'nBASIS

Home » ARTIKEL » TERORISME: ISIS (1)

TERORISME: ISIS (1)

AKSES

  • 564,825 KALI

ARSIP


isis

Negeri ini sedang tidak stabil. Apa pun retorika yang dipilih untuk mencoba menutupinya. Kalau saja bisa mengurangi kadar ketidak-stabilan ini, perlulah diperbanyak publikasi kegiatan yang ringan-ringan presiden seperti selama ini tampaknya cukup digandrungi oleh media mainstream. Mana tahu efektif.

Pertajam pesan-pesan tertentu dari setiap publikasi itu. Misalnya ke arena dekonstruksi, baik dengan sasaran pengukiran kesan kuat sebagai presiden dengan kesederhanaan atau kebersahajaan. Presiden dengan kepedulian berlebih. Presiden dengan kemerakyatan yang luar biasa.

Putra Presiden Jokowi, Kaesang, juga boleh dimintai memproduksi lebih banyak dan lebih beraneka video khusus yang ringan-ringan tentang bapaknya. Dulu ia memublikasi video sedang main panco dengan bapaknya. Juga pernah disiarkan video potong rambut bapaknya di sekitar Bogor.

Perbenturan yang kurang lebih dapat disebut berorientasi pada rivalitas perebutan titik-titik simpul hegemoni politik, ekonomi dan budaya sedang berlangsung di Indonesia. Akarnya ada pada kesenjangan yang sangat parah dan negara tidak tahu sama sekali jalan keluar. Hal ini sudah cukup lama menghasilkan ketegangan serius.

Saya mencatat peran media yang sejak reformasi sudah sangat terkonsentrasi di tangan segelintir penguasa modal. Posisi pemilik modal ini sangat berkepentingan mempertahankan status quo, karena memang mereka bagian dari penguasa ekonomi itu. Di tangan mereka wacana yang kurang masuk akal sekali pun tentang radikalisme, terorisme dan semacamnya dapat diframing menjadi opini publik. Kita tahu di zaman perang maupun di zaman stabil, media menjadi alat politik yang sangat efektif.

Hasilnya lihatlah, orang-orang non muslim atas nama pribadi mau pun lembaga kerap memiliki keberanian luar biasa menista Islam dan jika tersangkut masalah hukum seperti Ahok, opini malah diarahkan lagi untuk menyudutkan Islam sebagai anti NKRI, intoleran, anti kebhinnekaan dan anti Pancasila. Anda bisa memonitornya sendiri dari pemberitaan media maupun wacana yang berkembang pada media sosial.

Bayangkanlah, tahun lalu umat Islam di salah satu kota besar di Pulau Jawa dituduh anti pluralitas karena menolak perayaan budaya etnis tertentu, yang mengagungkan dewanya, untuk diselenggarakan di halaman sebuah masjid Agung. Saya tahu halaman rumah dinas Walikota atau alun-alun tersedia di kota itu dalam ukuran sangat luas dan mampu menampung ribuan massa. Tetapi mengapa tetap ingin dipaksakan di kawasan masjid Agung? Aparat resmi Negara pun terlibat di situ, kendati disebut sebagai penengah saja.

Ini memang sebuah kelanjutan Islamophobia dalam versi yang lebih serius. Meski berbeda posisi dengan di Amerika Serikat, namun konstruk Islamophobia di Indonesia yang justru berpenduduk mayoritas muslim benar-benar meningkat drastis. Ini semakin menjelaskan akar masalah. Bahwa tak hanya Snouck Hurgronje telah berhasil menata keindonesia dalam kaitannya dengan keberagamaan (Islam).

19961574_10209606759267766_8124777068938953660_n

Keadaan di negeri Mandela (Afrika Selatan) bisa ditarik sebagai perbandingan meski tidak 100 % mirip. Tetapi dalam interaksi hegemonik kelas tertentu dan penguasa yang mendukungnya terhadap rakyat jelata, kesamaannya segera lebih kelihatan. Kita di sini memiliki sejarah buruk soal penjajahan yang mendiskriminasi mayoritas. Maka semua pelopor pergerakan kita dalam pergerakan kebangsaan adalah ektrimis dan teroris di mata penguasa. Sebutlah si Jiih atau si Pitung. Ribuan jumlah tokoh seperti itu di berbagai wilayah Indonesia tempohari yang hingga kini tak sempat dibukukan sejarahnya dengan baik. Filem Naga Bonar pastilah sebuah pengecualian yang mencerminkan kepeloporan lokal dalam menentang hegemoni penguasa kolonial.

Lepas dari penjajahan asing yang dilakukan oleh para bapak republik, ternyata keadaan tidak dapat dipulihkan oleh pemerintahan yang dibentuk sendiri. Malah cita-cita kemerdekaan tidak identik dengan capaian. Maka jika akhir-akhir ini di Amerika efek kebijakan anti-Muslim dan retorika antiimigran pemerintahan Trump telah menyebabkan kekerasan oleh kelompok Supremasi Kulit Putih terhadap Muslim, imigran, ataupun warga lain yang berbeda warna kulitnya, di Indonesia terasa Islam, muslim dan segenap simbol dan warisan budayanya, seolah alineatif dan seolah tak bersambungan dengan kehidupan negara. Apalagi belakangan ini dunia dilanda isyu ISIS, Boko Haram dan sebelumnya Al-Qaeda.

19875224_10209606760947808_3211239037621989572_n

Opini publik itu dahsyat. Bisa memutar-balikkan fakta. Menurut Investigative Fund di Nation Institute dan Reveal from the Center for Investigative Reporting, Amerika Serikat, antara tahun 2008 sampai tahun 2016 trend aksi terorisme yang terjadi di negeri Paman Syam, bukanlah oleh pelaku yang terkait dengan kelompok Islam yang mana pun. Tetapi di tangan Donald Trump keadaan bisa menjadi lain.

19875609_10209606760747803_6015927559969637750_n

Seorang mantan anggota CIA, Graham E Fuller dalam bukunya Seperti apakah dunia tanpa Islam? (A world without islam) telah menjelaskan kondisi yang sesungguhnya. Dalam buku tersebut, Fuller menanyakan apakah dunia akan lebih damai dan menjadi tempat yang lebih baik? Umumnya orang di Barat akan menjawab: Tentu. Tanpa Islam, pasti tidak terjadi Perang Salib, konflik Israel-Palestina, aksi bom bunuh diri, dan Peristiwa 11 September. Bukankah Islam sumber dari semua tragedi itu?

Graham Fuller menawarkan sebuah eksperimen berpikir untuk menguji pandangan itu. Dengan analisis historis yang serius, dia menyusun sebuah skenario alternatif seandainya Islam tidak pernah ada dan mempengaruhi jalannya sejarah. Kesimpulan-kesimpulannya di luar dugaan: Tanpa Perang Salib, Barat tetap akan menyerbu Timur Tengah karena nafsu imperialisnya. Gereja Ortodoks akan mendominasi Timur Tengah dan mungkin sampai hari ini tetap berkonflik dengan Gereja Roma dan Dunia Barat.

“India tidak akan sekaya sekarang tanpa warisan budaya Islam Mughal. Tidak akan ada Taj Mahal. Aksi bom bunuh diri akan tetap terjadi, karena bukan Muslim yang pertama kali melakukannya. Melalui penuturan yang segar, provokatif, sekaligus mencerahkan, Fuller menunjukkan sumber sebenarnya dari konflik yang merobek dunia saat ini”.

19961136_10209606759187764_5471854808430680951_n

Pada hari yang sama kedatangan Raja Salman ke Jakarta, Dr Zakir Naik pun tiba, pada sore harinya. Ia luput dari pantauan media dan mungkin itu yang dikehendakinya dalam agenda kunjungannya di Indonesia. Menarik sekali ketika berbicara di depan publik di sebuah tempat yang dirancang terbuka untuk umum hingga orang non-muslim pun dipersilakan bahkan menjadi prioriotas untuk bertanya atau mendebat Dr Zakir Naik. Berikut sebuah petikan pidatonya.

Saya sudah berada di Indonesia beberapa hari. Saya penasaran apa yang dilakukan hukum di sini. Kau tahu di Negara asalku India, kami umat muslim adalah minoritas. Pemerintah kami berkata bahwa kami hanyalah 14 %, tetapi saya mengatakan 20 %, dan siapa pun memaksa siapa untuk berpindah agama, dia akan langsung ditangkap. Dipenjarakan.

Negaramu Indonesia bukan Negara minoritas muslim. Mayoritasnya adalah 88 % muslim. Di Malaysia, Islam adalah agama Negara. Padahal penduduk muslim di sana hanya 61 %. Dan Malaysia itu adalah Negara tetangga bagi Indonesia. Hanya 61 % penduduk muslim.

Kalian memalukan, 220 juta jiwa, dan 41 juta sisanya berusaha memaksamu pindah agama, sisanya 12 % memaksamu dank au tak melakukan apa-apa, hanya duduk-duduk saja.

Allah menakdirkanmu lahir di sini. Kau memiliki kekuatan voting, bukan? Apa yang terjadi dengan muslim di Indonesia?

Saya diberitahu beberapa tahun lalu bahwa di sini orang menjalankan Islam jumlahnya kurang. Tetapi setelah berada di sini beberapa hari, saya menyaksikan ada percikan dari wajah para anak muda. Saya melihat ada gelombang yang mendekat AL-quran dan sunnah.

Saya tidak menyuruhmu berkelahi dengan non muslim. Allah berfirman dalam surah Mumthahanan (60) ayat 8: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi karena agamamu dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu”.

Tetapi ayat berikutnya surah Mumthahah (60) ayat 9 berkata: “Tetapi jika orang-orang kafir memerangi agamamu dan mengusirmu dari negerimu, maka Allah melarangmu berbuat baik kepada mereka”.

Secara umum muslim harus baik kepada non muslim. Bantu mereka. Peduli kepada mereka. Lindungi mereka ketika membutuhkan. Tetapi jika non muslim memerangimu dan mengusirmu dari negerimu, Allah melarangmu duduk-duduk saja, tak melakukan apa-apa.

Jumlah penduduk yang sangat besar. Allah melarangmu berlaku baik kepada mereka. Pada setiap ceramah saya di sini saya sudah mendengar beberapa orang berkata “aku telah dipaksa keluar dari Islam”.

Mungkin Allah punya rencana mengirimku ke sini saat ini. Dan aku diberitahu oleh sebagian orang Indonesia: “saudara Zakir, Indonesia Negara yang berbeda. Hati-hati kalau bicara”. Hati-hati apa? Saya datang ke sini untuk menyampaikan Al-quran. Saya datang ke sini untuk menyampaikan pesan Al-quran di Negara berpenduduk muslim besar. Jika saya tak melakukannya, maka Allah akan mencabut kemampuan bicaraku dariku.

Di hampir semua semua Negara di dunia jika kau mengeluh kepada polisi, bahwa seseorang memaksamu berpindah agama, dia akan di penjarakan. Itu berlaku di hamper semua Negara di dunia, baik muslim maupun non muslim.

Saya meminta muslim Indonesia, kalian adalah pemeluk agama terbaik di dunia. Allah menyebutmu “khayra ummah” (umat terbaik) dalam surah Ali Imran (3) ayat 110. “Kami adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia”. Kita umat terbaik. Allah memberikan kita kehormatan. Tetapi tidak ada kehormatan tanpa tanggungjawab. Allah menyebut tanggungjawab itu ialah “menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

 

 

Shohibul Anshor Siregar. Dosen FISIP UMSU.
Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS).
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA,
Medan 10 Juli 2017, hlm B7

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: