'nBASIS

Home » ARTIKEL » TERORISME: ISIS (2)

TERORISME: ISIS (2)

AKSES

  • 550,950 KALI

ARSIP


19875609_10209606760747803_6015927559969637750_n

Kata PBB dalam dokumen (2015) “Seventieth session Agenda items 16 and 117 Culture of peace The United Nations Global Counter-Terrorism Strategy Plan of Action to Prevent Violent Extremism”, violent extremism (kekerasan bersifat ekstrim) adalah penghinaan terhadap tujuan dan prinsip badan dunia yang didirikan pasca perang dunia ke 2 itu.


Tidak ada keraguan sama sekali, bahwa violent extremism merongrong perdamaian dan keamanan, hak asasi manusia dan pembangunan berkelanjutan. Juga, semua pihak tak bisa memungkiri bahwa tidak ada satu negara atau wilayah di bawah kolong langit yang kebal dari dampaknya.

Setidaknya ada pengakuan terus terang yang tercermin dari dokumen PBB berjudul “The present Plan of Action to Prevent Violent Extremism” ketika disebutkan perlunya mempertimbangkan mengapa dan kapan violent extremism itu menjadi begitu kondusif bagi terorisme. Selain diakui sangat beragam, violent extremism itu sendiri juga tampaknya hingga kini tetap dibiarkan tanpa definisi yang jelas.

Mengapa? Ada nilai dan pandangan politik yang memperumitnya, dan PBB menjadi bagian yang terpenting dan bertanggungjawab untuk kenaifan yang diabadikan itu. Fenomena violent extremism ini juga bukan hal baru dalam sejarah manusia (ingat saja kisah anak Adam Habil dan Qabil) dan sama sekali tidak dapat dipandang sebagai hal eksklusif, baik dilihat dari wilayah, kebangsaan atau sistem kepercayaan manapun.

Lalu mengapa dalam beberapa tahun terakhir kelompok teroris seperti Negara Islam di Irak dan Levant (ISIL), Al-Qaida dan Boko Haram begitu hebat merubah persepsi dunia dengan telah berhasil membentuk citra violent extremism dan perdebatan tentang bagaimana mengatasi ancaman ini? Sangat jelas bahwa faktor ketidaktahuan tentang kelompok-kelompok ini (baik dilihat dari aspek keterkaitan religious dan politik maupun budaya dan sosial) memiliki konsekuensi drastis bagi banyak wilayah di dunia. Penyesatan informasi juga berperan menambah buruk keadaan.

Sangatlah terasa bagi dunia akan pentingnya penjelasan yang baik terhadap ISIL, Boko Haram dan AL-Qaeda. Ketika jembatan runtuh saat hujan turun, jangan-jangan ada yang akan mengaitkannya dengan ISIL. Padahal negaranya yang tak tahu bagaimana membangun jalan yang baik akibat kebobrokan yang parah hingga korupsi menjadi dasar bagi kebijakan yang menyengsarakan rakyatnya sendiri. Boleh jadi seorang yang sudah sangat tak mampu lagi menanggunggukan pendertaan akibat tekanan social ekonomi, dengan gelap mata melakukan hal-hal buruk di tengah masyarakat. Orang ini bisa dikaitkan dengan ISIL, karena pemegang orotitas seakan terdorong hebat berkehendak untuk itu.

Memang ada jejaring mendunia sebagai keprihatinan bersama dalam menghadapi violent extremism itu. Tak sedikit biaya dialokasikan. Agendanya juga bermacam-macam, tetapi jelas tak dengan transparansi yang cukup. Begitulah Al-Qaeda dianggap begitu berbahaya dan bahkan telah mengukirkan sebuah tragedi kemanusiaan besar melalui teror 911 di Amerika. Hal-hal seperti ini bisa tak terhingga jumlahnya di seluruh dunia, dan tak selalu masuk akal untuk dikaitkan sebagai pekerjaan sesiapa tertentu. Itu yang menyebabkan di hampir semua tempat di dunia ini keraguan tetap saja muncul.

Tuduhan insidejob (pekerjaan yang dirancang sendiri) juga cukup kuat. Media-media arus utama tak ketiggalan dalam pemeranan diri. Arah mereka jelas, tak hendak melakukan sesuatu kecuali pembingkaian (framing) yang menyesatkan opini publik dunia.

Berbagai Negara di dunia memiliki interest dan bahkan agenda khusus (tersendiri) dalam menyikapi fenomena violent extremism ini. Itu sudah pasti. Kerap tanpa alasan kelompok tertentu dikait-kaitkan. Lucunya ada mobilisasi pendapat yang dikerjakan sistematis. Alih-alih menanggulangi ISIS, mengenalnya saja pun tidak, malah menimbulkan masalah baru berupa instabilitas akibat pancingan untuk saling curiga dan saling memusuhi di antara komponen bangsa.

LewRockwell.com dalam situsnya yang mengusung motto  “anti-state, anti-war dan pro-market”, tanggal 20 Agustus 2016 menurunkan hasil investigasi Roger Stone berjudul “How We Know ISIS was Made In The USA”.  Kelihatannya laporan itu memiliki kesamaaan substansi dengan yang dibuat oleh James H. Fetzer sebelumnya pada tanggal 20 Januari 2016.

James H Fetzer adalah Profesor Profesor Emeritus dari Universitas McKnight yang sejak akhir 1970-an bekerja untuk spesialisasi dalam menilai dan mengklarifikasi bentuk dan dasar penjelasan ilmiah, kemungkinan dalam sains, filsafat pikiran, dan filsafat sains kognitif.

Sedangkan Roger Stone adalah mantan konsultan spesialis penelitian oposisional Repuban, penulis buku  The Man Who Killed Kennedy: The Case Against LBJ; Nixon’s Secrets: The Rise, Fall and Untold Truth about the President, Watergate, and the Pardon; The Clintons’ War on Women; dan karya terakhirnya Jeb and the Bush Crime Family.

How We Know ISIS was Made In The USA memulai kisahnya dengan sebuah lead yang menunjukkan validitas data yang digunakan, bahwa berdasarkan permintaan Freedom of Information Act, Judicial Watch dapat memperoleh salinan direktif Badan Intelijen Pertahanan (DIA) yang telah memulai pembentukan ISIS pada tahun 2012.

Laporan DIA menyatakan bahwa “Negara-negara Teluk Barat, Dan Turki yang Mendukung Oposisi Suriah Menetapkan dukungan atas Prinsip Salafi yang Dinyatakan di Bawah atau Diasingkan di Suriah Timur dalam rangka mengisolasi rezim Suriah”.

Ketika itu, kata Rogers Stone, bahkan Judicial Watch sendiri tampaknya tidak menghargai pentingnya dokumen ini. Terbukti dengan nada siaran persnya yang terfokus pada serangan Benghazi.

Rilis terbaru dari email Hillary yang pernah dihebohkan terutama saat pilpres Amerika, terlebih lagi, mengonfirmasikan bahwa mengambil Assad tidak ada hubungannya dengan dugaan penyalahgunaan orang-orang Suriah tapi karena ini akan membantu Israel.

Orang tak mungkin lupa bahwa Hillary menjadi Sekretaris Negara dari tahun 2009 sampai 2013. Obama resmi menjadi presiden terpilih Amerika pada tahun 2008 dan mengakhiri masa jabatannya pada tahun 2016. Karena itu bagaimana mungkin bisa terjadi tanpa persetujuan mereka. Mereka benar-benar menciptakan ISIS, tegas Roger Stone.

Serangan kimia terhadap warga Suriah pada 21 Agustus 2013 dimaksudkan untuk membenarkan pelemparan rudal jelajah ke Suriah. Obama sudah siap, tapi orang Amerika tidak, dan ketika taktik itu dibantah oleh berkas setebal 50 halaman yang diberikan Rusia kepada PBB, mereka menggunakan “Rencana B”, yang merupakan penciptaan ISIS oleh DIA. Senjata kimia tersebut diyakini secara luas telah diberikan kepada “pemberontak”, namun rilis baru-baru ini dari email Hillary menunjukkan bahwa dia mengarahkan pengiriman senjata dari Libya ke Suriah dan senjata kimia mungkin termasuk di antaranya.

Serangan Benghazi tampaknya telah dimulai karena Duta Besar Christ Stevens khawatir bahwa beberapa senjata yang dikirim ke Suriah dapat digunakan untuk melawan penduduk sipil.

Pemerintahan Obama telah membungkam pertanyaan mengenai apakah Benghazi ada kaitannya dengan aktivitas mentransfer senjata ke pemberontak. Itu berarti “Ya!”. Khabarnya tanda-tanda itu ada di sana sepanjang jalan, tapi media tak selera saja melaporkannya.

Foto-foto anggota ISIS bertato serdadu Amerika malah banyak ditemukan dan dengan mudah dapat diakses secara online. Begitu pun foto Senator John McCain bersama Abu Bakr al-Baghdadi yang tak ayal di Washington sendiri konon sudah luas dikesankan bahwa ISIS itu sebetulnya (dikenal luas) adalah “tentara John McCain”.

 

Shohibul Anshor Siregar
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA,
Medan, Senin 17 Juli 2017, Hlm B7

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: