yang berkembang pada zamannya.

Pra-Riset (sebelum tahun 1778)

Pada masa ini orang tanpa keraguan menerima bahwa tidak ada perbedaan antara Kristus Iman dan Yesus Sejarah, keduanya identik[8]. Walaupun dalam studi atas kitab-kitab Injil ditemukan perbedaan namun itu tidak dianggap sebagai persoalan. Para ahli memakai pendekatan harmonisasi untuk menyelesaikannya.

Riset Pertama – Old Quest (1778-1906)

Pencerahan (enlightenment) yang muncul dalam abad ke-18 telah menjadi pemicu dan pemacu riset Yesus Sejarah. Ia memberikan suatu kerangka acuan intelektual kepada riset tersebut. Pencerahan muncul dengan penolakan klaim adi kodrati serta mengangkat rasio sebagai penentu utama kebenaran[9]. Dari sini orang mulai memilah-milah dengan mengatakan bahwa ada perbedaan yang mendasar antara penyajian suatu fakta dengan faktanya itu sendiri[10]. Pada saat yang sama di dalam dunia penelitian Alkitab juga berkembang minat yang leas pada penelitian sastra keempat Injil secara kritis[11]. Kedua hal inilah yang memainkan dua peranan besar dalam penelitian Yesus Sejarah mula-mula.

Hermann Samuel Reimarus adalah tokoh penting yang pertama kali mendekati Perjanjian Baru dengan pola pemisahan di atas. Berdasarkan studinya, ia menyimpulkan bahwa kekristenan adalah agama yang dibangun di atas anggapan yang Salah tentang Yesus oleh murid-muridNya. Ia tidak lebih dari pada seorang pembohong yang mengaku diri mesias. Ia hendak mendirikan kerajaan dunia untuk membebaskan orang Yahudi dari penindasan asing namun gagal. Murid-muridNya yang bermimpi menjadi menteri-menteri tidak bisa menerima keadaan itu. Mereka lalu mencari mayat Yesus, mengoreksi pelayanan dan berita Nya menjadi penderitaan bagi seluruh amusia dan berharap akan kedatangan-Nya yang kedua pada akhir zaman[12]. Jadi menurut Remairus keempat Injil tidak menyajikan cerita yang benar secara historis[13] dan kebenaran iman Kristen bukan lagi diletakkan pada “kebenaran historis faktual” tetapi hanya pada kebenaran moral universal saja[14].

Karya Reimarus mempengaruhi banyak orang sesudahnya. David Strauss, misalnya, menegaskan bahwa kitab-kitab Injil mengandung mitos dan legenda yang mengandung kebenaran agama[15]. Mitos dan legenda ini digunakan gereja mula-mula untuk “menyelamatkan” relevansi Yesus[16]. Selain Strauss, ada juga H. J. Holtzmann yang berpendapat bahwa Injil Markus dan Q hanya menggambarkan Yesus sebagai guru etika saja. Harnack, yang mengembangkan pendekatan Albrecht Ristchl, juga menganut pandangan senada namun lebih jauh lagi, dengan mengikuti rasionalisme[17].

Riset Kedua – No Quest (1906-1953)

Periode ini ditandai dengan terbitnya tulisan Albert Schweitzer, The Quest of The Historical Jesus. Tulisannya dipandang mengakhiri riset pertama dan memulai periode riset baru. Ia menolak kesimpulan The Old Quest yang dipandangnya telah memodernisir Yesus dan menjadikan-Nya menurut ide-ide teologis dan filosofis mereka.” Dalam ungkapan Marxsen, Old Quest menghasilkan “a ‘result’, one paints exactly that picture of the historical Jesus which one had in mind to begin with[18].”

Melawan Old Quest, Schweitzer menegaskan suatu pengertian tentang Yesus yang didasari pada eskatologi apokaliptik Yahudi[19]. Menurutnya, selama pelayanan-Nya Yesus mengharapkan Anak Manusia muncul dan membangun Kerajaan Allah di bumi. Namun tidak terjadi sehingga Yesus lalu memancing penguasa Yahudi mengeksekusi Dia sambil meyakini bahwa kematian-Nya akan memicu Intervensi Allah dalam sejarah. Bagi orang Kristen, kematian Yesus mengilhami mereka untuk meneladani pengorbanan-Nya[20].

Berbeda dengan Old Quest, Schweitzer lebih memusatkan perhatian pada situasi kultural di sekeliling Yesus. Baginya, ini merupakan kunci untuk memahami Yesus[21]. Mulai dari Schweitzer timbullah skeptisisme radikal dalam riset Yesus Sejarah yang memandang mustahil untuk merekonstruksi Yesus Sejarah. Namun diskontinuitas antara Yesus Sejarah dan Kristus Iman – warisan old Quest – tetap dipertahankan[22]. Karena itu Kristus Iman lebih penting. Pentingnya Kristus Iman ini makin dipertegas lagi dengan karya Martin Kahler, The So-Called Historical Jesus and The Historic Biblical Christ[23].

Sikap itu kemudian ditegaskan kembali oleh Rudolf Bultmann. Namun tesisnya mengabaikan sama sekali elemen sejarah sehingga menurutnya iman yang 2 membutuhkan topangan riset sejarah tentang hidup Yesus bukan lagi iman[24]. Karena itu dalam penafsiran kitab suci ia memprogramkan demitologisasi untuk membersihkan beritanya dari unsur-unsur mitos (bukan sejarah)[25].

Riset Ketiga – New Quest (1953 sampai sekarang)

Pada tahun 1953, Ernst Kasemann dalam acara reuni murid-murid Bultmann, menyampaikan suatu makalah yang kemudian diterbitkan dengan judul “The Problem of The Historical Jesus”. Dalam makalah ini, Kasemann menolak metodologi Bultmann dan menegaskan lagi ketidakmungkinan penulisan biografi Yesus menurut cara The Old Quest. Injil bukan biografi Yesus tetapi sungguh mengacu kepada pribadi yang sungguh-sungguh real.”

Bersama-sama dengan kawan-kawannya yang lain, Kasemann tetap membedakan Yesus Sejarah dan Kristus Iman. Namun mereka ingin membangun kontinuitas di antara keduanya dengan suatu keyakinan bahwa “Within limits it is methodologically possible to reach relatively certain historical conclusions as a reminder to christian faith that Jesus its Lord was indeed human[26].”

Untuk membangun kontinuitas maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah menetapkan suatu kriteria untuk menguji otentisitas materi Injil[27]. Kriteria-kriteria ini antara lain adalah kriteria disimilaritas (criterion of dissimilarity), kriteria koherensi (criterion of coherence), kriteria pembuktiaan berganda (criterion of multiple attestation) dan kriteria bahasa dan lingkungan (criterion of language and environment).

Dapat disimpulkan bahwa pergumulan New Quest adalah pada pembuktian kebenaran material kitab-kitab Injil Namun seperti yang dikatakan Brehm, “beyond this one fact of Jesus death, they essentially rejected the validity of historical events for faith … “[28]. Dengan demikian usaha mereka untuk membangun kontinuitas antara Yesus Sejarah dan Kristus Iman serta dasar ini Kristen berdasarkan riset sejarah pada dasarnya gagal[29].

Riset Keempat – Third Quest[30]

Berbeda dengan Old Quest yang memandang Yesus secara moralistik dan New Quest yang eksistensialis, Third Quest mencoba memahami Yesus dalam konteks sosial, ekonomi, politik dan religius Yudaisme abad pertama. Dalam kaitan dengan ini ada bermacam-macam pendekatan yang dikembangkan, mulai dari yang radikal, konservatif sampai mempergunakan pendekatan interdisipliner.

“Jesus Seminar” merupakan gambaran terakhir riset-riset Yesus Sejarah. Sebagian besar, mereka menggunakan pendekatan kritik redaksi radikal untuk sampai pada gambaran Yesus Sejarah. Untuk itu, mereka menggunakan evaluasi ucapan-ucapan Yesus dengan asumsi-asumsi berikut: (1) Yesus tidak pernah bertindak sebagai seorang nabi apokaliptis dari suatu Kerajaan Allah eskatologis; (2) Sebelum Injil ditulis ajaran Yesus diteruskan secara oral yang sebagian besar tidak dapat dipercaya; dan (3) the burden of proof jatuh pada mereka yang mencoba membela otentisitas Injil[31].

Di samping itu Jesus Seminar juga memunculkan dimensi-dimensi baru seperti sumber-sumber ekstra kanonis yang dianggap lebih awal daripada keempat Injil dan lebih dapat dipercaya secara historis. Sumber-sumber itu antara lain The Gospel of Thomas,. The Secret Gospel of Mark dan The Gospel of Peter. Selain itu pandangan tentang siapakah Yesus juga beragam sekali. Marcus Borg, misalnya, memandang Yesus sebagai pendiri gerakan pembaharuan yang berusaha menggantikan “politik kemurnian” (politics of purity) dengan “politik belas kasihan” (politics of compassion) yang menekankan kesamaan dan ketercakupan. Yang lain memandang Yesus sebagai Guru dan Pengkritik sosial dalam tradisi filsuf sinis Yunani (J. D. Crossan dan Burton Mack).

Riset terakhir Yesus Sejarah ini (Third Quest) dapat dikatakan cenderung ke arah pandangan tradisional tentang Yesus sebagai Guru, Nabi dan Mesias walau demikian isinya masih tetap berbeda. Dalam dura teologi sistematika Wolfhart Pannenberg dan Hans Kung banyak dipengaruhi oleh penelitian Yesus Sejarah ini. Keduanya menekankan betapa perlunya berkristologi “dari bawah” (Christology from below).

III. EVALUASI KRITIS RISET YESUS SEJARAH

Setelah mensurvei sejarah riset Yesus Sejarah, kini penulis akan memberikan beberapa catatan kritis atasnya. Pertama, riset Yesus Sejarah muncul pada era pencerahan (enlighment). Kecenderungan yang berkembang pada masa ini adalah peninggian rasio sebagai penilai terakhir kebenaran. Ini menimbulkan dampak yang besar dalam penelitian sejarah, selanjutnya. Untuk menguji kebenaran suatu klaim sejarah, orang mengembangkan suatu metode yang membedakan, menurut istilah Marxsen, presentasi suatu peristiwa dan peristiwanya itu sendiri. Metode ini dipakai oleh Remairus untuk menguji kesejarahan Yesus.

Pada dirinya sendiri, metode berpikir semacam ini tidak salah. Namun yang menjadi persoalan adalah kriteria yang dipakai untuk menilai suatu presentasi dan peristiwanya sendiri[32]. Problema ini makin rumit karena kriteria yang digunakan lebih sering bersifat subyektif dan dilandasi oleh prakonsepsi-prakonsepsi yang telah dimiliki oleh peneliti. Artinya, orang datang dengan suatu gambaran tertentu tentang Yesus dan mencari pembuktiannya dari Injil[33]. Jika demikian, penilaian yang jujur dan obyektif sukar untuk diperoleh. Persoalan ini juga dihadapi oleh riset-riset Yesus Sejarah yang berusaha menentukan otentisitas perkataan Yesus.

Kedua, Pencerahan’ (enlightenment) juga membawa dampak lain yaitu dorongan pembebasan diri dari dogma. Nils Alstrup Dahl dalam analisisnya menunjukkan bahwa inilah motif utama munculnya perhatian pada studi Yesus Sejarah, bahkan bergerak lebih jauh pada pemutusan hubungan dengan “The apostolic proclamation of The Christ underlying that dogma[34]. Motif ini tetap ditunjukkan dalam riset Yesus Sejarah hari ini dan secara ekstrim ditunjukkan dalam formula Kristologi Pluralistis yang bertujuan merelatifkan klaim-klaim finalitas Yesus Kristus[35].

Ketiga, penolakan riset Yesus Sejarah terhadap unsur-unsur adi kodrati dalam kisah-kisah Yesus merupakan warisan rasionalisme pencerahan. Colin Brown, dalam Miracles & The Critical Mind, melacak bahwa penolakan ini berakar dalam pemikiran Kant yang memandang dunia sebagai suatu sistem tertutup[36]. Akar in kemudian dikembangkan dalam pemikiran G. E. Lessing, Schleiermacher, Strauss, Fuerbach, dan memuncak pada Skeptisisme Liberalisme dan Eksistensialisme dalam bentuk dan tekanan yang beragam. Dengan itu mereka membaca unsur-unsur adi kodrati Injil sebagai mitos (Strauss), proyeksi keinginan manusia (Feurbach) atau suatu “latter embellishment” (Bousset). Penelitian Yesus Sejarah disadari atau tidak mewarisi semangat ini dalam penolakan mereka akan unsur-unsur supranatural.

Keempat, asumsi riset Yesus Sejarah bahwa Injil diragukan historisnya, jelas mengabaikan fakta bahwa Injil adalah dokumen sejarah yang dapat dipercayai. Apa yang dicatat dan direkam dalam Injil adalah peristiwa yang memang sungguh-sungguh terjadi[37]. A.N. Sherwin White, seorang sejarahwan Romawi yang terkenal, memuji ketepatan perumpamaan-perumpamaan Yesus dalam mengungkapkan pola hidup di Galilea pada zamannya, “The Narrative … coheres beautifully[38].

Kelima, pemisahan antara Yesus Sejarah dan Kristus Iman di mata Brehm telah mengaburkan kontinuitas antara keduanya dalam catatan Perjanjian Baru[39]. Perjanjian Baru jelas menunjukkan bahwa Kristus yang bangkit sama dengan Yesus yang hidup dan mati itu. Catatan perjanjian baru tidak pernah memisahkan apalagi sampai menganggap Kristus yang bangkit itu suatu tokoh asing yang tidak dikenal. Dengan pemisahan yang semacam itu, riset Yesus Sejarah sebenarnya gagal dalam menyusun suatu landasan iman kepada Yesus Kristus secara teguh.

Dengan memandang segala kelemahan-kelemahan yang melekat di dalamnya, bukan berarti riset ini tidak memberi manfaat sama sekali. Ternyata riset ini telah memberikan banyak kontribusi pada studi Perjanjian Baru, khususnya aspek-aspek sosial, politik, ekonomi, dan religiusnya. Ini jelas sangat menolong sekali dalam memahami berita Perjanjian Baru secara lebih komprehensif.

Catatan:

[1] Lihat 1Kor 15:16: Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.

[2] H. Alan Brehm, “Will The Real Jesus Please Stand?: Evaluating The `Third Quest Historical Jesus” Southwestern Journal of Theology 38 (1996) 4.

[3] Kristus Sejarah yang dimaksud di sini adalah Yesus hasil rekonstruksi secara metodis, kritis dan melalui suatu riset ilmiah.  Lihat Nils Alstrup Dahl, Jesus The Christ, Donald H. Juei, ed. (Minneapolis: Fortress, 1991) 91. Sedangkan Kristus Iman adalah Kristus yang dicatat dalam Perjanjian Baru dan yang dirumuskan dalam formula doktrinal klasik (mis. dalam Kredo Chalcedon).

[4] W. Barnes Tatum, In Quest of Jesus: A Guide Book (Louisville: John Knox, 1982) 63.

[5] Ibid. Lihat juga Nils Alstrup Dahl, 95-97.

[6] Brehm, “Will The Real”, 4.

[7] Ibid.

[8] W. Barnes Tatum, In Quest, 66-68.

[9] Brehm, “Will The Real”, 5.

[10] Willi Narxsen, Jesus & Easter: Did God Raise The Historical Jesus from The Dead? (Nashville: Abingdon, 1990) 14.

[11] W. Barnes Tatum, In Q

[12] Brehm, “Will The Real”, 5. Lihat juga Marxsen, Jesus & Easter, 14-15. Tatum, In Quest, 68-69 dan Joachim Jeremias, The Problem of Historical Jesus (Philadelphia: Fortress, 1972) 4.

[13] Marxsen, Jesus & Easter, 15.

[14] Brehm, “Will The Rear’, 5

[15] Ibid.

[16] Ibid.

[17] Ibid. Bandingkan Tatum, In Quest, 70-71

[18] Marxsen, Jesus & Easter, 17.

[19] Brehm, “Will The Rear’, 6. Lihat juga Tatum, 72-73.

[20] Brehm, “Will The Real”, 6. Lihat juga Howard Clark Kee, Jesus In History ew York: Hartcourt Brace Jovanovich, 1977) 26-27

[21] Situasi kultural (Cultural Milieu) di sekeliling Yesus dipenuhi dengan harapan apokaliptis akan kedatangan Mesias yang akan membangun suatu Kerajaan bagi Israel. Pertanyaan para murid Yesus dalam Kis 1:6, cukup untuk menggambarkan hal ini.

[22]Tatum, In Quest, 73

[23] Jeremias, Problem of Historical Jesus, 7

[24] Tatum, In Quest, 74

[25] Brehm, “Will The Real”, 6

[26] Tatum, In Quest, 75.

[27] Bandingkan dengan Brehm, “Will The Real”, 6.

[28] Brehm, “Will The Real”, 7.

[29]  Ibid.

[30] Uraian ini disarikan dari Brehm, “Will The Real”, 7-10 dan Brown, Dictionary of Jesus and The Gospels, 337-341.

[31] Dalam Alkitab Red Letter Editions yang dikeluarkannya, mereka memilah-milah keaslian perkataan Yesus sebagai berikut: Merah menunjukkan perkataan Yesus atau yang sangat mungkin dikatakan-Nya; Pink menunjukkan Yesus mungkin mengatakannya; Abu-abu menunjukkan keraguan; dan Hitam menunjukkan itu tidak diterima sebagai perkataan Yesus yang asli. Lihat Brown, Dictionary of Jesus and the Gospels, 337.

[32] Marxsen, Jesus & Easter, 33. T. F. Torrance melihat bahwa pola pemikiran semacam ini tidak lepas dari pengaruh pola berpikir Newtonian dan Kantian yang berbentuk dualisme radikal.. Untuk jelasnya lihat T. F. Torrance, “The Historical Jesus: From The Perspective of The Theologcan.” The New Testament Age: Essays ini Honour of Bo Reicke, William C. Weinrich, ed. (Macon: Mercer University Press, 1984) 516-523.

[33] Tulisan Torrance sangat menolong memahami hal ini. Lihat juga Harvie M. Conn, “The New Quest for The Historical Jesus.” The New Testament Student at Work, John Skilton, ed. (Phillipsburg:. Presbyterian & Reformed., 1975) 7273 dan Nils A. Dahl, Jesus The Christ, 94. Dalam kritiknya yang keras terhadap Third Quest, Brehm memandang bahwa apa yang mereka lakukan tidak lebih daripada pembacaan Injil dari sudut sosiologi dan ideologi modern. Brehm, “Will The Real”, 12.

[34] Dahl, Jesus The Christ, 83-84.

[35] Diskusi terakhir tentang hal ini bisa dilihat dalam tulisan Klaas Runia dalam REC Theological Forum Vol. XXIV/3&4, 4-18. Bandingkan dengan tulisan Torrance, The Historical Jesus, 515-516.

[36] Brown, Miracles & The Critical Mind, 106.

[37] Paul Bernett, dalam bukunya Is The New Testament History? (Ann Arbor: Servant, 1986) 159-167, memberikan uraian taktis tentang historisitas Injil. Lihat juga W. D. Davies dalam bukunya Invitation to The New Testament: A Guide to Its Main Witnesses (Garden City: Doubleday, 1969) 63-71, memberikan uraian tentang historisitas Yesus. Bdk. Colin E. Gulton, Yesterday and Today: A Study of Continuities in Christology (Grand Rapids: Eerdmans, 1983) 59-60, yang memandang riset Yesus Sejarah “Mistaken because it radically miscontrues the nature of The New Testament documents.

[38] Barnett, Is The New Testament History?, 157. 40 Brehm, “Will The Real”, 12.

[39] Morton T. Kelsey, Healing and Christianity, Harper & Row, hal. 58.

source

Bahan terkait

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: