'nBASIS

Home » ARTIKEL » WISATA HALAL

WISATA HALAL

AKSES

  • 729,151 KALI

ARSIP


wisata halal

Di tengah kecemburuan sekaligus kecurigaan mendalam terhadap Islam di berbagai negara saat ini, terdapat fakta yang cukup mengejutkan dalam hal wisata halal.

Bayangkan di sebuah tempat terpampang nama sebuah warung yang ditulis dalam bahasa Batak Toba: “Tuak Siboan Gogo”. Artinya ialah tuak pembawa tenaga. Jenis usaha ini memang khas Batak Toba yang beragama non muslim, dan peluang untuk dikunjungi oleh orang yang beragama Islam tentu saja sangat kecil kalau bukan 0 %.

Sebetulnya tidak ada masalah dalam eksklusivitas pelayanan itu. Siapa-siapa sajakah pelanggannya? Tentu dengan membaca nama kedai itu saja dengan sendirinya orang sudah menjadi faham bahwa eksklusivitasnya ditujukan untuk siapa. Dari segi usaha kedai seperti itu pun sudah seakan dipatok untuk tidak perlu besar dan sulit beroleh keuntungan besar serta kurang beroleh kesempatan tumbuh progresif. Tumbuh ya pasti tumbuh, tetapi tidak akan ada peluangnya untuk memperluas pasar yang spektakuler, meski dari segi fungsi sosialnya ia menjadi salah satu wadah konsolidasi nilai budaya lokal di perantauan bagi sejumlah kalangan tertentu saja.

Di lain tempat sebuah kolam renang dengan pelataran parkir yang luas dan aneka ukuran kolam dengan kedalaman yang berbeda-beda. Meski pemiliknya bukan muslim, di sana disediakan sebuah mushalla yang bagus dan secara umum kelihatannya bersih. Arsitekturnya juga bagus. Perlengkapannya cukup memadai, kecuali mik dan muazzin. Tersedia sajadah dalam jumlah yang cukup untuk jama’ah sekitar 20 orang yang sekiranya  beberapa shaf yang dibangun terpenuhi semua. Kamar mandinya dipisahkan dengan kamar mandi umum untuk pengguna kolam renang yang tidak menunaikan sholat. Letaknya juga agak dijauhkan dari kolam renang sehingga suara-suara bising yang lazim muncul dari orang-orang yang berenang, terutama anak-anak dan remaja, cukup tereduksi.

Hanya saja orang muslim tentu harus membawa kebutuhan konsumsinya (makanan dan minuman) sendiri karena produk yang dijual tidak terjamin kehalalannya. Tetapi itu tampaknya tak menghalangi berbondongnya pelanggan muslim memanfaatkan fasilitas itu. Memang, jika akan dikritisi lebih detil, akan masih mungkin terdapat persoalan-persoalan lain terkait status kehalalan. Misalnya kualitas air dan keterjaminan tak tercampur dengan zat-zat yang secara fiqh dianggap najis, kain pel yang sama yang misalnya terpapar jenis najis tertentu yang juga dimanfaatkan untuk melicinkan permukaan lantai mushalla, yang semua itu bagi orang non-muslim tidak selalu dapat difahami.

Problematika. Mungkin hanya karena kurang faham saja, di Medan, beberapa waktu lalu muncul reaksi penolakan atas gagasan zona wisata halal terutama pada social media. Seingat saya berawal dari keterangan yang dikutip oleh media dari Aripay Tambunan, seorang legislator di DPRD Sumatera Utara dari Partai Amanat Nasional. Ia menghubungkan fenomena mendunia pertumbuhan pesat dari wisata halal yang untuk Indonesia saat ini mungkin lebih menonjol di 3 daerah (NTB, Sumatera Barat dan Aceh) dengan catatan perolehan economical benefit  yang bervariasi. Legislator itu menggagas penerapan zona wisata halal di daerah-daerah tujuan wisata di Sumatera Utara. Ia yakin salah satu faktor dalam fenomena penurunan kunjungan wisatawan yang terjadi bisa ditanggulangi dengan konsep zona wisata halal itu.

Wisata halal tak cukup dengan hanya menyediakan hotel bernuansa tegas syariah, makanan halal bersertifikat dari badan kompeten dan lain sebagainya. Ia adalah sebuah proses yang didisain dari awal hingga akhir untuk tunduk pada ketentuan syariah. Sifatnya pun tak berhenti pada sebuah klaim belaka. Sifat dan perikeadaan halal pada sebuah daerah wisata beserta produknya juga tidak dapat dibiarkan tanpa pengawasan ketat untuk memastikan tiadanya penyimpangan pada kemudian hari. Perusahaan A misalnya dinyatakan beroleh sertifikat halal melalui uji laboratorium dan hal-hal teknis terkait dengan proses itu. Pengawasan berkala tidak boleh berhenti, sebab penyimpangan dapat saja terjadi pasca penetapan status halal.

Contoh lain sebuah maskapai penerbangan yang melayani wisata halal misalnya harus menjamin di dalamnya tidak ada makanan dan minuman yang tak berlabel halal. Lazim pada sebuah penerbangan disediakan teks do’a-do’a dari semua agama untuk keperluan perjalanan (terbang). Ternyata itu masih belum cukup. Meski saat ini Al-qur’an dan Hadits yang tersedia secara digital sudah ada dan bisa diakses dengan pelayanan online, namun sebuah maskapai penerbangan diperlukan untuk menyediakannya baik dalam bentuk tercetak apalagi dalam bentuk file yang bisa diakses oleh penumpang selama dalam perjalanan.

Bandara yang tak hanya menyediakan sebuah space apa adanya untuk pelaksanaan sholat juga harus diperhatikan. Kata seorang tokoh dari Medan yang terbiasa melakukan perjalanan bisnis ke berbagai kota di dunia, hal seperti itu rupanya sangat diperhatikan oleh Negara-negara yang sangat menginginkan uang besar dari proses tak terbendung wisata halal ini. Mungkin saja, kata tokoh itu, mencari makanan halal justru lebih mudah di kota-kota di Italia ketimbang di Negara yang selama ini diklaim sebagai Negara dengan penduduk terbesar beragama Islam. Ini disebabkan ketegasan dan kejelasan keinginan untuk memberikan jaminan agar arus turis muslim tak merasa terkendala untuk memelihara dengan teguh keyakinannya terhadap agama meski berada di Negara dan daerah yang boleh jadi tak memiliki banyak keluarga yang beragama Islam. Tokoh ini pun bercerita membandingkan mushalla di beberapa bandara Jepang dan di seluruh Bandara yang ada di Indonesia. Sangat menyedihkan negara kita, sesalnya.

Hotel yang mewah terkadang lalai memerhatikan faktor penting dari sudut wisata halal. Lazim memang semua hotel berdagang space dan menilik dari produktivitasnya maka mushalla sangat kerap ditempatkan pada bagian yang secara nilai begitu disepelekan. Di hotel mana Anda temukan sebuah mushalla yang tidak ditempatkan di dekat atau di bawah tangga, bedekatan dengan WC atau dengan mesin generator. Interiornya mungkin bagus, bahkan boleh jadi dilengkapi dengan mesin pendingin. Tetapi itu tetap bermasalah dari sudut nilai. Fakta ini juga hampir umum ditemukan di mall-mall.

Di Medan saya bertemu dengan sebuah hotel yang mushallanya ditempatkan berjarak dengan hotel. Itu pun tak menjadi alasan bagi hotel itu untuk tak menyediakan sajadah di setiap kamar, lengkap dengan petunjuk arah qiblat dan kitab suci Al-qur’an. Mungkin Anda jarang memerhatikan secara seksama, bahwa meski sebuah hotel secara umum sudah dinyatakan berbasis syari’ah namun letak WC tak mengindahkan ketentuan karena menghadap atau membelakangi qiblat.

Keuntungan. Di tengah kecemburuan sekaligus kecurigaan mendalam terhadap Islam di berbagai negara saat ini, terdapat fakta yang cukup mengejutkan dalam hal wisata halal. Luas wilayah Thailand hanya 513.115 km2 dengan garis pantai 3219 km. Penduduknya 67.448.120 orang, yang 94,6% di antaranya beragama (resmi) Buddha. Islam hanya 4,6% dan Kristen 0,7%, serta lainnya 0,1%. Sedangkan luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas perairannya 3.257.483 km². Penduduk Indonesia mayoritas Islam (87,18 %), Kristen Protestan (6,96 %), Katholik 2,91 %, Hindu 1,69%, Budha 0,72 %, Kong Hu Chu 0,05 %, lainnya 0,38% dari total penduduk 237.556.363 orang (SP 2010).

Tetapi data mutakhir yang diperoleh pada The 12th World Islamic Economic Forum di Jakarta Convention Center, Agustus tahun lalu, Thailand mampu mendulang keuntungan dari bisnis wisata halal mencapai US$47,4 miliar. Sedangkan Indonesia baru bisa mendatangkan devisa negara sebanyak US$11,9 miliar. Jika dibanding dengan Negara tetangga lainnya seperti Singapura, Indonesia ketinggalan jauh karena negeri Singa itu mampu mendulang US$16 miliar dan Malaysia mampu mengantongi sebesar US$15 miliar. Sekali lagi, data ini sangat kontras bila dibandingkan dengan Indonesia yang baru bisa mendatangkan devisa negara sebanyak US$11,9 miliar.  Banyak kalangan memang masih sangat optimis Indonesia ke depan memiliki peluang menggaet devisa yang tinggi dari wisata halal yang pasarnya jelas ini.

“Zona Pariwisata Halal Makin dapat Tempat di Indonesia, Peluang Menggaet Devisa dari Wisata Halal Masih Sangat Tinggi”, tegas Irfan Laskito, Al Amin dan Ririn Aprilia dalam sebuah artikel yang diterbikan Viva.co.id tahun lalu. Implementasi wisata halal di tanah air yang semakin mendapat tempat menurut mereka telah bersambut dengan kebijakan struktural negara. Bahwa pada tanggal 2 Agustus 2016 yang lalu,  langkah strategis baru telah dibuat berupa penandatanganan Nota Kesepakatan Bersama (MoA) antara PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) dan PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP) yang isinya mengatur tentang Penyusunan Kajian Kerja sama Pembangunan dan Pengoperasian Integrated Logistic Area di Kawasan Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP), untuk merealisasi Halal Port, Halal Hub, dan Halal Zone.

Halal hub memasilitasi kebutuhan sebuah transit area untuk setiap produk yang berasal dari negara-negara non-muslim ke negara-negara berpenduduk mayoritas muslim seperti Indonesia, dan hal tu terintegrasi sedemikian rupa dengan Halal Port, Halal Zone (Halal Warehouse dan Halal Moslem Fashion Hub), dan penerapan konsep Halal Logistics & Halal Supply Chain Management. Angin segar inilah salah satu faktor yang dianggap begitu penting pengaruhnya bagi arah baru pengembangan wisata halal di Indonesia ke depan. Ini sebuah momentum bersejarah yang diperkirakan berimbas besar pada pertumbuhan dahsyat perekonomian nasional. Setiap kota, setiap daerah, di Indonesia, kelak boleh saja membuat kawasan halal mengikuti langkat penetapan hotel halal, restoran halal, kafe halal, dan lain sebagainya. Pihak-pihak yang berkompeten dalam kajian ini dan para pelaku bisnis wisata halal menilai bahwa secara bisnis pasarnya kuat yang juga terhubungkan secara interaktif dengan daya beli yang juga sangat kuat.

Peran Lembaga Khusus. Sekitar 22,32 % penduduk dunia saat ini adalah muslim. Jumlah ini menduduki peringkat kedua setelah Kristen yang diperkirakan sekitar 31,50 %. Ramalan berbagai lembaga survey menyebut bahwa jumlah muslim akan tumbuh lebih cepat hingga nanti sekitar tahun 2050 kemungkinan menyamai penduduk beragama Kristen atau malah dapat melampauinya. Ini sebuah proyeksi yang menunjukkan semakin pentingnya wisata halal dalam perekonomian global. Karena itu pula adaptasi sangat mendesak dilakukan, misalnya modernitas untuk tuntutan penyediaan aplikasi khusus berbasis online  yang memudahkan untuk pilihan-pilihan nyaman tentang tempat, jenis produk dan tujuan wisata di seluruh dunia.

Rencana besar ini memerlukan dukungan berbagai lembaga khusus seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan lembaga-lembaga lain yang mestinya lahir dari organisasi organisasi besar seperti Muhammadiyah, NU dan lain-lain. Mereka harus lebih proaktif, tak lagi bersifat lebih menunggu seperti selama ini.

Satu hal perlu dicatat bahwa wisata halal tak selamanya secara total dioperasikan oleh muslim, sebab hal yang lebih dipentingkan adalah produk halalnya. Sekiranya lembaga-lembaga itu mau lebih proaktif, otoritasnya tentu dapat lebih menguntungkan bagi para pelaku usaha muslim mengingat kesempurnaan kehalalan produk dan pelayanan tentu saja jika pelakunya muslim dan produknya halal. Oleh karena itu kendala-kendala administratif dan kultural perlu segera dihapus hingga tak ada lagi perusahaan milik muslim dengan produk yang sangat terjamin kehalalannya justru tak beroleh sertifikat halal sedangkan produk non muslim begitu mentereng dilabeli halal.

Karena itu lembaga-lembaga itu pun seyogyanya semakin merasa bertanggungjawab atas penyelamatan umat dari bahaya mengonsumsi produk yang diragukan kehalalannya, terutama di kota-kota besar.

 

Shohibul Anshor Siregar
Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swaaya (‘nBASIS).
Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA
Medan, 14 Agustus 2017, hlm B7


1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: