'nBASIS

Home » ARTIKEL » KONSTITUSI MADINAH

KONSTITUSI MADINAH

AKSES

  • 544,897 KALI

ARSIP


The_Patent_of_Mohammed

Jika KM diklaim sebagai peraturan hukum tertulis pertama di dunia, maka itu adalah sebuah penunjukan atas fakta yang memaksudkan bahwa selain wahyu (revelation), KM memang jauh mendahului produk pemikiran dan budaya manusia yang berbentuk naskah konstitusi, yang pernah lahir sepanjang sejarah umat manusia di permukaan bumi ini.

Dalam bentuk yang amat sederhana dan umumnya hanya dianggap sebagai garis besar kumpulan peraturan yang semata-mata menyangkut adat-istiadat lokal, dikhabarkan bahwa sekitar tahun 600-an sebelum Masehi di kota Athena pernah ditemukan tak kurang dari 11 yang mirip konstitusi. Aristoteles sendiri disebut berhasil mengoleksi 158 jenis dari beberapa tempat (Negara). Melihat cakupan dan bentuknya, keseluruhannya itu tak sebanding dengan Konstitusi Madinah (KM) yang dibuat Rasulullah SAW pada abat ke 7 Masehi.

Naskah KM dalam bahasa Arab maupun terjemahannya untuk berbagai bahasa dengan mudah dapat diakses pada internet saat sekarang. Kelihatannya memang mungkin saja naskah asli KM tak memiliki bangun organisasi yang sama sebagaimana lazim dikenal dalam seluruh konstitusi modern. Berarti penandaan dan pembagian batang tubuh konstitusi tertua ini berdasarkan substansinya belakangan dilakukan. Ada juga pendapat bahwa KM itu sesungguhnya terbagi dua sesuai latar belakang dan momentum serta konteks masalah yang terjadi pada tahun-tahun awal setelah hijrah Nabi dari Mekkah ke Madinah itu.

Kajian-kajian semisal The Hibbert Lectures (second series) yang memberikan fokus telaahan atas era perkembangan Islam (The Early Development of Mohammedanism) dari D.S.Margoliouth, D. Litt (Fellow of New College and Laudian Professor of Arabic in The University of Oxford, London, May and June 1913) sedikit banyaknya semakin mempermudah sarjana-sarjana Barat mengenali KM dan penggalan-penggalan peristiwa sosial politik yang menandai dinamika dakwah Islam, melalui tangan-tangan yang tampil dari kalangan mereka sendiri (orientas).

Tetapi perlu dicatat bahwa disertasi A.J. Winsick (1928) yang berjudul “Mohammed En de Joden te Madina” memiliki tempat tersediri di antara keseluruhan. Konon disertasi ini disebut-sebut memiliki andil besar untuk penjelasan dan studi awal tentang tahapan dakwah Islam paling dini yang membingkai kelahiran KM. Sekaligus ia menjadi orang terkemuka dalam memperkenalkan KM kepada dunia, khususnya kepada para sarjana Barat, dan darinyalah orang mulai tahu bahwa KM yang berisi 47 pasal ini telah mendahului konstitusi yang pernah ada di permukaan bumi.

Isi ke-47 pasal KM yang secara umum dapat dibagi menjadi 10 bab ini mencakup hal-hal yang berisi pengaturan tentang masalah-masalah internal kaum muslimin, hubungan dan pengaturan yang bertalian dengan kaum musyrik, Yahudi (modus vivendi dan modus operandi kehidupan muslim-non muslim) dan ketentuan bersifat umum lainnya. Rinciannya dapat dibuat demikian: muqaddimah (bab 1), pembentukan umat (Bab 2), persatuan seagama (Bab 3), persatuan segenap warga Negara (Bab 4), pandangan dan perlakuan atas golongan minoritas (Bab 5), tugas dan kewajiban warga Negara (Bab 6), kewajiban melindungi Negara (Bab 7), pimpinan Negara (Bab 8), politik perdamaian (Bab 9), dan penutup, khotimah (Bab 10).

Sekadar mengantar untuk diskusi, berikut adalah terjemahan dari muqaddimah KM: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ini adalah piagam (konstitusi) dari Muhammad, Rasulullah SAW, bagi kalangan mukminin dan muslimin (yang berasal) dari Quraisy dan Yatsrib (Madinah), dan yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang bersama mereka”. Perhatikan bunyi muqaddimah ini yang begitu jelas menegaskan dirinya untuk sebuah pengaturan kehidupan masyarakat (berdasarkan hukum positif) dengan basis perpaduan kaum muhajirin (Quraisy yang datang bersama Muhammad Rasulullah dari Mekkah) dalam ikatan tauhid dengan kaum Anshar (penduduk lokal, asli) di Madinah yang kala itu masih disebut Yastrib.

Selain mengatur formulasi kejama’ahan umat berlandaskan aqidah (Islam) sehingga mencakup seluruh kaum muslimin dimana pun berada, KM memberi rincian pengaturan tentang pembentukan umat atau jama’ah berdasarkan satuan-satuan komunitas wilayah tempat tinggal yang dengan sendirinya memperlihatkan cakupan tak hanya orang muslim melainkan juga non muslim yang hidup berdampingan. Jaminan persamaan dalam pergaulan secara umum dipentingkan. Sebagai sistem sosial yang mengandaikan sebuah harmoni dan keamanan hidup, larangan melindungi pelaku kriminal sebagai prasyarat-prasyarat mendasar dalam sebuah Negara, sangat menonjol dalam KM, termasuk tentang sikap dan tindakan atas perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai zhalim terhadap harta benda.

KM mengidentifikasi dengan jelas siapa teman dan siapa musuh sehingga hal-hal seperti larangan bagi kaum Yahudi untuk ikut berperang mendapat pengaturan yang jelas. Mereka hanya boleh bergabung dalam ranah urusan itu atas izin Nabi Muhammad SAW meski keharusan ikut andil dalam pembiayaan yang diperlukan dalam rangka membela Negara tak luput dari pengaturan. Konsep “kita” dan “mereka” sangat kentara, sehingga untuk, misalnya, melakukan perjanjian damai secara pribadi dengan musuh dan melindungi pihak musuh adalah sesuatu yang terlarang. Nabi Muhammad sebagai tokoh sentral begitu kuat posisinya dalam KM dalam memberi keputusan-keputusan untuk masalahat dan dakwah Islam. Upaya-upaya pelestarian warisan budaya dan kebiasaan yang baik oleh KM ditegaskan sebagai hal penting.

Jika KM diklaim sebagai peraturan hukum tertulis pertama di dunia, maka itu adalah sebuah penunjukan atas fakta yang memaksudkan bahwa selain wahyu (revelation), KM memang jauh mendahului produk pemikiran dan budaya manusia yang berbentuk naskah konstitusi, yang pernah lahir sepanjang sejarah umat manusia di permukaan bumi ini. Tentulah setiap masyarakat yang pernah ada memiliki norma yang mereka bangun sendiri, terlepas seberapa sederhana atau seberapa rinci pun itu. Tetapi KM jauh melampaui itu semua baik dilihat dari kompleksitas masalah yang diaturnya maupun dari aspek kejelasan otoritas, cakupan, legitimasi dan efektivitas serta relasi dan interaksi yang memunculkan pengaturan reward and punishment yang tak berhenti pada penunjukan ketentuan-ketentuan norma umum semata.

KM tidak berhenti pada statika sosial. Dalam perkembangannya sesuai risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, bagian-bagian tertentu dari isi KM memang mengalami beberapa perubahan tersebab penasakhan (amandemen, hapus dengan sendirinya) setelah turunnya wahyu. Semua konstitusi memang harus memiliki daya adaptasi atas perubahan, dan KM menunjukkan itu dalam konteks yang tunduk pada ketentuan imperatif wahyu,

Hal lain yang perlu difahami tentulah masa kepemimpinan umat pasca Rasulullah Muhammad SAW dengan dinamika yang berbeda di antara era kepemimpinan khulafa’urrasyidin (Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali), apalagi dengan kompleksitas perkembangan setelah era itu.

Berjarak waktu yang jauh dengan kelahiran KM, sejarah mencatat berbagai pertentangan keras di berbagai belahan dunia yang berakhir dengan gerakan revolusioner seperti The Glorious Revolution yang berujung pada penguburan absolutisme penguasa (raja) dan digantikan oleh pemegang kedaulatan baru berupa kelembagaan parlemen. Dampaknya dua belas Negara koloni Inggeris mengumandangkan proklamasi kemerdekaannya sekaligus berusaha menetapkan konstitusi (Magna Carta) sebagai dasar negara berdaulat pada tahun 1215. Di Amerika sendiri konstitusi barulah dibuat pada tahun 1787.

Revolusi tahun 1789 di Perancis juga melahirkan tuntuan perlunya sebuah konstitusi yang dibayangkan mampu menyahuti kebutuhan saat itu. Tetapi barulah beberapa tahun kemudian konstitusi Eropa pertama dibuat. Spanyol mengenal konstitusi tertulis pada tahun 1812, Norwegia pada tahun 1814, dan Belanda yang begitu lama menjajah Indonesia baru mengenal tahun 1815.

Semata untuk sebuah perbandingan, menarik untuk melihat konstitusi yang dibuat di lingkungan gereja Katholik yang dimulai sejak abad 16.  Wikipedia mencatat bahwa pemakaian istilah konstitusi dalam frasa ini bersumber dari kata constitution dalam bahasa Latin yang digunakan sebagai sebutan bagi segala macam undang-undang bernilai penting yang dikeluarkan oleh Kaisar Romawi, dan dipertahankan dalam dokumen-dokumen gerejawi akibat tatanan yang diwarisi hukum kanon Gereja Katolik Roma dari hukum Romawi.

Dari abad ke 16 misalnya terdapat Quo primum (1570) berupa Konstitusi Apostolik Pius V tentang Misa Tridentine. Sedangkan pada abad ke-19 lahir Ineffabilis Deus (1854) Konstitusi Dogmatik Pius IX tentang Konsepsi Maria yang Tak Bernoda. Ad Universalis Ecclesiae (1862) Konstitusi Paus Pius IX berurusan dengan persyaratan untuk masuk ke ordo religius orang-orang di mana sumpah kudus diresepkan. Romanos Pontifices (1881) Paus Leo XIII. Sedangkan dari produk abad ke-20 terbit Bis Saeculari (1948) Paus Pius XII tentang Sodality of Our Lady. Munificentissimus Deus (1950) Konstitusi Dogmatis Paus Pius XII tentang Asumsi Maria. Exsul Familia (1952) Konstitusi Paus Pius XII tentang Migrasi. Veterum sapientia (1962) Konstitusi Apostolik Paus Yohanes XXIII tentang promosi studi bahasa Latin, dan lain-lain.

Studi dan pemikiran dalam dunia Islam terkait dengan Negara mengalami kemandegan sama sekali. Bahkan ada ketakutan mendiskusikannya. KM sama sekali kurang dianggap penting sebagai rujukan wacana dan ijtihad. Mungkin karena iklim politik yang tak lepas dari hegemoni meski telah mengalami kemerdekaan, ditambah dengan fakta pluralitas agama yang dipeluk penduduk menyebabkan kemandegan wacana. Jika belakangan ada pihak-pihak yang menyebut-nyebut KM umumnya terbatas pada telaahan seperlunya untuk apa yang ia butuhkan tentang HAM, pluralitas dan keadilan sosial. Mereka enggan menelaah serius secara kmprehensif.

Malah di Indonesia muncul antipasti menolak wacana yang begitu kuat. Pada tahun 2009 The Wahid Institute menerbitkan sebuah buku berjudul “Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia”. Buku ini akhirnya menjadi kontroversial terutama karena pernyataan sejumlah orang dari Yogyakarta yang menyatakan diri dicantumkan sebagai peneliti dalam buku itu. Mereka ialah Dr. Zuli Qodir Abdur Rozaki, M.Si, Laode Arham, S.S., dan Nur Khalik Ridwan,S.Ag.

Pernyataan sikap mereka ialah bahwa materi (isi) buku yang disajikan bukanlah hasil riset dan karya mereka dan karena itu mereka tidak mungkin mengakui sebagai hasil penelitian mereka meski di dalam buku tersebut nama mereka disebut sebagai peneliti. Kemudian mereka menyatakan bahwa di dalam proses penerbitan buku tersebut mereka tidak pernah diajak dialog, misalnya menganalisis data dan membuat laporan penelitian sampai penerbitan menjadi sebuah buku. Bahkan dalam proses pengumpulan data, beberapa nama yang di dalam buku tersebut dicantumkan sebagai peneliti, jauh hari sudah mengundurkan diri, yakni Nur Khalik Ridwan dan Abdur Rozaki, sehingga tidak terlibat lagi di dalam tahapan penelitian selajutnya, mulai dari pengumpulan data, analisis data, penulisan laporan sampai pada penerbitan buku.

Mereka melihat buku “Ilusi Negara Islam” itu tujuannya telah bergeser dari riset yang semula bertujuan akademik pada tujuan politis dengan cara tetap mencantumkan nama-nama peneliti yang sebelumnya sudah mengundurkan diri namun namanya tetap dicantumkan sebagai peneliti (dan menyimpang dari desain awal penelitian).

Ikhtilaf (perbedaan ijtihad) dalam soal-soal akademis sesungguhnya adalah rahmat. Sayangnya para tokoh yang terlanjur dinobatkan sebagai motor penggerak demokrasi dan tokoh pluralis level nasional tak selalu berada pada posisi yang dialifikasikan itu. Semogalah iklim itu berubah menjadi lebih menantang untuk para mujtahid ke depan. Insyaa Allah.

 

Shohibul Anshor Siregar.
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA,
Medan, 05 Juni 2017, hlm B9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: