DEMOKRASI DANGA-DANGA DAN PEMILU 2014
Ketidak-berdayaan yang diakui secara resmi dalam penegakan hukum terhadap kejahatan politik bukanl cuma sekadar pengakuan jujur atas ketidak-mampuan. Berapa besar implikasinya kepada kelanjutan demokrasi, tentulah patut dihitung.
Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Saleh P Daulay dan Ketua PW Muhammadiyah Sumut Asmuni, Senin (16/1/12) lalu, di Medan, menjadi pembicara pada sebuah dialog bertajuk “Ormas Islam (Muhammadiyah), Menatap 2014: Antara Dakwah Sosial dan Politik Kultural”. Bersama mereka hadir aktivis PAN Bima Arya dan Peneliti LSI Burhanuddin Muhtadi. Dialog ini diselenggarakan PW Pemuda Muhammadiyah Sumut.
SEBUAH INTERUPSI
Bagaimana hukum melihat ini? Narkoba, tak punya SIM, lalai yg menyebabkan melayangnya nyawa sejumlah orang. Tetapi kita tak sekadar ingin mengetahui hukuman bagi setiap pelanggaran hukum. Karena akhirnya kita yakin bahwa ini adalah sebuah interupsi untuk negara dan bangsa. Sebuah fakta yang menjadi penjelasan terhadap fakta lainnya.
JAWABAN UNTUK PARA TIM SUKSES
Tahun 2008 saya menulis sebuah artikel dengan pembuka demikian “Di tengah kecenderungan perilaku kelompok-kelompok tertentu bekerja membuat opini untuk mendukung salah satu figur atau pasangan figur, memang amat diperlukan pekerja yang berpikir dan berbuat lebih dari sekedar orang sewaan untuk tujuan singkat yang amat pragmatis”.
LETUPAN-LETUPAN DI FB: KRITERIA PRESIDEN 2014-2019
Calon saya untuk periode ke depan adalah si Revo dan si Lusi, terutama jika mereka berdua berpasangan melawan tokoh-tokoh dadakan dan tokoh yang tak kompeten dalam tragedi “akar mengganti rotan” ini. Saya hanya mau beralih ke calon lain jika calon yang ditawarkan mau menandatangani komitmen di bawah ini
PADA sebuah akun Facebook (FB) kelompok, pagi ini muncul tayangan sebuah catatan yang sebetulnya mungkin hanya bermaksud mendapatkan opini tentang kriteria Presiden RI pengganti Presiden SBY yang sudah memegang jabatan eksekutif tertinggi itu selama 2 periode. Bahasanya renyah.Tak menungu lama, langsung mendapat respon bertubi-tubi. Saya sendiri tak berkesempatan membaca semua respon. Tetapi memilih untuk memberi masukan saja kepada peserta diskusi itu. Bahan postingan ini pun bukanlah hal baru, karena merupakan hasil kajian diskusi kami pada ‘nBASIS saat musim debat capres 2009 lalu.
FENOMENA FPI
Setiap agama mempunyai sempalan penyimpangan. Lagi pula, suka atau tidak, adalah fakta bahwa Front Pembela Islam (FPI) itu merupakan sebuah institusi penting yang berani secara radikal memberi “interupsi” di tengah keabsenan tak wajar institusi-institusi pengawasan dan penegakan hukum yang ada. Mereka pantang OMDO (omong doang). Juga tak asik caci mamaki. Tampaknya mereka pun tak peduli saja kepada orang sinis dan kerap berusaha merendahkan. Mungkin mereka pun faham bahwa ada yang memelihara (juga) kelompok sinis dan caci maki buat mereka.
REFORMASI AGRARIA? ITU SAJA TAK CUKUP
Ada perasaan pilu saat aliansi penumpuk modal dan kekuasaan menjadi begitu dahsyat membungkam protes yang menuntut hak-hak, yang hak itu sendiri sungguh sangat mudah dijelaskan oleh sejarah dan fakta-fakta objektif kepemilikan yang dicoba diingkari atas nama kekuasaan yang mengurusi modal para penguasa ekonomi.
HATTA RAJASA FOR THE NEXT PRESIDENT?
Masih terlalu pagi untuk menarik sebuah kesimpulan, memang. Tetapi Hatta Rajasa sudah terlihat memposisikan diri atau diposisikan menjadi Capres 2014. Meski partai yang dipimpinnya (PAN) sdh beri dukungan, dan bertekad raih prasyarat dua digit hasil pemilu 2014 yang akan terlaksana sebelum pilpres.
APA MAKNA ANGKA 9 BAGI SBY?
Memang SBY cukup was-was kemaren menyaksikan sebuah peristiwa yang boleh jadi sebuah pertanda buruk. Usai menandatangani pengangkatan Albet Hasibuan menjadi anggota Watimpres, meja kecil yang digunakannya sebagai tempat menandatangani, ambruk hingga pecah 9 keping. Ya, 9 keping. Angka sembilan tentu Indonesia tahu maknanya bagi SBY. Ia sendiri lahir 9-9-1949. Partainya didirikan tanggal 9 September 2001.
BELAJAR MENGAJUKAN PERTANYAAN KRITIS
DI KELAS itu sudah lazim dilakukan perdebatan di antara mereka (mahasiawa) yang jumlahnya hanya 25 orang. Menutup kegiatan akhir semester, diskusinya dirancang untuk mendorong setiap peserta kelas mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis. Catatan ini diambil dari beberapa situasi paling menarik dari diskusi itu. Tidak pula semua pertanyaan dari 25 peserta itu dapat dicatat.
Read the rest of this entry »
MENYIMAK CERAMAH POLITIK

RENTETAN ceramah yang disajikan begitu bersemangat oleh aktor-aktor yang silih berganti. Saya duduk di bagian terdepan mendengarkan sebuah “ritus” khusus akhir semester pada sebuah kelas. Semua mahasiswa secara berkelompok melakukan presentase. Sayang saya tidak bisa mengikuti sampai akhir. Beberapa ceramah yang sempat saya dengar dan saya catat, isinya kira-kira begini.
INDONESIA DALAM KEMASAN SEBUAH VIDEO
Menarik. Diberi judul “Indonesia: Where All The Wealth Gone?”. Musiknya manis. Ada lagu (insert) dari Iwan Fals. Ada orasi amat singkat tentang kegagalan kapitalisme. Video ini dibuat oleh Occupy Jakarta,yang membubuhkan pengakuan 99 % dari penduduk Indonesia. Simak.
OBSESI GATOT PUJO NUGROHO
GPN memandang semua ini sebagai sebuah proses mendorong perubahan. Ini hanyalah sunnatullah (hukum alam), tegasnya. Dalam perubahan itu tak ada sesuatu apa pun kecuali kebajikan. Kebajikan pasti berbuah kebajikan lain, itu pasti.
Seperti hendak memberi catatan penutup tahun, tanggal 27 Nopember 2011 yang lalu Gatot Pujo Nugroho (GPN) dalam sebuah perbincangan untuk publikasi sebuah media elektronik berdurasi satu jam, dengan lugas bercerita kepada saya tentang banyak hal. Satu hal yang saya anggap patut menjadi pemikiran lanjut dan diskusi serius dari perbincangan itu ialah obsesi GPN sebagai figur yang saat ini paling bertanggungjawab untuk pencapaian visi pembangunan Sumatera Utara.
DAHLAN ISKAN
HEBOH naik ojek menuju rapat kabinet itu Anda sudah tahu. Itu sebuah catatan yang begitu menarik bagi media. Sampailah pesan itu. Sampai. Kali ini mari kita lihat beberapa respon terhadap Dahlan Iskan yang konon sudah mulai disebut-sebut berproyek pencitraan untuk songsong 2014, mungkin Anda tertarik dengan trik itu. Respon itu sengaja saya undang melalui akun Facebook yang saya tebar beberapa waktu lalu.
TENTANG PEMIMPIN BANGSA DAN NEGARA YANG HARUS JAWA
Yusril Ihza Mahendra tampaknya ingin sekali mengintroduksi konsepsi kepemimpinan baru untuk Indonesia yang terbentur dengan tradisi dan mitis Jawa dan model demokrasi langsung yang berkembang. Jawa itu bukan orang yang (misalnya karena) lahir di Pacitan. Betul? Ini catatan Yusril Ihza Mahendra yang “diparkir” di sebuah akun facebook. Nice try, Yusril.









