'nBASIS

Home » ARTIKEL » AKHYAR, BOBBY DAN SALMAN

AKHYAR, BOBBY DAN SALMAN

AKSES

  • 729,151 KALI

ARSIP


trio medan

|Keluar dari tarik menarik di bawah lead PDIP dan Gerindra, Kamis kemaren (13/03/2020) Korwil Sumut DPP PKS Tifatul Sembiring sudah mengumumkan nama kader untuk dimajukan dalam Pilkada Kota Medan 2020 | Pengumuman itu sekaligus menjawab pertanyaan rakyat tentang siapa yang akan dimajukan dari PKS|

Sekiranya Akhyar Nasution (Akhyar) dan Bobby Nasution (Bobby) bertemu atau dipertemukan pada sebuah forum dan didudukkan pada kursi atau tempat duduk yang berdekatan, bagaimana gerangan suasananya?

“Assalamu ‘alaikum, uda” sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan posisi badan agak menunduk. Itu mungkin sikap “budaya” yang akan terlihat dari Bobby.

Usianya terpaut cukup jauh dari Akhyar. Jika dibawa ke urusan adat istiadat, dan kita di Medan tentu masih sangat kental dengan aturan itu, karena mereka berdua sama-sama bermarga Nasution, maka Akhyar kira-kira pantaran adiklah bagi ayah Bobby. Karena itu ia harus memanggil “uda” (paman, paklek) kepada Plt Walikota Medan ini.

Ketika pekan lalu seorang jurnalis memberi tahu dan minta tanggapan saya bahwa Bobby sudah menjadi kader PDIP, saya menjawab bahwa kader itu memiliki pengertian yang tidak sekadar anggota dalam sebuah organisasi. Sebab dalam pengertian istilah kader terkandung peran dan fungsi sebagai ujung tombak sekaligus tulang punggung kontinuitas sebuah organisasi. Untuk menjadi kader sebuah organisasi lazimnya diperlukan pelatihan atau pendidikan khusus yang, lazimnya, di dalam organisasi yang sudah mapan, dibuat berjenjang sedemikian rupa dan dengan kurikulum tersendiri, terlepas diberi atau tidak sertifikat atau tanda khusus sesuai ketentuan organisasi.

Kedua tokoh bermarga Nasution ini beroleh kemencuatan nama dalam rivalitas menuju Pilkada Kota Medan 2020. Titik rumitnya ialah, tidak pun karena sudah menjadi anggota PDIP, selama ini Bobby dianggap akan dengan cukup mudah bisa maju dalam Pilkada Kota Medan 2020 dengan atau tanpa dukungan PDIP. Dengan menjadi anggota PDIP maka tentu ancaman yang semakin besar kini dihadapkan kepada Akhyar.

Akhyar adalah kader PDIP yang jika boleh disebut tulen. Ketulenan itu dapat kita bayangkan demikian: “sekiranya tak beroleh restu dari PDIP untuk maju Pilkada Kota Medan 2020, ia tak akan maju atas dukungan partai-partai lain meski sebagai Plt Kepala Daerah posisi kepetahanaan sangat memudahkan untuk jalan keluar itu”.

Pro dan kontra tentang kedua nama ini merebak. Kita bisa membayangkan tingkat kesulitannya. Bobby sebagai menantu Jokowi tidaklah mudah untuk ditolak oleh PDIP yang memiliki sejarah yang cukup istimewa dengan Jokowi. Jokowi memimpin Kota Solo selama 2 periode dan setelah beberapa tahun sebagai Gubernur DKI lantas terpilih menjadi Presiden dan kini menjalani periode kedua.

Pada satu segi tingkat kemudahan untuk memutuskan masalah bagi PDIP mungkin dapat dianggap akan lebih besar dalam kasus Solo yang dihadapkan kepada pilihan kader atau Putera Jokowi, Gibran Rakabuming, untuk dicalonkan dalam Pilkada kota itu. PDIP pun mestinya sangat apresiatif bahwa ini juga menyangkut masalah trah. Bagaimana dengan Medan? Boby adalah suami dari putri semata wayang Jokowi. Tak begitu mudah untuk mengabaikan “rengeannya”, untuk memastikan suaminya diperlakukan sama, dicalonkan oleh partai yang sama untuk Pilkada Kota Medan 2020. Sulit membayangkan “tuntutan” itu ditepis oleh Jokowi.

Tetapi tidak terlalu liar membayangkan kemungkinan lose-lose solution. Di Solo PDIP lose dalam arti sepenuhnya memperturutkan keinginan Jokowi sedangkan di Medan Jokowi yang harus lose. Skenario ini tidak sepenuhnya akan dimaknai sebagai keretakan Jokowi dengan PDIP. Lagi pula dalam sistem demokrasi di Indonesia kepetahanaan adalah keberuntungan sangat besar yang untuk kota Medan begitu sulit menafikan kesempatan emas seorang kader yang seyogyanya diposisikan dalam status itu.

Apakah pertimbangan itu yang dipergunakan hingga dikhabarkan Akhyar sendiri sudah beroleh instruksi terbaru dan segera memenuhinya dengan mengirim 3 bakal calon pendamping dari kalangan ulama, birokrat dan akademisi kepada DPP PDIP di Jakarta? Kita belum tahu, karena Boby Nasution juga kemungkinan besar juga beroleh instruksi yang sama meski tidak mempublikasikannya.

Karena itu pertanyaan “mungkinkah Akhyar akan maju atas dukungan PDIP dan Bobby maju atas dukungan koalisi partai-partai lainnya dengan pasangan yang berbeda jika amat tak mungkin menyatukan keduanya dalam satu pasangan” sulit untuk diterima. Saya tidak tahu hal lain kecuali sebuah kesulitan besar yang dihadapi oleh PDIP terkait kedua tokoh yang sama-sama berkemauan besar untuk memimpin kota Medan ke depan ini. Kecuali itu tentu kajian peluang tak kalah penting. Dengan mempertimbangkan rival yang akan muncul atas dukungan koalisi partai lainnya apakah Akhyar atau Bobby yang akan lebih terterima oleh rakyat kota Medan dan apakah keduanya justru tidak akan menjadi lawan empuk bagi Salman Alfarisi (salman)?

Di Kota Medan hanya ada dua partai yang memiliki jumlah kursi yang cukup untuk memajukan calon Walikota tanpa koalisi partai, yakni PDIP dan Gerindra. Partai yang disebut terakhir itu memiliki kader yang memiliki kapasitas untuk dimajukan pada Pilkada Kota Medan 2020. Dialah Ikhwan Ritonga (ikhwan). Selisih perolehan suara amat tipis antara PDIP dan Gerindra pada Pileg 2019 di Medan menyebabkannya tak menjadi Ketua DPRD Kota Medan.

Tetapi selain Ikhwan ada figur lain dari Gerindra yang sudah melakukan pekerjaan yang menyita perhatian publik dan memosisikan diri untuk menjadi calon pendamping Boby. Aulia Rachman, legislator kota, diberitakan bahkan sudah membentuk 105 Posko Sosialisasi yang diawaki oleh orang-orang yang bergabung dalam Forum Relawan Muslim Bersatu (FRB).

Dengan begitu meski Ikhwan memiliki hasrat besar dan jejaringnya sudah digerakkan untuk itu sejak dini, namun pimpinan partai yang akan menentukan. Jenderal (Purn) Prabowo Subianto kini sudah menjadi Menteri Pertahanan RI dan jika di Kota Medan akan merestui majunya Ikhwan yang potensil menjadi pemenang, maka itu sungguh susah dibayangkan ketika salah seorang kontestannya adalah Bobby.

Jika bagi PDIP dan Gerindra kapitalisasil hasil pilkada demi pilkada hingga menjelang pilpres 2024 tentu saja akan sangat peting, yang urusan itu tidak lagi menjadi fokus bagi Jokowi yang akan berlalu dari panggung politik, maka keinginan membebaskan Bobby dari PDIP dan memperjuangkannya menjadi Walikota Medan justru jauh lebih prospektif bagi Gerindra apalagi berpasangan dengan kader sendiri. PDIP juga akan berpikir dan bertindak sama.

Keluar dari tarik menarik di bawah lead PDIP dan Gerindra, Kamis kemaren (13/03/2020) Korwil Sumut DPP PKS Tifatul Sembiring sudah mengumumkan nama kader untuk dimajukan dalam Pilkada Kota Medan 2020. Pengumuman itu sekaligus menjawab pertanyaan rakyat tentang siapa yang akan dimajukan dari PKS.

Nama kader yang dicalonkan adalah Salman. Ia seorang santri intelektual yang memilih berpengabdian melalui bidang politik. Kesulitan Salman ialah jumlah kursi di DPRD Kota Medan yang hanya 7. Karena itu harus ditambah paling tidak 3 kursi lain.

Dua pemilik kursi terbesar setelah PDIP, Gerindra dan PKS adalah PAN (6) dan PD (4). Komitmen apa yang dapat ditawarkan kepada kedua partai ini agar bersedia berkoalisi? Kesulitannya tentu pada sikap nasional kepartaian saat ini. Ketakhadiran Presiden Jokowi pada Kongres V PD di Jakarta tak serta-merta dapat dijadikan sebagai alat ukur untuk melihat jarak antara kedua partai itu dengan pemerintahan saat ini. Karena faktanya Jokowi juga tidak menghadiri Kongres PAN beberapa pekan lalu dan Ketum terpilih hanya menjanjikan harapan dapat menghadirkan Presiden Jokowi pada pelantikan pengurus terpilih hasil Kongres.

Tetapi jarak antara partai yang tak terakomodasi dalam pemerintahan saat ini mungkin secara kualitatif berturut-turut ada pada PKS menyusul PD dan kemudian PAN. Diketahui PAN sebetulnya memiliki keinginan mendekat dan tak jelas ada atau tidak kaitannya, pendiri partai ini, M Amien Rais malah tidak lagi beroleh posisi strategis dalam kepengurusan.

Karena itu menjadi masuk akal jika dibayangkan bahwa PD Kota Medanlah salah satu partai paling berpeluang mengajukan calon Wakil pendamping Salman. Ia lebih mungkin digandeng ketimbang kader PAN meski selama ini dari sana seorang kader muncul ke permukaan yakni Suhandi. .

Keleluasaan daerah untuk mengajukan calon tidaklah dimungkinkan oleh regulasi yang berlaku dan pimpinan tertinggi partai biasanya berusaha mengkapitalisasi kepentingan daerah termasuk pilkada sekaligus untuk mempertajam negosiasi kepentingan pada tingkat pusat.

Saya tak melihat lagi kemungkinan nama lain (selain Akhyar, Bobby dan Salman) yang akan ikut menghiasi pilkada Kota Medan 2020. Jika dibayangkan hanya ada nama Akhyar, Bobby dan Salman, siapa gerangan yang paling berpeluang untuk menang? Spekulasi ini tentu terlalu meremehkan faktor kerumitan PDIP (Akhyar dan Bobby) dan Gerindra.

Inti persaingan pada setiap Pilkada langsung akan terjawab oleh tiga hal, yakni figuritas, jejaring dan budget. Kalau begitu ayolah kita hitung ketiga faktor itu sembari berusaha melawan berbagai kecurangan sebagaimana salah satu gerakan telah muncul dari seorang tokoh millenial konsepsional Muhri Fauzi Hafiz dengan gerakan “Bunuh Politik Uang”.

Memang tak mungkin tak berpengaruh faktor pasangan yang akan digandeng. Medan saat ini dihiasi oleh nama-nama seperti Putrama Alkhairi, Maruli Siahaan, dan lain-lain. Tetapi tokoh birokrat yang berhasrat juga ada meski mereka tak akan memiliki gimmik terbuka sebagaimana tersirat dari nama-nama calon wakil yang diajukan Akhyar ke DPP PDIP.

Cerita di atas lebih pada pembahasan aspek kontestasi Pilkada. Padahal sesuatu yang lebih serius ialah aspek obligasi moral dan hukum dari kehidupan bernegara dan berpemerintahan.

Pertanyaannya begini: untuk apa Indonesia merdeka? Untuk apa Indonesia bersuksesi? Jawabannya untuk rakyat. Karena itu rakyatlah determinan terpenting di balik suksesi. Rakyat di Medan yang menurut SP 2010 berjumlah 2.097.610 itu terkategori menurut usia, pekerjaan, suku, keberadaan menurut pendidikan serta lainnya termasuk agama 1.422 237 (Islam) 425.253 (Kristen) 37.552 (Katolik), 9.296 (Hindu), 184 807 (Budda), 370 (Kong Huchu). 339 (lainnya), 491 (tidak terjawab), dan 17.265 (tidak ditanyakan).

Kalau begitu eloklah kita ukur kemanfaatan kontestasi 2020 ini dari potensi untuk menghadirkan jawaban terpenting untuk masalahat rakyat.

Kepada para tokoh yang pernah berniat tulus untuk maju, diharapkan jangan mengendur dalam memberi advokasi untuk maslahat rakyat di Medan. Mereka bersama jaringannya dapat membentuk kelompok yang aktif berpartisipasi. Bahkan jika perlu dapat dibentuk forum para kandidat suksesional atau boleh dengan nama lain. Hormat saya untuk kalian semua.

 

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: